NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

BAB 7

FOTO LAMA

Pada usia delapan belas tahun, Raka sudah dipercaya membawa motor sendiri ke kampus, mengurus dokumen keluarga, dan memperbaiki hampir semua komputer di rumah.

Namun bagi Wiwid, ia tetap anak kecil yang pernah menangis karena es lilinnya jatuh.

"Sekalian antar oleh-oleh ini ke Studio Widuri," kata Herman sambil meletakkan dua kotak peuyeum dan keripik di atas meja. "Bibi Wid belum sempat pulang sebulan ini."

Raka yang sedang memasukkan laptop ke tas menoleh terlalu cepat. "Sekarang?"

"Kalau kamu ada kelas, nanti saja."

"Kelasku siang. Bisa sekarang."

Bu Imas keluar dari dapur sambil membawa kantong kain. "Bawa juga album ini. Ada foto lama waktu Mamah sama Bapak masih muda. Wiwid pasti mau lihat."

Herman tertawa. "Waktu itu dia baru beberapa tahun tinggal bersama kita. Badannya kecil, tapi kalau marah satu rumah dengar."

Wiwid datang ke keluarga Permana ketika usianya dua tahun. Ia anak seorang sahabat keluarga yang meninggal dan tidak mempunyai kerabat dekat yang sanggup merawatnya. Orang tua Herman membawanya pulang, membesarkannya sebagai anak sendiri, lalu semua orang memanggilnya adik Herman.

Tidak ada hubungan darah di antara mereka.

Namun Raka lahir jauh setelah itu. Sejak kecil, ia diajari memanggil perempuan tersebut Bibi Wid, menaruh tangannya di dahi saat bersalaman, dan mendengarkan semua omelannya seperti mendengarkan anggota keluarga yang lebih tua.

Raka melakukan semuanya dengan patuh.

Sampai perasaannya berhenti patuh.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Bu Imas.

Raka buru-buru mengangkat kotak oleh-oleh. "Nggak. Aku berangkat sekarang."

***

Studio Widuri menempati lantai dua sebuah ruko di Jakarta Selatan. Dari tangga saja sudah terdengar suara Wiwid mengatur orang.

"Lampunya geser kiri. Kiri lo, bukan kiri modelnya! Aduh, euy, kabel itu jangan diinjak."

Raka berdiri di pintu sampai sesi foto berhenti.

Wiwid mengenakan celana kargo hitam, kaus longgar, dan rambut yang diikat seadanya. Kamera besar menutupi setengah wajahnya. Ketika akhirnya melihat Raka, ia menurunkan kamera dan mengernyit.

"Ngapain lo ke sini? Bolos?"

"Kelas jam satu. Bapak nitip oleh-oleh."

"Oh, kirain kangen sama gue."

Raka menatapnya. "Kalau iya?"

Wiwid sudah berbalik mengambil kotak, sehingga tidak melihat kesungguhan di wajahnya.

"Kalau iya, berarti hidup lo kurang tugas kuliah." Ia membuka satu kotak dan berseru kepada kru, "Istirahat! Ada makanan dari rumah."

Orang-orang langsung berkumpul. Raka membawa album ke meja kerja Wiwid, tetapi sebuah softbox hampir roboh ketika salah satu kaki penyangganya tersangkut kabel.

Ia menangkap tiangnya sebelum jatuh mengenai seorang model.

"Pelan!" Wiwid berlari mendekat. "Tangan lo kena?"

"Nggak."

"Coba lihat."

Tanpa menunggu izin, Wiwid memegang pergelangannya dan membalik telapak tangannya. Ada goresan kecil di pangkal ibu jari.

"Ini namanya kena. Duduk."

"Cuma lecet."

"Raka."

Satu panggilan tegas itu masih mampu membuatnya duduk seperti anak delapan tahun. Wiwid mengambil kotak obat, membersihkan goresan, lalu menempelkan plester bergambar kucing yang biasa dipakai untuk model anak.

"Serius?" Raka mengangkat tangannya.

"Cocok."

"Aku sudah delapan belas."

"Baru delapan belas," sahut Wiwid. "Masih mahasiswa semester satu, sudah protes segala."

Ia membungkuk untuk merapikan ujung plester. Wajah mereka mendadak hanya berjarak beberapa sentimeter.

Raka mencium aroma kopi di napasnya dan parfum yang sudah bercampur keringat kerja. Wiwid tidak memakai riasan selain alis tipis, tetapi ada bintik kecil di bawah mata kirinya yang selalu diingat Raka dari setiap foto.

Wiwid mengangkat kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Tangannya masih memegang jari Raka.

