NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Pelanggan Menganggapku...?! AAAARGHH!

Sore, pukul 16:40, akhirnya Moiro memulai pekerjaannya.

Moiro tidak mengikuti ekstrakurikuler apapun di sekolah, dan itu membuatnya bisa pulang lebih cepat dan langsung ke tempat kerja.

Anak bandel pasti.

...***...

Moiro diam mematung di dekat pintu—tempat para pelanggan akan datang—yang di atasnya ada lonceng kecil sebagai penanda.

"Bentar... Kenapa aku harus di sini?" tanyanya dalam hati, bingung.

Ia kembali mengingat mengapa ia bisa berada di sana sambil bersandar di dinding dan melipat tangan, "Sebelumnya... Aku diajak senior Genki Takahashi untuk menyambut pelanggan, ya...?"

...----------------...

Genki melambaikan tinggi tangannya sambil memanggil Moiro, "Moiroo! Bantu aku nyambut pelanggan, yuk! Akan kuajari caranyaa!"

...----------------...

"Begitulah kira-kira kejadian sebelum aku berakhir di sini..." lanjut Moiro dalam hati. Tatapannya datar.

Kau ngomong sama kami?

"Tapi..." lanjut Moiro sambil sesekali menatap ke arah Genki pergi meninggalkannya, lalu menunduk sambil memejamkan mata, "Bisa-bisanya dia malah ninggalin aku sendirian di sini."

Matanya terbuka, menatap takut ke arah pintu, "Gimana kalo tiba-tiba ada pelanggan yang datang?!"

Digeplak! Pake nanya.

"Moiroo!" panggil Genki tiba-tiba. Dia berlari kecil menghampiri Moiro.

Moiro segera menoleh padanya.

Genki berhenti tepat di depan Moiro, lalu memegang belakang kepala, "Yaahh... Maaf, ya! Aku harus pergi ke toilet tadi, hehe!"

Moiro hanya menatapnya datar, tak menjawab sepatah kata pun.

"Duuh! Jangan natap aku gitu dong!" mohon Genki padanya, sedikit cemberut.

"Oh, iya! Gimana kalo langsung aku ajarin cara menyambut pelanggan?" ajak Genki dengan semangat.

Dia melanjutkan sambil memegang kedua tangan Moiro dan diangkat rendah di depan, ingin meyakinkannya, sambil tersenyum lebar, "Aku yakin kamu pasti langsung bisa! Santai aja!"

Moiro terkejut tangannya tiba-tiba dipegang oleh seniornya. Saking terkejutnya, Moiro tak terpikirkan untuk memintanya melepaskannya.

Banyak alasan, kau!

Genki melepaskan pegangannya, lalu mengangkat telunjuknya sambil berkata, senyuman riang terulas di wajahnya, "Pertama, saat pelanggan datang, kita tak hanya memanggil mereka dengan sebutan 'pelanggan', tapi ditambahkan kata tertentu untuk menambah rasa hormat kita!"

"Kata tertentu...?" tanya Moiro pelan, bingung, tanpa sengaja mengulang ucapan seniornya.

"Benar! Kata seperti 'Tuan' atau 'Nyonya' di awal, atau kata 'Yang terhormat' di akhir!" lanjut Genki menjelaskan. Wajahnya yang memancarkan senyuman membuat Moiro betah mendengarkan.

"Begitu, ya...? Ini sedikit berbeda dengan pelayan normal yang cuma pakai kata 'yang terhormat' untuk pelanggannya," pikir Moiro setelah dijelaskan. Ia mengangguk pelan.

"Kulanjutkan, ya!" lanjut Genki antusias.

Jari tengah ikut terangkat, menunjukkan penjelasan yang sampai di bagian ke dua, "Ke dua, kita menyambut mereka sambil sedikit membungkukkan badan!"

Jari manis terangkat, "Dan terakhir..."

Ucapannya ditahan, membuat Moiro sangat penasaran.

Genki melebarkan senyumannya, "Jadilah dirimu sendiri!"

"Jadi diri... sendiri...?" bisik Moiro terkejut, lirih.

Moiro terdiam, merasa dirinya seolah berada di hamparan rumput hijau yang luas. Dirinya seolah merasakan nikmatnya terpaan angin yang lembut, aroma rumput yang segar, hingga pemandangan yang menyejukkan mata.

Moiro merasa kalau dirinya tidak terlalu dipaksa atau dikekang di pekerjaannya ini. Padahal sebelumnya, ia selalu memikirkan tentang sistem kerja yang memaksa para karyawan untuk mematuhinya, tapi di sini tidak. Ia bisa menjadi dirinya sendiri!

Tanpa sadar, Moiro tersenyum, begitu tulus sampai membuat seniornya terpaku menatapnya.

Moiro menatap seniornya, ingin berterima kasih meski bis dibilang tidak ada hubungannya.

Terdiam seketika.

Ia melihat Genki yang tiba-tiba menjongkok membelakanginya sambil menutup mulut hingga hidung. Tubuhnya bergetar ringan.

"Aku diketawain?!" teriak Moiro spontan, terkejut.

Sadar. Ia langsung menutup mulutnya.

"Aduh, keceplosan!" sesal Moiro dalam hatinya.

Genki menoleh kaku, lalu menjawab, "B-bukan..."

