NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kue Red velvet

Suara di ujung telepon itu terdengar jauh, disertai gema ruangan yang luas, khas panggilan internasional dari Eropa.

"Adit, Nak? Apa kabarmu? Ibu baru saja sampai di hotel di Paris. Cuaca di sini sangat dingin, berbeda sekali dengan Jakarta."

Adit menghela napas lega, ketegangan di bahunya mengendur. Ia menatap wanita di hadapannya sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke jendela kafe. "Aku baik-baik saja, Bu. Bagaimana perjalanan Ibu? Apakah jet lag-nya sudah hilang?"

"Masih sedikit pusing," jawab suara ibunya, terdengar lelah namun hangat. "Ibu hanya ingin memastikan kamu makan teratur dan tidak bekerja terlalu keras. Jangan lupa jaga kesehatan, Nak. Ibu akan menelepon lagi minggu depan ya."

"Siap, Bu. Hati-hati di sana.", selamat bersenang - senang ya bu,tetap jaga kesehatan"Ucap Adit.

Klik. Sambungan terputus.

Hening yang tersisa bukanlah hening yang mencekam, melainkan hening yang kaku. Davina, yang duduk di seberang meja, tidak langsung berbicara. Ia menatap cangkir kopinya, menghindari kontak mata dengan Adit. Pertemuan ini terasa aneh. Mereka bukan lagi sepasang kekasih, tapi juga bukan orang asing. Mereka adalah dua mantan kekasih yang terjebak dalam kepura-puraan menjadi "teman biasa".

Adit meletakkan ponselnya di meja. Ia merasa gugup. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu, sebuah kebiasaan lama yang dulu sering diperhatikan Davina.

"Jadi..." mulai Adit, suaranya terdengar agak serak. Ia mencoba mencari topik yang aman. "Bagaimana tawaranku ? Apa kamu mau bekerja di perusahaanku ?

Davina mendongak sebentar, senyum tipis yang terpaksa terukir di bibirnya. "Hmmm, sepertinya Pak adit agak terburu - buru ya, Baiklah aku menerima tawaranmu, tapi..... dengan satu syarat,jika tidak keberatan aku tetap ingin  bekerja dari rumah saja."

"Itu bagus,Aku setuju "  balas Adit singkat. Ia ingin bertanya lebih banyak, ingin tahu apakah Davina bahagia, apakah dia kesulitan financially, tapi ia menahan diri. Ia tahu batasannya. Mereka belum sedekat itu lagi. Tembok masa lalu,rasa sakit perpisahan, keheningan tujuh tahun, dan status Davina sebagai janda masih berdiri kokoh di antara mereka.

Davina memutar sendok di kopinya. Suasana canggung semakin terasa. Ia ingin pergi, ingin lari dari tatapan Adit yang sesekali menyapu wajahnya dengan intensitas yang membuatnya tidak nyaman. Tatapan itu mengingatkan Davina pada masa lalu, pada saat-saat ketika Adit pernah mencintainya sepenuh hati. Sekarang? Davina tidak yakin apa yang dirasakan Adit. Kasihan? Rasa bersalah? Atau sekadar nostalgia?

Tiba-tiba, langkah kaki halus seorang pelayan pria mendekat. Ia mengenakan seragam hitam rapi dengan dasi kupu-kupu, membawa sebuah nampan perak mengilap di atas telapak tangannya yang bersarung tangan putih.

"Permisi, Tuan. Ini pesanan khusus Anda," ucap pelayan itu dengan suara rendah dan sopan, meletakkan nampan di tengah meja dengan hati-hati.

Di atas nampan itu, berdiri tegak sepotong kue Red Velvet yang sempurna.

Warna merahnya begitu pekat, kontras dengan lapisan cream cheese putih salju yang melapisi sisinya dengan rapi. Taburan remahan kue (crumbs) berwarna merah tua di atasnya memberikan tekstur visual yang mengundang selera. Aroma manis vanila dan sedikit sentuhan cokelat langsung menyeruak, menerobos indra penciuman Davina sebelum ia sempat bereaksi.

Davina terdiam. Matanya melebar sedikit saat menatap kue itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lapar, tapi karena kejutan.

Ini bukan kue sembarangan. Ini adalah Red Velvet dari La Patisserie, toko kue langka di ujung kota yang dulu, tujuh tahun lalu,sering mereka kunjungi setiap kali ada perayaan kecil. Dulu, Adit selalu memesan ini untuk Davina karena tahu betul bahwa Davina menyukai perpaduan rasa asam segar dari buttermilk dan manisnya krim keju, bukan sekadar cokelat biasa.

