Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Menjaga Batasan
Pintu lift terbuka perlahan saat Amora tiba di lantai 17. Lorong apartemen tampak lengang, hanya diterangi lampu-lampu dinding yang memancarkan cahaya kekuningan. Dengan satu tangan menarik koper, sementara tangan lainnya membawa ransel, Amora berjalan menuju unit yang kini menjadi tempat tinggalnya.
Setibanya di depan pintu, ia mengeluarkan kartu akses dari dalam tas. Bunyi bip pelan terdengar sebelum pintu terbuka.
Amora melangkah masuk sambil mengembuskan napas lega.
"Sepi banget" gumamnya.
Apartemen itu benar-benar kosong. Tidak terdengar suara langkah kaki maupun aktivitas lain. Ia sempat melirik ke arah lorong yang menghubungkan ketiga kamar.
"Mas Razka masih didalam kamar, ya?"
Tidak ingin terus berdiri di ruang tamu, Amora langsung membawa barang-barangnya menuju kamar yang sebelumnya dipilihnya, yaitu kamar di sebelah kanan kamar Mas Razka.
Ia mendorong pintu hingga terbuka lebar. Kamar itu memang belum banyak terisi barang, tetapi kondisinya sangat bersih. Jendela besar menghadap ke deretan gedung pencakar langit, sementara cahaya sore menyelinap masuk melalui celah gorden berwarna krem.
Amora berputar pelan menikmati isi kamar.
"Nyaman juga."
Senyum tipis menghiasi wajahnya. Walaupun nuansanya sederhana tanpa banyak dekorasi, ruangan itu cukup membuatnya merasa tenang. Ia meletakkan koper di dekat lemari, lalu membuka resleting koper terbesar.
"Mulai beres-beres dulu deh."
Satu per satu pakaian digantung ke dalam lemari. Peralatan mandi dipindahkan ke kamar mandi, sedangkan beberapa dokumen penting disimpan di laci meja belajar.
Sesekali Amora berhenti hanya untuk mengatur napas.
"Ternyata pindahan capek juga."
Masih ada beberapa barang yang tertinggal di mobil. Setelah membereskan sebagian isi koper, ia kembali turun ke basement untuk mengambil perintilan sisanya yang tidak masuk ke koper.
Perjalanan bolak-balik itu menguras tenaganya. Ketika akhirnya semua barang berhasil dipindahkan ke kamar, Amora langsung duduk di tepi ranjang sambil mengusap peluh di dahinya.
"Besok saja kali ga lanjut nyusunnya."
Belum sempat ia benar-benar beristirahat, terdengar suara pintu apartemen terbuka dari arah ruang depan.
Klik.
Amora spontan menoleh. Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki memasuki apartemen.
"Mas Razka dari luar?" Gumamnya lirih.
Ia berdiri perlahan dan mengintip dari balik pintu kamar.
Benar saja. Atharazka baru saja masuk sambil melepaskan jam tangan dari pergelangan kirinya. Wajah pria itu terlihat datar seperti biasa. Setelah meletakkan dompet dan kunci mobil di atas meja dekat pintu, ia berjalan beberapa langkah ke arah ruang tengah.
Amora menggigit bibir bawahnya pelan.
"Aku nyapa dulu nggak ya?"
Namun keraguan kembali muncul.
"Kalau dia lagi capek gimana? Jangan-jangan aku malah jadi terganggu."
Ia mengembuskan napas pelan sambil meremas ujung kaus yang dikenakannya.
"Ya ampun, cuma mau menyapa aja kenapa jadi gugup begini."
Amora memejamkan mata sesaat, mencoba mengumpulkan keberanian. Bagaimanapun juga, pria itu adalah suaminya. Sekaku apa pun hubungan mereka, rasanya tidak sopan jika ia berpura-pura tidak melihat kepulangan Atharazka.
Dengan langkah pelan, Amora mulai keluar dari kamar, berusaha memasang senyum senatural mungkin meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
.
Amora baru saja hendak menyapa ketika suara langkah dari arah pintu masuk terdengar semakin dekat. Namun, sebelum satu kata pun sempat keluar dari bibirnya, Atharazka sudah berjalan melewatinya begitu saja.
Laki-laki itu hanya melirik sekilas ke arah salah satu koper yang masih tergeletak di depan kamar sebelah kanan miliknya, lalu kembali melangkah tanpa mengubah raut wajah. Tidak ada sapaan, ataupun pertanyaan, bahkan sekadar anggukan pun tidak. Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya tertutup pelan.
Klik.
