NovelToon NovelToon
Imamku Ajari Aku Mencintaimu

Imamku Ajari Aku Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Cinta setelah menikah / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:524.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: NCY

Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?

Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IAAM-007

Kepala terasa berat, pening dan puyeng. Itulah yang dirasakan Elish saat bangun dari tidurnya. Hentakan tangan seorang wanita diatas bantalnya, membuatnya harus bangun dari tidurnya.

"Hmmm?" Elis menatap wanita dihadapannya kemudian menatap ke sekeliling kamar. "Dimana ini?"

"Bangun! Syekh mengundang mu makan bersama pagi ini," ucap wanita jutek dihadapan Elish.

"Siapa anda?" tanya Elish masih kebingungan. Dirinya berusaha mengingat kembali kejadian semalam. Dan hal terakhir diingatnya adalah restaurant The Beaten.

Ya, aku menghabiskan tiga kaleng bir semalam. Aku dimana?

Elisabeth berusaha berdiri bangkit dari ranjang.

Bajuku?

Elish menatap baju longgar yang dipakainya saat itu.

Wanita usia sekitar tiga puluhan tahun dihadapannya memicingkan bola matanya. "Makanya, jika nggak biasa minum jangan minum alkohol. Untung saja sepupuku berbaik hati membawa kamu kesini. Jika kamu kenapa kenapa dijalanan gimana? Kamu kan perempuan. Muntahan alkohol memenuhi bajumu, aku dan ibu kerepotan membersihkanmu. Hadeehh," celoteh wanita itu.

"Maafkan saya dan terimakasih sudah menolong saya." Elish benar benar lupa akan kejadian semalam.

"Ih sudahlah, mengomeli orang mabuk hanya buang buang waktu, tau nggak? Mendingan, sekarang kamu cuci muka dan ikut saya kerumah paman saya. Tuh kamar mandinya diujung koridor," wanita itu menunjuk ke arah kiri. "Oh ya, kamu panggil aku teh Amel aja."

"Baik, terimaksih teh Amel." Elisabeth keluar dari kamar kemudian berjalan ke arah kiri hingga ujung koridor.

Dalam benak Elisabeth terus memikirkan kejadian yang terjadi. Seingatnya dia berjalan keluar dari restaurant hingga ke jembatan. Setelah itu dia tak ingat apa apa lagi.

Ah sudah lah, yang penting aku baik baik saja. Tempat ini terlihat baik, dan "Krrrrrr krrrr," suara keroncongan dari dalam perut Elisabeth. "Aku laper, padahal semalam aku makan mie goreng," gumam Elish kemudian mulai membasuh wajahnya kemudian kumur kumur.

Elisabeth kembali ke kamar dimana teh Amel sedang menunggunya dengan selembar handuk.

"Ini," Amel menyerahkan handuk ke tangan Elisabeth. "Maaf lupa berikan kamu sikat gigi. Ngomong ngomong kita sudah ditungguin, ayo buruan. Oh ya, baju kamu kegedean. Padahal baju itu adalah baju yang paling kecil yang ada dalam lemariku."

"Nggak apa teh, terimakasih bajunya. Saya nyaman kok."

"Ayuk," ajak Amel.

Elisabeth mengikuti teh Amel. Dilantai bawah, seorang wanita cantik dan mempesona sedang menunggu keduanya.

"Ayo Ariqah, maaf agak lama menunggu," ujar teh Amel.

Gadis yang cantik ini namanya Ariqah. Senyumannya sangat manis. Batin Elisabeth kemudian mulai berjalan dibelakang kedua wanita itu.

"Nggak apa teh Amel, baru juga menunggu beberapa menit dibilang lama," ucap Ariqah lembut.

Waahh suaranya sangat lembut. Dan caranya berjalan begitu anggun. Pakaiannya tertutup rapih, tak menunjukkan bagian tubuh manapun selain wajah cantiknya.

Elisabeth menatap dirinya dibalik baju kedodoran milik teh Amel.

Tapi aku? Baju ini kepanjangan dan kelonggaran hhhh.

Mata Elish kemudian tertuju ke lapangan basket, beberapa anak laki laki sedang bermain basket. Mereka terus berlalu meninggalkan lapangan basket tiba disebuah bangunan bertuliskan perustakaan. Beberapa anak perempuan dengan jilbab besar keluar masuk membawa buku ditangan mereka.

Tempat ini pasti sebuah kompleks sekolah islam... Batin Elisabeth.

