Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Lamaran Kilat
Kirana tidak langsung membuka pintu.
Ia duduk di lantai dengan punggung menempel pada sisi ranjang, masih mengenakan kaus longgar dan celana kain yang ia pakai setelah mandi. Rambutnya belum kering. Matanya terasa berat, tetapi suara dari luar membuat seluruh kantuknya hilang.
"Kirana."
Leon mengetuk lagi. Tidak keras, tidak kasar. Justru ketenangan itu yang membuatnya gelisah.
"Pergi," jawab Kirana.
"Aku akan pergi setelah kamu mendengar satu hal."
"Aku sudah mendengar cukup banyak dari laki-laki semalam."
Di luar hening sebentar.
"Aku paham kalau kamu marah."
Kirana berdiri. "Kamu tidak paham."
Ia membuka pintu hanya separuh, rantai pengaman masih terpasang. Leon berdiri di lorong kontrakan dengan kemeja sederhana, celana gelap, dan wajah yang lebih pucat daripada tadi malam. Tidak ada pengawal terlihat. Tidak ada mobil mewah di depan gang. Jika bukan karena cara matanya menilai keadaan, ia benar-benar bisa terlihat seperti sopir biasa.
"Lima menit," katanya.
"Aku tidak menjual waktu."
"Kalau begitu anggap ini utang."
"Aku tidak mau utang baru."
Leon menatap rantai pintu, lalu kembali ke wajahnya. "Aku datang untuk menawarkan pernikahan."
Kirana diam.
Lorong sempit itu seolah ikut berhenti bernapas.
"Apa?"
"Menikahlah denganku."
Kirana menatapnya seperti menatap orang yang baru saja kehilangan akal. "Kamu terkena sisa obat semalam?"
"Tidak."
"Kalau begitu kamu memang gila."
"Mungkin." Leon tidak tersenyum. "Tapi tawaranku serius."
Kirana hampir menutup pintu, tetapi tangan Leon tidak menahan. Ia hanya berdiri di sana, memberinya pilihan untuk mengakhiri pembicaraan. Sikap itu membuat Kirana lebih sulit marah.
"Kenapa?" tanyanya.
"Karena aku tidak akan membiarkan malam semalam menjadi skandal yang menghancurkanmu lagi."
"Tidak ada yang tahu."
"Ada orang yang memberi obat. Ada orang yang mengatur ruangan. Ada orang yang ingin membuat cerita dari kejadian itu." Tatapannya mengeras. "Kalau mereka tahu kamu ada di sana, mereka akan memakai namamu. Dengan catatan masa lalumu, semua tuduhan akan lebih mudah menempel padamu daripada padaku."
Kirana menggenggam sisi pintu. Kata-kata itu kejam karena benar.
"Jadi pernikahan ini tameng?"
"Untukmu. Untukku juga."
"Jujur sekali."
"Aku tidak datang membawa puisi."
Kirana tertawa kecil, pahit. "Bagus. Aku juga tidak butuh puisi."
Leon mengeluarkan sebuah map tipis dari tasnya. "Aku bukan orang kaya. Aku punya apartemen kecil di Cambridge Bay Residence. Penghasilan tetap. Tidak besar, tapi cukup untuk hidup. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sana. Kamu tetap boleh bekerja, mencari bukti untuk kasusmu, melakukan apa pun yang perlu kamu lakukan selama tidak membahayakan dirimu sendiri."
"Dan sebagai gantinya?"
"Kita menjalani pernikahan ini dengan batas yang jelas. Tidak ada paksaan. Tidak ada tuntutan yang tidak kamu setujui. Kalau suatu hari kamu ingin pergi, kita bicarakan."
"Kamu bicara seperti membuat kontrak."
"Pernikahan tanpa kepercayaan juga butuh aturan supaya tidak saling melukai."
Kirana membuka pintu sedikit lebih lebar, tetapi rantai masih terpasang. "Kamu percaya aku tidak membunuh Alexander Sim?"
"Aku percaya ada yang tidak beres dengan kasus itu."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan setelah mengenalmu kurang dari dua puluh empat jam."
Kirana ingin membenci jawaban itu. Namun ia sudah terlalu sering mendengar kebohongan manis. Kejujuran yang dingin setidaknya tidak memperlakukannya seperti orang bodoh.
"Namamu Leon?"
