NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: JUALAN DI PASAR MALAM DAN PERTEMUAN DENGAN PREMAN

Rangga duduk di kamar asramanya, menghitung uang receh yang tersisa di dompetnya. Jumlahnya sangat sedikit—hanya cukup untuk makan selama tiga hari ke depan. Uang kiriman dari Nenek Saroh terlambat minggu ini karena Nenek sedang sakit dan tidak bisa menjual sayuran di pasar. Rangga tidak mau membebani Nenek dengan meminta lebih banyak. Ia tahu Nenek sudah berjuang keras untuk membiayai sekolahnya.

"Aku harus mencari uang tambahan," gumamnya pada diri sendiri. "Aku tidak bisa terus bergantung pada Nenek."

Ia memikirkan berbagai pilihan. Menjadi kuli angkut? Terlalu berat dan menyita waktu belajarnya. Menjadi tukang cuci piring di restoran? Gajinya kecil dan jam kerjanya malam. Lalu ia teringat sesuatu—setiap malam Minggu, ada pasar malam di alun-alun kecamatan. Banyak pedagang makanan dan barang-barang murah yang ramai dikunjungi warga. Ia bisa berjualan di sana.

"Ucok," panggil Rangga melalui telepon umum di desa. "Kau masih punya koneksi dengan pedagang di pasar malam?"

"Wah, Rangga! Kau mau jualan?" suara Ucok terdengar bersemangat dari ujung telepon. "Aku kenal Pak RT yang jualan gorengan di sana. Dia bisa kasih kau tempat. Tapi kau harus bayar sewa tempat kecil, hanya lima ribu."

"Baik, aku setuju. Tolong bantu aku, Ucok."

Akhir pekan itu, Rangga memulai usahanya. Ia menjual nasi bungkus sederhana—nasi putih dengan lauk tempe orek dan sayur bayam—yang ia buat sendiri di dapur asrama. Harga satu bungkus hanya lima ribu rupiah. Dengan modal tiga puluh ribu untuk bahan makanan, ia berharap bisa mendapatkan untung setidaknya dua puluh ribu.

Malam pertama, Rangga tiba di pasar malam dengan sepeda tua yang dipinjamnya dari Ucok. Ia membawa keranjang berisi tiga puluh bungkus nasi yang dibungkus rapi dengan daun pisang. Di bawah lampu minyak yang redup, ia membentangkan tikar plastik dan menata dagangannya.

"Jualan nasi! Murah dan enak! Nasi bungkus lima ribu!" teriak Rangga dengan suara lantang, berusaha menarik perhatian pengunjung.

Pada awalnya, pembeli datang perlahan. Ada beberapa ibu-ibu yang membeli satu atau dua bungkus untuk anak-anak mereka. Namun setelah beberapa jam, Rangga hanya berhasil menjual sepuluh bungkus. Sisanya masih menumpuk, dan ia mulai khawatir.

"Anak muda, kau menjual nasi yang enak," kata seorang bapak paruh baya yang sedang duduk di dekatnya sambil menyantap nasi bungkus. "Tapi tempatmu terlalu tersembunyi. Kau harus pindah ke depan, dekat pintu masuk."

"Terima kasih, Pak. Saya akan coba besok," jawab Rangga dengan senyum.

Malam Minggu berikutnya, Rangga datang lebih awal dan mendapat tempat di dekat pintu masuk pasar malam. Lokasinya strategis, dan banyak pengunjung yang melihat dagangannya. Dalam dua jam, ia berhasil menjual dua puluh bungkus. Hatinya berbunga-bunga.

Namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, kerumunan pengunjung di dekatnya mulai terpecah, dan suara gaduh terdengar dari kejauhan. Seorang pria besar dengan tubuh kekar dan wajah penuh bekas luka berjalan dengan langkah menyeringai. Di belakangnya, ada dua pria lain yang tampak sama menakutkannya. Mereka adalah preman pasar malam yang terkenal kejam—mereka dikenal sebagai "Satria Tiga" karena selalu beraksi bertiga.

Rangga mendengar bisikan-bisikan dari pedagang di sebelahnya. "Awas, Le, itu 'Satria Tiga'. Mereka suka memalak pedagang. Kalau kau tidak memberi uang perlindungan, mereka akan merusak daganganmu."

Rangga merasa jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba tetap tenang, tetapi tangannya mulai gemetar. Preman besar itu berjalan mendekati lapaknya, matanya menyipit melihat dagangan Rangga.

"Hei, anak kecil!" kata preman itu dengan suara berat dan mengancam. "Kau baru di sini, ya? Aku tidak kenal wajahmu. Siapa yang memberi izin kau berjualan di sini?"

Rangga berusaha tersenyum, meskipun rasa takut mulai menyusup ke dalam hatinya. "Saya hanya berjualan kecil-kecilan, Pak. Saya izin dari Pak RT."

