Area 21+
Harap bijak untuk membaca di bawah usia.
Clara wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak laki-laki. Keadaan rumah tangganya tak seperti rumah tangga yang lain, penuh dengan penderitaan dan kesusahan.
Suatu hari, saat mereka berdua bertengkar lagi ada seorang pria yang masuk tanpa permisi dan membeli Clara dan Reno.
Clara yang tersentak kaget dan bingung, "Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku di beli oleh pria yang tidak aku kenal sama sekali?"
"Aku di jual oleh suamiku sendiri! Apa aku sehina itu?"
"Kesetiaan ku yang ku berikan padanya dengan ketulusanku dibalas dengan hina seperti ini."
"Apa kesetiaan ku berujung Cerai seperti mimpi yang tak ku inginkan." Kata Clara dengan menangis sambil menidurkan Reno anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triya Widodo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Baiklah!"
"Tapi saya minta syarat dan harus di setujui." Tambah Clara dengan ragu.
Wanita ini sudah mulai berani meminta syarat padaku dan harus di setujui.
"Baiklah. Kita lihat apa yang dia minta."
"Aku akan menuruti semua sebagai tanda berterimakasih."
Gumam di hati tuan Abbas dengan menyeringai ke arah Clara.
Tatapan tuan Abbas membuat Clara semakin menciut dan dengan gugup, tidak percaya diri, Clara memberanikan diri untuk mengatakan syarat itu di depan tuan Abbas dan 2 orang yang di anggap penting oleh tuan Abbas.
"Katakan!" Seru tuan Abbas dengan tegas yang memandang Clara dengan tajam.
"Pengambilan sampel darah menunggu Reno tidur agar tidak merasakan sakit."
"Setelah pengambilan sampel saya dan Reno tidak akan tinggal disini dan kembali pulang ke rumah orang tua saya." Kata Clara masih menunduk dan menggenggam erat dress yang dia pakai.
Semoga dengan syarat ini, aku bisa kembali ke rumah orang tua ku. Aku tidak mau merepotkan orang lain. Aku ingin membesarkan Reno sendiri dengan cara apapun.
Batin Clara yang merasa beban dalam hatinya yang takut terulang lagi dengan Riko Hilman yang penuh dengan tekanan.
"Tunggulah hasilnya dulu." Seru tuan Abbas sambil berdiri dan meninggalkan tempat duduknya tadi.
Tanpa bergeming dari tempat duduknya Clara mencoba menormalkan napasnya dengan perlahan dan melepas dress yang dia remas tadi.
Dokter dan asisten tuan Abbas juga ikut meninggalkan tempat duduknya tanpa berbicara sepatah kata pun.
Lalu Bi Ani membantu ku untuk berdiri dan mengantarkan ke kamar. Serasa lemas tak bisa berkutik dari tuan Abbas ini, Clara hanya bisa pasrah dan sambil menunggu hasilnya keluar, dia akan pulang ke rumah orang tuanya.
"Nyonya... Nyonya Clara." Panggil Bi Ani berulang kali.
"Eh iya Bi." Sahut Clara seketika membuyarkan lamunannya.
"Apa nyonya sedang tidak enak badan?" Tanya bi Ani khawatir.
"Tidak bi. Saya tidak apa-apa!" Jawab Clara pelan.
"Kalau begitu, nyonya istirahat saja. Tuan muda kecil sudah tidur terlelap. Saya takut mengganggu tidurnya. Saya pamit dulu nyonya." Kata Bi Ani pelan dan keluar kamar Clara.
Clara masih melamunkan perkataan tuan Abbas. Dia merasa tak di hargai, meminta persetujuan dengan memaksa secara halus.
"Kenapa semua orang terpandang tidak menunggu persetujuan yang bersangkutan. Dengan seenaknya sendiri, dia langsung melakukannya." Gumam Clara sambil menghembuskan napasnya secara kasar.
Clara memandang buah hatinya dengan tatapan sayu sambil mengusap rambut Reno.
"Sayang, bertahanlah sebentar saja." Gumam Clara lalu mengecup kening Reno. Clara pun menenangkan pikirannya dengan tidur.
**Flashback Tuan Abbas.
Di ruang kerja, tuan Abbas dan asisten Lee serta dokter Steven masih membicarakan tentang Reno anak tuan Abbas yang sebenarnya.
"Tuan, hasil sampel akan mengetahui kalau Reno anak anda. Apa nanti tidak terjadi apa-apa?" Tanya dokter Steven.
"Terjadi atau tidak saya tidak akan mengungkitnya." Kata tuan Abbas dengan dingin.
"Nyonya Clara akan merasa sakit jika mengetahui hal ini." Kata asisten Lee yang berdiri di samping tuan Abbas.