Moiro diam, heran dengan jawabannya. Tangannya perlahan turun dari mulut.

Genki berdiri, menurunkan tangannya dri mulut lalu tersenyum.

Moiro membelalak, melihat sirup merah mulai keluar di ujung hidung seniornya.

"Aku cuma nahan mimisan," lanjut Genki sambil tersenyum lebar.

"Itu udah hampir keluar...!" seru Moiro panik.

.........

Hidung Genki disumbat sebentar lalu dibersihkan.

Ia tersenyum lega, "Naahh... Akhirnya legaa...!"

Setelah kejadian itu, Moiro masih tak yakin kalau hari itu akan berjalan dengan mulus.

Mampis! Sini kugantiin kerjaanmu, mwehehe.

Moiro menghela napas pendek, lalu bertanya, "Tentang menyambut pelanggan tadi..."

Genki menatapnya, bingung.

"Kamu kayaknya gak ngejelasin 'senyum' saat menyapa pelanggan. Mengapa?" lanjutnya.

"Wah! Hebat juga kamu bisa sadar!" balas Genki bersemangat, sempat bertepuk tangan singkat, "Baiklah, akan kujelaskan!"

"Memang benar kalau senyum kepada pelanggan itu diharuskan," telunjuknya diangkat, "Tapi bayangin kalo yang menyapa dan melayani pelanggan adalah Sora!"

"Sora... Orang yang dingin itu, ya?" pikir Moiro, mengingat orang yang dimaksud.

"Jika dia yang melakukannya, maka senyuman tak diharuskan, begitu juga dengan Shizuka! Jadi, aturan ini kembali pada peran yang diambil oleh maid. Makanya aku tak memberi penjelasan langsung tentang senyuman," jelas Genki sambil tersenyum riang.

"Begitu, ya? Aku mulai paham," balas Moiro sambil mengangguk pelan.

"Karena kamu udah mulai paham, gimana kalo kita coba?" ajak Genki bersemangat. Wajahnya sedikit lebih dekat ke arah Moiro.

Suara langkah kaki terdengar samar dari luar pintu.

Genki segera menatap ke arah pintu sambil tersenyum girang, lalu kembali menoleh pada Moiro, "Nah, kebetulan ada pelanggan! Kamu ikuti aku aja, ya!"

Kring...!

Suara lonceng kecil di atas pintu terdengar, pertanda pintu dibuka.

Dua orang pelanggan laki-laki masuk sambil menyapa.

Genki siap di samping. Kedua tangannya lurus ke bawah—satu memegang yang lain.

Dia tersenyum lebar, membungkuk, lalu menyapa mereka riang, "Selamat datang, Tuan pelanggan!"

Di sampingnya, Moiro memerhatikan dengan seksama, memahami bagaimana cara menyapa pelanggan.

Saat ingin ikut menyapa, wajahnya memerah. Ia merasa ragu dan malu.

Tapi, Moiro kembali mengingat ucapan seniornya tentang menjadi diri sendiri. Akhirnya, Moiro tak memaksa dirinya untuk melawan rasa malu yang dirasakannya, dan akhirnya mulai ikut menyapa.

"Se-Selamat datang..." sambut Moiro sambil membungkuk.

Saat masih membungkuk, Moiro menyesal dan merasa aneh sekaligus malu dan cemas, "Malu kaliii...! Apa mereka sadar kalo aku cowok?! Moga enggak! Tapi, nyapa begini udah cukup kan...?"

Moiro mengangkat kepalanya sedikit, ingin melihat orang di depannya.

Laki-laki di depannya tersenyum pada mereka. Dan salah satunya tiba-tiba...

CROOOTT!

Moiro dan Genki seketika terkejut.

"HUAAAA...!" laki-laki itu berteriak sambil melompat ke belakang, mendobrak pintu sampai hampir terlempar keluar.

Mimisan menyembur seketika dari hidungnya.

Dia jatuh merosot, lalu disandarkan oleh temannya di bahunya. Dia kemudian berucap pelan penuh kebahagiaan, "Mimpi apa aku barusan...? Ketemu dua tomboy beda sifat... Ahaha. Bahagianyaaa...!"

Pingsan seketika.

Moiro dan Genki menatap heran. Keduanya masih terkejut dengan kejadian itu.

.........

Laki-laki itu sudah sadar, lalu menyatukan kedua tangannya sambil masih tersenyum, "Yaaah... Maaf, ya. Aku suka sama cewek tomboy, dan baru kali ini aku liat tomboy bersemangat sama tomboy feminin bersamaan."

"Aku... seneng banget...!" lanjutnya sambil tersenyum lebih lebar. Sirup merah kembali mengucur dari hidungnya.

Temannya segera menyumpal hidungnya dengan bongkahan tisu, sampai lubang hidungnya membesar sebelah.

Setelahnya, kedua pelanggan itu berjalan masuk. Laki-laki yang mimisan sebelumnya sempat melambai pada mereka sambil tersenyum.

Genki membalas lambaian tangannya, sementara Moiro masih terdiam karena ada yang lebih membuatnya terkejut.

"Aku... beneran dianggap cewek?!" pikirnya panik.

Moiro melirik seniornya perlahan.

"Kalo senior itu tomboy semangat, berarti..." tatapannya berubah cemas, wajahnya membiru, "AKU TOMBOY FEMININ?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!