NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##5

Sinar matahari pagi menembus dinding-dinding kaca Penthouse, membiaskan cahaya keemasan di atas lantai marmer yang dingin.

Suasana di dalam hunian mewah itu masih dibalut canggung yang pekat, meski beberapa jam telah berlalu sejak perang dingin pertukaran aturan di koridor kamar tadi.

Pintu lift pribadi mendadak berdentang halus.

Braxton melangkah keluar dari dalam lift dengan napas yang sedikit tersengal.

Wajah tampannya menampakkan kelelahan yang nyata—efek dari malam panjang yang penuh drama, ditumpuk dengan misinya meloloskan diri sejenak dari pengawasan ketat para pengawal Sang mertua di lobi bawah.

Demi mengambil barang-barangnya, Braxton harus berpura-pura butuh membeli kebutuhan medis darurat agar diizinkan kembali ke asrama kampusnya selama satu jam dengan pengawalan ketat.

Di tangan kanannya, ia memegang ponsel pintar berlayar hitam yang sejak semalam mati total karena kehabisan daya.

Di tangan kirinya, sebuah koper besar berbahan kulit hitam terseret pelan, roda-rodanya berdecit halus melintasi lantai.

Lux, yang sedang duduk kaku di salah satu kursian konter dapur sambil menyesap segelas air dingin, perlahan memutar pandangannya.

Dari balik gelas kaca yang dipegangnya, mata abu-abunya memperhatikan setiap gerak-gerik Braxton. Penampilan pria itu sedikit berantakan; jaket bomber mahal yang dikenakannya semalam kini terlipat asal di atas koper, menyisakan kaos polos warna abu-abu yang mencetak jelas postur tubuhnya yang atletis.

Braxton mengabaikan tatapan dingin Lux. Ia menarik kopernya melintasi area dapur terbuka, melangkah lurus menuju kamar tidur di sebelah kiri—kamar yang telah ditetapkan Lux sebagai batas wilayah kekuasaannya.

Brak.

Pintu kamar itu dibiarkan sedikit terbuka. Dari posisinya di konter dapur, Lux bisa melihat pantulan Braxton dari cermin besar di dalam kamar tersebut.

Pria itu menyambungkan kabel pengisi daya ke ponselnya yang langsung menyala dengan rentetan notifikasi yang memekakkan telinga, lalu menghempaskan koper hitamnya ke atas tempat tidur berukuran king-size.

Braxton membuka resleting koper, mulai mengeluarkan tumpukan pakaian yang ia bawa dari asrama: kemeja-kemeja santai, celana jeans, beberapa jaket, hingga pakaian olahraga.

Dengan gerakan cekatan namun terkesan gusar, ia membuka lemari pakaian kayu walnut yang bertengger di sudut kamar dan merapikan pakaian-pakaian itu satu per satu ke dalam gantungan.

Di tengah kesibukannya menata kemeja, ponsel Braxton yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering nyaring. Nada dering standar yang menggema di dalam Penthouse yang sepi itu membuat Lux reflex memiringkan kepalanya, mendengarkan.

Braxton melirik layar ponselnya. Seketika itu juga, ketegangan di raut wajahnya melunak. Senyum tipis yang jarang terlihat—senyum yang murni tanpa nada provokatif atau rasa percaya diri yang berlebihan—terukir di bibirnya. Ia mematikan sambungan pengisi daya dan menggeser layar hijau.

"Halo, Mom," sapa Braxton, suaranya mendadak berubah menjadi jauh lebih lembut dan santai.

Ia menempelkan ponsel di telinganya sembari sebelah tangannya terus menggantungkan kemeja ke dalam lemari.

"Ya, aku baru saja bangun..." bohong Braxton lancar, mencoba menutupi fakta bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam. "Maaf baru menyalakan ponsel. Bateraiku habis semalam."

Dari konter dapur, Lux memutar-mutar gelas airnya.

Suara ibu Braxton terdengar samar-samar melalui speaker ponsel yang cukup keras, memancarkan nada nada hangat khas seorang ibu yang mengkhawatirkan anak laki-lakinya.

"Bagaimana dengan makanan di asrama? Kau tidak makan makanan cepat saji lagi, kan? Mommy sudah bilang pada pengelola asrama untuk memastikan menu nutrisimu terjaga."

