Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Jangan Pernah Mencoba Kabur Lagi
Fajar mulai menyingsing ketika Ara kembali melangkah memasuki Kediaman Theo. Bajunya dipenuhi noda lumpur. Ujung rambutnya berantakan karena tersangkut ranting, sementara telapak kakinya dipenuhi goresan-goresan kecil akibat berlari tanpa alas kaki sepanjang malam.
Di belakangnya, beberapa pengawal saling bertukar pandang. Tak ada yang berani mengomentari kejadian tadi malam, tetapi semua menyadari satu hal.
Belum pernah ada pengantin wanita yang menghabiskan malam pertamanya dengan membuat seluruh tim keamanan berlari mengelilingi mansion.
Ara berjalan lebih cepat tanpa menoleh. Ia terlalu lelah untuk merasa malu. Yang ia pikirkan hanyalah mandi, tidur, lalu menyusun rencana pelarian berikutnya.
Namun baru beberapa langkah memasuki aula utama, suara Dante menghentikannya.
"Ikut aku," perintahnya. Sepertinya kali ini ia tidak ingin di bantah.
Ara melirik pria itu sekilas.
Dante tampak nya semalaman juga tidak tidur. Meskipun begitu penampilan nya tetap tidak kusut. Hanya dasi yang sudah dilepas dan beberapa kancing kerah terbuka, memberi kesan sedikit lebih santai daripada saat berada di altar.
"Aku capek," gumam Ara setengah melenguh.
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kau tidak ijinkan aku istirahat," protes Ara mengernyit.
"Kita bicara dulu." Nada suaranya tetap datar, hanya saja lebih dingin.
Semua pelayan otomatis menundukkan kepala dan menjauh.
Ara mendesah pelan. Dengan enggan, ia mengikuti Dante menuju ruang kerja pribadinya. Ruangan itu jauh berbeda dari yang dibayangkan Ara. Tidak banyak pernak-pernik dekorasi mewah. Dindingnya dipenuhi rak buku, beberapa lukisan klasik, serta sebuah meja kayu besar menghadap jendela. Di salah satu sudut, terdapat papan catur yang masih setengah dimainkan.
Dante menutup pintu. Klik. Suara kunci membuat Ara refleks menoleh.
"Kau mengunci pintunya?"
"Agar tidak ada yang mengganggu."
"Bukannya kau takut aku kabur?"
"Itu juga."
Dante menatapnya beberapa detik.
Ara mendecak pelan. Ia menyilangkan tangan di dada. "Apa yang kau lihat?"
"Bukankah kita suami istri?"
"Di atas kertas. Seperti katamu," dengus Ara melengos.
"Turunkan tanganmu. Aku tidak akan memakanmu." Dante berjalan ke belakang meja kerjanya. Ia duduk perlahan.
Ara menurunkan tangannya dan mendekati meja kerja Dante.
Dante sedang menuangkan dua gelas air, lalu mendorong salah satunya ke arah Ara.
"Minum."
"Aku tidak haus."
"Kau berlari hampir enam jam. Tenggorokanmu pasti kering."
"Ooh." Ara menegak air dalam gelas itu. Meski kesal, ia memang sangat haus.
Setelah menghabiskan setengah gelas, ia kembali menatap Dante.
"Kenapa kau kabur?" tanya Dante serius.
Ara tertawa hambar. "Pertanyaan yang aneh."
"Dimana letak keanehannya?" ujar Dante memperjelas.
"Aku dipaksa menikah dengan orang asing. Menurutmu apa yang bisa aku lakukan?"
"Bersikap tenang, patuh dan jadilah istriku."
Arabelle melotot. "Apa kau tidak salah?"
Dante menggeleng pelan.
"Aku tidak menikahi pemberontak yang harus kutaklukkan bukan? Aku menikahi seorang istri." Tatapannya tajam tapi tidak lebih tajam dari kata-kata yang barusan diucapkan nya .
