NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Bayangan Keraguan

Di dalam benteng yang kokoh itu, rombongan Danu akhirnya duduk melepas lelah. Rekan Rio mengantar mereka ke sebuah rumah yang cukup luas, muat untuk keempat belas orang yang kini bergabung. Ruangan itu bersih, ada air yang mengalir, dan persediaan makanan yang tertata rapi—hal yang sudah sangat lama tak mereka temukan dengan mudah.

Beberapa di antaranya tampak begitu lega, seakan beban berat di pundak mereka perlahan terangkat.

"Kita bisa tidur nyenyak di sini... setidaknya untuk satu hari ini," ucap Jodie sambil meregangkan tubuh, wajahnya tampak segar kembali.

"Sebenarnya aku ingin menetap di sini selamanya," sahut Andri pelan, terdengar sangat lelah. "Aku sudah tak sanggup lagi terus berlari, mencari makanan sembunyi-sembunyi, dan takut setiap kali mata terpejam."

"Terserah kau saja," balas Jodie agak sinis. "Tapi jangan sampai kau terlena sampai lupa bahaya masih ada di luar sana."

"Cukup," tegur Danu lembut namun tegas. "Kalian boleh mandi, membersihkan diri, dan makan dulu. Setelah itu kita akan menghadiri pertemuan yang disiapkan Rio."

Suasana sejenak hening. Semakin orang lain mulai tenang, semakin gelisah hati Natalia. Perasaan tak menentu itu tak kunjung hilang, seakan ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasi mereka dari balik dInding-dinding tinggi ini.

Wenda yang sedari tadi memperhatikan perubahan wajah Natalia, perlahan mendekat dan duduk di sampingnya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.

Natalia tersenyum tipis, namun matanya tak bisa berbohong. "Hanya berusaha terlihat baik-baik saja."

"Jika ada yang mengganjal di hati, katakan saja. Tak perlu kau pendam sendiri."

Natalia menatap sekeliling ruangan sebelum menjawab pelan. "Aku... aku merasa ragu dengan tempat ini. Ada sesuatu yang membuatku tak tenang. Tapi aku akan mencoba bersikap biasa saja."

Wenda mengangguk paham, lalu mengusap punggung tangan Natalia dengan lembut. "Aku mengerti perasaanmu. Ketakutan itu sudah menjadi bagian dari diri kita sekarang. Tapi selama kita berada di sini, kita harus tetap waspada—seperti yang kita lakukan selama ini."

"Kau benar..." gumam Natalia, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.

Di sudut lain, Rafli diam-diam memperhatikan sekeliling rumah itu, matanya meneliti setiap sudut pintu dan jendela. Meskipun tempat ini terlihat aman, naluri bertahannya berkata sama seperti Natalia—keamanan yang terlalu sempurna seringkali menyembunyikan rahasia yang tak terduga.

Di rumah istri nya, Aldo kini berbaring bersandar di kepala tempat tidur setelah membersihkan debu dan darah kering dari tubuhnya. Di sampingnya duduk Anna, wanita yang menjadi alasan ia terus bertahan melewati segala maut di jalanan. Aldo merangkul pinggang istrinya erat, mengecup lembut keningnya, lalu jemarinya bergerak menyisir lembut helai rambut yang ia rindukan begitu lama.

"Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk kembali padamu, Anna," bisiknya parau, suaranya bergetar menahan haru.

"Aku juga... tak ada hari yang lewat tanpa aku berdoa, tanpa aku yakin kamu akan pulang," jawab Anna dengan mata berkaca, tangannya meraba wajah suaminya seakan tak percaya ini bukan mimpi. "Selama tiga hari ini aku tak pernah berhenti menanti."

Aldo perlahan melepas pelukannya sejenak, memutar tubuh hingga berhadapan tepat dengan istrinya, menatap lekat ke dalam manik mata yang menjadi dunianya. "Aku akan selalu pulang. Tak peduli seberapa mengerikan bahaya di luar sana, selama nyawa masih ada di tubuhku, aku akan berusaha kembali padamu." Ia mencium punggung tangan istrinya dengan penuh kesetiaan.

"Terima kasih... terima kasih karena tak pernah menyerah mencari jalan pulang," isak Anna pelan, sebelum mereka kembali saling merengkuh erat, seakan tak ingin terpisah lagi sedetik pun. Di tengah dunia yang hancur, setidaknya cinta mereka tetap utuh.

Sementara itu, di ruang tengah yang lebih luas, Rio sibuk bersama beberapa rekannya menata meja makan. Makanan sederhana namun cukup mengenyangkan tersaji rapi—hasil jerih payah warga yang bekerja sama bertahan hidup. Namun di balik senyum ramahnya, ada kilatan mata yang tak sepenuhnya terbuka, seakan ada rencana lain yang masih tersimpan rapat di balik benteng tinggi ini.

"Rio..." panggil sebuah suara lembut dari belakangnya.

Rio menoleh perlahan, senyum ramah yang tadi ia pasang di hadapan tamu kini berubah menjadi senyum lain yang jauh lebih gelap. "Ya?"

"Kau terlihat sangat sibuk hari ini," ucap wanita itu sambil melangkah mendekat, matanya menyisir meja makan yang kini penuh hidangan.

"Aku memang harus sibuk. Bagaimana tidak? Aku sedang bersiap menyambut 'tamu istimewa' kita," jawab Rio deNgan nada yang tenang, namun terselip nada merencanakan sesuatu yang jahat. Senyum di bibirnya kini terlihat licik dan penuh tipu daya.

Wanita itu menatapnya tajam, berbisik pelan agar tak ada yang mendengar. "Lalu... apa rencanamu sebenarnya pada mereka nanti?"

Rio tersenyum miring, mendekatkan wajahnya ke arah wanita itu seakan berbagi rahasia terbesar. "Kita akan mengambil apa yang kita butuhkan dari tubuh mereka... darah mereka. Dan setelah itu, mayat mereka akan kita lemparkan keluar menjadi santapan para mayat hidup itu."

Tanpa menunggu jawaban, ia mencium bibir wanita itu dengan penuh kelicikan, seakan rencana mengerikan itu adalah hal yang paling biasa baginya. Di balik benteng yang terlihat aman itu, ternyata bahaya yang jauh lebih kejam dan berdarah dingin sedang menanti mereka.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!