NovelToon NovelToon
Aku Sudah Memaafkan

Aku Sudah Memaafkan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Trauma masa lalu / Hamil di luar nikah / Cintamanis / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 5
Nama Author: yu aotian

"Aku emang cinta sama kamu. Tapi, maaf ... kamu enggak ada di rencana masa depanku."


Tanganku gemetar memegang alat tes kehamilan yang bergaris dua. Tak bisa kupercaya! Setelah tiga bulan hubunganku dengannya berakhir menyakitkan dengan goresan luka yang ia tinggalkan, aku malah mengandung darah dagingnya.

Saat itu juga, aku merasakan duniaku berotasi tidak normal. Aku terisak di sudut ruangan yang temaram. Menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Namun, satu yang aku yakini, hidup itu ... bukan pelarian, melainkan harus dihadapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Senja yang Mempertemukan Kita

Dia semakin dekat. Dekat. Dan dekat. Bahkan membuatku tersentak ketika tiba-tiba saja langsung duduk di sampingku.

"Hei, kenapa kemarin kau lari kayak lihat hantu?!" sergahnya padaku tanpa basa-basi.

Aku yang enggan menoleh ke arahnya, lantas berdiri dan berpindah tempat duduk. Namun, dia malah mengikutiku ke tempat duduk yang baru. Aku segera melengos. Enggan melihatnya. Bahkan terang-terangan memiringkan badanku.

"Ayolah, jangan buat aku macam penagih koperasi! Kenapa kau takut lihat aku?" tanyanya lagi.

Salah satu cowok berteriak ke arah kami. "Arai, lo gak usah deketin tuh cewek! Percuma, gak bakal ngomong dia!"

Arai langsung berkata, "Siapa bilang? Orang aku semalaman telepon sama dia kok." Dia menoleh ke arahku, seolah memintaku membenarkan, "Ya, kan?"

Aku melotot seketika. Detik itu juga semua teman sekelas menyoraki kami berdua.

"Cie, Arai langsung pedekate!" teriak mereka.

Aku menatap sinis ke arahnya, tapi dia malah membalasku dengan melempar senyum lebar hingga menampakkan jajaran gigi depannya. Meski aku tahu dia mengatakan itu untuk membelaku, tetap saja aku merasa kesal.

Setelah dua mata kuliah selesai, aku masih harus menunggu mata kuliah di jam siang. Masih ada waktu tiga jam menuju mata kuliah tersebut. Namun, aku enggan pulang ke kos. Aku lalu memutuskan pergi ke warnet yang berada tepat di samping kampus. Keadaan warnet sangat ramai dengan mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugas atau sekadar bermain gim. Untungnya, aku masih mendapatkan satu bilik yang kosong.

Aku buru-buru membuka aplikasi Facebook hanya untuk mencari akun kak Evan. Aku sempat bingung saat hendak melakukan penelusuran nama. Pasalnya, orang-orang pada umumnya yang kerap menamai akun mereka dengan kata-kata berlebihan seperti, CeLaLu Setiia, si imOetsz anaQ baiQ, aQ si coMeeL, Qm sLL Diie hat1Q dan kata-kata aneh lainnya.

Aku pun iseng mengetik nama lengkap kak Evan di kolom pencarian. Evan Zionathan Andreas. Yeah ... aku mendapatkannya!

Aku kegirangan di depan layar komputer hanya karena berhasil menemukan Facebooknya. Ia memasang profil foto dirinya menggunakan almamater kampus. Hanya ada keterangan pendidikan yang tercantum di biodatanya. Ternyata dia alumni dari sekolah internasional.

Aku lantas menggulir aktivitas sosial medianya itu. Sayangnya, tak ada hal yang bisa kucari tahu tentang kehidupan pribadinya, seperti keluarganya atau pun siapa saja perempuan yang dekat dengannya.

Dia tampak jarang menulis status atau mengunggah foto. Status-status yang ditulisnya hanya berupa pengumuman kegiatan BEM. Foto-foto yang ada pun berasal dari kiriman teman-temannya. Tak ada juga jejak lama hubungan asmaranya dengan siapapun. Meski begitu, aku ingin meminta pertemanan di facebooknya agar bisa sering melihat aktivitasnya di dunia maya. Sangat ingin, tapi tak berani.

"Minta pertemanan, gak, ya?" gumamku sambil memainkan kursor.