Adit tidak segera berbicara. Ia hanya menatap Davina, mengamati reaksi wanita itu dengan saksama. Ada ketegangan di rahangnya, seolah ia sedang menahan napas, menunggu apakah gestur kecil ini akan diterima atau ditolak.

"Davina," panggil Adit pelan, suaranya serak. "Aku ingat... kau pernah bilang, Red Velvet adalah satu-satunya kue yang tidak membuatmu merasa bersalah setelah memakannya. Karena rasanya... jujur. Ada manisnya, tapi ada juga asamnya."

Davina menelan ludah. Ingatan itu menghantamnya keras. Dulu, di masa-masa awal hubungan mereka, itulah alasan konyol yang ia berikan pada Adit. Dan Adit mengingatnya. Di tengah kesibukannya, di tengah jarak Tujuh tahun lalu yang memisahkan mereka, Adit masih mengingat detail sekecil itu.

"Aku..." Davina mencoba berbicara, namun suaranya tercekat. Ia menatap kue itu, lalu menatap Adit. Tatapan pria itu tidak menuntut, tidak memaksa. Hanya ada harapan kecil yang terselip di balik kedalaman matanya yang gelap.

"Cobalah," bisik Adit, mendorong piring kecil berisi garpu perak ke arah Davina. "Jika rasanya sudah berubah, atau jika kau sudah tidak menyukainya... katakan saja. Aku tidak akan memaksakan kenangan masa lalu padamu."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Davina mengambil garpu itu. Ujung logamnya menyentuh lapisan krim yang lembut, lalu menembus lapisan kue merah yang padat. Ia mengangkat sepotong kecil ke mulutnya.

Rasa itu meledak di lidahnya. Manis, lembut, dengan sentuhan asam yang khas. Rasanya persis seperti tujuh tahun lalu. Persis seperti rasa cinta mereka dulu: indah, rumit, dan meninggalkan bekas yang sulit dilupakan.

Davina melahap habis kue di hadapannya, Davina merasa bahagia dan sedih campur aduk.Adit masih mengingat hal - hal kecil tentangnya setelah tujuh tahun berlalu.Namun Rio mantan suaminya ,tidak pernah mengingat hal detail tentangnya.Bahkan Davina yang tidak suka daun bawang saat makan mie ayam.Rio selalu acuh dan cuek.Setiap orang berbeda , namun Davina seperti ia terhubung kembali dengan rumah yang ia punya dulu.

"Aku... aku sebaiknya pulang," kata Davina tiba-tiba, mengambil tasnya. "Zahra menunggu di rumah ."

Adit terlihat sedikit kecewa, namun ia menutupinya dengan cepat. Ia mengangguk paham. "Tentu. Maaf jika... jika pertemuannya membosankan. Aku memang kurang pandai basa-basi."

"Tidak apa-apa," jawab Davina dingin, meski dadanya berdegup kencang. "Sampai jumpa lain waktu, Adit."

"Sampai jumpa, Davina."

Davina berdiri dan berjalan keluar kafe tanpa menoleh lagi. Adit tetap duduk di tempatnya, menatap punggung wanita itu hingga menghilang di kerumunan. Ia menghela napas panjang, merasakan berat di dada. Ia ingin mendekat, tapi ia takut merusak semuanya. Untuk sekarang, menjadi "teman lama" yang canggung adalah satu-satunya pilihan yang aman.

Sore Hari – Apartemen Rio

Siska duduk di balkon apartemen Rio, memandang langit yang mulai gelap. Di tangannya, secangkir teh hampir habis. Ia tidak pulang bukan karena hujan, tapi karena Rio memintanya untuk menunggu sebentar setelah insiden semalam. Alasan yang dangkal, tapi Siska selalu sulit menolak Rio.

Rio keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, mengenakan kaos oblong longgar. Pria itu tampak lebih segar secara fisik, namun matanya menyimpan kekosongan yang dalam. Ia tidak langsung mendekati Siska, melainkan bersandar di kusen pintu, menatap pemandangan kota dengan tatapan kosong.

"Kamu masih di sini?" tanya Rio datar. Suaranya tidak bernada menggoda, hanya sekadar pertanyaan fakta.

