Kebahagiaan yang belum lengkap akan membuat hidup terlihat hampa. Rasa cinta yang tumbuh akan membuat kehampaan ini sirna tak tersisa.
Salva yang awalnya merasa begitu hancur karena gagal dalam kisah percintaan, siapa sangka datang seorang dokter cinta untuk mengobati goresan luka dihatinya.
Akankah mereka bahagia dalam jalinan asmara dalam ikatan halal itu?
Mampukah Arya menutupi goresan luka dihati Salva?
IKUTI KISAH MEREKA!
Kisah ini sambung dari cerita, Goresan hati yang terluka. Sebelum membaca kisah ini lebih baik saudara semua baca dulu GHYT.
Terimakasih, dan jangan lupa follow me
Ig:@ara putri 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surgamu
Arya menemui dokter yang bisa menangani Salva selama ini, pria yang terlihat sudah menua itu hanya tersenyum kecil melihat Arya meminta keterangan kesehatan Salva.
"Jadi kau juga seorang dokter?" Arya menganguk mengiyakan pertanyaan dokter itu.
"Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk kesembuhan istrimu, kau yang juga seorang dokter pasti tau langkah awal yang dilakukan untuk membuat istrimu pulih kembali." jelas sang dokter.
"Tapi kenapa keadaannya semakin hari semakin parah dok? Waktu awal dia pergi, masalahnya belum serumit ini, tapi kenapa ia terlihat semakin parah?"
Dokter menganguk mengerti, ia mulai melirik laporan perkembangan selama Salva dirawat, memang benar kesehatannya hari demi hari semakin menurun. Dokter itu sendiri merasa sedikit kesulitan untuk memahami kasus seperti ini, karena keluarga Salva juga tidak mengizinkan anaknya untuk dirawat dirumah sakit selama 24 jam, jadi mereka tidak bisa mengambil tindakan lebih jauh.
"Apa dokter Arya ingin merawat istrimu dirumah sakit ini?"
"Tidak, tidak. Aku akan merawatnya sendiri, dia tidak bisa ditinggalkan." Dokter kembali menganguk mengerti.
"Baiklah, Dokter Arya hanya perlu bersabar, berikan dia pengaruh positif setiap hari, agar Truma yang dialaminya bisa teratasi."
Setelah berbincang panjang lebar, Arya berpamitan untuk kembali menemui istrinya yang sedang menunggu. Salva sedang diberikan penanganan oleh suster, mencoba untuk berinteraksi meskipun tidak ada kemajuan.
Salva mulai mengalihkan perhatiannya dari suster, ia terlihat sedikit bersemangat melihat Arya kembali.
"Terimakasih suster, kami akan pergi."
"Sama-sama pak, semoga nyonya lekas sembuh," Ucap suster itu sebelum ia keluar dari ruangan.
"Bagaimana sayang..? Apa lebih baik?" Tangan Arya mengusap pundak istrinya lembut. "Tidak ada yang perlu dicemaskan, kita akan berjuang bersama. Mas akan selalu disisi mu, jangan pernah menyerah, sayang."
Seorang mengerti maksud suaminya, Salva menganguk mengerti, ia tersenyum membuka hati Arya ingin berteriak riang.
"Sayang... Kamu mendengar dan mengerti Ucapan mas kan?" Arya memegang pipi tirus Salva. "Ya Allah, istriku akan sembuh. Yang semangat sayang, mas sangat mencintaimu...." Ia mengecup kening dan pipi istrinya, yang terakhir ia tinggalkan kecupan singkat dibibir manis istrinya.
Setelah itu dengan semangat Arya mengandeng tangan Salva untuk keluar rumah sakit. Pria itu terlihat begitu bersemangat, bahkan ia tersenyum sepanjang jalan menuju mobil mereka.
Ya Allah, kau mulai memberikan harapan indah untukku. Aku berharap kalian ini, harapan indah ini akan menjadi nyata, hanya padamu aku mengadu Tuhanku. kau maha pengasih dan penyayang, lindungilah keluargaku agar kami bisa mencapai surgamu yang begitu indah dan kami rindukan...
******
Nana yang sedang bersantai dikejutkan dengan kedatangan Adam yang membawa makanan, mana ia sendirian dirumah lagi. Ayah dan bundanya sedang pergi, jadi ia sendirian dirumah setelah kembali dari kampus.
"Kenapa kau kemari?" Tanya gadis itu penuh kekesalan.
"Aku hanya ingin berkunjung, Apa tidak boleh?"
"Tentu saja tidak! Memangnya kau siapa, sampai harus berkunjung ke rumahku?!" Gadis berhijab itu berdiri sambil berkacak pinggang, seakan ia benar-benar tidak menyukai tamunya ini.
"Kamu berdosa banget Na... Tamu itu seorang raja, kamu seharusnya menyambut dengan baik." Ucap adam sok polos.
Adam menyodorkan sebuah kantong plastik yang berisi makanan. Meskipun masih cemberut dan kesal gadis itu tetap menerimanya. "Sudah aku terima, sekarang pergilah." Usir gadis itu kesal.
Adam yang merasa kedatangannya mengangu, ia langsung berpamitan pergi. Sebenarnya ia ingin mencoba lebih dekat dengan Nana, tapi kenapa terasa begitu sulit?
Kali ini ia tidak ingin memakannya, tapi lain kali ia akan mencobanya lebih keras lagi. Ia tidak akan menyerah begitu cepat, karena ia sendiri merasa kesempatan untuk mendapatkan Nana sangat besar, karena itu akan terus berusaha sampai... sampai waktu yang menentukan dengan siapa gadis itu berlabuh, dermaga mana yang akan membuatnya berhenti, dan saya itulah bendera kekalahan akan ia kibarkan dengan lapang dada.
******