"Aku punya pekerjaan. Punya kehidupanku yang jauh berbeda dari kakak perempuan ku. Aku punya rencanaku sendiri. Tapi semuanya hilang dalam satu hari hanya karena Alessia memutuskan kabur." Ara menggigit bibir.
Dante memperhatikan gerak-gerik Ara saat bicara.
"Kenapa harus aku yang menggantikannya?Kenapa bukan pernikahannya saja yang dibatalkan?" protes Ara meruntuki Dante dan keputusan keluarga mereka yang absurb.
Dante mengulurkan jarinya dan mengusap lembut bibir Ara. "Jangan kau gigiti lagi!"
Ara menepis tangan Dante. Ia menelan ludah dengan susah payah.
Dante menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap gadis di depannya.
"Keluarga kita bukan keluarga biasa."
"Aku tahu."
"Sekedar tahu dan bisa menjalankan adalah dua hal yang berbeda. Aku tahu kau tidak setuju dengan pernikahan ini. Tapi sayangnya kamu setuju atau tidak itu bukan masalah penting disini. Tanpa persetujuan mu pun pernikahan ini tetap berjalan."
Jawaban itu membuat Ara lebih geram. "Kalian semua menganggap hidup orang lain bisa diputuskan begitu saja."
Dante tidak membantah. Itu memang kenyataannya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
"Seberapa kuat dirimu berlari, aku akan tetap bisa menangkap dan menahanmu di sisiku."
Kedua pupil mata Ara membola. Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu.
Dante berdiri dan berjalan mendekat ke kursi Ara. Tatapannya kini jauh lebih tajam.
"Kau sekarang adalah Nyonya Theo. Status ini bukan sesuatu yang bisa dilepas sesuka hati."
Ara mengangkat dagu.
"Aku tidak peduli."
"Aku peduli." Suara Dante terdengar dingin.
"Kau tahu berapa banyak orang yang melihat pernikahan kita kemarin?"
"Ratusan."
"Lebih."
Ara memalingkan wajah. "Kau bisa mengarang cerita untukku. Atau membiarkanku kabur."
"Tidak bisa." Dante menangkup wajah Ara dan menghadapkan padanya.
"Kenapa?"
"Karena jika dua putri keluarga Milano nekad kabur dari altar pernikahan keluarga Theo itu akan dianggap sebagai penghinaan."
Ara menyipitkan matanya. "Penghinaan?"
"Bukankah Nyonya Milano sudah mengatakan konsekuensinya padamu?"
"Itu hanya akal-akalan Mama untuk membujukku agar mau menikah."
"Tidak sepenuhnya. Kata-kata Nyonya Milano juga mengandung kebenaran." Nada suara Dante tidak berubah. Tapi bisa membuat jantung Ara berdetak lebih cepat.
"Apakah itu ancaman?"
Dante melepas tangannya dari wajah Ara. Ia mengambil sebuah map dari meja kerjanya. Kemudian meletakkannya di depan Ara.
"Buka!" perintahnya angkuh dan mendominasi.
Dengan ragu Ara membuka map itu. Di dalamnya terdapat beberapa foto. Gudang. Kapal kargo. Kantor pusat perusahaan ayahnya. Beberapa pabrik.
"Semua aset ayahmu yang terlibat dalam kerja sama dengan keluarga ku."
"Aku tidak mengerti."
Dante menarik napas pelan.
"Kalau kau kabur, seluruh kerja sama ini akan berhenti. Keluargamu harus membayar ganti rugi sepuluh kali lipat."
Ara membeku.
"Investor akan menarik dana. Perusahaan ayahmu akan kehilangan kepercayaan. Sahamnya akan jatuh. Banyak proyek dibatalkan. Ribuan orang kehilangan pekerjaan."
Ara menggenggam map itu lebih erat. Ia tahu ayahnya memang memperjuangkan kerja sama ini bertahun-tahun. Tetapi ia tidak menyangka dampaknya sebesar itu.
Dante melanjutkan. "Bukan hanya itu. Bukankah Nyonya Milano juga mengatakan keluarganya bisa lenyap."