Siska menelan ludah, menyembunyikan rasa sakit di dadanya. "Hujan deras, Rio. Sulit dapat ojek."

Rio mengangguk singkat, lalu berjalan mendekat. Ia tidak duduk di samping Siska, melainkan berdiri di samping pagar balkon, menjaga jarak yang sopan namun terasa dingin.

"Terima kasih sudah menemani semalam," kata Rio tiba-tiba, tanpa menoleh. "Maaf jika aku merepotkan."

Siska tersenyum pahit. "Tidak apa-apa. Kita teman, kan?"

Kata "teman" terasa seperti pisau di lidah Siska. Karena baginya, Rio lebih dari itu. Tapi bagi Rio, Siska hanyalah sahabat yang setia, tempat singgah sementara ketika kesepian melanda.

Rio menghela napas panjang, suaranya terdengar berat. "Kadang-kadang... aku merasa sangat sendirian, Siska. Bahkan ketika ada orang di sekitarku."

Jantung Siska berdegup kencang. Ini kesempatan. Ini momen di mana ia bisa berkata, "Aku di sini, Rio. Lihatlah aku." Namun, ia tahu siapa yang sebenarnya dicari oleh jiwa Rio.

"Apakah itu karena... Davina?" tanya Siska pelan, nyaris tak terdengar.

Tubuh Rio menegang. Ia menoleh tajam, menatap Siska dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada rasa sakit, ada penyesalan, dan ada pengakuan diam-diam di matanya.

"Davina selalu menjadi standar," jawab Rio akhirnya, suaranya serak. "Bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia adalah satu-satunya wanita yang pernah membuatku merasa cukup. Sejak dia pergi... sejak hidupnya berubah arah... rasanya ada bagian dari diriku yang hilang. Dan aku belum menemukan cara untuk mengisinya kembali."

Siska merasakan dadanya sesak. Pengakuan itu jelas. Rio tidak mencintainya. Rio masih mencintai Davina. Kehadiran Siska di sini, di apartemennya, bukan karena ada benih cinta baru, tapi karena Siska adalah sosok yang aman, yang tidak menuntut, dan yang mengingatkan Rio pada kenyamanan—seperti halnya Davina dulu. Siska hanyalah bayangan, pengganti sementara yang tidak pernah bisa menggantikan aslinya.

"Aku mengerti," bohong Siska, meski hatinya hancur berkeping-keping. Ia memaksakan senyuman tipis. "Mungkin suatu hari nanti, lukanya akan sembuh, Ri."

Rio menatap Siska lekat-lekat. Untuk sesaat, Siska berharap Rio akan melihatnya sebagai wanita, bukan sebagai sahabat. Tapi Rio hanya mengangguk lelah.

"Semoga saja," gumam Rio. "Kamu teman terbaik yang pernah aku punya, Siska. Jangan pernah berubah."

Kalimat itu seharusnya menjadi pujian. Bagi Siska, itu adalah vonis penjara. Teman terbaik. Garis batas yang tidak boleh dilanggar. Rio menghargainya, tapi tidak menginginkannya.

Sebelum Siska sempat merespons, ponsel Rio berdering. Nama "Direktur Utama" terpampang di layar. Suasana sentimental itu buyar seketika, digantikan oleh realitas pekerjaan.

Rio mengangkat telepon, wajahnya kembali menjadi topeng profesional yang dingin. "Ya, Pak. Saya siap. Saya akan ke kantor sekarang."

Ia menutup telepon, lalu menatap Siska dengan wajah menyesal. "Ada krisis di kantor. Aku harus pergi."

Siska berdiri, kakinya terasa berat. "Pergilah. Urusanmu lebih penting."

Rio mengambil jaketnya. Di depan pintu, ia berhenti sejenak. "Jangan kunci pintunya dari luar kalau kamu mau tunggu sebentar lagi. Atau... pulanglah hati-hati, Siska. Terima kasih sudah mendengarkan keluhanku."

Pintu tertutup. Siska tinggal sendirian di balkon yang kini terasa sangat dingin. Ia menatap cangkir tehnya yang sudah dingin, lalu memeluk dirinya sendiri.

"Aku mencintai pria yang cintanya tertuju pada wanita lain," gumamnya pada diri sendiri, air mata akhirnya menetes jatuh ke lantai balkon. "Dan yang paling menyakitkan... dia tahu itu, tapi dia tetap membiarkanku dekat, karena aku mudah."

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
ica
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!