"Pak RT?" preman itu tertawa terbahak-bahak. "Pak RT tidak berkuasa di sini! Yang berkuasa di sini adalah kami! Kalau kau mau berjualan di sini, kau harus bayar uang perlindungan!"

"Berapa, Pak?" tanya Rangga, suaranya sedikit bergetar.

"Lima puluh ribu per malam!" kata preman itu dengan nada memerintah.

Rangga terkejut. Lima puluh ribu! Itu hampir sama dengan semua keuntungan yang ia dapatkan selama sebulan. "Pak, saya hanya pedagang kecil. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya hanya menjual nasi bungkus lima ribu. Untung saya cuma sedikit."

"Terserah kau!" preman itu mulai marah. "Kalau kau tidak bayar, kami akan merusak daganganmu!"

Rangga menatap dagangannya yang tersisa—hanya sepuluh bungkus nasi—dan merasakan keputusasaan yang luar biasa. Ia bekerja keras seharian untuk membuat semua ini, dan sekarang semua usahanya terancam sia-sia. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya.

"Pak, saya mohon," katanya dengan suara bergetar. "Saya benar-benar tidak punya uang. Saya hanya anak sekolah yang mencari tambahan biaya. Nenek saya sakit dan saya tidak mau membebaninya. Saya hanya ingin bisa terus sekolah."

Preman itu menatap Rangga, dan untuk sesaat, ada keraguan di matanya. Namun kemudian ia kembali tersenyum sinis. "Aku tidak peduli dengan ceritamu! Bayar atau kami rusak daganganmu!"

Tiba-tiba, seorang bapak paruh baya yang tadi membeli nasi darinya muncul. Itu adalah bapak yang sama yang memberi saran tentang lokasi berjualan. "Pak Tono," kata bapak itu dengan suara tenang tetapi tegas. "Biarin anak ini. Dia anak baik. Aku jamin dia tidak akan macam-macam. Kalau kau mau, aku yang bayar uang perlindungannya bulan ini."

Preman besar itu menoleh, lalu wajahnya berubah. "Pak RT? Kenapa Bapak melindungi anak ini?"

"Aku tahu keluarganya," kata Pak RT dengan tegas. "Neneknya adalah orang baik di desa. Dia membantu banyak orang. Anak ini hanya mencari uang untuk biaya sekolah. Jangan kau sakiti dia."

Preman itu terdiam, tampak berpikir. Akhirnya, ia menghela napas dan berkata dengan nada sedikit melunak. "Baiklah, karena Bapak yang bicara, aku beri keringanan. Bulan ini gratis. Tapi bulan depan, dia harus bayar setengahnya—dua puluh lima ribu."

Pak RT mengangguk. "Baiklah. Aku jamin dia akan bayar."

Setelah preman itu pergi, Rangga merasa lemas dan hampir pingsan. Air mata yang ditahannya akhirnya mengalir deras. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus membalas apa."

Pak RT menepuk pundaknya dengan lembut. "Tidak usah, Nak. Saya kenal Nenek Saroh. Dia pernah menolong saya saat saya sakit dulu. Sekarang giliran saya menolong cucunya. Tapi hati-hati di sini. Preman-preman itu berbahaya. Jangan macam-macam."

Rangga mengangguk, mengusap air matanya. "Saya janji, Pak. Saya akan berhati-hati."

Malam itu, Rangga pulang dengan hati yang berat tetapi juga penuh rasa syukur. Ia berhasil menyelamatkan dagangannya, dan ia bertemu dengan orang baik yang membantunya. Namun ia juga belajar bahwa dunia di luar desa tidak selalu ramah. Ada orang-orang jahat yang hanya ingin memanfaatkan orang lemah.

Di kamar asramanya, Rangga duduk sendirian, menatap langit malam dari balik jendela. Ia menulis surat untuk Nenek Saroh, menceritakan semua yang terjadi.

"Nenek, hari ini aku mengalami hari yang sulit. Aku mencoba berjualan di pasar malam untuk biaya sekolah, tetapi aku hampir dimalak preman. Untung ada Pak RT yang menolongku. Aku belajar bahwa dunia ini tidak selalu aman, Nenek. Ada orang-orang jahat yang ingin memanfaatkan orang lemah. Tapi aku juga belajar bahwa ada orang baik yang bersedia menolong. Aku berjanji akan terus berhati-hati dan tidak akan menyerah. Doakan aku, Nek. Aku ingin menjadi orang yang sukses, bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk Nenek dan untuk semua orang yang telah menolongku."

Ia menutup surat itu, lalu memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya—bukan air mata kesedihan, tetapi air mata haru karena ia masih memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Ia berdoa untuk Nenek, untuk Anisa, untuk Pak RT, dan untuk dirinya sendiri. Ia tahu perjalanan ini masih panjang dan penuh rintangan, tetapi ia akan terus melangkah, tidak peduli seberapa sulitnya.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!