Elisabeth terus berjalan dibelakang teh Amel dan Ariqah hingga tiba disebuah rumah yang lumayan besar.

Untuk sarapan, pagi itu Elish harus datang ke rumah itu sekedar untuk mengisi perutnya yang sangat keroncongan sejak tadi.

Memasuki teras, ruangan tamu, ruangan tamu kedua, ruangan keluarga dan? Suara orang berbincang terdengar jelas, Elis berhenti sejenak sebelum memasuki ruangan itu.

"Assalamualaikum," ucap Amel bersamaan dengan Ariqah.

"Waalaikumsalam," sahut beberapa orang diruangan itu.

"Mana dia?" suara seorang lelaki.

Tiba tiba teh Amel datang menarik tangan Elisabeth masuk kedalam ruangan.

Issshhhh, canggung banget pakaianku seperti ini.

Elis terus menundukkan kepalanya.

"Hahaa," suara tawa keras dari seorang lelaki.

"Khafi," tegur seorang pria. Suaranya terdengar seperti suara seorang pria tua.

Elisabeth sedikit mengangkat kepalanya memperhatikan wajah wajah yang duduk dimeja itu.

Mereka pasti sedang menertawakanku. Pakaianku dan. Elisabeth akhirnya menegakkan kepalanya.

"Samlekum," ucap Elish tiba tiba.

"Haha," lagi lagi pria itu tertawa. (Tentu saja Khafi sedang menertawakan Elis yang salah dalam mengucapkan salam)

"Waalaikumsalam," sahut seorang wanita paruh baya yang ikut duduk dimeja makan.

"Amel, Ariqah duduklah. Ajak tamu kalian duduk," ucap pria tua berpeci.

"Pakaian Amel yang paling kecil hanya ada itu, jadi Amel berikan yang itu deh." ucap Amel sembari mengambil kursi dekat Hardian. Ariqah duduk disamping Amel kemudian Elisabeth duduk diantara Ariqah dan wanita paruh baya, posis Elish tepat berhadapan dengan si pria tampan yang sedari tadi tak berhenti tertawa.

"Pakaian itu sudah sangat sopan, apanya yang lucu?" ucap wanita paruh baya.

"Nama kamu siapa? Kan sangat tidak etis jika kita sudah makan bersama tanpa tau nama," ucap pria tua.

"Oh ya maaf, Nama saya Elisabeth Cahaya Petra. Ayah saya asli Medan Solo, sekarang tinggal di Medan sedangkan ibu saya asli Manado sekarang sudah Almarhumah. Saya kerja disebuah bank swasta di Kramat Jati, tapi sekarang saya sedang mengambil cuti selama dua minggu. Dan maaf atas kejadian tidak mengenakkan semalam, saya berterimaksih sudah sudi menolong saya dan membawa saya ke sini," jelas Elisabeth.

Sepertinya wanita ini wanita yang baik, dia ramah dan sopan. Batin Umar mendengar penjelasan Elisabeth. "Baiklah, karena dari tadi kamu tertawa terus, jadi kali ini kamu yang baca doa makan," ucap pria tua pada si pria tampan.

"Abi, kan biasanya abi yang doa. Doa abi lebih panjang dan lebih baik dari Khafi," tolak Khafi.

"Sudah Abi putuskan sekarang kamu yang doa."

Wajah Khafi sedikit manyun, namun sikap kedua tangannya mulai dilipat menengadah ke atas.

"Doa sebelum makan, Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Aamiin."

"Neng Ariqah neng Elisabeth mari makan," Ajak Saodah setelah abi telah lebih dahulu mengambil makanan.

Elisabeth makan dengan lahap menu sarapan sederhana yang terhidang dimeja itu. Tanpa disadarinya, Khafi terus memperhatikan gerak geriknya.

Tentu saja si eneng jorok kelaparan, semalam semua isi perutnya sudah di muntahkan semua. Hilih, sekarang dia makan tanpa rasa bersala sedikitpun. Bahkan dia masih enggan untuk menatapku. Batin Khafi.

Umar terlebih dahulu selesai makan. Seperti biasa saat semggang, dirinya akan ke yayasan memantau kegiatan belajar mengajar para santri.

"Abi sengaja mengajak kalian makan, abi hanya ingin menginfokan. Ariqah secepatnya saat kamu siap, mulailah mengajar. Kamu di sastra arab sedangkan Khafi masuk ke kelas sejarah sesuai dengan jurusan kalian masing masing saat kuliah." jelas abi.