Braxton terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. "Mom, aku sudah Dua Puluh tahun. Aku bisa mengurus makananku sendiri. Makanan di asrama baik-baik saja... lagipula, beberapa hari lagi perkuliahan sudah mulai aktif, kan? Aku akan makin sibuk."

"Mommy hanya cemas, Braxton. Kau tahu betapa ketatnya jadwalmu di California University. Daddy-mu terus bertanya apakah kau sudah siap untuk kelas bisnismu minggu depan."

California University.

Deg.

Jari-jemari Lux yang memegang gelas kaca mendadak membeku. Kata itu—California University—menghantam pendengarannya seperti dentuman keras.

Matanya membelalak kecil.

Kampus itu adalah universitas bergengsi di kawasan Los Angeles tempat di mana ia telah terdaftar sebagai mahasiswi baru jurusan Seni dan Desain. Fakultas Bisnis dan Fakultas Seni di universitas tersebut berada dalam satu area kampus utama yang sama.

Rupanya mereka berkuliah di universitas yang sama.

Dunia terasa mendadak begitu sempit dan sembrono. Tidak cukup hanya terjebak di bawah satu atap Penthouse ini, Lux kini harus menghadapi kenyataan bahwa ia dan pria asing yang tiba-tiba menjadi suaminya ini akan menginjakkan kaki di area kampus yang sama dalam hitungan hari.

Braxton di dalam kamar terus melanjutkan obrolannya, sama sekali tidak menyadari gejolak pikiran yang sedang melanda wanita di luar kamarnya.

"Ya, Mom, aku tahu. Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan berkas kepindahan untuk universitas," sahut Braxton santai. "Daddy tidak perlu cemas. Aku akan mengurus semuanya."

"Baguslah kalau begitu. Oh ya, akhir minggu ini datanglah ke mansion. Mommy ingin membuatkanmu makan malam spesial sebelum jadwal kuliahmu benar-benar padat. Ajak teman-teman asramamu jika kau mau."

Braxton meringis tipis, matanya melirik canggung ke arah pintu kamarnya yang terbuka. "Aah... Lihat nanti ya, Mom. Jadwalku sedikit berantakan minggu ini. Nanti aku telepon Mommy lagi."

"Baiklah, Jangan lupa sarapan, Braxton. Mommy menyayangimu."

"Aku juga menyayangimu, Mom! Dah."

Braxton menurunkan ponselnya dari telinga, menghela napas panjang yang sarat akan beban berat.

Senyum lembut di wajahnya perlahan menghilang, berganti dengan raut wajah kebingungan saat menyadari betapa rumitnya kebohongan yang kini membungkus kehidupannya.

Ibunya tidak tahu apa-apa. Keluarganya sama sekali belum menyadari bahwa anak laki-laki Yang baru melepaskan masa remajanya telah 'menikah' secara darurat semalam akibat taruhan konyol dan kesalahpahaman medis.

Braxton memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu kembali berbalik untuk menutup pintu lemari pakaian.

Namun, saat ia berbalik menuju pintu kamar, langkah kakinya mendadak terhenti total.

Lux sudah berdiri tepat di ambang pintu kamarnya. Gadis itu menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam Braxton.

Braxton sedikit terkejut, namun dengan cepat menguasai dirinya. Ia menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah kau sendiri yang membuat aturan dilarang mendekati area kamar satu sama lain, Nyonya Desmon?"

Lux tidak membalas sindiran itu. Wajahnya datar, namun ada rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikannya dalam intonasinya.

"Kapan kau akan mengenalkan aku pada ibumu?" tanya Lux tiba-tiba.

Braxton mematungkan diri. Pertanyaan itu terlontar begitu mendadak dan tanpa beban, membuat denyut jantungnya melonjak kaget.

Deg.

"Maksudku..." lanjut Lux dengan nada dingin yang dipaksakan, "wanita yang baru saja menelponmu itu...ibumu?"

Braxton menatap Lux selama beberapa detik. Ia memperhatikan raut wajah gadis itu—tidak ada nada ejekan di sana, melainkan sebuah pertanyaan lurus yang sarat akan keraguan.

Braxton perlahan menarik napasnya, dan sebuah senyum tipis—bukan senyum narsis, melainkan senyum miring yang penuh arti—terukir di sudut bibirnya.

