SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
Bab 19: Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
Kabut perlahan tersibak.
Suara ombak yang sejak tadi mengamuk mendadak menghilang, seolah ada dinding tak kasatmata yang memisahkan wilayah itu dari dunia luar. Di bawah kaki Ethan Mahendra, lantai batu hitam memanjang menuju gerbang raksasa yang baru saja muncul dari dasar laut.
Kompas Laut Roh di tangannya berdenyut pelan.
Jarumnya tidak lagi berputar liar. Kini ia menunjuk lurus ke arah gerbang.
Di belakang Ethan, Lara mengusap darah tipis di sudut bibirnya setelah ujian Penjaga Laut Kabut berakhir.
"Apa ujian itu benar-benar selesai?" tanyanya pelan.
Ethan tidak langsung menjawab.
Tatapannya menyapu gerbang yang dipenuhi ukiran naga dan bintang.
"Tidak."
Lara menoleh.
"Apa maksudmu?"
"Ujian hanya memilih siapa yang berhak masuk."
Tatapan Ethan semakin dalam.
"Ujian sesungguhnya baru dimulai."
Gerbang perlahan terbuka.
Tidak ada suara engsel.
Tidak ada getaran besar.
Hanya cahaya kebiruan yang mengalir keluar seperti air.
Begitu mereka melangkah melewati ambang gerbang, dunia berubah.
Laut menghilang.
Langit berganti menjadi kubah kristal yang memancarkan cahaya seperti matahari redup.
Di depan mereka berdiri sebuah kota kuno.
Jalan-jalan batu membentang rapi.
Menara-menara putih menjulang tinggi.
Patung naga berdiri di setiap persimpangan.
Namun semuanya sunyi.
Tidak ada manusia.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada angin.
Hanya keheningan yang terasa begitu tua.
Lara menelan ludah.
"Tempat ini..."
Ethan memejamkan mata sejenak.
Qi.
Masih ada.
Walaupun sangat tipis, kota itu masih dipenuhi energi spiritual yang jauh lebih murni dibanding dunia luar.
"Seseorang pernah menjaga tempat ini," gumam Ethan.
"Tapi sudah sangat lama."
Mereka berjalan menyusuri jalan utama.
Bangunan-bangunan tampak utuh.
Namun debu tebal memenuhi setiap sudut.
Di sebuah alun-alun, terdapat patung manusia mengenakan jubah panjang.
Tangannya menggenggam pedang.
Di bawah patung tertulis beberapa huruf kuno.
Lara mengernyit.
"Aku tidak bisa membacanya."
Ethan membaca perlahan.
"...Kota Langit Biru."
"...Benteng pertama penjaga gerbang."
Tatapan Ethan berubah serius.
Benteng pertama.
Artinya...
Masih ada benteng kedua.
Ketiga.
Mungkin bahkan lebih.
Berarti dunia tersembunyi yang dahulu melindungi Bumi jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.
Tiba-tiba.
Kompas Laut Roh bergetar.
Jarumnya berputar menuju sisi timur kota.
"Ethan."
"Aku tahu."
Mereka kembali berjalan.
Di dalam sebuah perpustakaan besar.
Rak-rak batu masih berdiri.
Namun seluruh buku telah berubah menjadi debu.
Begitu disentuh, lembarannya hancur menjadi abu.
Lara tampak kecewa.
"Sayang sekali."
"Semua pengetahuan mereka hilang."
Ethan menggeleng.
"Belum tentu."
Ia berjalan menuju bagian tengah ruangan.
Di lantai terdapat lingkaran formasi.
Sebagian besar rusak.
Namun satu simbol masih utuh.
Ethan mengulurkan jari.
Setetes Qi mengalir.
Brumm...
Lingkaran itu menyala.
Lara mundur beberapa langkah.
Seluruh ruangan bergetar.
Lalu...
Puluhan cahaya kecil melayang keluar dari dinding.
Bukan buku.
Melainkan bola-bola ingatan.
Warisan jiwa.
Ethan tersenyum tipis.
"Mereka memang sudah memperkirakan perpustakaan ini akan hancur."
"Pengetahuan penting disimpan dalam ingatan."
Salah satu cahaya perlahan memasuki dahinya.
Dalam sekejap.
Ratusan informasi mengalir.
Peta wilayah.
Teknik formasi dasar.
Sejarah Kota Langit Biru.
Namun sebelum Ethan selesai mencerna semuanya...
Cahaya itu pecah.
Seseorang telah menghapus sebagian besar isi ingatan sebelum kota ini ditinggalkan.
"Menarik..."
gumam Ethan.
"Bahkan saat mundur, mereka masih merahasiakan sesuatu."
Di sisi lain kota.
Beberapa sosok berjubah hitam memasuki gerbang yang sama.
Mereka membawa simbol naga hitam di dada.
Pemimpinnya seorang pria paruh baya berwajah dingin.
"Jejak mereka masih hangat."
"Kompas berhasil membawa kita."
Seorang bawahan bertanya.
"Tuan Han..."
"Apakah benar anak muda itu bisa membuka Kota Langit Biru?"
Han Rui mengangguk.
"Kalau tidak, kita tidak mungkin bisa masuk."
Ia menatap kota yang sunyi.
"Biarkan dia membuka seluruh formasi."