"Apa maksudmu?" Ara menuntut penjelasan.
"Keluarga Theo bukan keluarga yang hanya menguasai bisnis internasional. Keluargaku juga menguasai wilayah dunia bawah. Menurutmu keluarga mafia seperti kami, apa yang akan dilakukan jika pernikahan kemarin batal?" Wajah Dante hanya satu inchi jaraknya dari wajah Ara. Tubuhnya merunduk. Matanya menatap kedua mata bening gadis muda itu.
Ara menjadi sulit bernafas di bawah hidung Dante. Ia memundurkan kepalanya sedikit.
"Aku akan tinggal," ujarnya pasrah.
"Aku harap kau melakukan apa yang kau katakan." Dante kembali berdiri dan duduk di kursi kerjanya. Mereka berdua sekarang duduk berseberangan.
Ara memalingkan mukanya.
"Kita bisa membahas semuanya nanti. Kalau suatu hari kau benar-benar ingin mengakhiri pernikahan ini, lakukan dengan cara yang benar, bukan kabur." Dante kembali berbicara dengan suara dingin dan datarnya.
Ara mengamatinya. Entah kenapa. Pria ini jauh berbeda dari bayangannya. Ia mengira bos mafia pasti suka membentak, mengancam dengan pistol, atau memukul meja. Tapi pria ini justru berbicara dengan tenang.
"Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Kalau kau mencoba kabur lagi..."
Ara langsung menyipitkan mata. Ia merasakan niatnya sudah diketahui bahkan sebelum sempat ia eksekusi.
"Pertama, aku akan meningkatkan pengamanan. Dua pengawal akan mengikutimu ke mana pun. Kedua, kau tidak akan bisa keluar tanpa izinku."
Ara mendengus. "Aku bukan tahanan."
"Buktikan dengan tidak kabur lagi."
"Kalau aku tetap kabur?"
Dante menatap lurus ke matanya. "Kau bisa mencobanya."
Ara terdiam. Ia menatap balik Dante tanpa rasa takut.
"Ke mana pun kau pergi, aku akan menemukanmu. Ingat jaringan ku sangat luas."
Ara percaya. Pria di depannya ini benar-benar mampu melakukan apa yang ia katakan.
Beberapa saat kemudian, Dante berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti.
"Mulai hari ini. Kau bebas pergi ke mana saja, asal memberi tahu. Kau bebas membeli apa pun. Kau bebas bekerja jika memang ingin." Dante menyelipkan sebuah kartu hitam ke kantong baju Ara.
Ara mengangkat alis. "Bukankah tadi kau bilang aku akan diawasi?"
"Ya. Kau diawasi bukan dikurung. Luca akan mengurus semua kebutuhanmu." Dante membuka pintu.
"Siapa Luca?"
"Tangan kananku." Dante menoleh ke arah Ara.
"Dia bisa mengantar dan melindungi mu jika kau ingin keluar."
Setelah mengatakan itu, Dante melangkah pergi. Namun tepat sebelum pintu benar-benar tertutup, ia menoleh sekali lagi, sembari berkata, "Selamat."
Ara menatapnya tak mengerti. "Selamat karena apa?"
"Kau berhasil mencetak rekor."
"Rekor apa?"
Dante menyeringai sinis, sindirnya. "Belum pernah ada yang membuatku bergadang semalam untuk menemani reality show istriku dalam tajuk kabur di malam pertama."
Pintu pun ditutup.
Dante meninggalkan Ara sendirian di dalam ruangan. Ara mendesah panjang lalu menjatuhkan diri ke kursi.
"Dasar pria menyebalkan!!"
Namun jauh di lubuk hatinya, ia mulai menyadari meski Dante memang mengancamnya. Tetapi ancaman itu bukan untuk menyakitinya. Hanya untuk memastikan ia tetap berada di sisinya, apa pun yang terjadi.
"Ahh, sebenarnya pria seperti apa yang baru saja kunikahi ini?"
***.