Keberanian dan kelurusan sikap Lux selalu berhasil mengejutkannya.

"Ya, itu ibuku. Zephyr Desmon," jawab Braxton pelan. Ia melangkah dua tindak mendekati pintu, berhenti tepat di jarak aman dari Lux. "Kenapa? Kau mendadak bersemangat ingin bertemu dengan Mommy?"

Lux memutar matanya, mendengus sinis atas ucapan itu. "Jangan mimpi. Aku hanya ingin tahu seberapa jauh kebohongan gilamu ini akan bergulir. Ibumu terdengar sangat menyayangimu dan mengkhawatirkanmu. Dan kau membohonginya mentah-mentah tentang ke mana kau pergi dan apa yang terjadi semalam."

Senyum di wajah Braxton sedikit memudar, digantikan oleh tatapan hangat yang jujur. "Nanti," ucap Braxton pendek.

Lux mengerutkan keningnya. "Nanti apa?"

"Nanti... aku akan mengenalkanmu langsung padanya," jawab Braxton tegas, matanya menatap lurus ke dalam mata abu-abu Lux. "Bukan sebagai lelucon, dan bukan lewat telepon. Aku akan membawamu ke rumah keluarga ku dan mengenalkanmu secara resmi pada Mommy juga Daddy-ku."

Lux terkekeh hambar, meremehkan kata-kata itu. "Kau benar-benar gila, Braxton. Kau pikir keluargamu akan menerima wanita yang tiba-tiba datang membawa cerita kehamilan palsu dan pernikahan darurat?"

Lux menghentikan kalimatnya sejenak. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka, lalu menatap Braxton dengan intonasi yang amat serius.

"Satu hal lagi," tegas Lux. "Mengingat kita berada di universitas yang sama—dan beberapa hari lagi kita akan aktif berkuliah—aku tegaskan padamu: setelah kita berada di kampus, rahasiakan pernikahan konyol ini."

Braxton menaikkan kedua alisnya, menatap Lux dengan pandangan tak percaya. "Rahasiakan?"

"Ya. Rahasiakan," potong Lux cepat tanpa ragu. "Tidak ada satu orang pun di kampus yang boleh tahu bahwa aku terikat hukum denganmu. Kita bergerak secara terpisah. Jangan pernah menyapaku, jangan pernah mendekatiku di area universitas, dan berpura-puralah kita tidak pernah saling kenal."

Braxton menyandarkan tubuhnya di tebing pintu, melipat kedua tangannya di dada. Tatapan matanya yang tadi hangat kini berubah menjadi tatapan dingin penuh pembangkangan.

"Tidak akan," jawab Braxton pendek dan mantap.

Lux mendelik, matanya melebar marah. "Apa katamu?!"

"Aku bilang: tidak akan," ulang Braxton dengan nada suara yang tenang namun tak terbantahkan. "Aku tidak mau merahasiakannya."

"Kau bercanda, kan?!" seru Lux, emosinya yang sejak tadi ditahannya mulai menyala kembali. "Braxton, dengarkan logikamu! Aku adalah mahasiswa baru fakultas Seni, dan kau adalah anak bisnis yang sombong! Jika rumor tentang pernikahan darurat ini tersebar di hari pertama perkuliahan, seluruh hidup kita di kampus akan hancur! Media, teman-temanmu, teman-temanku—semua orang akan mempertanyakannya!"

"Biarkan mereka bertanya," sahut Braxton santai, seolah pembicaraan ini tidak berbobot baginya.

"Kau gila!" amuk Lux, langkah kakinya maju satu tindak ke dalam area kamar Braxton, mengabaikan aturannya sendiri. "Kenapa kau bersikap seakan-akan pernikahan ini adalah hal yang membanggakan?! Kau dipaksa, aku dipaksa! Ini semua terjadi karena jebakan kesalahpahaman! Kau seharusnya sama inginnya denganku untuk menyembunyikan Pernikahan ini!"

Sikap dingin dan penolakan mentah-mentah dari Lux membuat senyum jahil di wajah Braxton perlahan memudar. Ia menatap Lux dengan pandangan lurus yang mendadak serius.

"Kau pikir aku peduli dengan apa yang dikatakan orang lain? Kita sudah menikah, Lux. Suka atau tidak, dokumen itu legal dan sah."