Suara itu terasa begitu jelas di tengah apartemen yang sunyi. Amora mengembuskan napas perlahan. Bibirnya mengulas senyum tipis, meski ada sedikit rasa canggung yang kembali menyelinap.
"Mas Razka memang benar-benar menjaga jarak sama aku.," batinnya.
Ia tidak menyalahkan sikap suaminya. Bagaimanapun, semua terjadi terlalu mendadak. Sehari sebelumnya mereka bahkan hampir menjadi kakak ipar dan adik ipar. Kini, keadaan memaksa mereka tinggal dalam satu atap sebagai pasangan suami istri.
"Wajar sih, namanya juga aku cuma istri pengganti," gumamnya lirih.
Amora memilih kembali masuk ke kamarnya. Ia melanjutkan pekerjaannya menyusun pakaian ke dalam lemari. Sesekali ia membuka laci, menata perlengkapan kerja, meletakkan laptop di meja belajar, lalu mengatur beberapa map yang nanti akan dibawanya ke ruang kerja di lantai tujuh Askara Group.
Saat hendak memasukkan tas terakhir ke dalam lemari, pandangannya jatuh pada sebuah tas kain besar yang masih teronggok di dekat pintu kamar.
"Kok sampai lupa, ya?"
Ia segera menghampiri tas itu. Baru teringat kalau sebelum pulang dari rumah keluarga Atmojo, Fina memaksanya membawa beberapa makanan.
"Bawa aja buat kamu sama Razka makan malam. Nanti tinggal panasin aja," begitu pesan Fina sebelum Amora berangkat.
Mengingat ucapan itu membuat sudut bibir Amora kembali terangkat. Ia membawa tas tersebut menuju dapur. Satu demi satu kotak makanan dikeluarkan dari dalamnya. Ada semur daging, ayam kecap, sayur bening, tumis buncis, sambal buatan Fina, hingga beberapa potong buah yang sudah dikupas rapi.
"Ya ampun, Mama kok ya bawain banyak begini sih."
Amora membuka kulkas berniat menyimpan semuanya. Namun begitu pintunya terbuka, dahinya langsung berkerut.
"Ini serius?"
Isi kulkas itu hampir tidak ada. Beberapa botol air mineral memenuhi satu rak, sementara di sudut lain hanya terdapat beberapa kaleng minuman, sebutir lemon, dan dua kotak yoghurt.
Tidak ada sayuran, tidak ada telur, dan tidak ada bahan makanan lain.
"Bisa-bisanya kulkas sebesar ini isinya sedikit banget."
Ia terkekeh pelan sendiri.
"Kayanya emang Mas Razka jarang masak,"
Amora mulai memenuhi rak-rak kosong dengan bekal yang dibawanya. Setelah semuanya tersusun rapi, kulkas itu akhirnya terlihat jauh lebih hidup dibanding sebelumnya.
Ia menutup pintunya sambil mengangguk puas.
"Setidaknya buat beberapa hari ke depan enggak perlu bingung cari makan."
Namun beberapa saat kemudian pikirannya berubah.
"Tapi tetap harus belanja."
Karena tidak mungkin rasanya kalau ia harus makan dengan lauk yang sama selama berhari-hari. Lauk yang ia bawa ini sebagai selingan saja nanti.
Amora membuka aplikasi di ponselnya, lalu mulai mencatat beberapa kebutuhan rumah tangga. Beras, telur, roti, susu, kopi, teh, buah, sayuran, perlengkapan mandi, hingga sabun cuci piring masuk ke dalam daftar belanja.
Walaupun dirinya hanya menempati salah satu kamar di apartemen itu, ia merasa tetap harus ikut menjaga tempat tinggal tersebut agar terasa lebih layak dihuni.
Setelah daftar selesai dibuat, Amora kembali ke kamarnya. Ia melanjutkan menata barang-barang yang masih berserakan.
Sesekali telinganya menangkap keheningan dari balik kamar Atharazka. Tidak terdengar suara apapun dari dalam kamarnya.
Amora sempat melirik ke arah pintu kamar di seberang lorong.
"Mas Razka lagi apa, ya?" Rasa penasaran itu muncul begitu saja.
Namun ia segera menggeleng pelan.
"Sudahlah. Mas Razka sendiri sudah bilang jangan mengganggunya kalau sedang berada di kamar."
Amora memilih kembali fokus melipat pakaian terakhirnya. Ia sadar, hubungan mereka memang masih dipenuhi sekat. Karena itu, ia tidak ingin memaksakan diri memasuki ruang pribadi laki-laki tersebut. Untuk saat ini, menurutnya saling menghargai batasan adalah pilihan terbaik sambil menunggu waktu yang perlahan memperkenalkan mereka satu sama lain.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