Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Menyerbu Markas Musuh Seorang Diri
Tanah di bawah kaki Adrian mulai bergetar.
GRUUUUM!
Tiba-tiba sebuah pikap yang telah dimodifikasi menerobos dinding bangunan tanah liat dan melesat keluar di tengah kepulan debu.
Di atas bak kendaraan terpasang senapan mesin berat.
Begitu keluar dari bangunan, laras senapan langsung berputar dan mengarah tepat ke tembok rendah tempat Adrian berlindung.
DAK! DAK! DAK! DAK!
Rentetan tembakan yang jauh lebih brutal daripada sebelumnya langsung menyapu area tersebut.
Peluru-peluru berkaliber besar menghantam tembok seperti hujan batu.
BRAK! BRAK!
Pasir dan pecahan tanah beterbangan.
Tembok yang menjadi perlindungan Adrian perlahan hancur.
Adrian terpaksa merendahkan tubuh.
Dia bahkan tidak bisa mengangkat kepala.
Pecahan batu terus mengenai wajah dan lengannya.
Untungnya, tubuhnya sudah diperkuat sehingga benturan tersebut tidak lebih dari rasa tidak nyaman.
Namun terus-menerus ditembaki tanpa bisa membalas tetap membuat Adrian kesal.
Jelas-jelas kendaraan itu datang untuk memburuku.
Pengemudinya juga bukan orang sembarangan.
Pikap tersebut bergerak zig-zag di atas pasir, membuat Adrian sulit mendapatkan sasaran.
Penembak senapan mesin di atasnya bahkan lebih berpengalaman.
Setiap kali rentetan tembakan berhenti sesaat, dia segera mengubah posisi dan kembali memberikan tekanan.
Adrian mengerutkan kening.
Dia menunggu celah.
Begitu suara tembakan berhenti sepersekian detik, Adrian mengintip dengan cepat untuk melihat kondisi seluruh medan.
Pemandangan di depan matanya membuat wajahnya langsung berubah.
Medan perang sudah porak-poranda.
Belasan pekerja baru yang tadi berangkat bersamanya kini telah berguguran.
Tidak ada lagi yang bergerak.
Tidak ada seorang pun dari kelompoknya yang tersisa.
Di seluruh area itu, hanya ada para veteran Black Fox yang mengawasi dari kejauhan, kendaraan tempur di depannya, dan—
Adrian sendiri.
Adrian terdiam beberapa saat.
“Serius?”
Dia melihat sekeliling.
“Semuanya mati?”
Namun pikiran pertama yang muncul bukanlah rasa lega karena selamat.
Bukan pula kesedihan.
Melainkan sebuah kekhawatiran yang sangat sederhana.
Kalau semuanya mati, siapa yang bisa membuktikan aku benar-benar bekerja malam ini?
Adrian mengerutkan kening.
Jangan-jangan nanti pihak Black Fox bilang aku tidak hadir.
Gajiku bagaimana?
Semakin dipikirkan, semakin panas kepalanya.
Dia sudah mempertaruhkan nyawa demi pekerjaan ini.
Kalau sampai gajinya tidak dibayar hanya karena tidak ada saksi—
Itu tidak bisa diterima.
“Tidak.”
Tatapan Adrian berubah.
“Kalau begitu, pekerjaan ini harus segera diselesaikan.”
Adrian menggerakkan pikirannya.
Dari ruang penyimpanan khusus miliknya, dua magasin AK yang sudah penuh langsung muncul di tangannya.
Klik!
Magasin kosong dilepas.
Magasin baru dimasukkan.
Satu lagi dia selipkan ke saku celana pendeknya.
Saku tersebut langsung terlihat menggembung.
Adrian menarik napas dalam.
Tubuhnya merendah di balik tembok.
Seluruh ototnya menegang seperti pegas yang siap dilepaskan.
Kemampuan penguasaan senjata tingkat sempurna kembali bekerja.
Lintasan kendaraan.
Pola tembakan senapan mesin.
Kondisi pasir.
Arah angin.
Kecepatan kendaraan.
Semua informasi diproses dalam waktu singkat.
Kemudian Adrian menemukan satu titik lemah.
Jeda saat penembak mengganti sabuk amunisi.
Telinganya bergerak sedikit.
Suara senapan mesin berubah.
DAK-DAK-DAK...
Lalu—
Hening.
Hanya sepersekian detik.
Namun bagi Adrian, itu sudah cukup.
