NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Reuni yang Berbeda

Kali ini, pintu itu mengarah langsung ke jantung Surya Perkasa Group.

Namun sebelum Jakarta menjadi medan perang, Jakarta lebih dulu memberi Ardi satu panggung kecil yang tidak ia cari.

Reuni angkatan.

Acara itu diadakan di sebuah lounge tinggi di kawasan Sudirman. Dari jendela kaca, lampu gedung Jakarta tampak seperti ribuan pisau kecil yang ditancapkan ke langit malam. Mobil-mobil mahal berhenti bergantian di depan lobi. Orang-orang turun dengan jas rapi, gaun mahal, jam tangan mengilap, dan tawa yang sengaja dibuat terdengar mudah.

Ardi datang dengan ojek online.

Ia memakai kemeja gelap sederhana, celana bahan yang sama ia pakai saat seminar, dan sepatu yang sudah terlalu sering menapak koridor rumah sakit. Undangan reuni itu dikirim teman lama setelah kabar Lancet mulai menyebar, tetapi Ardi datang bukan untuk pamer.

Ia datang karena ingin melihat apakah masa lalu masih punya kuasa atas dirinya.

Di pintu masuk lounge, seorang teman seangkatan menatapnya dua kali sebelum tersenyum kaku.

“Ardi? Wah... lama banget.”

“Lama,” jawab Ardi.

Mata teman itu turun sebentar ke sepatu Ardi, lalu ke jalan di belakangnya.

“Sendiri? Naik apa tadi?”

“Ojek.”

Senyum kecil muncul di sudut mulut beberapa orang yang mendengar.

“Masih sederhana banget, ya,” kata seseorang dari bar kecil. “Jakarta mahal, Di. Hati-hati kaget.”

Ardi hanya mengambil air mineral.

Di meja utama, pembicaraan sudah berjalan seperti kompetisi tanpa papan skor. Siapa yang sudah ambil fellowship. Siapa yang masuk rumah sakit besar. Siapa yang baru beli apartemen di Kuningan. Siapa yang sedang dekat dengan pejabat rumah sakit.

Dokter Yudha Anggara duduk di tengah lingkaran itu.

Jasnya rapi, arlojinya tipis dan mahal, dan kunci Porsche diletakkan di meja bukan karena perlu, tetapi karena semua orang harus melihat. Ia bekerja di RSUP Fatmawati dan setiap beberapa kalimat selalu berhasil menyisipkan FKUI.

“Di Jakarta, standar beda,” katanya kepada seorang teman. “Kita nggak bisa cuma mengandalkan pengalaman lapangan. Evidence-based, network, publikasi. Itu yang membedakan.”

Saat melihat Ardi mendekat, Yudha tersenyum.

“Nah, ini Ardi. Dari Surabaya, kan?”

“Masih,” kata Ardi.

“Gue dengar kamu sempat... vakum lama.”

Kata vakum itu dilempar lembut, tetapi semua orang tahu maksudnya.

Satu meja menjadi sedikit lebih tenang.

Mantan narapidana.

Label itu tidak disebutkan, tetapi berdiri di antara gelas-gelas mahal seperti bau yang tidak mau hilang.

“Sekarang sudah kembali kerja,” kata Ardi.

“Bagus, bagus.” Yudha mengangguk seperti senior yang murah hati. “Mulai dari bawah lagi nggak apa-apa. Yang penting mental kuat. So, kamu sekarang ngapain? Masih jadi tenaga kontrak?”

Beberapa orang pura-pura sibuk minum.

Ardi meletakkan gelasnya.

“Saya dokter spesialis di RSUD Soetomo,” katanya tenang. “Dan minggu depan saya mulai mengajar sebagai Profesor Klinis Tamu di UNAIR.”

Senyum Yudha berhenti setengah detik.

“Profesor Klinis Tamu?”

“Ya.”

Seorang teman tertawa kecil, tidak yakin. “Cepat banget, Di. Baru balik, langsung profesor?”

“Kampus yang mengundang.”

Yudha menyandarkan punggung. “UNAIR memang sering fleksibel. Kalau di Jakarta, gelar akademik seperti itu prosesnya ketat.”

Kalimat itu membuat beberapa orang tertawa pelan.

Sebelum Ardi menjawab, pintu lounge terbuka lagi.

Dewi masuk.

Ia memakai gaun krem mahal, rambut ditata rapi, tas kecil bermerek di tangannya. Di luar jendela, valet baru saja memindahkan mobil putih yang jelas bukan mobil biasa. Beberapa teman langsung menyapa, sebagian dengan keterkejutan yang dibuat sopan.

“Dewi? Kamu juga datang?”

Dewi tersenyum. Matanya menemukan Ardi hanya sebentar, lalu berpaling seolah pertemuan itu tidak mengganggunya.

“Kebetulan di Jakarta,” katanya. “Rangga ada urusan, jadi saya mampir.”

Nama Rangga diletakkan di meja seperti perhiasan.

Ia duduk tidak jauh dari Ardi, lalu menjawab pertanyaan teman-teman dengan suara lembut yang sengaja cukup terdengar.

“Rangga baik. Dia selalu memastikan saya nggak kekurangan apa pun. Mobil tadi juga dari dia. Katanya saya nggak perlu capek-capek urus semua sendiri.”

Beberapa mata melirik Ardi.

Dulu, Ardi adalah suaminya.

