Kisah tentang Sukame yang mendapat julukan Pendekar Murah Hati. Dimana kehidupannya dimulai dari masa kecilnya hingga ketika dia menghadapi hitam putihnya dunia persilatan.
Ternyata banyak sekali suka dan duka yang dia alami, yang membuat dirinya sadar akan apa dan mengapa tujuannya untuk hidup.
Bagi yang penasaran akan kisah ini silahkan membaca semoga menjadi terhibur serta dapat mengambil hikmah dari kisah Pendekar Murah Hati ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon loren defretes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Terlarang
"Perjalanan kali ini sangatlah jauh nak, butuh waktu 1 bulan" Bibi terus mengoceh.
Karena memang orangnya sangatlah cerewet sementara Sukame sudah tertidur lelap dipunggungnya.
Mereka berjalan ke timur dimana kampung halaman Bibi Nam berada, memasuki hutan yang sangatlah lebat, pohon yang tumbuh di hutan itu berumur ratusan tahun, dan binatang buas yang ada di hutan itu sangatlah banyak.
Namun keseraman didalam hutan itu tidak membuat mereka surut akan langkahnya, Bibi Nam berharap bertemu rombongan pedagang, ataupun orang yang mempunyai tujuan yang sama.
Ketika malam tiba suara binatang saling bersautan, semakin membuat hutan itu bertambah menyeramkan, membuat para pedagang jarang melewati hutan itu, karena mereka kuatir dengan perompakan maupun binatang buas, semua orang menjuluki hutan itu Hutan Terlarang.
Hutan itu salah satu jalan tercepat untuk menuju ke arah timur daerah pesisir dekat dengan laut.
Tentu saja menarik minat banyak pedagang untuk kesana.
"Sudah malam sebaiknya kita mencari tempat beristirahat" kata Bibi Nam.
Bibipun mencari tempat yang tertutup, supaya bisa beristirahat dengan tenang dari gangguan binatang buas.
Ketika waktu sudah tengah malam, disaat bibi dan Sukame terlelap, tiba-tiba terdengar perkelahian tidak jauh dari tempatnya.
"Hiatt!!! jurus Penakluk Siluman" teriak seseorang yang sedang berkelahi dengan seekor ular besar berwarna hitam pekat, matanya merah menyala, lidahnya mendesis desis sambil menyambut serangan orang itu, dilihat dari tubuhnya sangatlah lucu.
Orang itu tanpa memakai baju hanya memakai celana sampai dilutut, tinggi orang itu kira-kira 70 cm, sementara perutnya buncit, kepalanya botak, terlihat dari kerutan di wajahnya ia berumur 80 tahun.
Gerakan kakek botak itu sangatlah lincah meskipun sudah tua, bahkan lebih lincah dan cepat dari manusia pada umumnya, kakinya tidak menyentuh tanah, terlihat bahwa ilmu meringankan tubuhnya sangatlah tinggi.
Sedangkan ular yang dihadapi kakek ini bukan sembarangan ular, hanya segelintir manusia saja yang pernah berjumpa dengan ular itu.
"Dasar ular iblis!" seru kakek botak itu.
Seruan dari kakek botak itu, membuat suara desisannya semakin keras.
"Jurus Tangan Besi!" teriak kakek botak itu, sambil bergerak cepat kepalan tangannya mengenai badan ular itu.
Tranggg...
Suara dari benturan tangan kakek botak, dengan tubuh ular itu.
Ternyata tubuh ular tidak kalah kuatnya dengan tangan kakek, benturan itu hanya membuat tubuh ular bergeser sedikit.
Tiba tiba ekor ular bergerak cepat memukul tubuh kakek.
"Jurus Perisai Besi!" teriak kakek.
Tranggg...
Terjadi benturan kembali antara tangan kakek dengan ular itu, kemuadian ular itu menyemburkan ludah yang mengandung bisa ke kepala kakek.
Akan tetapi Kakek sudah menduga akan serangan itu.
"Ha...ha...ha...jorok sekali kamu, hai ular Iblis!, buang ludah sembarangan dikepala orang."
Tubuh kakek berkelebat melewati bagian muka ular Iblis itu, dan melepaskan Pukulan Penghancur Besi.
Brakkk...
Kepala ular terlempar kebelakang, ular itu sangat kesakitan, hingga terguling kesamping kiri, kanan.
"ha...ha...ha... ****** kau ular iblis." seru Kakek botak itu.
Tidak lama ular itu terguling, tiba tiba kepalanya terangkat sedikit sempoyongan, ular itu mulai menyemburkan bisa dan ekornya bergerak menuju ke tubuh kakek.
