terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 13
Pagi itu, Lucy terbangun dengan perasaan sangat segar. Tidur tanpa gangguan setelah makan dua kotak mochi stroberi ternyata memberikan efek ajaib bagi tubuh manusianya. Dia meregangkan tubuh, menguap lebar, lalu berjalan ke kamar mandi dengan langkah ringan.
Di cermin, rambutnya kini hampir setengah biru. Cat hitamnya memudar semakin cepat. Tapi dia tidak peduli—biarkan saja. Softlens hitam dipasang seperti biasa. Seragam sekolah dikenakan. Rambut diikat ekor kuda.
"Lili," panggilnya sambil meraih dua kotak bekal kosong dari lemari. "Bangun."
"Dari tadi udah bangun," jawab Lili dari atas bantal. "Aku mau kasih tahu sesuatu."
"Sebentar. Aku lagi sibuk."
Lucy mulai mengisi kotak bekal itu dengan makanan—nasi kepal, telur gulung, sosis gurita, dan beberapa potong buah. Tangannya bergerak cekatan. Dua kotak bekal identik, tersusun rapi.
"Itu untuk siapa?" tanya Lili.
"Rencananya sih buat makan siangku." Lucy menyeringai. "Tapi kau tahu, aku bisa pura-pura memberikannya sebagai hadiah untuk Ren. Kalau dia nolak? Bagus. Makanannya masuk ke perutku sendiri."
"Jadi kau bikin bekal dobel... untuk jaga-jaga kalau ada yang nolak?"
"Tepat. Dan kalau dua-duanya nolak, aku makan dua-duanya. Win-win solution." Lucy menutup kotak bekal itu dengan puas. "Tadi kau mau bilang apa?"
"Ah, iya. Semalam..."
"Oh iya! Chat Ren!" Lucy mengambil ponselnya dan melihat puluhan notifikasi. "Dua puluh pesan? Gila. Dia benar-benar—" Dia membuka chat itu, membaca sekilas. "Dia minta maaf. Dia bilang sibuk. Dia... merindukanku?"
Lucy terkekeh. "Manis."
"Kau tidak akan membalasnya?"
"Tidak." Lucy mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Biarkan dia menunggu. Aku tidak membalas semalaman, itu sudah cukup membuatnya kepikiran. Kalau kubalas sekarang, efeknya hilang."
"Jahat."
"Aku tahu." Lucy tersenyum manis. "Oh iya, satu lagi. Rasa suka Ren pagi ini... entah kenapa naik jadi 50%. Padahal aku tidak melakukan apa pun kecuali tidak membalas pesannya. Manusia memang aneh."
"Itu karena dia merasa bersalah dan merindukanmu. Rasa bersalah memperkuat rasa suka."
"Psikologi manusia. Selalu bisa diandalkan."
Dia meraih tasnya, kedua kotak bekal sudah aman di dalamnya. "Ayo. Kaito pasti sudah menunggu."
Benar saja. Kaito sudah berdiri di depan apartemen dengan susu stroberi impor di tangannya.
"Pagi," katanya datar.
"Pagi!" Lucy mengambil susu itu dan tersenyum cerah. "Kau selalu tahu cara membuat pagiku lebih baik."
Telinga Kaito sedikit memerah. Dia buru-buru menaiki motor. "Ayo. Nanti terlambat."
Lucy naik dengan lancar dan memeluk pinggangnya. Motor melaju, dan di sepanjang perjalanan, Lucy bersenandung kecil. Lagu "Kesenanganku adalah Milikku Sendiri"—lagu yang sama yang dulu dia nyanyikan di panggung.
Kaito mendengarkan senandung itu. Di balik helm, sudut bibirnya terangkat.
Di gerbang SMA Seiran, ada pemandangan berbeda pagi ini.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu masuk. Supir berseragam keluar dan membukakan pintu belakang. Dan dari dalam mobil, melangkahlah seorang gadis dengan rambut cokelat lembut sebahu dan mata hazel yang hangat.
Hana Himura.
Seragamnya rapi sempurna—baru, mahal, berbeda dari seragam murid biasa yang sudah lusuh. Sepatunya mengilap. Posturnya tegak, anggun. Dia tersenyum pada supirnya, lalu berbalik dan melangkah memasuki gerbang sekolah.
"Akhirnya," pikirnya. "Hari pertamaku."
Dan di dalam kepalanya, sebuah suara menjawab.
"Tuan Putri, sesuai prediksi, perhatian akan tertuju pada Anda. Mobil mewah, penampilan sempurna, dan status sebagai nona muda keluarga Himura akan membuat Anda langsung menjadi pusat perhatian."