Di tengah kebimbangan, mendadak aku mendapatkan ide untuk membuat akun palsu. Aku melakukan hal konyol ini demi bisa berteman dengannya, tanpa harus dia tahu kalau itu adalah aku. Hampir satu jam kuhabiskan untuk membuat email baru, akun baru, hingga mencari referensi foto pentolan girlband Korea untuk kupasang menjadi foto profil di akun palsu yang baru kubuat.

Yes ... akhirnya selesai juga. Aku sudah tak sabar untuk membuka kembali profil kak Evan. Begitu profilnya terbuka, kursor mouse siap untuk menekan tombol permintaan pertemanan. Aku sempat menghela napas seraya memejamkan mata sebelum melakukannya. Hanya untuk meminta pertemanan di dunia Maya saja, sensasi deg-degan yang kurasa sungguh luar biasa.

Satu ... dua ... tiga .... Aku membuka mataku dengan cepat. Aku melongo melihat keterangan layar komputer saat ini.

"Maaf, permintaan pertemanan untuk akun ini sudah penuh."

Arght! Aku lupa menyadari dia adalah seorang ketua BEM fakultas yang tentu saja dikenal banyak mahasiswa. Aku mendesis kesal. Sudah capek-capek bikin akun palsu, ternyata akunnya malah ful pertemanan. Rasanya ingin membanting komputer saat ini juga. Namun, aku tak ingin merasa sia-sia begitu saja. Kuambil beberapa fotonya dan kusalin ke ponselku.

***

Mata kuliah terakhir baru saja selesai pukul lima sore. Karena ini kuliah perdana, maka dosen belum memberi tugas apa pun. Sebelum pulang, aku kembali berkeliling fakultas. Rasa penasaran untuk mencari kak Evan masih menggebu-gebu. Bahkan aku sampai nekat mengintip ke gedung BEM fakultas. Di dalam sana tampak ada beberapa kakak senior yang waktu itu menjadi panitia ospek.

"Ada apa, Dek?" tegur seseorang dari dalam sana yang melihatku.

Aku menggeleng pelan sembari memutar tubuhku dengan cepat. Saat hendak melangkah, aku mendengar salah satu dari mereka bertanya.

"Eh, Evan mana, ya?"

"Kayak gak tahu aja. Jam segini paling lagi menyendiri di bawah pohon."

Mendengar itu, mataku yang sempat meredup langsung bersinar cerah. Ya, di bawah pohon mahoni.

Dengan segera, kulangkahkan kaki selebar mungkin menuju lokasi paling belakang kampus ini. Aku menambah kecepatan langkahku menjadi berlari kencang. Tak peduli dengan beberapa mahasiswa yang melihatku. Yang pasti, aku harus segera sampai ke tempat itu. Rasanya sudah tak sabar. Jantungku pun berpacu cepat, entah efek berlari atau karena tak sabar melihatnya.

Langkah kakiku mulai terayun pelan saat sudah semakin dekat. Napasku tersengal-sengal karena kelelahan. Namun, itu semua seolah tersapu begitu manik mataku langsung tertuju pada lelaki yang duduk diam di bawah pohon. Tak ada siapa pun selain dia, sama seperti hari-hari biasa.

Aku segera bersembunyi di balik pohon. Baru melihat punggungnya saja, sudah membuat bibir ini tersulam senyum. Namun, aku masih merasa kurang puas. Mataku berpendar lalu terhenti pada balkon yang sempat kudatangi. Tak ada siapa-siapa.

Kuberanikan diri menuju ke sana dengan mengendap-endap. Aku menahan napas saat menaiki tangga. Rasanya plong begitu tahu tak ada siapa-siapa. Aku segera ke balkon sambil menatap kak Evan yang berada di bawah sana.

Padahal cuma melihatnya mematung diam seperti itu, tapi sensasi yang terasa di tubuhku luar biasa. Kurasa otakku sedang melepaskan zat kimia semacam dopamin, oksitosin, adrenalin dan vasopresin yang memicu kesenangan.

Ini yang ketiga kalinya aku melihat dia berada di sana menjelang senja. Mungkinkah ini adalah tempat favoritnya? Kini, aku tahu ke mana dan kapan harus melihatnya.

