6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - KEBERANGKATAN
Pukul 05.30 WIB. Halaman kampus masih sepi dan berkabut tebal. Embun pagi masih turun, udara dingin menusuk sampai ke tulang. Gue sudah berdiri sejak jam 5 di depan gedung rektorat sendirian, nungguin tim.
Gue Selvi, ketua kelompok KKN Desa Kalijati. Di samping gue ada enam ransel besar dan satu koper pink. Isinya logistik lengkap, beras, mie instan, telur, obat-obatan, dan map program kerja yang gue print semalam sampai jam 1 pagi.
Tim KKN kami harusnya bertujuh. Ada gue sebagai ketua, Maya sahabat gue yang peka sama hal gaib, Sinta yang paling cantik dan paling ribet, Riko yang sok pemberani dan bawa kamera terus, Bima yang pendiam tapi paling kuat, Farhan yang tukang ngelawak tapi sebenarnya penakut, dan satu lagi Arif yang pinter dan pendiam.
Tapi pagi ini Arif gak datang. Tadi malam dia chat di grup, "Sel, gue demam tinggi, gak bisa ikut berangkat pagi ini. Gue nyusul 2 hari lagi ya langsung ke lokasi." Jadi yang berangkat hari ini cuma berenam dulu.
Maya datang jam 05.45 dengan tas carrier besar. Wajahnya pucat banget, mata sembab seperti habis nangis. Dia langsung narik tangan gue ke pojok. "Sel, sumpah semalam gue mimpi buruk banget. Gue mimpi kita bertujuh lewat gapura desa yang lapuk banget, tulisannya selamat datang. Di bawah gapura itu udah ada banyak orang berdiri nungguin kita, tapi pas kita deket, wajah mereka kosong, hitam, tidak ada mata hidung mulut. Mereka manggil nama kita satu persatu, Sel. Termasuk nama Arif yang belum dateng."
Gue langsung merinding, bulu kuduk gue berdiri semua. Tapi gue coba nenangin Maya, "Udahlah May, itu cuma mimpi karena kamu kecapekan."
Sinta datang jam 05.55 naik ojek, bawa koper pink beroda, bukan ransel. "Gue nggak mau kulit gue rusak ya di desa, gue bawa skincare 1 koper." Riko, Bima, Farhan datang jam 06.00 naik motor. Riko dengan kamera DSLR di leher, siap jadi konten.
Pak Dosen datang jam 06.10. Beliau kasih arahan, "Desa Kalijati itu desa tertinggal di perbatasan hutan jati. Sinyal susah, listrik cuma pakai genset sampai jam 9 malam. Warganya ramah, tapi ingat, jangan keluar malam lewat jam 9 dan jangan pernah masuk ke hutan belakang balai desa. Itu pesan dari kepala desanya. Oh iya, mana satu lagi? Harusnya 7 kan?"
"Arif nyusul 2 hari lagi pak, sakit," jawab gue.
Kami angguk.
Mobil bak terbuka yang kita sewa datang. Supirnya Pak Jono, orang tua pendiam. Begitu gue bilang "Pak, ke Desa Kalijati ya", muka Pak Jono langsung pucat, tangannya gemetar. "Nduk, yakin ke desa itu? Desa itu sudah kosong, sudah 20 tahun tidak ada orang. Semua penghuninya sudah tidak ada kena wabah dulu. Tidak ada yang berani kesana."
Farhan ketawa, dikira bercanda.
Jam 06.15 mobil jalan. Keluar kota, jalan aspal mulus berubah jadi jalan berlubang, lalu jadi tanah berbatu. Sinyal HP hilang. Hutan jati kiri kanan makin lebat, gelap, dan sunyi.
Jam 12.00 siang, mobil berhenti mendadak di tengah jalan tanah becek. Pak Jono pucat, "Saya sampai sini saja nduk, di depan itu gapuranya. Saya tidak berani masuk, maaf."
Kami turun bingung. Seratus meter di depan ada gapura kayu lapuk besar bertuliskan SELAMAT DATANG DI DESA KALIJATI. Catnya pudar, lumut tebal, hampir roboh. Di sekitarnya banyak nisan tua miring, berjamur, kuburan tua.
Di bawah gapura itu sudah ada enam orang warga berdiri berbaris rapi menunggu kami. Seorang nenek tua di depan, lima orang di belakang. Mereka diam, senyumnya aneh, terlalu lebar.
Padahal kami tidak pernah kasih tau jam berapa sampai, dan tidak ada sinyal untuk telepon. Kok mereka bisa tau kami sampai jam 12 tepat?
Maya mencengkram lengan gue keras, "Sel, lihat bayangan mereka. Kita ada bayangannya, mereka tidak ada."
Gue lihat ke tanah. Bayangan kami berenam jelas ada karena matahari di atas. Tapi enam orang di bawah gapura itu tidak punya bayangan sama sekali.
Angin hutan tiba-tiba berhenti total. Suara jangkrik dan burung hilang. Sunyi mencekam.
Nenek di depan mengangkat tangan pelan melambai, "Akhirnya kalian datang juga. Sudah kami tunggu dari tadi. Ayo masuk anak-anak, sudah kami siapkan tempat. Harusnya bertujuh kan? Satu lagi mana?"
Jantung gue berdegup kencang. Kok nenek itu tau harusnya kami bertujuh? Padahal kami gak pernah bilang ada Arif yang nyusul.
Langkah kaki gue terasa berat untuk masuk ke desa itu.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