"Setelah itu..."
"Kita ambil semuanya."
Sementara itu.
Di perpustakaan.
Lara menemukan sebuah peti batu kecil.
"Terkunci."
Ethan memeriksanya sebentar.
Bukan kunci biasa.
Melainkan pengenal garis keturunan.
Sayangnya...
Pemilik garis keturunan itu sudah lama punah.
Lara menghela napas.
"Berarti tidak bisa dibuka."
"Tidak."
Ethan mengeluarkan pecahan artefak yang ia peroleh beberapa bab sebelumnya.
Artefak itu beresonansi.
Ia tidak mencoba menghancurkan kunci.
Ia justru mengalirkan Qi mengikuti pola formasi asli.
Klik.
Peti terbuka perlahan.
Di dalamnya hanya ada tiga benda.
Sebuah cincin penyimpanan.
Satu batu giok.
Dan selembar peta yang sobek.
Ethan mengambil batu giok lebih dulu.
Saat disentuh—
Suara tua bergema.
"Jika kau mendengar pesan ini..."
"Berarti Kota Langit Biru telah jatuh."
"Kami gagal menjaga Simpul Laut Timur."
"Jangan percaya..."
Suara itu mendadak terputus.
"...Keluarga..."
"...Naga..."
"...Mereka..."
Pesan berhenti.
Rusak.
Namun cukup membuat Ethan mengernyit.
Lara memandangnya.
"Apa maksudnya?"
Ethan menggeleng pelan.
"Terlalu sedikit petunjuk."
"Tapi satu hal pasti."
"Ada pengkhianat."
Mereka membuka cincin penyimpanan.
Isinya hampir kosong.
Hanya beberapa batu roh tingkat rendah.
Beberapa pil yang sudah rusak.
Dan satu gulungan teknik.
Langkah Bayangan Ombak.
Teknik gerakan.
Bukan teknik menyerang.
Ethan membaca sekilas.
Teknik itu memanfaatkan perubahan arus Qi untuk menghilangkan jejak sesaat.
Tidak terlalu kuat.
Namun sangat berguna.
Ia menyimpannya.
"Teknik ini masih bisa diperbaiki."
Lara tersenyum.
"Setidaknya perjalanan kita tidak sia-sia."
Namun Ethan justru memperhatikan peta yang sobek.
Potongan itu ternyata menyambung dengan peta yang ia peroleh dari Segel Pertama.
Begitu kedua bagian disatukan...
Cahaya tipis muncul.
Kini tampak jalur baru.
Menuju sebuah lokasi bernama...
Lembah Naga Tidur.
Ethan belum pernah mendengar nama itu.
Namun nalurinya mengatakan satu hal.
Tempat itu jauh lebih berbahaya daripada Kota Langit Biru.
Langit kubah tiba-tiba bergetar.
Ethan mendongak.
Ada seseorang yang baru saja mengaktifkan formasi kota.
Bukan dirinya.
"Lara."
"Kita tidak sendirian."
Belum sempat Lara menjawab.
Ledakan keras mengguncang sisi barat kota.
Debu membubung tinggi.
Burung-burung roh yang telah membatu selama ribuan tahun runtuh dari atap-atap bangunan.
Kemudian...
Aura kuat memenuhi udara.
Lebih dari sepuluh kultivator.
Dan salah satunya sudah berada di puncak Alam Pengumpulan Qi.
Jauh di atas Ethan saat ini.
Lara menggenggam senjatanya.
"Waktu yang buruk."
Ethan justru tersenyum tipis.
"Tidak."
"Waktu yang tepat."
"Mereka datang tanpa memahami kota ini."
"Itu berarti..."
"Mereka akan menjadi orang pertama yang mengaktifkan seluruh jebakan."
Lara menatap Ethan beberapa detik.
Lalu tanpa sadar ikut tersenyum.
Ia mulai mengerti cara pria itu berpikir.
Tidak perlu melawan musuh yang lebih kuat secara langsung.
Cukup arahkan mereka menuju bahaya yang telah disiapkan ribuan tahun lalu.
Di sisi lain kota.
Han Rui berdiri di depan sebuah gerbang batu.
"Paksa buka."
Empat kultivator langsung menyerang formasi.
Ledakan demi ledakan mengguncang bangunan.
Retakan muncul.
Namun pada saat retakan ketiga terbentuk...
Seluruh simbol kuno di dinding menyala merah.
Han Rui langsung berubah pucat.
"Mundur!"
Terlambat.
Dari bawah tanah terdengar suara rantai raksasa yang mulai bergerak.
Klang...
Klang...
Klang...
Suara itu menggema ke seluruh Kota Langit Biru.
Di pusat kota, Ethan menghentikan langkahnya.
Ekspresinya untuk pertama kalinya berubah serius.
"Itu bukan formasi pertahanan..."
gumamnya pelan.
"Itu suara segel."
Tanah bergetar semakin keras.
Patung naga di setiap sudut kota perlahan mengangkat kepala.
Mata batu mereka berubah menjadi cahaya merah menyala.
Lalu, dari kedalaman bawah kota, terdengar sebuah raungan rendah yang membuat seluruh udara bergetar.
Raungan itu tidak berasal dari manusia.
Bukan pula monster biasa.
Melainkan sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun...
...dan baru saja dibangunkan.