"Ariqah kapan saja siap Syekh," ucap Ariqah.

"Hardian, kamu ambil berkas Ariqah dan bawa ke ruang HRD," ucap umar pada Hardian yang sedari tadi diam.

"Baik," jawab Hardian.

"Dan kamu? Kapan kamu akan siap?" Umar menatap Khafi yang masih lahap dengan nasi dipiringnya.

"Khafi belum tau bi, Khafi pikir pikir dulu. Khafi sama sekali nggak ada bakat menjadi guru bi, please."

"Jadi bakat kamu apa? Kan abi sudah kasih kamu banyak sekali pilihan, jika kamu ingin kerja yang lain kamu bilang, biar abi pertimbangkan. Sudah hampir setahun kamu jadi pengangguran, sejak lulus kuliah kerjaanmu hanya mondar mandir nggak jelas."

Di omeli didepan dua orang tamu membuat Khafi sedikit cemberut. "Baik, Khafi akan serahkan berkas Khafi pada Hardian secepatnya."

Usai sarapan pagi itu, Amel, Ariqah dan Elisabeth langsung kembali ke asrama putri.

"Berapa lama kamu berencana akan tinggal disini?" tanya Amel.

Langkah Elisabeth terhenti sebelum memasuki pintu kamar.

Apa dia sedang bertanya padaku? Ya tentu saja, kamar Ariqah berada dilantai satu. Hmm, aku nggak mungkin kembali ke kos. Jika ke tempat teman... Aaaahhhh.

*

Elisabeth membayangkan kegagalannya yang saat ini tengah jadi pembicaraan hangat orang orang terdekatnya.

Elisabeth berbalik badan. "Bisakah sementara waktu saya tinggal disini?" tanya Elish berharap mendapat ijin, karena saat ini, tempat ini lah yang paling nyaman untuknya.

"Kalau mau tinggal disini, bantu didapur sana. Cuci piring, masak, bersih bersih," ujar Amel.

"Baiklah, dimana letak dapurnya?" tanya Elisabeth.

"Bangunan tak jauh dari rumah yang kita datangi tadi."

"Baiklah," jawab Elish sopan.

*Next **🔜*

1
Juna Dong
luar biasa
eni nuryati
cinua sejati/Heart/
Felycia Fernandez
hai elis...ternyata kita satu kampung Elis...nama kamu juga seperti nama temanku Elisabeth dan Petra...senang bisa mampir di ceritanya kk author...
Fitriyani
hahaa,,,pasti amel n Elis hamil tu,,waah barengan tu..
Fitriyani
bukannya Indira itu istri papanya y,klo iy,bkn nya manggil nya ibu,atau aku yg lupa y....🤔
Fitriyani
mantab bgt naluri Abi ni,Dy sllu tau n paling peka duluan dgn smua hal...
g ky khafi...
Fitriyani
jgn2 Hardian ada hati SM Amel...
Fitriyani
jgn2 Hardian ada hati SM Amel...
Fitriyani
mudah2an Pras menyesal semenyesal2 nya Krn udh lbh minggalkn istri sebaik Amel..
Fitriyani
mudah2an othor nya memberikan hukuman yg berat utk ariqah,kesel bgt aku sm ariqah tu
🫧Alinna 🫧
Nur artinya cahaya, nama Elisabeth cahaya petra
Fitriyani
pasti sedih bgt ,ada d posisi Amel..
Fitriyani
pasti sedih bgt ada d posisi Elis..😭
Fitriyani
lucu,punya rasa bersalah,tp mmperlakukn ank nya ky gt,,,aneh
Fitriyani
knp khafi manggil nur Thor???
Fitriyani
mf y thor,,maaf,,,bgt,sy hanya seseorang yg minim ilmu,cm dr awal sy agak janggal rasa nya setiap mmbaca salam mereka kpd Elis,,
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
Fitriyani
mf thor,dr mn Abi nya Kahfi tau klo cewe itu bukan seorang muslim,,,
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
kelinci lucu
sprtinya seru..
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
kelinci lucu: oh... apa ini nnti si cewek jodohnya orng islam? lnjut bca dh biar gk slah faham, maaf y tor jka tdi slah faham🙏
total 1 replies
Dede Dewi
kak author, aslinya mana sih? Medan ya?

saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁
🫧Alinna 🫧: Saya asli manado
total 1 replies
Try Maryati
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!