Hana tersenyum tipis. "Tentu saja. Aku ini protagonis, kan?"
"Ya, Tuan Putri. Anda adalah protagonis dunia ini. Semua akan berputar di sekitar Anda."
"Bagus."
Tapi begitu Hana melangkah lebih jauh ke dalam halaman sekolah, sesuatu terasa... ganjil.
Beberapa murid meliriknya. Tapi hanya sebentar. Lalu mereka kembali ke obrolan mereka sendiri. Tidak ada yang terpana. Tidak ada yang berbisik kagum. Bahkan sekelompok cowok yang berdiri di dekat pintu hanya menatapnya sekilas sebelum kembali tertawa tentang sesuatu yang lain.
"Kenapa mereka tidak... terpana?" Hana mengerutkan kening.
"Mungkin mereka belum menyadari status Anda, Tuan Putri."
"Aku datang dengan mobil mewah! Seragamku baru! Sepatuku bermerek! Bagaimana mungkin mereka tidak—"
"Sabar, Tuan Putri. Hari masih panjang."
Hana menarik napas dan memasang kembali senyum manisnya—senyum protagonis wanita yang sempurna, polos, hangat. "Baiklah. Aku akan bersabar. Toh, sebentar lagi semua mata akan tertuju padaku."
Saat itulah, Ren Arisugawa berjalan keluar dari gedung utama.
Seragam OSIS-nya rapi. Wajahnya—seperti biasa—datar dan dingin. Dia sedang membaca sesuatu di ponselnya, langkahnya terukur.
Mata Hana berbinar. "Itu dia! Protagonis pria! Ren Arisugawa!"
Dia menghampirinya dengan langkah ringan. "Ren! Pagi!"
Ren mendongak. Matanya menatap Hana dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Ah. Hana."
"Kau ingat aku!" Hana tersenyum semakin lebar. "Kita bertemu di perlombaan kemarin! Aku tidak menyangka kita satu sekolah. Ini pasti takdir!"
"Hm."
Hana menunggu respons lebih lanjut. Tidak ada. Ren hanya menatap ponselnya lagi, seolah kehadiran Hana tidak lebih dari angin yang lewat.
"Kenapa dia cuek sekali?!" Hana berteriak dalam hati. "Aku ini protagonis wanita! Dia seharusnya langsung tertarik padaku!"
"Mungkin dia tipe yang sulit didekati, Tuan Putri."
"Aku tahu itu! Tapi aku tidak akan menyerah."
Hana mengeluarkan kotak bekal dari tasnya—dibuat oleh koki pribadinya pagi tadi, tapi dia akan mengakuinya sebagai buatannya sendiri. "Ren, aku membuat bekal untukmu. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantuku saat lomba kemarin."
"Aku tidak butuh."
"Tapi—"
Belum selesai Hana bicara, suara motor menderu memecah pagi.
Semua mata di halaman menoleh. Motor sport hitam itu memasuki gerbang dengan penuh gaya. Di atasnya, Kaito Fujiwara—si ketua basket, si antagonis pria yang terkenal dingin. Dan di belakangnya...
"Itu Lucy!"
"CP terbaik!"
"Mereka datang bareng lagi!"
Bisik-bisik itu menyebar seperti api. Kali ini, tidak ada yang melirik Hana. Semua mata—semua—tertuju pada motor hitam itu dan dua orang di atasnya.
Kaito turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Lucy. Gadis itu menerimanya dan turun dengan anggun.
"Makasih, Kaito!"
"Hm."
Lucy menyerahkan helmnya, lalu berjalan menuju gedung utama. Tapi langkahnya berhenti begitu melihat pemandangan di depan pintu masuk.
Ren. Dan seorang gadis berambut cokelat.
Hana Himura.
Mereka berdiri berdekatan. Hana mengulurkan kotak bekal ke arah Ren. Dan Ren... sedang menatap ke arah Lucy.
Kontak mata terjadi.
Lucy menatap Ren. Lalu menatap Hana. Lalu menatap kotak bekal di tangan Hana. Wajahnya berubah—ekspresi sakit hati yang singkat, cepat, tapi cukup untuk ditangkap oleh Ren.
Tanpa sepatah kata pun, Lucy meraih tangan Kaito dan menariknya pergi, menjauh dari pemandangan itu.
"Lu—" Ren melangkah maju, hendak mengejar. Tapi Hana menahannya.