Sekarang, Dewi datang membawa nama pria yang membuat hidup Ardi pernah runtuh.

Yudha tersenyum lebih lebar.

“Wah, hidup memang soal pilihan, ya.”

Dewi menunduk sedikit, seolah malu. “Yang penting sekarang stabil.”

Ardi melihat air mineral di gelasnya.

Tidak ada rasa sakit tajam seperti dulu. Hanya dingin yang datar. Dewi boleh memakai mobil, gaun, dan nama Rangga sebagai panggung. Tetapi Gatra dan Sari tidak ada di meja itu. Dan selama anak-anaknya belum pulang, semua kemewahan Dewi hanya suara kosong.

Ponsel Ardi bergetar.

Nama Dokter Hasan muncul.

Ardi mengangkat. “Ya, Dokter Hasan?”

Suara Hasan terdengar jelas karena meja mendadak sepi.

“Ardi, Lancet baru saja mengirim konfirmasi final. Mereka meminta foto dan bio pendek untuk author page. Tolong kirim malam ini. Camby juga ingin jadwal call singkat dengan Anda.”

Ardi melirik jam.

“Baik, Dokter. Saya kirim setelah ini.”

“Jangan lupa cantumkan afiliasi UNAIR dan RSUD Soetomo. Ini penting.”

“Siap.”

Panggilan selesai.

Tidak ada yang langsung bicara.

Sampai seorang perempuan di ujung meja, yang sejak tadi diam, mengangkat kepala.

“Tunggu. Lancet?”

Yudha menatapnya. “Mungkin maksudnya jurnal lokal dengan nama mirip.”

Perempuan itu menggeleng. “Aku kenal Dokter Hasan. Itu dr. Hasan Mulyadi dari RS UNAIR, kan? Kalau dia bilang Camby... Camby itu editor The Lancet.”

Kata The Lancet membuat meja itu berubah.

Seseorang langsung membuka ponsel.

Lalu yang lain.

Nama Ardi diketik.

Beberapa detik kemudian, layar-layar kecil mulai menunjukkan potongan berita: dokter Surabaya membongkar pakar palsu, operasi Teknik Sandwich inovatif di RS UNAIR, diskusi akademik tentang naskah yang diterima The Lancet.

“Ini beneran,” bisik seseorang.

“Dia yang kasus fake James itu?”

“Ini yang kuliahnya viral di grup dokter Jawa Timur?”

Yudha mengambil ponselnya sendiri. Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Di layar, nama Ardi Pratama tidak berdiri sebagai mantan narapidana.

Ia berdiri sebagai author The Lancet.

Dewi menatap layar temannya. Bibirnya sedikit terbuka. Sesaat, gaun mahal, mobil Rangga, dan senyum yang ia susun dari pintu masuk kehilangan makna.

Ardi tidak menikmati tatapan itu terlalu lama.

Ia tidak perlu.

Pukulan paling keras kadang bukan kata-kata. Kadang cukup kenyataan yang tidak bisa disangkal.

Seorang pria berkacamata, yang sejak tadi duduk dekat jendela, tiba-tiba berkata, “Sebenarnya Profesor Ratna pernah menyebut namamu, Ardi.”

Semua menoleh.

Pria itu tampak canggung, tetapi lanjut bicara. “Saya sempat ikut diskusi dengan beliau di RSCM. Dia bilang ada dokter dari Surabaya yang sangat berbakat. Katanya... dokter paling berbakat yang pernah dia dengar dari Surabaya.”

Yudha menunduk ke gelasnya.

Kalimat itu menutup semua celah.

FKUI. Fatmawati. Porsche. Rangga. Mobil putih. Semua masih ada, tetapi kini terlihat seperti dekorasi di depan fakta yang lebih besar.

Ardi berdiri.

Dewi refleks ikut berdiri sedikit. “Ardi...”

Ia menatapnya.

“Kamu benar-benar... sudah sejauh ini?”

Ardi menjawab datar, “Saya sedang berusaha cukup jauh untuk membawa Gatra dan Sari pulang.”

Wajah Dewi berubah.

Nama anak-anak itu menusuk lebih dalam daripada Lancet.

Ardi mengambil ponsel dan gelas air mineralnya yang belum habis.

“Terima kasih acaranya,” katanya kepada meja. “Saya harus pergi. Besok ada operasi.”

Tidak ada yang menahan dengan lelucon.

Tidak ada yang bertanya apakah ia masih tenaga kontrak.

Ketika Ardi keluar dari lounge, udara malam Jakarta terasa lebih berat, tetapi lebih jujur. Ia berdiri di tepi jalan menunggu ojek online, lampu gedung memantul di aspal.

Ponselnya bergetar lagi.

Nomor tidak dikenal.

Ardi mengangkat.

“Dokter Ardi?” suara perempuan di ujung sana terdengar cepat dan profesional. “Saya dari Citra Gemilang Media. Mbak Yuni Rahayu memberikan nomor Anda.”

Ardi langsung ingat kartu nama yang masih tersimpan di dompetnya.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Kami punya seorang aktris yang membutuhkan bantuan medis mendesak. Namanya Alya Kirana.”

Di belakang Ardi, suara Jakarta terus bergerak.

Satu pintu sosial baru saja tertutup.

Pintu lain terbuka, membawa nama yang belum ia kenal.

1
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
Ria Gazali Dapson
ternyata d dunia kedokteran, ada juga kejahatan yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!