Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keesokan harinya, alarm subuh seolah menjadi saksi bisu keberhasilan Alya dan ibunya semalam. Udara pagi yang masih diselimuti kabut tipis mengiringi langkah Alya berangkat ke sekolah. Hari ini, ia sengaja berangkat jauh lebih awal dari biasanya. Di kedua tangannya, ia menjinjing tas belanja besar yang berisi kotak-kotak mika tertata rapi. Tas itu cukup berat, namun bagi Alya, beratnya tas itu adalah simbol dari lunasnya beban biaya *study tour* yang sempat menghimpit dadanya.
Sesampainya di kelas 11 IPA 1, suasana masih sangat sepi. Baru ada satu-dua murid yang datang dan sibuk menyapu atau membaca buku. Alya meletakkan tas besarnya di sudut meja. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan kertas catatan pesanan yang sudah ia persiapkan sejak semalam, lalu menyusun kotak-kotak kue tersebut berdasarkan nama-nama pemesan agar nanti tidak tertukar saat teman-temannya mulai berdatangan.
Tidak berselang lama, pintu kelas digeser dengan heboh. Siapa lagi kalau bukan Adel dan Jesica. Keduanya langsung berlari menghampiri meja Alya dengan wajah segar dan penuh energi.
"Pagi, Juragan Dapur Saras!" seru Adel riang, langsung meletakkan tas sekolahnya asal di atas kursi. "Gimana semalam? Selesai semua kan? Ya ampun, wangi kuenya sudah keciuman dari depan pintu koridor tahu!"
Jesica langsung mengambil alih kertas catatan dari tangan Alya. "Sini, Al, biar gue sama Adel yang bantuin bagi-bagiin ke anak-anak. Lo duduk manis aja, atau hitung uang yang masuk."
Satu per satu murid kelas IPA 1 mulai berdatangan memasuki kelas. Begitu melihat meja Alya sudah berubah menjadi konter kue mini, mereka langsung mengantre dengan tertib. Alya, dibantu dengan kehebohan Adel dan Jesica, dengan cekatan menyerahkan pesanan Bolu Gulung Cokelat dan Kue Lumpur Kentang yang tampak sangat menggugah selera. Murid-murid yang menerima kue tersebut langsung berdecak kagum melihat tampilannya yang begitu rapi, bersih, dan tampak profesional.
Setelah semua pesanan teman sekelas beres dibagikan, Adel dan Jesica tidak langsung kembali ke bangku mereka. Keduanya justru membuka kotak kue bagian mereka sendiri di atas meja Alya. Jesica langsung mengeluarkan ponselnya, menyalakan kamera dengan resolusi terbaik, sementara Adel bertugas memotong bolu gulung cokelat menjadi bagian-bagian kecil.
"Oke, *guys*! Hari ini kita mau me-review jujur kudapan paling fenomenal se-SMA Nusa Bangsa, buatan sahabat jenius kita sendiri, Alya Saraswati!" cerocos Adel ke arah kamera ponsel Jesica dengan gaya meniru *food vlogger* terkenal.
Adel mengambil sepotong Bolu Gulung Cokelat, lalu menggigitnya dengan dramatis. Matanya langsung membelalak sempurna. "Oh my god! Ini beneran lembut banget! Selai stroberinya lumer di lidah dan cokelatnya premium abis, gak bikin enek sama sekali! Nilainya sebelas per sepuluh!"
Jesica ikut mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri setelah mencicipi Kue Lumpur Kentang. "Kue lumpurnya juga parah, lembut banget kayak kapas, kismis di atasnya melimpah. Pokoknya kalian wajib order di Dapur Saras!"
Tanpa membuang waktu, Jesica dan Adel langsung menyunting video singkat tersebut dan membagikannya ke cerita media sosial mereka masing-masing, lengkap dengan menandai akun jualan Alya. Alya yang melihat tingkah heboh dan ketulusan kedua sahabatnya hanya bisa tersenyum simpul, merasakan dadanya dipenuhi kehangatan. Hasil dari ide media sosialnya kemarin terbukti tidak sia-sia sama sekali.
"Nah, sekarang... tinggal satu pesanan terakhir yang belum diantar," ujar Jesica memecah fokus Alya, sambil menunjuk ke arah satu kotak besar yang tersisa di dalam tas kain. Kotak itu berisi pesanan khusus dari Devan Narendra.
Alya terdiam sejenak. Ada sedikit rasa ragu yang kembali merayap, mengingat apa yang terjadi semalam di pesan WhatsApp. Namun, mengingat janji profesionalnya, ia mengangguk. "Ya sudah, ayo kita antar sekarang sebelum bel masuk berbunyi."
"Eh, tunggu dulu," potong Adel menatap Alya bingung. "Devan kan anak IPS 3, Al. Kenapa lo jalannya ke arah koridor IPS 1?"
Alya menghentikan langkahnya, menepuk dahinya pelan. "Oh iya, maaf. Aku agak kurang fokus pagi ini."
