Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tiba-tiba, suara deru mesin V8 yang sangat berat terdengar mendekat dari arah dalam perumahan.
Lampu depan menyorot terang membelah kegelapan malam.
Sebuah Mercedes G-Class hitam doff melaju pelan dan berhenti tepat di depan gerbang besi yang otomatis terbuka.
Kaca jendela kemudi turun secara perlahan.
Sosok Amir terlihat duduk santai di balik kemudi dengan tatapan yang luar biasa dingin dan tajam.
Aura intimidasi dari Keris Naga Darah langsung menyapu keluar dari dalam mobil mencekik leher Bu Rina dan Siska.
Mereka berdua mendadak kesulitan bernafas dan kaki mereka gemetar hebat menahan tekanan batin yang luar biasa itu.
"A... Amir, kau benar-benar tinggal di dalam perumahan istana ini?"
Bu Rina bertanya dengan mulut menganga lebar tidak percaya melihat kemewahan mantan menantunya itu dari dekat.
Amir sama sekali tidak menjawab pertanyaan bodoh wanita tua serakah itu.
Ia menatap lurus ke arah Siska yang kini air matanya terus mengalir deras menghapus riasannya.
"Waktu kalian tersisa satu jam lagi sebelum Bang Toyib membedah perut Rendy."
"Apa yang ingin kalian tawarkan padaku untuk uang tiga puluh lima juta yang tidak berharga ini?"
Amir berbicara dengan nada mendominasi seolah ia adalah dewa yang sedang mengadili dua pendosa hina.
Bruk!
Bu Rina tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut di atas aspal jalanan yang kotor.
Ia membuang semua kesombongan dan gengsi yang selama ini ia agung-agungkan di depan Amir.
"Amir menantuku yang paling baik, ibu mohon ampuni ibu Amir."
"Ibu buta karena harta sampai memaksa Siska menceraikanmu dan menendangmu ke danau."
"Tolong selamatkan adikmu Rendy, dia sangat menyayangimu sebagai kakaknya!"
Bu Rina berbohong memutarbalikkan fakta dengan tangisan histeris yang memekakkan telinga.
Amir tersenyum sinis mendengar kata-kata manis beracun dari wanita tua itu.
"Menantu? Kakak? Sepertinya ingatanmu sudah mulai pikun ya wanita tua."
"Surat cerai yang kau lempar ke wajahku tempo hari sudah resmi memutuskan semua hubungan darah kita."
"Rendy bukan adikku, dia hanyalah sampah pembawa sial yang berani menendangku dari belakang demi uang dari tunangan palsu putrimu."
Kata-kata Amir begitu tajam bagaikan ribuan silet yang mengiris-iris hati Bu Rina.
Siska ikut berlutut di sebelah ibunya sambil memegang pinggiran pintu mobil Amir.
"Amir, aku janji akan rujuk denganmu dan membatalkan semuanya."
"Aku akan mencuci pakaianmu, memasak untukmu, dan melayanimu setiap hari layaknya istri yang berbakti."
"Tolong berikan aku uang tiga puluh lima juta itu sekarang juga Amir!"
Siska merengek memohon dengan wajah yang sangat menyedihkan dan putus asa.
Amir menepis kasar tangan Siska dari pintu mobilnya dengan tatapan penuh rasa jijik yang mendalam.
"Melayaniku setiap hari?"
"Untuk memasak dan mencuci aku sudah punya pelayan profesional yang jauh lebih bersih dan setia dari wanita pengkhianat sepertimu."
"Dan untuk rujuk, aku lebih sudi menikahi anjing jalanan daripada harus menyentuh wanita murahan yang gila harta sepertimu."
Amir melontarkan hinaan balasan yang sangat telak dan menghancurkan seluruh sisa harga diri Siska berkeping-keping.
Siska menangis meraung-raung menyadari betapa bodohnya ia membuang berlian asli demi mengejar batu kerikil palsu bernama Kevin.
"Tapi Amir, tiga puluh lima juta itu cuma uang receh buatmu sekarang kan!"
"Kenapa kau pelit sekali pada mantan keluargamu sendiri, di mana hati nuranimu!"
Bu Rina mulai marah karena permohonannya ditolak mentah-mentah.
Sifat asli arogansinya kembali muncul saat ia merasa terpojok.
"Uang itu memang cuma uang receh untukku beli makanan anjing."
"Tapi aku jauh lebih suka melihat uang itu terbakar jadi abu daripada memberikannya pada keluarga benalu pembawa sial seperti kalian."
Amir menatap tajam ke mata Bu Rina membuat nyali wanita tua itu kembali menciut seketika.
"Biar saja lintah darat itu memotong-motong tubuh anak kesayanganmu malam ini."
"Itu adalah karma yang pantas untuk kalian berdua yang sudah menyiksaku selama tiga tahun penuh."
"Nikmati penderitaan kalian di neraka kemiskinan selamanya, Nyonya Rina, Nyonya Siska."
Amir menekan tombol otomatis untuk menaikkan kaca jendela mobilnya.
"Tidak Amir tunggu, jangan pergi tinggalkan kami, tolong hiks hiks!"
Siska menggedor-gedor kaca mobil Amir dengan putus asa.
Brmmm!
Amir menginjak pedal gasnya membuat mobil G-Class itu melesat membelah jalan raya meninggalkan mereka berdua.
Debu jalanan berterbangan menerpa wajah Siska dan Bu Rina yang masih berlutut di pinggir jalan raya.
Mereka kini menyadari penderitaan sesungguhnya baru saja dimulai malam ini.
Tidak ada keajaiban, tidak ada pahlawan, hanya ada kegelapan dan jeritan kesakitan Rendy yang menanti mereka di markas lintah darat.
Di dalam mobilnya yang melaju kencang, Amir memutar musik klasik dengan volume pelan.
"Sistem, dendam pertamaku sudah terbayar lunas dengan sangat elegan malam ini."
"Besok pagi aku akan pergi mencari lokasi memancing baru yang belum pernah dijamah manusia untuk meningkatkan kemampuanku lagi."
Amir bergumam dengan senyum kemenangan yang sempurna terlukis di wajahnya.
Hidup lamanya telah benar-benar mati dan terkubur bersama jeritan putus asa mantan istrinya di belakang sana.