Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Naya ragu untuk mendekat. Perlahan ia berjalan dan duduk di atas lantai. Perasaan Rangga malu luar biasa hingga ia tak berani untuk menatap wajah Naya.
Selesai mengenakan pakaiannya Rangga langsung meraih tas ransel nya dan keluar. Hati Naya sedikit lega dengan kepergiannya.
Waktu berlalu. Rangga dan Naya agak lebih dekat saat Rangga mulai memberikan nafkah pertama untuk Naya dari pemberian sang mama. Rangga tak malu sedikitpun karena itu. Ia menutup mata dan telinga dari ucapan dan pikiran buruk keluarganya yang menanggapinya tak tahu malu. Ia sudah bertekad jika nanti dirinya selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan ia akan mengganti semua itu.
"Rangga," panggil Abdullah. Ia mendekat kepada sang putra saat Rangga melintasi ruang tamu.
Dengan malas Rangga pun menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Papa akan memberimu posisi CEO di salah satu hotel milik, Papa. Papa yakin kamu bisa menanganinya dengan baik."
Rangga tersenyum kecut, "Aku tak tertarik," jawab Rangga ketus. "Aku punya jalan ku sendiri. Papa tak usah pikirkan diriku. Perhatikan saja anak-anak kebanggaan, Papa."
Abdullah meraih pundak Rangga dengan satu tangan dan berucap, "Jangan coba melawan ku," ancam nya.
Rangga sedikit ketakutan dan hanya mampu terdiam. Ia tak mengerti mengapa ia selalu keok ketika berhadapan dengan Abdullah.
"Pergilah," perintah Abdullah. Ia lantas meninggalkan putranya yang berdiri terpaku menatap punggungnya yang menjauh.
30 menit kemudian....
Rangga tiba di kampus dan segera melihat siapa saja yang akan berkelompok bersamanya saat KKN nanti di papan pengumuman. Seseorang menepuk bahunya, "Kita satu kelompok," ucap Max sumringah.
"Mantan mu juga masuk nih," balas Rangga jail.
"Tak ada gregetnya lagi hatiku padanya. Semua wanita itu sama! Kau tak keluarkan dan perlihatkan isi dompet mu hatinya takkan bergetar!" gerutu nya yang mengingatkan Rangga pada mantan nya dahulu.
"Kita beruntung dapat anggota kelompok yang sudah kita kenali. Cuma yang Ria anak hukum itu sedikit ketus dan menyebalkan. Aku harap dia tak menjadi duri dalam daging nantinya," terang Max santai sambil membuka bungkusan permen karet dan menelannya.
Setelah mengetahui dengan siapa dan akan ditempatkan dimana, kelompok Rangga mulai menjalani proses pengenalan lebih dalam satu sama lain. Selama proses pendekatan itu Rangga mulai akrab dengan Tias. Gadis yang supel dan sedikit pemalu. Rangga tahu jika gadis itu telah lama menyukainya. Rangga memberikan peluang untuknya dan mereka jadi sering chat saat Rangga seperti biasa menghabiskan banyak waktunya di luar rumah.
....................
Tanpa sepengetahuan Naya, Rangga mengepak barangnya kedalam sebuah koper. Naya yang baru saja selesai mandi mendekat kepadanya dan bertanya dengan ragu, "Mau kemana?"
Rangga mendongak dan berdiri tegak, "Aku akan berangkat KKN kira-kira 1 setengah bulan. Jaga dirimu baik-baik selama aku tak ada. Jangan buat kesalahan yang membuat nama baik ku tercoreng di mata keluarga. Dan satu," ia mengacungkan telunjuknya dan mendekat kepada Naya, "jaga jarak dengan kak Ilham. Jangan jadikan Sulaiman sebagai dalih mu untuk bisa dekat dengannya."
"Aku tak pernah dekat dengannya. Hanya sesekali ketika kami tak sengaja bertemu," sela Naya namun tak dipedulikan suaminya itu.
Rangga memasang jaketnya. Ia merogoh dompet yang ada di belakang celananya dan mengeluarkan uang senilai 3 juta rupiah dan menyodorkan nya ke hadapan Naya, "Ambillah, pergunakan dengan bijak sampai aku pulang."
