NovelToon NovelToon
ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Tiga hari berlayar tanpa arah pasti membawa Ryden ke sebuah pulau kecil yang tidak pernah ia dengar namanya—baik dari ingatan kehidupan sebelumnya maupun dari peta navigasi standar East Blue yang ia kumpulkan selama enam tahun terakhir. Kabut tipis menyelimuti garis pantainya, dan pepohonan tumbuh liar tanpa jejak manusia yang jelas.

"Pulau ini... tidak ada dalam catatanku," gumam Ryden sambil menambatkan kapal kecilnya di sebuah teluk sempit. Firasat yang sama seperti saat ia menemukan Rift Rift no Mi enam tahun lalu kembali menggelitik tengkuknya—sebuah dorongan aneh yang selalu terbukti benar setiap kali muncul.

Ia menyusuri hutan lebat dengan indra Haki Observasinya yang masih baru diaktifkan, meski penggunaannya masih kaku dan mudah goyah. Sesekali ia berhenti, memejamkan mata, mencoba menangkap getaran kehidupan di sekitarnya. Beberapa kali ia merasakan kehadiran hewan liar—burung, kadal besar, bahkan sesuatu yang lebih besar bersembunyi di balik semak tebal—namun tak satu pun terasa mengancam.

Hingga tiba-tiba, sebuah teriakan memecah keheningan hutan.

Ryden segera berlari ke arah suara itu, tubuhnya melesat cepat berkat latihan bertahun-tahun. Di sebuah lapangan terbuka, ia menemukan pemandangan yang tak terduga: seorang gadis muda berambut hitam legam, mengenakan pakaian compang-camping khas tahanan, sedang dikepung oleh tiga orang bajak laut kasar bersenjata golok karatan.

"Bantu... siapa saja, tolong aku!" jerit gadis itu, tubuhnya gemetar ketakutan di sudut lapangan.

Salah satu bajak laut, bertubuh gempal dengan tato ular di lengannya, menyeringai lebar. "Percuma teriak, Nona. Tak ada yang akan menyelamatkanmu di pulau terpencil ini."

Ryden menghela napas pelan. Ia sebenarnya berusaha menghindari campur tangan yang tidak perlu selama enam tahun terakhir, namun melihat ketidakadilan di depan mata bukanlah sesuatu yang bisa ia abaikan begitu saja—kebiasaan lama dari kehidupan sebelumnya yang tak pernah benar-benar hilang darinya.

"Tiga lawan satu gadis tak berdaya," ucap Ryden sambil melangkah keluar dari balik pepohonan, suaranya dingin dan tegas. "Rasanya kurang adil."

Ketiga bajak laut itu menoleh serentak, terkejut melihat sosok berambut putih dengan mata merah menyala berdiri tenang di hadapan mereka.

"Siapa kau, bocah?! Ini bukan urusanmu!" bentak si tato ular, mengacungkan goloknya mengancam.

Ryden tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tanga

n kanannya perlahan. Udara di sekitar telapak tangannya mulai bergetar, dan sebuah retakan tipis—seperti kaca yang retak namun melayang di udara kosong—muncul dengan suara berdesing halus.

"R-retakan itu... Sang Peretak?!" salah satu bajak laut yang lain, bertubuh kurus dengan bekas luka di wajah, tiba-tiba pucat pasi. "Aku pernah dengar tentang buronan macam ini di pelabuhan! Kita harus kabur sekarang juga!"

Namun sebelum mereka sempat melarikan diri, Ryden telah bergerak lebih dulu. Tiga retakan kecil muncul serentak di sekitar kaki para bajak laut itu, membuat tanah di bawah mereka runtuh seketika seperti kaca pecah—bukan untuk melukai, melainkan sekadar menjatuhkan mereka telentang dengan kasar ke tanah.

"Pergilah, dan jangan pernah kembali ke pulau ini," ucap Ryden dingin, matanya menyala tajam menatap ketiga bajak laut yang kini merangkak ketakutan menjauh, meninggalkan senjata mereka tergeletak begitu saja sebelum menghilang ke dalam hutan.

Ryden menghela napas, merasakan sedikit rasa lelah menjalar di tubuhnya—konsekuensi wajar dari penggunaan kekuatannya. Ia menoleh ke arah gadis yang masih terduduk gemetar di tanah, matanya yang gelap menatap Ryden dengan campuran rasa takut dan kagum yang sulit dijelaskan.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Ryden, suaranya kini jauh lebih lembut, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

Gadis itu ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Ryden. "T-terima kasih... namaku Elira. Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa tadi."

Ryden tersenyum tipis, meski di balik senyum itu, benaknya sudah mulai bertanya-tanya—siapa sebenarnya gadis ini, dan mengapa ia bisa berada sendirian di pulau tak tercatat seperti ini? Sesuatu mengatakan padanya, pertemuan ini bukanlah kebetulan semata.

1
MALES NGETIK 3
mantap
Kasma Wati
lanjut👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!