Sejak Tuhan menitipkan sebuah janin dalam rahim seorang ibu. Sejak itu pula Tuhan telah menuliskan TAKDIRnya.
Hidupnya, masa depannya, kisah cintanya, jodohnya, bahkan sampai bagaimana cara dia meninggal.
Itu semua sudah tertulis indah dan sempurna di langit.
Pun, begitu dengan kisah cinta Daniel dan Ayara. Kisah cinta mereka tidak berjalan dengan mulus. Takdir membawanya ke dalam masalah-masalah yang pelik tak berujung.
Akankah keduanya bisa bertahan, sampai bahagia itu datang?
Atau justru mereka menyerah, dan membiarkan takdir mengambil alih semuanya?
Ikuti kisah selengkapnya!
A story'by Myhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalah sebelum berjuang
"Nadira apa kabarnya sekarang?" tanya Ayara seraya memasukan potongan daging steak ke dalam mulutnya.
Setelah pertemuan di market tadi, kini mereka memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Devan mengangkat bahunya sebentar menanggapi pertanyaan Ayara.
"Kamu benar-benar sudah melupakan dia?" tanya Ayara lagi.
"Ck, kalau memang sudah tidak cocok kenapa harus dipertahankan sih, Ay. Lagian aku sudah menemukan yang cocok kok," jawabnya santai.
"Oh, ya, siapa?" tanya Ayara dengan mata berbinar.
Devan tersenyum, "ada, lah."
Gadis itu tak lagi bertanya, ia melanjutkan makan. Namun, berbeda dengan Devan yang malah beralih fokus menatap Ayara diam-diam.
Sampai kapan ia harus menahan diri untuk tidak mengatakan cinta pada Ayara. Devan hanya takut jika pernyataan cintanya justru akan merusak persahabatan mereka nantinya.
Ayara adalah satu-satunya sahabat perempuan yang ia punya, saat itu dirinya masih berpacaran sama Nadira teman satu jurusan Ayara sekaligus teman gadis itu. Dari situlah mereka saling kenal dan dekat, sampai hubungannya dengan Nadira hanya bertahan beberapa bulan saja. Tapi, hubungan pertemanannya dengan Ayara berlanjut ketahap lebih dekat dan mulai menumbuhkan benih-benih cinta.
"Ay, kamu ... apa, sampai sekarang bel ..?"
Ayara mengangkat tangan menghentikan pertanyaan Devan ketika dering handphone di atas meja mengalihkan atensinya. Sebuah nama tertera di sana, membuat bibirnya tersenyum lebar.
"Bentar," ucapnya tanpa suara pada Devan.
Setelah menenggak setengah minumannya Ayara mengangkat telepon yang tidak berhenti berbunyi membuat Devan ikut penasaran siapa yang menghubungi gadis itu. Tapi, ia tidak berani melirik gawai atau bertanya pada pemiliknya, takut dibilang tidak sopan karena ingin tahu urusan pribadinya.
"Hallo," sapa Ayara pada benda pipih yang sudah menempel di telinganya.
Wajah Ayara berbuah lebih sumringah dan itu tak lepas dari pengamatan Devan, lelaki itu menatap setiap gerak-gerik gadis yang duduk di sebrang mejanya.
"Nggak kok, aku lagi makan siang aja. Kenapa?" Ayara melirik Devan yang gelagapan karena ketahuan sedang memperhatikannya.
"Iya, tadi ketemu temen kuliah di sini. Jadi, ya udah kita ngobrol-ngobrol sambil makan deh," jelasnya pada si penelepon.
"Cowok," jawab Ayara, ia mengambil potongan kentang dan memasukan ke dalam mulutnya.
"Ih nggak lah, emang kamu nggak percaya sama aku?" tanya Ayara dengan bibir sedikit mencuat ke depan, terlihat menggemaskan di mata Devan.
"Ya, bukan gitu maksud aku, Dan ..," ucapan Ayara terpotong.
"Iya, Sayang. Hanya teman, serius deh."
Terlihat Ayara mengangguk seolah seseorang yang sedang berbicara dengannya lewat sambungan telepon itu sedang melihatnya saat ini.
"Iya. Oke, bye, Sayang."
Gadis itu kembali meletakan ponsel di atas meja, memperlihatkan layar yang masih menyala. Dengan wallpaper menampilkan siluet tubuh dua orang yang sedang bergandengan tangan di sebuah pantai, tetapi sayang mereka membelakangi kamera.
"Dev," panggil Ayara, membuyarkan lamunan Devan yang terfokus pada layar handphone Ayara yang sudah berubah hitam.
"Kok ngelamun sih? Maaf ya, tadi teleponnya kelamaan," ucap Ayara tidak enak hati.
Devan mengangguk dengan senyum tipis, "tadi ... siapa?" tanyanya ragu.
"Em." Ayara tersenyum lebar, "calon suami, kalau berjodoh," jawabnya.
Devan tersentak, sejak kapan Ayara punya calon suami? Selama mereka dekat bahkan ia tidak pernah tahu bahwa Ayara punya pacar.
"Udah calon suami saja, Ay. Kapan pacarannya?" tanya Devan. Dengan susah payah ia menormalkan detak jantungnya serta mimik muka yang pasti sudah menampilkan wajah kecewa.
Ayara kembali tersenyum, "sejak kuliah sih, hanya saja kita tidak mempublikasikan hubungan kita. Karena dia yang masih punya kakak yang belum menikah. Jadi, ya begitu selama ini bisa dibilang kita backstreetlah," jelasnya.
Devan melengos membuang muka, dengan berat hati ia kembali harus menelan pil pahit itu. Pantas saja selama ini Ayara tidak pernah peka terhadap perhatian yang ia berikan. Ternyata dia sudah punya kekasih, tanpa sepengetahuannya. Sekali lagi ia kalah sebelum berjuang.
Bersambung..
Cianjur-5-Juni-2021