"Hati-hati, Mas," pinta Naya lirih. Ia sama sekali tak siap ditinggalkan oleh Rangga. Matanya berkaca-kaca dan ingin sekali rasanya ia mendapatkan pelukan yang selama ini tak pernah dirasakan.
Naya mengantar Rangga menuju lantai bawah. Rangga hanya berpamitan kepada Susan yang sedang menikmati makan pagi bersama seluruh keluarga. Ia berlalu diantar oleh Naya sampai depan rumah. Rangga memutuskan untuk memakai motor karena desa terpencil tempat ia ditempatkan hanya bisa dengan lebih mudah dilintasi menggunakan sepeda motor.
"Mas jangan lupa makan," pinta Naya. Rangga bisa melihat ketulusan seorang istri di matanya.
"Jangan seperti ini. Kita bukan suami istri yang normal," ucap Rangga mengingatkan seperti apa selama ini hubungan mereka.
Rangga berlalu dengan membawa hati Naya bersamanya.
.................
Naya ragu untuk berbaur bersama keluarga Abdullah yang saat ini berkumpul di di ruang keluarga. Ia kian merasa tak pantas setelah mendapatkan sikap dingin sebagian anggota keluarga itu. Abdullah pun semakin kesini kian tak mempedulikannya. Terlebih selama tinggal di rumah itu hanya Ilham dan Rosi yang mau mengajaknya berkomunikasi, itu pun hanya sekadarnya. Sulaiman lah yang menjadikan hatinya masih merasakan sejumput kebahagiaan selama anak itu mendapat giliran tinggal di rumah papanya.
"Naya!" panggil Ilham saat gadis itu semakin mendekat. Semuanya menoleh, "Kemari lah!" pintanya senang.
"Sini Nay, kumpul-kumpul!" sambung Rosi ramah.
Naya mendekat perlahan dan membungkuk seraya duduk di atas permadani tepat disamping Rendra, "Permisi, Kak," ucapnya santun.
Rendra mengubah posisinya yang tadi santai dengan kepala ditopang tangan kirinya lalu duduk tegak.
"Naya!" panggil Rina.
Naya menoleh kebelakang.
"Kamu bisa buat spaghetti nggak?" tanyanya lugas.
"Bisa, tapi dengan bahan yang sudah jadi," jawab Naya ragu.
"Buatin dong, Mona dan yang lainnya sedang sibuk. Cepet sedikit," pintanya memaksa.
Naya dengan polos nya memenuhi perintahnya dan segera ke dapur. Ia mendapati Mona sedang bersantai bersama beberapa pembantu di meja makan khusus untuk para pelayan. Perasaan Naya diselimuti rasa tak terima dengan perlakuan Rina. Tetapi apa boleh buat, ia sudah bersedia mengikuti keinginan adik iparnya itu.
"Mona, dimana bahan untuk membuat spaghetti?"
"Tuh, di lemari makanan warna putih paling atas," jawabnya lancang dengan sikap masa bodo.
Naya masih bersabar. Dengan sedikit kesal ia membuka lemari yang ditujukan Mona dan mulai mendidihkan air untuk merebus spaghetti.
Usai pasta itu sudah lunak Naya pun mengangkatnya hati-hati keatas piring saji dan menaburinya dengan saus spaghetti instan. Ia segera membawanya kepada Rina yang ia pikir masih berada di ruang keluarga.
"Maaf, Rina mana, Rosi?" tanyanya ketika yang ada ditempat itu hanya ia dan Ilham.
"Dari tadi sudah pergi setelah menerima telepon."
Ilham segera bangkit dan mendekat, "Biar aku saja yang makan. Kebetulan sudah lama aku tak memakan spaghetti." Tanpa persetujuan dari Naya ia mengambil makanan itu dan duduk disamping Rosi. "Kemari lah, kita duduk bersama," pintanya sambil menepuk sofa yang ada disampingnya.
"Saya di bawah saja."
Mendengar dan melihat sikap yang ditujukan Naya, Ilham kian menyukainya. Ia suka dengan sikap Naya yang sangat santun. Gadis itu kian membuat perasaannya terlena dengan rasa kagum yang mulai berubah menjadi cinta.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya