Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Bikin Overthinking Aja...
Di depan Moiro berdiri saat itu ada seniornya yang lain—Sarasara.
Akhirnya, Mamiiih!
Setelah diajarkan menyambut pelanggan oleh senior Genki, kini ia akan diajarkan hal lain oleh senior Sarasara.
"Kamu sudah siap, Dik Moiro~?" ucapnya halus sambil tersenyum lembut. Tangannya terlipat ke belakang saat dia sedikit mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Moiro.
Moiro sedikit menjauh, sebab tak terbiasa terlalu dekat dengan perempuan seperti seniornya ini. Kalau Moiro bersama senior Genki itu lebih mudah, sebab ia hanya perlu menganggapnya laki-laki yang sok imut. Itu saja.
Kalo gitu, aku aja yang deket sama Mamih.
Moiro dan Sarasara sedang berada di dekat kasir, karena yang akan diajari seniornya adalah cara melayani pelanggan.
"Kita mulai, ya~?" lanjut Sarasara. Senyuman lembutnya terasa hangat, benar-benar seperti seorang ibu yang memberikan kasih sayangnya.
Tapi, Moiro bingung dengan apa yang ia rasakan saat itu. Rasa hangat itu mulai asing baginya sebab ia sudah terbiasa hidup seorang diri.
Melihat ekspresi Moiro yang tampak kebingungan membuat Sarasara juga bingung. Dia mendekat dan bertanya pelan padanya, "Dik Moiro? Kamu baik-baik aja?"
Moiro tersentak halus lalu segera mengangguk, "Aku tak apa."
"Begitu, yaa...?"
Sarasara tak yakin dengan apa yang diucapkan oleh Moiro.
Dia akhirnya tersenyum, memutuskan untuk melakukan sesuatu padanya.
Dia mendekat, merentangkan tangannya lalu memeluk Moiro dengan lembut, memberikan kehangatan dan rasa nyaman padanya.
Mamih! Aku juga mau!
Moiro tersentak kaget. Matanya membelalak seketika.
Moiro berusaha melepas dekapan seniornya, tapi Sarasara tak mau melepaskannya.
Sarasara tetap bersikeras memeluknya dengan lembut, berniat membuat Moiro lebih tenang. Padahal itu malah membuat Moiro semakin panik.
Satu tangannya diangkat pelan, lalu mengusap lembut rambutnya Moiro, "Oke, okee~ Tidak apa, kok~"
Moiro mulai terhenti. Rasa nyaman saat rambutnya diusap, disertai pelukan hangat entah kenapa membuatnya lebih tenang.
Sekilas, ia mampu mengingat masa-masa kecilnya saat ia begitu disayang oleh kedua orang tuanya.
Moiro ingin menangis, tapi ia tahan dengan paksa.
Menangisi hal yang telah berlalu bukanlah jalan keluar, menjalani yang sedang terjadi dan memikirkan masa depan adalah cara menyelesaikannya.
Merasa Moiro sudah mulai tenang, Sarasara melepaskan pelukannya. Dia menatap lembut pada Moiro, dan menemukan ekspresi wajah yang berusaha menahan tangis.
"Loh...? Apa saya berlebihan, ya?" pikir Sarasara, sedikit merasa bersalah.
Moiro mengusap air mata yang tertahan, membersihkannya. Matanya terbuka lebih lebar menatap pada Sarasara.
Mata yang memerah, disertai hidung dan pipi yang juga ikut memerah, jelas memberitahu kalau ia memang menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
Tapi, Sarasara sadar kalau dia tak berhak masuk lebih dari itu. Moiro telah bertekad untuk menahan tangisnya, itu berarti ia tak ingin masalahnya diketahui oleh orang lain. Meski begitu, Sarasara tetap khawatir pada juniornya ini.
Dia kembali mengusap kepala Moiro dengan lembut, "Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, katakan saja. Kami akan mendengarkannya."
Moiro diam. Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk.
Sarasara melepas pelukannya, lalu tersenyum.
Sekarang peluk aku dong, Mamih!
Moiro diam sejenak, namun tersentak tiba-tiba, "Bentar! Apa kami ketahuan sama yang lain?!"
Ia melirik sekilas, dan ternyata tak ada yang melihat—pelanggan maupun sesama pekerja—karena terhalang dinding. Ia pun menghela napas lega.
Saat itu, Sarasara kembali berucap, sambil memperlihatkan senyum manisnya di wajahnya yang cantik, "Baiklah, Dik Moiro, gimana kalau kita langsung coba melayani pelanggan?"
Telunjuknya diangkat, "Tapi pertama-tama, kamu perlu penjelasan terlebih dahulu."
"Yang perlu kita lakukan ialah, saat menghampiri para pelanggan, kita akan menyapa kemudian menanyakan apa yang ingin mereka pesan," jelas Sarasara dengan suara dan senyuman yang lembut.
Jarinya diturunkan, menghadap ke bawah, dan satu tangannya diangkat menjadi alas—seperti buku dan pulpen, "Biasanya, pesanan para pelanggan akan kita catat lalu diberikan kepada kasir. Sisanya, mereka yang akan mengurus."
Moiro hanya mengangguk pelan, memahami apa yang dijelaskan oleh seniornya itu.
Tugas itu terasa begitu mudah, karena hanya mencatat pesanan dan memberikannya pada kasir.
Suara seniornya yang lembut benar-benar masuk dengan halus ke telinganya, tak ada yang menghalangi kelembutan itu kecuali kalau ketutupan tai.
"Karena ini adalah pekerjaan utama kita," lanjut Sarasara, memberikan saran, "jadi kita disarankan untuk menguasainya."
Keduanya tangannya diturunkan dan dilipat di belakang, lalu ia memiringkan kepalanya sambil terus tersenyum.
"Mungkin itu aja yang perlu disampaikan," lanjutnya.
Ia kemudian memegang tangan Moiro di depan dengan kedua tangannya, "Jadi, ayo kita mulai melayani para pelanggan, bersama~!"
Moiro kembali tersenyum halus, lalu mengangguk mantap.
Nganu... Kapan aku dipeluk Mamih?
"Oh, iya. Sebelum itu, ada satu hal lagi," lanjut Sarasara.
Moiro bingung mendengarnya.
Sarasara melepaskan pegangan tangannya, dan kembali dilipat ke belakang, "Mungkin Genki sudah memberitahumu, tapi akan saya ulang sebanyak mungkin sampai kamu mengingatnya."
Satu tangannya diangkat, dan memegang pundak Moiro, "Dik Moiro, kamu tak perlu memaksa dirimu untuk menjadi orang lain, kamu hanya perlu menjadi apa yang ada dalam dirimu sendiri. Menjadi diri sendiri itu bukan pilihan, melainkan keharusan."
Mendengar itu, Moiro kembali merasakan kebebasan. Ia tersenyum tanpa sadar.
"Baik!" balas Moiro, mulai bersemangat.
Mereka pun segera mendatangi meja kasir, dan bersama memulai melayani para pelanggan.
Sarasara memberikan contoh yang baik kepada Moiro, seperti senyum saat menyapa, menanyakan pesanan dengan sopan, sampai membungkuk sebentar sebelum akhirnya pergi memberikan pesanan pelanggan ke kasir.
Sarasara benar-benar memerankan perannya dengan baik saat melayani pelanggan. Para pelanggan yang dilayani olehnya tampak sangat bahagia.
Iya dong, Mamih-ku gitu loh!
Moiro yang melihatnya menjadi kagum.
Saat ia akhirnya mencoba melakukan hal yang sama—tentu saja, menjadi diri sendiri—ada sedikit masalah.
"Coba kamu ke meja nomor delapan di sana, ya~" ucap Sarasara lembut.
Moiro mengangguk, lalu berjalan menuju meja yang disebutkan tadi.
Moiro berjalan di antara orang-orang yang memandanginya, sempat menjadi pusat perhatian. Hal itu tentu membuatnya sangat malu sekaligus panik.
Otak Moiro seketika penuh dengan pikiran yang seharusnya tak perlu dipikirkan, yang malah membuatnya semakin cemas, "Kenapa mereka menatapku begitu? Apa mereka sadar kalo aku cowok? Apa cara jalanku terlalu lakik? Apa bantalan dadaku longgar atau miring?"
Besar sebelah! Banyak kali pikiran kau ini. Wkwkwk.
Selama perjalanan, Moiro jelas panik. Kepalanya diisi oleh pikiran-pikiran yang mengganggunya.
Akhirnya, ia sampai di meja yang dituju.
Ia memegang buku kecil—notebook spiral atas mini ukuran A7—dan pulpen tinta, memastikan keduanya aman, lalu menatap ke arah pelanggan.
Moiro mematung seketika.
Pelanggan yang akan dilayaninya adalah dua orang laki-laki yang pertama kali ia sambut sebelumnya.
Entah kenapa Moiro merasa kalau dirinya akan kerepotan. Meski begitu, ia tetap berusaha terlihat profesional.
Moiro tersenyum—sedikit kaku karena dipaksakan, lalu menyapa mereka, "Permisi, Tuan... pelanggan. A-Apa kalian ingin m-memesan sesuatu?"
"Sial! Ucapanku masih terbata! Tambah malu lah kalo gini!" jeritnya dalam hati, menyesal seketika.
Laki-laki yang mimisan sebelumnya menoleh dan langsung tersenyum, lalu berkata dengan gembira, "Kamu? Aduh, ini hari paling membahagiakan yang pernah kualami...!"
"Lebay bet," pikir Moiro.
Sepakat.
"Oh iya, aku mau pesan satu Coffee Latte sama satu dessert, Matcha Cake!" lanjutnya setelah berucap tak jelas.
Yang satunya juga berkata, lebih tenang—memesan sesuatu, "Aku Espresso double shoot."
Temannya langsung menoleh padanya, "Wedeh, lakik kaliii...!"
"Espresso? Kopi pahit itu, ya?" pikir Moiro sambil mencatat pesanan pelanggan.
"A-Apa ada yang lain...?" lanjut Moiro, memastikan kalau-kalau ada yang tertinggal.
"Oh, iya, satu lagi," balas laki-laki yang mimisan sebelumnya.
Dia mengambil telpon genggamnya lalu menyodorkannya pada Moiro.
Moiro jadi hening sejenak.
"Apa ini? Dia mau aku melihat sesuatu? Gimana kalo aku gak tau apa nama yang dia liatin?!" pikir Moiro jelas panik.
Moiro bekerja untuk mendapatkan uang, jadi tak pernah sekalipun ia terpikir akan mendalami perannya, terlebih lagi jika perannya itu seorang maid. Itulah alasan Moiro panik saat ditanya tentang nama atau jenis makanan atau minuman yang diperlihatkan padanya.
"Bagaimana kalo dia nanya nama makanan atau minuman? Kalo aku gak tau namanya harus gimanaa...?! Apa aku harus manggil senior?!" seru Moiro dalam pikirannya, paniknya makin menjadi-jadi. Ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Tiba-tiba, laki-laki itu tersenyum lalu berkata dengan polosnya, "Boleh minta nomor kontakmu?"
Moiro membatu, "Hah?"
Plak.
Tangan laki-laki itu ditampar oleh temannya, "Jangan macam-macam."
Mendengar itu, Moiro terdiam. Satu alisnya bergetar ringan saat ia berkata dalam hatinya, "Aku dah overthinking, loh..."
"Maaf kalo temanku mengganggumu. Itu aja pesanan kami," lanjut laki-laki yang menampar tangan temannya tadi. Dia menatap Moiro dengan rasa bersalah atas perbuatan temannya.
Moiro dengan panik segera menjawab, "T-tidak apa... K-kalo gitu..."
Moiro membungkukkan badannya dengan sopan, "Saya permisi..."
Moiro akhirnya berpaling dan berjalan menuju kasir.
Moiro kembali memikirkan kejadian barusan, sambil terus berjalan dengan tatapan sedikit kosong, kepalanya sedikit pusing, "Aku gak tau mau komentar apa... Intinya panik, bingung, dan capek..."