Alya, Adel, dan Jesica pun berjalan beriringan menyusuri koridor lantai dua, menuju area kelas anak-anak IPS. Namun, karena Alya masih sedikit kehilangan fokus setelah kejadian labrakan Clara kemarin, langkah kakinya justru membelok masuk ke koridor kelas 11 IPS 1, bukan IPS 3 tempat Devan seharusnya berada.
Jesica dan Adel yang menyadari kekeliruan sahabatnya sengaja diam dan saling melempar pandang jahil. Mereka memilih mengikuti Alya dari belakang tanpa berniat membetulkan arah jalan Alya. Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Begitu sampai di ambang pintu kelas 11 IPS 1 yang cukup ramai, Alya melangkah masuk dengan tenang sembari menjinjing kotak besar tersebut. Namun, pandangannya langsung menyapu isi kelas, mencari sosok Devan yang jangkung. Yang ia temukan justru sekumpulan anak-anak cowok yang sedang berkumpul di pojok belakang—itu adalah Raka, Bima, dan Reno, bagian dari geng Devan. Ternyata, Devan dan gengnya sedang menumpang nongkrong di kelas IPS 1 pagi itu.
Kedatangan Alya, Adel, dan Jesica yang tiba-tiba melangkah masuk ke sarang anak-anak IPS langsung memancing perhatian seisi kelas. Suasana yang tadinya bising mendadak hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya riuh oleh seruan heboh dari arah pojok belakang.
"WADUH! Ada tamu agung dari IPA 1 nih!" teriak Bima dengan suara lantang, langsung berdiri dari atas meja tempatnya duduk bersila.
Raka dan Reno langsung menyenggol lengan Devan yang sedang duduk tenang membaca sesuatu di ponselnya. Devan mendongak, dan sedetik kemudian, matanya terkunci pada sosok Alya yang berdiri di tengah kelas dengan kotak mika besar di tangannya.
"Ehem! Bos, ada yang nganterin paket cinta nih pagi-pagi!" goda Raka dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, memancing tawa dan sorakan dari murid-murid IPS 1 lainnya.
"Gila, bener-bener definisi jemput bola ya, Dev! Gak sabar nunggu istirahat, langsung dianterin ke pangkuan," timpal Reno jahil sembari menepuk-nepuk bahu Devan yang kini mulai menunjukkan raut wajah salah tingkah yang langka.
Alya merasakan pipinya mendadak terasa sedikit panas mendengar godaan bertubi-tubi dari geng Devan. Suasana di dalam kelas IPS 1 itu mendadak berubah menjadi sangat canggung bagi Alya. Ia yang biasanya selalu bisa bersikap dingin dan datar, kini harus berdiri di bawah tatapan puluhan pasang mata yang menatapnya dengan pandangan menggoda.
Alya menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya sendiri. Ia melangkah mendekati meja Devan, mengabaikan siulan-siulan usil dari Bima.
"Ini pesanan kamu, Devan. Dua kotak Bolu Gulung Cokelat dan dua kotak Kue Lumpur Kentang. Totalnya delapan puluh ribu rupiah," ujar Alya dengan suara yang diusahakan seformal mungkin, meski ada sedikit nada gugup yang terselip di dalamnya.
Devan berdiri dari kursinya, membuat postur tubuhnya yang tinggi menjulang di depan Alya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah yang bersih, lalu menyerahkannya kepada Alya.
"Kembaliannya ambil aja buat modal bahan besok," ucap Devan dengan suara beratnya, mencoba terdengar tenang di depan teman-temannya yang masih terus menahan tawa. Tatapan matanya yang tajam menatap Alya lekat-lekat, memancarkan rasa bangga yang tersembunyi.
"Gak bisa, Devan. Ini bisnis, kembaliannya harus tetap aku kasih," sahut Alya tegas, langsung merogoh dompet kecilnya untuk mengambil uang kembalian dua puluh ribu rupiah dan meletakkannya di atas meja Devan.
"Ciyeee! Tegas banget sih calon juragan kue kita!" sorak Bima lagi dari belakang, memicu gemuruh tawa di kelas itu.
Suasana canggung semakin pekat melingkupi keduanya. Devan yang melihat Alya mulai merasa tidak nyaman dengan godaan teman-temannya langsung memberikan tatapan peringatan yang tajam ke arah Bima dan Raka, membuat kedua sahabatnya itu langsung pura-pura batuk dan mengalihkan pandangan.
"Terima kasih kuenya. Gua bakal coba nanti," ujar Devan pelan pada Alya, intonasi suaranya melunak secara drastis dari biasanya.
Alya mengangguk tipis. "Sama-sama. Kalau begitu, aku permisi kembali ke kelas."
Tanpa menunggu lama, Alya membalikkan badan dan melangkah cepat keluar dari kelas 11 IPS 1, diikuti oleh Adel dan Jesica yang sejak tadi menahan tawa geli di belakangnya. Meskipun suasana penyerahan kue tadi terasa sangat canggung dan dipenuhi godaan, di dalam hati kecil Alya, ada seberkas rasa lega dan kemenangan kecil yang membuncah. Target biayanya akhirnya terpenuhi hari ini, dan itu semua berkat kerja kerasnya sendiri.