Raihan, mahasiswa yang sempurna harus berurusan dengan seorang gadis yang memiliki kasta jauh lebih rendah darinya namun berprinsip kuat.
Rena sudah terbiasa disakiti oleh Raihan yang tak lain adalah suaminya. Namun bukan berarti Ia menjadi lemah dan tenggelam dalam kesedihan terus menerus. Ia bisa bangkit dan menjalani kehidupan seperti biasanya.
Saat Rena sibuk dengan dirinya sendiri, Raihan mulai menyadari seberapa penting kehadiran Rena dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Addicted 7
Nathalie adalah salah satu pegawai yang benar-benar muak dan tidak terima dengan keputusan Xander. Nathalie tahu betul bagaimana kontribusi Carra terhadap kafe selama ini. Ia sangat malas dan hanya bisa mengatur.
Semua pegawai kembali dibubarkan usai pengumuman dari pemilik kafe disampaikan. Xander meninggalkan kafe untuk mengurus bisnis nya yang lain, sementara para pegawai kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
"Aku kesal sekali, Rena. Dia tidak pantas mendapatkan jabatan itu. Bukan aku merasa iri, hanya saja aku tahu betul dia seperti apa. Rasanya sangat tidak rela bila harus dipimpin oleh dia,"
Rena mendengar gerutuan Nathalie setelah Carra menjauh dari mereka. Carra ke toilet, mungkin untuk dandan.
"Terima saja, Nath. Kita tidak bisa melawan atasan. Tuan Xander mungkin bisa dibohongi, tapi Tuhan tidak."
*****
Nenna dan Denrio datang ke kampus bersama. Hal itu menjadi pusat perhatian mahasiswa yang sudah hadir pagi ini.
Biasanya Nenna pergi dengan Raihan, atau sendiri menggunakan mobilnya. Sekarang dengan terang-terangan diboncengi oleh Denrio yang membawa motor barunya.
Tidak lama mereka tiba, Raihan, Sergi, Edric, dan Gion pun mendaratkan motor mereka di area parkir kampus.
Tidak seperti mahasiswa lain yang merasa tidak habis pikir dengan kedekatan Nenna dan Denrio, Raihan memilih tidak peduli. Ia masuk ke dalam kelasnya.
"Gadismu dengan Denrio, Rai."
"Ck! sejak kapan aku mengakui bahwa Nenna milikku? jangan sebut dia gadisku!"
"Sepertinya dia mulai lelah mengejarmu,"
Raihan terkekeh pelan. Lelah? tidak ada kata lelah bagi Nenna untuk meraihnya. Nenna sudah sangat terobsesi sepertinya.
Raihan meraih ponselnya di dalam saku. Kemudian Ia dibuat mengerinyit saat Christ menelponnya.
Hari ini Raihan tidak berangkat dari rumahnya. Karena Ia menghabiskan waktu di kelab hingga pagi, dan ia malas bertengkar dengan ayahnya. Akhirnya Raihan memutuskan untuk menginap di apartemennya.
"Hallo, Ayah."
"Dimana kau?! kenapa semalam tidak pulang?!"
"Tidak perlu aku jelaskan pasti ayah sudah tahu."
Raihan mendengar makian keluar dari mulut ayahnya. Ia hanya mendengarkan dalam diam seraya tersenyum miring.
"Pulang dari kampus, datang ke kantor ayah,"
"Hmm okay,"
******
Christ mematikan panggilannya dengan Raihan. Kemudian Ia menghubungi detektif nya yang Ia perintahkan menggali informasi lebih lanjut mengenai kesalahan yang dilakukan Raihan beberapa malam lalu.
"Gadis itu menjadi pelayan kafe ketika siang. Dan malam hari, dia menjadi wanita penghibur di rumah bordil itu, Tuan."
Penjelasan singkat namun merangkum semua jawaban atas rasa penasaran Christ. Rupanya Raihan melecehkan wanita yang memang bekerja di sana. Yang membuat Raihan tak habis pikir, kenapa Raihan harus melecehkan terlebih dahulu? sementara Ia mampu untuk membayar, setidaknya itu tidak membuat namanya tercoreng.
"Aku yakin sekali, sebentar lagi sudah ada berita miring di luar sana. Perempuan itu pasti tidak akan tinggal diam untuk membuat Raihan malu,"
Christ khawatir perempuan yang dilecehkan angkat bicara kemudian membuat nama baiknya buruk di mata publik hanya karena perbuatan sang putra.
"Dia sudah diberi uang. Tidak mungkin---"
"Perempuan seperti itu gila harta. Tidak ada kata cukup baginya. Apalagi setelah dia tahu Raihan adalah lelaki yang memiliki banyak uang, bisa membayarnya tiga milyar,"
*****
Rena belum mendapat bagian dari uang yang diberikan Raihan kepada Baretta. Ia kira pada malam itu langsung diberikan oleh Baretta.
Bila Rena sudah memperoleh bagiannya, Rena akan langsung menabungnya. Sebagian untuk dirinya melanjutkan kuliah, sementara sisanya untuk makan sehari-hari.
Gaji yang diterima Rena dari kafe belum sebanyak rekan-rekannya yang lain. Karena dia adalah pegawai baru di sana.
Rena bekerja dengan tulus dan tidak perhitungan tenaga, berbeda sekali dengan apa yang dikatakan Carra terhadap Xander selama ini. Biarpun gaji nya tergolong masih kecil, tapi Rena tetap bekerja dengan giat. Dan malam Ia harus mencari uang dari ladang yang lain.
"Rena, sudah waktunya kamu pulang. Kamu kenapa masih bekerja?"
"Iya, sebentar lagi, Nath."