"Ren! Kotak bekalnya—"
"Aku tidak butuh." Ren melepaskan tangannya dengan kasar. "Dan jangan sentuh aku."
Dia berjalan pergi, meninggalkan Hana yang berdiri terpaku dengan kotak bekal di tangannya. Wajahnya merah—setengah malu, setengah marah.
"Siapa gadis itu?!" bentaknya dalam hati. "Kenapa Ren mengejarnya?! Kenapa semua orang menatapnya?!"
"Sepertinya... dia saingan Anda, Tuan Putri."
"Aku tidak peduli! Aku ini protagonis! Seharusnya akulah pusat perhatian!"
Sementara itu, Lucy dan Kaito berhenti di depan kelas. Lucy melepaskan tangan Kaito dan menghela napas panjang.
"Lucy," Kaito memecah keheningan. "Kau baik-baik saja?"
Lucy mengangguk pelan, masih dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat. "Aku... baik. Hanya saja..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Biarkan Kaito mengisi sendiri.
Lalu dia teringat sesuatu. Kotak bekal. Dia punya dua. Dan Ren—si protagonis pria yang baru saja membuatnya "sakit hati"—tidak pantas mendapatkannya sekarang.
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan satu kotak bekal. "Kaito."
"Apa?"
"Ini." Dia menyerahkan kotak bekal itu ke tangan Kaito. "Aku membuatnya untukmu. Sebagai... terima kasih. Karena selalu menjemputku."
Kaito menatap kotak bekal itu. Tangannya sedikit gemetar—tapi dia menyembunyikannya dengan baik. "Untukku?"
"Ya. Aku harap kau suka."
Sebelum Kaito bisa menjawab, suara-suara dari kelas sebelah memanggil. "LUCY! SINI!"
Itu Nao, Rina, dan Mika—teman klub musiknya. Mereka melambai dari pintu kelas.
"Aku pergi dulu!" Lucy melambai pada Kaito, lalu berlari kecil ke arah teman-temannya.
Kaito berdiri di sana, menatap kotak bekal di tangannya. Lalu dia mendongak—dan melihat Ren Arisugawa berdiri di ujung koridor.
Ren menatap kotak bekal itu. Lalu menatap Kaito. Matanya yang abu-abu gelap berubah menjadi lebih gelap lagi—penuh dengan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.
Kaito tersenyum. Senyum kemenangan. Dia mengangkat kotak bekal itu sedikit, seolah memamerkannya.
"Dia memberikannya padaku," seolah-olah dia berkata. "Bukan padamu."
Ren mengepalkan tangannya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia berbalik dan pergi.
Kaito masuk ke kelas dengan langkah penuh kemenangan. Tapi begitu dia duduk, teman-temannya langsung menyerbu.
"WOY! ITU BEKAL DARI MOCHI-CHAN?!"
"BAGI DONG!"
"GILA! PERTAMA KALI LO DAPET BEKAL DARI CEWE!"
"Ini punyaku." Kaito memeluk kotak bekal itu. "Jangan sentuh."
"Pelit banget!"
"Tapi lo seneng kan? Ngaku aja!"
Kaito tidak menjawab. Tapi telinganya memerah. Dan dia membuka kotak bekal itu perlahan, menatap isinya—nasi kepal, telur gulung, sosis gurita—dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan.
Dia membuat ini untukku.
Di sisi lain, Lucy sedang bercanda dengan teman-teman klub musiknya ketika Lili mengirimkan laporan.
"Rasa suka Kaito Fujiwara: ♡♡♡♡♡ | 50%. Tingkat kejahatan: ⚡⚡⚡⚡ | 40%."
"Turun drastis," pikir Lucy. "Cuma gara-gara kotak bekal."
"Dan protagonis wanita sudah muncul. Tapi sepertinya dia... tidak sepolos kelihatannya."
"Aku tahu. Aku bisa merasakan sesuatu dari dirinya." Lucy menyeringai dalam hati. "Dia punya sistem, kan? Sama sepertiku. Hanya saja... dia manusia. Bukan Dewi."
"Kau tidak khawatir?"
"Kenapa harus khawatir? Dia boleh punya sistem. Tapi aku punya ini—" dia menunjuk dirinya sendiri, "—dan aku sudah hidup ribuan tahun. Aku Dewi Rubah. Aku tidak akan kalah dari manusia mana pun."
Jam makan siang tiba. Lucy berjalan sendirian ke perpustakaan, membawa satu kotak bekal tersisa. Dia berencana menikmatinya dengan damai di sudut favoritnya.
Tapi di tengah koridor, seseorang menahannya.