"Ya."
"Nama lengkap?"
Matanya bergerak sedikit. "Leon Sim."
Kirana menyimpan keraguan kecil itu. "Kamu bilang sopir."
"Aku bekerja untuk orang Boyantara."
"Untuk Pak Nathaniel?"
"Kadang."
Jawaban itu terlalu rapi. Namun Kirana juga tidak punya cukup kekuatan untuk membongkar semua rahasia pria ini hari ini. Ia hanya perlu memutuskan apakah tawaran itu lebih berbahaya daripada hidup sendirian dengan nama yang kotor.
Ia melihat sekeliling kontrakan kecilnya. Kasur tipis. Satu koper. Amplop dokumen. Tidak ada keluarga yang menunggu. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada Nio, neneknya, yang entah masih hidup atau tidak.
"Kalau aku menikah denganmu," katanya pelan, "aku tidak melakukannya karena cinta."
"Aku juga tidak memintanya."
"Aku butuh tempat tinggal. Aku butuh kesempatan mencari kerja. Aku butuh seseorang yang tidak menutup pintu saat mendengar namaku."
"Aku bisa memberi itu."
"Dan aku tidak mau disentuh tanpa aku setuju."
Leon menunduk sedikit. "Aku mengerti."
"Aku juga tidak akan menjadi istri yang berterima kasih hanya karena kamu datang membawa solusi."
"Aku tidak mencari istri seperti itu."
"Kalau nanti aku bekerja, uangku tetap uangku."
"Tentu."
"Kalau aku menemukan bukti tentang Jessica Lim atau Reuben Sim, kamu tidak boleh menyuruhku berhenti hanya karena itu merepotkanmu."
Leon menatapnya lebih tajam saat dua nama itu disebut. "Aku tidak akan menyuruhmu berhenti mencari kebenaran."
"Dan kalau suatu hari aku ingin pergi?"
"Kamu pergi lewat pintu depan, bukan kabur karena takut."
Kirana terdiam. Jawaban itu tidak manis, tetapi anehnya memberi ruang. Ia tidak merasa sedang dibeli. Ia merasa sedang ditawari perjanjian oleh pria yang juga menyembunyikan luka dan kepentingannya sendiri.
"Aku ingin semua itu tertulis."
"Bisa."
"Kamu tidak keberatan?"
"Perempuan yang baru keluar dari penjara dan masih berani meminta syarat tertulis sebelum menikah denganku lebih masuk akal daripada perempuan yang langsung percaya pada pria asing."
"Itu pujian?"
"Anggap saja begitu."
Kirana menatapnya lama. Di balik rasa takut, malu, dan curiga, ada bagian kecil dalam dirinya yang lelah terus melawan sendirian. Tawaran Leon bukan cinta, tetapi mungkin sebuah tempat berdiri. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari yang diberikan dunia kepadanya.
"Aku juga ingin tetap mencari Nio," katanya. "Kalau nanti keberadaannya ketemu, dia harus tahu aku menikah bukan karena aku menyerah."
"Kita akan mencarinya."
"Kita?"
"Kalau kamu mengizinkan."
Kirana menatap lantai lorong yang retak di dekat kakinya. Kata kita terdengar asing, tetapi tidak sepenuhnya buruk. Ia belum siap mempercayainya. Namun mungkin ia bisa memakai kata itu sementara, seperti memakai payung pinjaman di tengah hujan.
Ia juga tahu satu hal: bila nanti payung itu rusak, ia harus cukup kuat untuk berjalan tanpa menunduk lagi.
Sendirian sekalipun.
Ia menutup pintu.
Di luar, Leon tidak bergerak.
Rantai pintu dilepas.
Ketika pintu terbuka lagi, Kirana sudah mengambil map dokumennya.
"Baik," katanya. "Aku setuju."
Leon menatapnya seolah sudah memperkirakan jawaban itu, tetapi tetap ada sesuatu yang melunak di matanya.
"Ada satu hal lagi," katanya.
"Apa?"
"Urusan pernikahan, biar aku yang atur. Kamu hanya perlu siap untuk menjadi istriku."
Kalimat itu sederhana, tetapi nada di baliknya terlalu dalam.
Kirana menatapnya dengan kecurigaan baru, sementara Leon menyimpan rahasia yang belum bisa ia buka.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