Rena sedang sibuk mencuci cangkir yang digunakan oleh beberapa pengunjung tadi. "Kalau dia belum mau pulang, ya biarkan saja, Nathalie."
"Tidak bisa, dia juga ada rasa lelah." sahut Nathalie dengan sinis pada Carra yang datang-datang langsung ikut campur percakapannya dengan Rena.
Rena melirik Nathalie, berharap temannya itu sadar akan peringatan darinya. Nathalie tidak ada rasa segan sama sekali. Ia yang mendengar ucapan Nathalie, dibuat merasa gemetar. Kenapa? karena takut dilaporkan pada Xander. Sementara Nathalie santai saja, dia malah terlihat berkebalikan dengan Rena.
"Kalian sudah bersahabat baik ya sepertinya?"
"Ya, ada masalah dengan mu?"
"Jangan kurang ajar denganku, Nathalie. Kamu lupa siapa aku?"
"Aku ingat, tapi aku tidak peduli. Yang aku lakukan tadi adalah hal yang benar. Tuan Xander akan marah kalau mengetahui pegawainya masih bekerja disaat jam kerja nya sudah selesai,"
Rena menyentuh bahu Nathalie sebelum memasuki ruang ganti baju, untuk melepas seragamnya.
Nathalie dan Carra sempat beradu tatapan tajam. Lama-lama Nathalie muak melihat wanita di depannya itu.
Ia segera beranjak untuk menyibukkan dirinya dengan kewajiban sebagai pegawai yang bekerja di sana. Dia bukan orang yang berakal bulus, menghindari pekerjaan tapi gaji tetap lancar.
*****
Anak seorang pengusaha sukses melecehkan seorang perempuan. Apakah tidak ada uang untuk melakukan transaksi?
Headline berita itu membuat Christ geram. Ia melihat wajahnya dan Raihan terpampang jelas di sebuah media masa yang ada di depan matanya.
Secepat kilat Ia meminta bantuan pada orang-orangnya untuk menghapus jejak berita ini sebelum semakin menyebar. Entah sudah sampai mana penyebarannya, Christ tidak ingin tahu.
Ia menunggu Raihan datang ke kantor dengan emosi yang luar biasa. Belum hilang kesalnya setelah tahu bahwa Raihan melecehkan seorang perempuan, kini ada lagi yang membuat emosinya melonjak tajam.
"Ayah, ada ap--"
"Masuk!"
Raihan sudah datang. Ia memunculkan kepalanya sedikit tapi karena sudah diperintahkan untuk masuk, Ia segera menurut.
Christ melempar apa yang dia baca tadi ke arah Raihan agar Raihan juga bisa membacanya.
Raihan membaca sekilas kemudian dia menatap Christ. Belum sempat melakukan pembelaan, Christ sudah menghajar Raihan.
"Kamu membuat Ayah malu, Raihan."
"Ini berita murahan. Semuanya tidak benar, lagipula aku sudah memberikan uang," jelasnya tak ingin panjang lebar karena perutnya kesakitan usai diberi pelajaran oleh Christ menggunakan kepalan tangannya.
"Tidak pakai otak! Kamu memiliki banyak uang 'kan? kenapa harus melakukan itu pada perempuan?! walupun kamu sudah mengganti rugi, tetap saja itu sebuah kesalahan!"
Raihan meringis kesakitan seraya memegang perutnya. Sementara Christ masih menatap anaknya dengan tatapan menghakimi.
"Wanita itu pasti tidak membiarkan kamu lepas begitu saja. Uang yang kamu berikan tidak akan pernah cukup untuknya,"
Raihan menggeram dan memaki dalam hati. Ia kira semuanya sudah selesai setelah Ia memberikan uang pada Baretta ternyata timbul masalah baru. Entah Baretta yang menyebarkan berita itu atau Rena, Raihan tidak tahu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Raihan setelah duduk di sofa. Ia masih bisa mengangkat tubuhnya yang tadi sempat dibuat tersungkur oleh sang ayah.
"Mungkin saja dia hamil, Raihan."
"Tidak mungkin, Ayah! aku tidak melakukan apapun. Ayah harus percaya padaku!"
"Kalau memang kau tidak melakukannya, kenapa kau rela mengeluarkan uang?! tujuannya agar dia tutup mulut 'kan? nyatanya dia tidak bisa menutup mulutnya,"
"Terjadi kesalahpahaman. Aku pikir, dengan uang semua selesai."
Christ ingin sekali mencekik anaknya, menampar mulut yang suka meremehkan permasalahan itu.
"Kau harus bertanggung jawab, Raihan!"
"Tanggung jawab untuk apa? aku tidak melecehkannya. Aku sudah memberinya uang meskipun aku tidak melakukan apapun. Jadi aku harus bagaimana lagi?"
"Ayah tidak percaya kamu tidak melakukannya. Mengingat betapa liarnya kamu selama ini,"
Raihan menggeleng jengah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan kepada ayahnya bahwa dia tidak bersalah. Ia adalah pihak yang dirugikan di sini. Ia sudah mengeluarkan banyak uang agar Baretta tidak mengekspos kesalahpahaman nya.
"Kita temui saja perempuan itu. Tanya langsung padanya, aku melakukan apa."
--------
Up tengah maleem ada yg masih blm bobok? abis baca ini, jgn lupa bobok yaaa😴 Selamat istirahat semuanyaa💙
Udh tinggalkan jejak blm? aku udh rajin up lho ini😉kl udh tingglkan jejak, cuss mampir ke sini👇
Up
Semangat
Semangat
Denrio ga seperti rayhan yg sudah bisa cari uang sendiri
Semangat
Semangat