"Lucy."
Ren Arisugawa. Wajahnya—yang biasanya datar—kini terlihat... berbeda. Ada kegelisahan di matanya. Ada urgensi.
Lucy memasang ekspresi sedih. "Ada apa, Ketua OSIS?"
"Aku... aku perlu bicara."
"Bicara apa?" Lucy menunduk. "Bukankah kau sudah punya teman baru? Gadis cantik yang memberimu bekal tadi?"
"Itu bukan—dia hanya—aku bahkan tidak menerima bekalnya!"
"Oh." Suara Lucy datar. "Lalu kenapa kau menjelaskan padaku? Kita bukan siapa-siapa."
Dia berbalik dan melangkah pergi.
Tapi sebelum dia bisa menjauh, tangan Ren menangkap pergelangan tangannya. Tarikan itu lembut tapi tegas. Dan sebelum Lucy bisa bereaksi, dia sudah ditarik ke dalam pelukan.
Tubuhnya membeku.
"Maaf," bisik Ren di dekat telinganya. "Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku tidak bisa membalas pesanmu karena acara keluarga. Aku tidak bisa datang kemarin. Tapi aku... aku merindukanmu."
Lucy berdiri diam dalam pelukan itu. Dia bisa merasakan detak jantung Ren—cepat, tidak beraturan, sangat berbeda dari sikap luarnya yang dingin.
Dan dari sudut matanya, dia melihat sesosok gadis berdiri di ujung koridor.
Hana Himura. Menatap mereka dengan mata membelalak.
Lucy tersenyum. Senyum kemenangan yang kecil dan nyaris tidak terlihat.
Dia melepaskan diri dari pelukan Ren—tidak kasar, hanya perlahan, seperti seseorang yang masih terluka. "Ren..."
"Aku serius. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengabaikanmu lagi."
Lucy menatapnya. Lalu matanya berkaca-kaca—akting sempurna. "Aku... aku juga minta maaf. Aku cemburu. Padahal kita belum apa-apa. Itu bodoh, kan?"
"Tidak." Ren menggeleng. "Tidak bodoh. Aku... senang kau cemburu."
Hana masih berdiri di ujung koridor. Tangannya mengepal. Wajahnya merah padam. Lalu dia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah marah.
"Sialan!" bentaknya dalam hati. "Sialan sialan sialan! Siapa gadis itu?! Kenapa dia yang dipeluk?! Kenapa bukan aku?! AKU INI PROTAGONIS!"
"Tuan Putri, tenanglah—"
"DIAM! Kau ini sistem apa?! Kenapa kau tidak memberitahuku tentang gadis itu?! Kenapa kau tidak memperingatkanku?! Gunanya apa kau kalau tidak bisa membantuku?!"
"Aku... aku tidak mendeteksinya sebelumnya, Tuan Putri. Sepertinya ada yang salah dengan data dunia ini..."
"BERESKAN! Aku tidak peduli caranya! Gadis sialan itu harus disingkirkan! AKU yang seharusnya menjadi pusat perhatian! BUKAN DIA!"
Hana menghilang di balik tikungan. Dan Lucy, yang masih berdiri bersama Ren, menyaksikan kepergiannya dengan senyum kecil.
"Kau boleh punya sistem, Nona Muda," pikirnya. "Tapi aku sudah bermain permainan ini jauh sebelum kau lahir."
"Lucy?" Ren memanggilnya. "Kau baik-baik saja?"
Lucy menatapnya dan tersenyum—senyum hangat yang sebenarnya menyembunyikan seringai seorang predator. "Iya. Aku baik-baik saja sekarang. Mari kita ke perpustakaan. Aku bawa bekal—kau mau makan siang bersamaku?"
"Tentu."
Mereka berjalan berdampingan menuju perpustakaan. Di belakang mereka, Kaito baru saja keluar dari kelas dan melihat pemandangan itu. Wajahnya menegang. Tangannya mencengkeram kotak bekal yang sudah kosong—bekal dari Lucy yang sudah dia habiskan dengan penuh kemenangan tadi.
Ren Arisugawa.
"Kau tidak akan menang," pikir Kaito. "Tidak kali ini."
Dan di sudut lain sekolah, Hana Himura membanting tasnya ke lantai kamar mandi, sendirian, memarahi sistemnya yang tidak bisa menjawab. Air matanya bukan air mata kesedihan—tapi air mata kemarahan.
"Aku akan menghancurkan gadis itu," bisiknya. "Aku tidak peduli siapa dia. Dia tidak akan merebut apa yang menjadi milikku."