"Kenapa kau begitu keras kepala?!" geram Lux, amarahnya kembali memuncak. "Lihat aku, Braxton! Buka matamu lebar-lebar!"

Lux merentangkan kedua tangannya, memamerkan penampilan dirinya secara keseluruhan di hadapan pria itu.

"Kau tidak malu memiliki istri sepertiku?!" seru Lux dengan suara meninggi. Ia menyingkap sedikit lengan jaket kulitnya, memperlihatkan tato ukiran artistik yang terlukis indah di kulit mulusnya, serta tato lain yang mengintip licik di balik garis kerah pakaiannya.

"Aku bertato! Gaya pakaianku liar dan berani! Aku bukan tipe gadis anggun berkemeja rapi yang biasa disukai oleh keluarga kaya seperti keluargamu atau anak-anak elite di kampusmu! Kau benar-benar ingin memamerkan perempuan sepertiku sebagai istri seorang Braxton Valerio Desmon?!"

Udara di antara mereka kembali memanas. Lux menatap Braxton dengan napas memburu, menunggu pria itu sadar dan mundur karena gengsi anak kayanya tersenggol.

Namun, jawaban yang keluar dari mulut Braxton justru memukul mundur seluruh pertahanan Lux.

Braxton menatap langsung ke dalam mata Lux, memindai tato di lengannya, lalu kembali mengunci pandangannya pada wajah cantik gadis di hadapannya.

Tidak ada sedikit pun nada ejekan, kejijikan, atau keraguan di wajah tampan pria itu.

"Kau tetap istriku," jawab Braxton dengan suara rendah, dalam, dan begitu tenang. "Aku tidak peduli kau bertato, berpenampilan berani, atau berpakaian seperti apa pun. Kau adalah wanita yang berdiri denganku mengucapkan Sumpah pernikahan semalam. Aku tidak punya alasan untuk malu."

Keheningan seketika menyelimuti ruangan.

Lux membeku. Kata-kata itu terngiang di telinganya bagaikan dengungan raksasa.

Kalimat singkat yang diucapkan dengan begitu mantap oleh seorang pria yang beberapa jam lalu sangat ia benci karena telah mengorbankannya demi menyelamatkan diri sendiri.

Ada getaran aneh yang mendadak menyengat dadanya, namun dengan cepat dibantingnya jauh-jauh oleh amarah dan rasa dikhianati.

Lux mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia menatap Braxton dengan sorot mata yang dipenuhi oleh keheningan yang menyakitkan.

"Jangan pernah mencoba bertingkah seolah kau adalah suami yang baik, Braxton," bisik Lux, suaranya kini begitu pelan namun dipenuhi oleh racun kebencian yang amat murni.

Ia melangkah satu tingkat lebih dekat, menatap langsung ke sepasang mata cokelat milik Braxton tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Aku ingatkan padamu sekali lagi, Braxton... Aku masih sangat membencimu. Dan tidak ada satu pun kata-kata manismu yang bisa mengubah fakta bahwa kau adalah pria paling brengsek yang pernah masuk ke dalam hidupku."

Aku masih membencimu.

Braxton tidak terkejut. Senyum miring yang tipis kembali muncul di sudut bibirnya—sebuah senyum tantangan dari seorang pria yang tidak pernah terbiasa kalah.

"Aku tahu," sahut Braxton pelan, menatap bibir Lux sejenak sebelum kembali menatap matanya. "Dan itu yang membuat pernikahan ini jadi jauh lebih menarik."

Lux mendengus keras. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik secara mendadak, mengibaskan rambutnya, dan melangkah cepat keluar dari kamar Braxton.

Brak!

Lux menutup pintu kamarnya sendiri dengan hempasan keras yang menggema di seluruh Penthouse, menyegel dirinya dalam kemarahan dan kebingungan yang kian merajut hari-hari mereka ke depan.

Di dalam kamarnya, Braxton berdiri sendirian, mendengarkan gema hempasan pintu itu. Ia menyandarkan punggungnya di kusen lemari, mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu terkekeh pelan pada dirinya sendiri.

Pernikahan paksa ini memang sebuah neraka. Namun saat ia menatap pintu kamar Lux yang tertutup rapat di ujung koridor, Braxton tahu satu hal dengan pasti: kehidupannya di California University tidak akan pernah membosankan lagi.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!