Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, seolah ikut menangisi nasib Rizky Pratama.
Rizky berdiri mematung di depan pintu kaca sebuah minimarket 24 jam dengan seragam yang basah kuyup.
Di tangannya, nampak selembar kertas surat pemecatan yang sudah lecek terkena air.
"Maaf, Rizky, tapi kerjamu terlalu lambat dan sering salah hitung kembalian."
Kata-kata manajernya tadi sore masih terngiang jelas di telinganya.
Ini adalah pekerjaan kelima yang memecatnya dalam tahun ini saja.
Rizky menghela napas panjang, tatapannya kosong menembus tirai hujan.
"Kenapa hidupku sial terus, ya?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar di antara suara guntur.
Perutnya berbunyi nyaring, mengingatkan kalau dia belum makan sejak pagi demi menghemat uang.
Uang di dompetnya sekarang hanya tersisa dua puluh ribu rupiah, sisa gaji terakhir yang dipotong berbagai denda kelalaian.
Dengan gontai, Rizky mulai berjalan menembus hujan, tidak peduli lagi tubuhnya akan sakit besok.
Rumah kontrakannya yang sempit masih jauh, tapi dia tidak punya uang untuk naik angkot.
Sambil berjalan, pikirannya melayang ke ibunya di kampung yang sedang sakit-sakitan.
Rizky ingin sekali mengirimkan uang untuk berobat, tapi jangankan untuk ibu, untuk makannya sendiri saja susah.
"Aku benar-benar anak tidak berguna," rutuknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah toko pegadaian yang sudah tutup, namun lampunya masih menyala sedikit.
Di lehernya, melingkar sebuah kalung perak murahan dengan liontin batu hitam berbentuk tetesan air.
Itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya sebelum meninggal dunia.
Rizky memegang liontin itu dengan ragu.
"Mungkin ini bisa laku lima puluh ribu untuk makan beberapa hari ke depan," pikirnya putus asa.
Tapi dia segera menggelengkan kepala keras-keras.
"Tidak, ini satu-satunya kenangan dari Ayah, aku tidak boleh menjualnya."
Rizky mempercepat langkah kakinya, mencoba membuang pikiran buruk itu jauh-jauh.
Dia berjalan menunduk, menghindari tatapan orang-orang yang berteduh di halte.
Tanpa sadar, Rizky sudah sampai di perempatan jalan besar yang cukup ramai meski sedang hujan.
Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau untuk pejalan kaki.
Rizky melangkah maju menyeberangi zebra cross dengan pikiran yang masih melayang entah ke mana.
Tiba-tiba, dari arah kanan, terdengar suara raungan mesin mobil yang sangat kencang.
VROOM! VROOM!
Sebuah mobil sport mewah berwarna merah melaju brutal, menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi.
Rizky tersentak dari lamunannya dan menoleh ke sumber suara.
Cahaya lampu mobil yang menyilaukan mata langsung menghantam pandangannya.
"Eh?"
Hanya itu yang sempat terucap dari mulut Rizky.
Tubuhnya kaku, tidak sempat untuk menghindar sedikit pun.
BRAAAKKK!
Suara benturan keras terdengar sangat mengerikan.
Tubuh kurus Rizky terpental tinggi ke udara seperti boneka kain yang rusak.
Dia melayang beberapa meter sebelum akhirnya jatuh menghantam aspal jalanan dengan keras.
DUG!
Dunia seakan berhenti berputar bagi Rizky.
Rasa sakit yang tak terbayangkan langsung menjalar ke seluruh noda di tubuhnya.
Dia bisa merasakan tulang-tulangnya patah, dan kepalanya bocor mengeluarkan banyak darah.
Darah segar berwarna merah pekat langsung mengalir, bercampur dengan air hujan di atas aspal dingin.
Mobil sport yang menabraknya sempat berhenti sebentar, nampak kaca jendelanya turun sedikit.
Dari dalam, terlihat seorang pemuda sebaya Rizky dengan wajah panik dan berbau alkohol.
Namun, alih-alih keluar untuk menolong, pemuda itu justru menginjak gasnya dalam-dalam.
CIITTT! VROOOM!
Mobil itu kabur melarikan diri, meninggalkan Rizky yang sekarat di tengah jalan.
Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu berteriak histeris.
"Tabrak lari! Tolong! Ada tabrak lari!"
Beberapa orang berlarian mendekati tubuh Rizky yang terkapar kaku.
Pandangan Rizky mulai kabur, semuanya terlihat berbayang dan perlahan menjadi gelap.
Suara teriakan orang-orang terdengar menjauh, berganti dengan berdenging panjang di telinganya.
"Apakah... aku akan mati di sini?" batin Rizky dalam hati, air matanya menetes bercampur darah.
Dia merasa sangat dingin, rasa sakitnya perlahan hilang berganti rasa baal yang menjalar.
Di tengah kesadarannya yang semakin menipis, Rizky merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.
Liontin batu hitam peninggalan ayahnya ternyata pecah akibat benturan keras tadi.
Namun, di balik pecahan batu hitam itu, muncul sebuah cahaya hijau zamrud yang sangat terang.
Cahaya itu tidak terlihat oleh orang lain, hanya Rizky yang bisa merasakannya.
Sesuatu yang hangat dan kental mengalir keluar dari pecahan liontin itu, langsung meresap masuk ke dalam pori-pori kulit dada Rizky.
Rizky merasa jantungnya berdenyut sangat kencang, TUNG! TUNG!
Rasa hangat itu menyebar dengan cepat ke seluruh tubuhnya, mengejar setiap luka dan patah tulang.
"Apa ini?" Rizky bertanya dalam hati dengan sisa-sisa kesadarannya.
Dia merasa seolah-olah ada ribuan semut hangat yang sedang memperbaiki tubuhnya dari dalam.
Rasa sakit yang tadi sempat hilang kini muncul kembali, tapi kali ini rasanya seperti tulang-tulangnya sedang disambung paksa.
"Aaakh..." Rizky mengerang pelan, tubuhnya sedikit kejang.
Orang-orang yang mengerumuninya semakin panik melihat kondisi Rizky.
"Jangan digerakkan! Tunggu ambulans datang!" teriak salah seorang warga.
Namun, di dalam tubuh Rizky, sebuah keajaiban sedang terjadi.
Cahaya hijau itu perlahan meredup setelah semuanya meresap sempurna ke dalam tubuhnya.
Di dada Rizky, tepat di mana liontin itu sebelumnya berada, kini terbentuk sebuah tato kecil berbentuk daun berwarna hijau zamrud yang samar.
Rizky menghela napas terakhirnya yang berat, lalu pandangannya benar-benar menjadi gelap gulita.
Dia pun pingsan tak sadarkan diri, di tengah guyuran hujan dan kerumunan orang yang panik.