Aku lantas ikut memejamkan mata seperti yang tengah ia lakukan saat ini. Rasanya nyaman juga merasakan angin menerpa kulit wajah. Aku terus memejamkan mata hingga beberapa detik. Suasana yang hening, membuat otakku lebih rileks.

"Gimana kau bisa lihat dia kalo mata kau ditutup macam itu!" Suara laki-laki tiba-tiba memasuki pendengaranku.

Seketika, mataku terbuka. Segera kularikan pandangan. Dia lagi, dia lagi! Ya, siapa lagi kalau bukan lelaki bernama Arai. Tiba-tiba muncul di sampingku sambil mengunyah kuaci dengan santai.

"Ah, ternyata kau sedang niru dia!" ucapnya sambil mencondongkan badan di pembatas balkon.

Kesal karena kehadirannya, aku langsung memutar badanku bersiap untuk pergi.

"Suka sama orang itu bukan aib!"

Ucapan Arai membuat langkahku mendadak terhenti. Lama aku terdiam tanpa bergerak. Dia mencoba mengintip wajahku yang membelakanginya.

"Hei, Gurita!"

"Namaku Gritta!" tandasku cepat dengan nada ketus.

"Ah, iya, aku lupa. Soalnya nama kau susah sekali disebut. Kayak ada barat-baratnya," ucapnya sambil terkekeh.

Tak peduli apa yang dia katakan, aku memutuskan segera beranjak. Namun, lagi-lagi dia mencegatku dengan mengatakan hal yang membuatku kelabakan.

"Kalo kau turun, aku teriak sekarang kasih tahu tuh cowok!"

Aku segera memutar badan ke arahnya. "Apa maumu?!" ketusku.

Dia sempat terdiam ketika melihat wajah marahku. Namun, tangannya bergerak ke samping, seperti mempersilakan aku ke tempat semula.

"Aku cuma mau bilang, tidak usahlah kau lari lihat aku. Kita ini teman sekelas, bukan musuh. Aku juga ndak bakal kasih tahu siapapun."

Aku tertegun sejenak. Dengan perlahan, aku berjalan kembali ke tempat awal sambil memandang ke bawah. Arai menyodorkan padaku sebungkus kuaci yang dimakannya.

"Lihat orang cakep ndak bikin kenyang," ucapnya.

Aku mengambil sejumput kuaci yang belum terkupas kulitnya.

"Asal kau tahu, aku tiap sore ke balkon ini. Bahkan sudah sebelum kau datang."

"Kenapa kamu tiap hari ke sini?" tanyaku pelan.

"Sama seperti kau lah! Aku juga ke sini karena mau lihat yang aku suka. Setiap orang kan punya kesukaan masing-masing."

"Siapa? Kakak senior yang kamu suka, ya?" tebakku dengan penuh kehati-hatian.

"Bukanlah! Ndak ada satu pun dari mereka yang menarik."

Aku melihat ke lantai. "Buat merokok, ya?"

"Aku ini calon dokter mana mungkin aku merokok."

"Terus?" Tiba-tiba aku ingin mencari tahu.

"Pokoknya ndak kalah indah dari dia yang kau lihat di sana."

Ia mengedikkan dagunya ke atas. Aku menoleh ke arah matanya memandang saat ini. Semburat cahaya berpendar keemasan di mana matahari sore sebentar lagi akan tenggelam.

"Sunset?" tanyaku.

Dia mengangguk cepat. "Sebulan lebih sudah ku di Jakarta, baru dari tempat ini aku bisa lihat sunset dengan jelas. Biasanya terhalang gedung-gedung tinggi," ucapnya sambil mendongak, "Jakarta luar biasa hebat! Di kampungku, orang makan mie instan semangkok ndak pake nasi, sudah dianggap kaya. Di Jakarta, orang-orang kaya tiap hari makan daging ndak pake nasi. Ckckck ...." Dia berdecak penuh kekaguman.

Aku tergelitik. Entah kenapa celetukan Arai terasa lucu bagiku. Dia terlalu apa adanya, berbeda dengan laki-laki pada umumnya yang selalu berusaha menampilkan versi terbaik mereka di depan orang baru.

Saat kembali melihat ke bawah, aku tergemap karena kak Evan sudah tak berada di sana. Aku lantas berbalik dan turun dari tangga, meninggalkan Arai yang masih di sana.