“Sekarang.”
Tubuhnya melesat keluar dari balik tembok.
Kakinya menekan pasir dan membuat cekungan kecil.
Dalam satu gerakan, Adrian melompat.
Tubuhnya berputar di udara.
Senapan terangkat.
Tatapannya langsung mengunci kendaraan yang sedang bergerak cepat.
Waktu seolah melambat.
TAK! TAK! TAK!
Tiga tembakan dilepaskan secara berurutan.
Ketiganya menghantam bagian depan kendaraan.
Pengemudi yang sedang memutar kemudi tiba-tiba kehilangan kendali.
Pikap tersebut bergerak liar.
SKRREEEET!
Ban belakang menggesek pasir.
Kendaraan berputar dan akhirnya terguling keras.
BRUKK!
Penembak senapan mesin di atas kendaraan ikut terlempar akibat benturan.
Tubuhnya jatuh jauh dari kendaraan dan tidak bergerak lagi.
Medan perang mendadak sunyi.
Adrian mendarat dengan kedua kaki.
Dia menunduk.
Pasir menempel pada sandal jepit birunya.
Adrian mengangkat salah satu kaki dan menepuk-nepuk sandalnya.
“Bikin kotor saja.”
Setelah itu dia mengangkat kepala.
Di depan sana terdapat beberapa bangunan tanah liat yang jauh lebih kokoh dibandingkan bangunan di bagian luar.
Lampu masih menyala dari dalam.
Itulah pusat markas Black Mamba.
Adrian menggenggam AK yang masih terasa hangat.
Kemudian dia berjalan menuju pintu masuk.
Langkahnya santai.
“Kalau tidak ada yang bisa mencatat kehadiranku...”
Adrian tersenyum tipis.
“Ya sudah.”
Dia terus berjalan.
“Aku selesaikan pekerjaan ini sendiri. Setelah itu kita bicara soal gaji.”
Dua kilometer dari sana.
Di atas bukit pasir, Butcher dan beberapa veteran Black Fox masih mengawasi melalui perangkat penglihatan malam.
Tidak seorang pun berbicara.
Mereka hanya menatap satu sosok yang berjalan sendirian menuju markas musuh.
Wakil Butcher akhirnya membuka mulut.
“Dia... mau melakukan apa?”
Suaranya bergetar.
“Dia benar-benar mau masuk sendirian?”
Butcher tidak menjawab.
Tangannya yang memegang perangkat penglihatan malam justru semakin kuat.
Urat di punggung tangannya terlihat jelas.
Pemuda itu benar-benar gila.
Tidak ada orang normal yang akan melakukan hal seperti itu.
Sementara itu, Adrian sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang mengawasinya dari belakang.
Dia terus berjalan.
Plak. Plak.
Sandal jepitnya menimbulkan suara kecil setiap kali menginjak pasir.
Dengan AK di tangan dan celana pendek yang masih sama seperti ketika berangkat, dia berjalan menuju pintu utama markas musuh seolah-olah sedang berjalan pulang setelah membeli makanan.
Sikap santainya justru terasa lebih mengintimidasi daripada sekelompok pasukan bersenjata lengkap.
Kemudian—
WUUUUU—!
Sirene peringatan tiba-tiba meraung dari menara pengawas.
Penjaga Black Mamba yang sedang bertugas langsung menggosok matanya.
Awalnya dia mengira dirinya salah melihat.
Namun sosok itu semakin dekat.
Seorang pemuda Asia.
Kaus putih.
Celana pendek.
Sandal jepit.
Membawa senapan.
Dan berjalan lurus menuju gerbang mereka.
Seolah-olah tidak ada seorang pun yang sedang mengarahkan senjata kepadanya.
Penjaga itu langsung meraih alat komunikasi.
“Serangan musuh!”
Suaranya terdengar panik.
“Sepertinya... hanya satu orang!”
KLIK!
Belasan anggota Black Mamba yang baru terbangun akibat suara tembakan segera keluar dari berbagai posisi perlindungan.
Mereka masih mengumpat karena dibangunkan secara mendadak.
Namun begitu seluruhnya melihat sosok yang datang dari arah depan—
Mereka semua terdiam.
Tidak seorang pun langsung menarik pelatuk.
Karena mereka tidak pernah membayangkan bahwa orang yang datang menyerang markas mereka malam itu...
hanya seorang pemuda dengan celana pendek dan sandal jepit.