"Kenapa?" tanyanya.

Raka seharusnya menunduk. Seharusnya tertawa dan memanggilnya Bibi Wid, lalu membiarkan momen itu lewat.

"Nggak kenapa-kenapa."

Wiwid melepaskan tangannya lebih cepat daripada perlu. "Bantuin gue pindah kotak latar ke gudang kalau memang belum mau pulang."

"Siap, Bibi."

Kata itu meninggalkan rasa pahit yang sudah terlalu dikenalnya.

***

Raka tinggal hampir tiga jam.

Ia memindahkan lampu, merapikan kabel, memasang ulang perangkat lunak tethering yang bermasalah, lalu membawakan dua gelas kopi untuk Wiwid dan asistennya. Wiwid menerima semua bantuan itu tanpa curiga.

"Anak komputer memang berguna," katanya sambil memeriksa hasil foto di monitor. "Kapan-kapan gue bayar lo jadi teknisi."

"Nggak usah dibayar."

"Jangan sok kaya. Uang makan anak kuliah mahal."

"Kalau bayarnya makan sama Bibi, boleh."

Wiwid berhenti menggeser tetikus. "Makan sama keluarga namanya bukan bayaran."

"Kalau bukan sebagai keluarga?"

Kali ini Wiwid menoleh penuh. Raka pura-pura sibuk menggulung kabel.

"Maksud lo apa?"

"Maksudku makan di luar. Biar nggak terus-terusan di studio."

"Oh." Wiwid tertawa pendek. "Gue pikir otak lo mulai rusak."

Raka ikut tersenyum, meski bagian dalam dadanya terasa ditekan.

Wiwid kemudian membuka album yang dibawa Raka. Di halaman pertama ada foto hitam putih orang tua Herman, lalu foto keluarga dengan seorang balita kurus berdiri di tengah. Balita itu memakai gaun terlalu besar dan menatap kamera dengan wajah galak.

"Ya ampun." Wiwid menutup mulut. "Kenapa rambut gue kayak sapu ijuk?"

"Mamah bilang itu foto tahun pertama Bibi tinggal di rumah."

"Berarti umur gue sekitar tiga tahun." Wiwid menyentuh permukaan plastik album. "Gue nggak ingat waktu dibawa ke keluarga Permana. Yang gue ingat, dari kecil Kang Herman selalu rebutan kerupuk sama gue."

Ia membalik halaman. Tidak ada satu pun foto yang memperlakukan Wiwid seperti tamu. Ia berdiri di antara saudara-saudara Herman saat Lebaran, duduk di pangkuan ibu angkatnya ketika sakit, dan kemudian menggendong Raka yang masih bayi.

"Bibi pernah merasa bukan bagian dari keluarga?" tanya Raka.

Wiwid menggeleng. "Nggak pernah. Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Jangan ikut-ikutan Lani kalau ditanya jawabnya begitu."

Raka menunjuk foto ketika Wiwid menggendongnya. "Waktu itu aku umur berapa?"

"Belum setahun. Lo tukang nangis. Kalau bukan gue yang gendong, nggak mau diam."

"Berarti dari dulu aku memang pilih Bibi."

Wiwid memukul lengannya dengan album. "Gombal begitu simpan buat anak kampus."

Raka menahan senyum. Andai semudah itu.

Menjelang zuhur ia pamit. Wiwid memaksanya membawa satu kotak makanan untuk bekal kampus dan mengingatkan agar tidak kebut-kebutan.

"Iya, Bibi Wid."

"Terus plesternya jangan dilepas dulu."

Raka mengangkat tangan bergambar kucing. "Siap."

Di tangga, dompetnya terjatuh saat ia hendak mengambil kunci motor. Sebuah foto lama meluncur keluar dan mendarat dengan sisi gambar menghadap atas.

Wiwid berdiri sendirian di tepi pantai, rambutnya diterbangkan angin. Foto itu diambil bertahun-tahun lalu, ketika Raka baru cukup besar untuk meminjam kamera saku keluarga. Wiwid menertawakannya setelah melihat hasil yang miring, lalu membuang cetakannya ke meja.

Raka menyimpannya.

Sudut foto sudah lunak karena terlalu sering disentuh. Di belakangnya, dengan tulisan tangan anak berusia sebelas tahun, ada satu kalimat yang tidak pernah ia hapus.

`Wiwid paling cantik kalau nggak tahu sedang difoto.`

Suara langkah terdengar dari lantai atas.

Raka segera mengambil foto itu. Ia menyelipkannya ke bagian terdalam dompet, tepat di belakang kartu mahasiswa yang membuktikan dirinya sudah dewasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!