Turun dari gedung balkon, aku berjalan kecil ke sekitar tempat. Aku menggigit jariku karena kebingungan. Mataku berkeliling dengan tubuh yang berputar ke sana-kemari. Kenapa aku bisa kehilangan jejaknya?"

"Ita?"

Aku berbalik cepat saat mendengar seseorang menyebut namaku. Dia berdiri sekitar tiga meter dari tempatku berpijak.

"Tersesat lagi?" tanyanya dengan sedikit memiringkan dagu.

Aku mengangguk sambil mengusap-usap lenganku sendiri.

Di waktu yang sama, sinar matahari sore yang hampir sepenuhnya terbenam menerpa kulit wajahku. Sungguh menyilaukan sehingga membuat mataku hampir tertutup. Tiba-tiba dia menarik lenganku, memosisikan tubuhku menghadap ke dadanya untuk menghalangi cahaya yang menyilaukan itu.

Lalu, aku pun menyadari ... senja lah yang selalu mempertemukan kami. Sedang lelaki yang berada di atas sana, senantiasa menunggu kehadiran senja itu sendiri.

.

.

.

ini panjang gays, sepanjang kasih sayangku pada kalian. Jangan lupa like dan komeng biar semangat bray😂

1
Yos3Va
masih mencoba berpositif thinking ya, Ta... ya Allah, semoga Itta segera sadar dan bangun dari mimpi... gak tega aku ngebayangin kalo mereka benar² putus, sehancur apa dirimu Itta🥹🥹
Yos3Va
ada apa dengan Epan??
Yos3Va
ternyata...digantung kayak jemuran.

ternyata...diputus pas lagi sayang²nya🫣
Yos3Va
jangan terbang terlalu tinggi, Ta... takutnya kenyataan tidak sesuai yg kamu harapkan
Yos3Va
duh kok aku malah jadi takut dengar kalimat ini...emang kalo gak lulus tahun ini kenapa??
Yos3Va
tempat ternyaman Evan itu bersamamu dan Arai...kayaknya Evan gak nyaman dg rumahnya sendiri...nunggu POV Evan...biar semua jelas gak tebak²an gak berhadiah terus🤭
Yos3Va
miris ya nasib tenaga medis apalagi yg masih magang, senioritas dan jam kerja yg di luar Nurul...mereka dituntut bekerja profesional sementara mereka bekerja bagai kuda diforsir habis²an🫣
kayaknya barusan ada kasusnya dokter magang meninggal...turut berduka cita🙏
tolong lah diperbaiki lagi sistemnya...mo jadi dokter itu susah dan mahal biayanya, malah dihancurkan dg sistem yg tidak mendukung
Yos3Va
mulai deh mulai...
sudah berapa janji yg teringkari...??
sudah berapa kali kamu memaklumi...??
Yos3Va
aku baca ulang Kak Yu...tapi aku menikmati setiap caphter-nya...jadi sayang kalo lompat²...walau rasanya pas baca part ngenesnya pengen kulompati aja🤭🤭 tapi tetep gak bisa...jadi ya dinikmati aja part mewek²nya🤗🤗
Yos3Va
aku sanggupnya beli apel sungguhan...nanti dirumah baru dicokot biar krowak🤣🤣🤣🫣
Yos3Va
sepertinya mo diajak terjun bebas Ama Kak Yu...🤗🤗
Yos3Va
2012... ternyata Itta seumuran ma adekku...🤭
Yos3Va
kok lagunya serasa hendak memberi petunjuk yah?!?🫣
semoga hanya perasaanku saja
Yos3Va
ngeri mbayanginnya...😱😱
semoga Arai selamat🙏🙏
Yos3Va
ayo bangun, Ta...selamatkan dirimu🫣🫣
Yos3Va
tahun ke-3... ada orang ke-3...trus putus....itu aku...wkwk🤭🫣🫣
Yos3Va
dimana ada Arai, disitu ada kuaci😁🫣
Yos3Va
ketika rumah yg seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk pulang justru memberikan banyak rasa sakit, makasih kemana anak akan pergi mencari kebahagiaan yg dia inginkan??
Yos3Va
Ya ampuuun Mak...Itta itu anakmu loh...kok kamu lebih mementingkan gengsimu dibandingkan perasaan anakmu sendiri🤦🏾‍♀️
Yos3Va
ya ampuuun...nasibmu Itta,mo maki² dia emakmu, gak dimaki hati sendiri yg sakit🥹🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!