Melihat serangan ular itu kakek mengeser tubuhnya kesamping untuk menghindar dari semburan bisa, sambil mengeluarkan jurus Pedang Kilat, terlihat ditangan kakek sebuah pedang yang memancarkan aura sinar biru seperti kilatan petir lalu ular itu berdesis.
Trankkk...
Suara benturan pedang dengan leher ular itu yang mengakibatkan leher ular terobek setengah, belum sempat ular jatuh, pedang itu kembali menyambar kepalanya.
Kepala ular terbelah menjadi dua bagian, ularpun terguling di tanah, menimbulkan bunyi yang sangat berisik.
Cukup lama ular itu terguling dan akhirnya ular itu mati, tubuhnya tidak bergerak lagi.
Suara keributan itu membangunkan Sukame
"ea...ea...ea...!"
Suara tangisan itu memecahkan malam bersamaan dengan kematian si ular iblis. Kakek botak mendengar suara tangisan seorang bayi, dia terkejut mengerutkan dahinya.
"Jangan sampai ada iblis lain yang sedang memakan seorang bayi!" seru kakek botak itu
Iapun melompat mendekati asal suara tangisan itu, dengan penuh kewaspadaan mengintip dari balik rimbunnya pepohonan.
"Ah!" seru kakek itu, melihat seorang wanita membujuk bayinya yang sedang menangis, pemandangan itu menyentuh hati kakek botak.
"Sedang apa kalian berada di hutan ini?" tanya Kakek itu menggagetkan wanita itu.
Karena waktu itu gelap, Bibi Nam mendengar suara itu menjadi ketakutan, dengan terbata bata bibi berseru "ha-ha-han-tuuu...!"
Bibi yang ingin berlari, akan tetapi kakek sudah berada selangkah didepannya, seluruh tubuhnya gemetar, mulut keluh, dan tangisan Sukame semakin keras.
"Am-pun!" seru Bibi Nam.
Untungnya dengan cepat kakek melompat dan memegangi tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh, kakek itu membawa mereka di mana tempat ular tadi mati.
Tidak terasa sudah pagi bibi terbangun, ketika mencium bau daging bakar yang aromanya membuat air liur meleleh, dan ketika melihat seorang botak gendut yang telanjang, tubuh Bibi gemetaran.
"Sudah bangun?" tanya kakek botak yang melihat keberadaan Bibi sambil tersenyum.
Mendengar pertanyaannya itu membuat tubuh Bibi Nam semakin gemetaran dan ingin pingsan, akan tetapi dia ingat Sukame,
"Mana Sukame?" tanya bibi berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak jatuh.
Ternyata Sukame berada disamping kakek botak itu, sambil tersenyum kakek memberikan Sukame kepada bibi, tanpa takut lagi bibi mengambil Sukame dari tangan kakek.
"Kamu baik-baik saja kan?" ucap bibi kepada Sukame, sedangkan anak itu tersenyum ketika didalam gendongannya.
"Semalam kamu pingsan ketika bertemu dengan saya" kata Kakek botak itu sambil tersenyum.
Bibipun teringat akan kejadian semalam yang membuat dirinya pingsan hingga tertidur sampai pagi. Iapun mengucapkan terimakasih kepada kakek itu.
"Namaku Hanbow seorang pengelana" kata kakek itu memperkenalkan dirinya.
"Kenapa kalian bisa berada di tengah hutan ini?" tanya Kakek lagi.
"Apa kalian tidak takut dengan binatang buas?"
Bibi bercerita semua kejadian yang ia alami mulai dari peristiwa di Partai Tangan Sakti sampai mereka bisa berada di hutan ini.
Setelah mendengar cerita dari bibi Nam, kakek botak itupun merasa iba.
"Makanlah daging ini!" seru kakek.
Bibi melihat daging berwarna merah, sehabis dipanggang langsung melahapnya, sebab ia terasa lapar semalaman belum makan. Bibi tidak mengetahui kalau daging itu ular Iblis yang telah dibunuh kakek botak.
Sebelumnya kakek botak telah menguliti ular itu, kemudian memotong menjadi kecil karena daging itu terlalu banyak, maka beberapa potongan untuk di panggang sedangkan yang lainnya di jemur kemudian diasapkan untuk di buat dendeng.
"Bagaiman dagingnya, enak...?" tanya Kakek.
"Enak sekali, baru kali ini saya makan daging yang begitu lezat" ucap bibi sambil makan dengan lahapnya.
Kakekpun tersenyum mendengar jawaban bibi.
R I P 💐
1. Berlari di atas Awan
2. Tangan Penyembah.
Jurus yg laen pada kmna..!??