"Tahu atau tidaknya, dia akan segera mengetahuinya. Sesakit apapun dia akan bertahan menerimanya." Jawab tuan Abbas.
"Baiklah. Saya pamit untuk pulang tuan. Tugas saya selesai." Kata dokter Steven sambil tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya.
"Tugasmu belum selesai." Sahut tuan Abbas dengan tajam dan sinis.
"Ya... Tugas hari ini selesai, besok akan datang tugas darimu." Jawab dokter Steven sambil berjalan keluar.
"Aku tak sabar melihat tuan muda kecil itu." Seru dokter Steven sambil tertawa dan menutup pintu.
Dasar.
Lihat saja kamu besok.
Gumam pelan tuan Abbas dengan geram.
Asisten Lee hanya tersenyum.
"Istirahat lah. Tugas kamu besok banyak." Suruh tuan Abbas pada asistennya.
"Baik tuan, terimakasih. Silahkan beristirahat juga!" Jawab asisten Lee sambil membungkuk dan keluar dari ruang kerja tuan Abbas.
Hah...
Tuan Abbas menghembuskan napasnya secara kasar. Terlihat di wajah tuan Abbas sangat lelah.
"Apa kamu tidak ingat dengan teman masa kecilmu." Gumam tuan Abbas sambil mengingat kembali di masa kecilnya.
"Sudahlah. Aku istirahat saja." Kata tuan Abbas sambil meninggalkan ruang kerjanya.
Sampai di kamarnya, tuan Abbas membersihkan diri terlebih dulu dan beristirahat.
Ke esokan hari.
Hari yang cerah dan suara kicauan burung bernyanyi, bunga pun tampak terlihat segar dan cantik. Reno terbangun dari tidurnya, Clara menyambut buah hatinya dengan wajah tersenyum. Clara dan Reno melakukan aktivitas seperti biasanya, memandikan Reno dan membersihkan kamarnya.
Tuan Abbas terbangun dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan. Dengan sigap tuan Abbas mandi dan merapikan pakaian dan rambutnya.
Mereka bertiga keluar secara bersama dan menuju ke meja makan. Sarapan pagi sudah tertata di meja makan. Tuan Abbas sudah duduk di kursi makan. Clara serta Reno datang dan duduk di kursi makan untuk sarapan pagi.
"Ma, hari ini Reno mau bermain." Kata Reno.
"Bermain kemana?" Tanya Clara pelan.
"Kita sarapan dulu, setelah itu bermain." Tambah Clara dengan suara pelan sambil tersenyum pada Reno.
"Iya, ma!" Jawab Reno sambil cemberut.
Hem...
"Tuan muda kecil mau bermain keliling kantor papa Abbas?" Tanya tuan Abbas sambil tersenyum pada Reno.
"Mau, mau. Reno mau." Jawab Reno antusias dan bersemangat.
"Kita sarapan dulu dan jangan cemberut." Kata tuan Abbas mencubit pipi Reno yang tembem itu.
Clara memandang tuan Abbas dengan wajah gelisah. Tuan Abbas membalas pandangan Clara sambil tersenyum. Seketika Clara menunduk dan terlihat pipi Clara memerah.
Sarapan pagi pun selesai, Tuan Abbas mengajak Reno masuk ke mobilnya. Clara yang mengikutinya dari belakang, membuka pintu mobil depan.
"Duduklah di sebelah Reno." Sahut tuan Abbas dengan dingin dan tegas.
Clara segera menutup pintu mobilnya dan duduk di sebelah Reno. Asisten Lee hanya tersenyum dan bergumam dalam batinnya, "Melihat keluarga baru."
Dalam perjalanan, tuan Abbas menyuruh asisten Lee untuk ke rumah sakit terlebih dahulu lalu ke kantor bersama Clara dan Reno.
Saat perjalanan ke rumah sakit Tuan Abbas dan Reno saling mengobrol layaknya seorang ayah dan anak.
"Reno pernah bermain di rest area dekat sini?" tanya Tuan Abbas dengan antusias.
"Pernah tapi sama mama. Papa tidak pernah ada waktu untuk bermain bersama ku." jelas Reno sedikit sedih.
Tuan Abbas yang mendengar jawaban Reno terlihat di wajahnya kesal, "Kalau papa baru tidak sibuk mau di ajak main ke sana?" ujarnya sambil melirik ke arah ku.
"Mau... Mau..." seru Reno dengan girang.
"Boleh Ma..." tanya Reno padaku.
"Boleh Sayang. Kalau Tuan Abbas tidak sibuk ya." balas ku seraya tersenyum pada Reno.
"Kenapa Mama memanggil Tuan Abbas? Mama panggilnya Papa baru..." kilahnya pada ku sedikit cemberut.
"Baiklah... Papa baru kalau tidak sibuk boleh bermain sama Reno." ungkap ku sedikit grogi.