NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Om kenzo ,ternyata Adit

Hari ini , Alya mengajak Davina dan zahra bermain dirumahnya.Apalagi ini adalah weekend.Zahra sangat bersemangat, pergi kerumah kenzo sahabatnya.

" ayok sayang" Ucap Davina membuka pintu mobil.

Zahra masuk ke dalam mobil, Davina memasang sabuk pengaman agar zahra aman dan nyaman.Setelah itu dia masuk mobil dan menyalakan mesin , mereka meninggalkan kediaman ibu Rani dan Pak Radit.

" mamah yakin ini rumah kenzo ? Ucap zahra bingung.

" Iya sayang ,dari alamat  dengan bantuan maps mamah gunakan, ini betul rumah kenzo " Ucap Davina dengan yakin.

Davina memarkirkan mobilnya , di sebuah rumah megah besar, berwarna putih klasik.Dengan pagar yang menjulang tinggi dan ada post satpam.

" Rumah kenzo , kayak istana ya mah ! Ucap Zahra dengan mata yang berbinar - binar takjub dengan rumah kenzo.

" ya sayang ,ayok masuk ke dalam " Ucap Davina menggengam erat tangan putrinya.

" Maaf bu, Ada perlu saya bantu " Ucap Pri dengan menggunakan seragam satpam.Davina yang di tanya , tersenyum hangat.

" Apa benar ini pak, rumah bu Alya " Ucap Davina dengan nada jelas.

" iya benar bu, baiklah silahkan masuk.Tadi ibu juga berpesan kalo ada mencarinya, di persilahkan masuk saja " Ucap Pak satpam.

" Davina , ayok masuk, kenzo ! Ini ada zahra nak , ayok turun " Ucap Alya.

Alya menyambut davina dengan hangat, Alya sangat senang Davina berkunjung kerumahnya.Terlebih lagi Alya hanya punya teman atau sahabat sedikit.Alya sudah menganggap Davina seperti kakaknya sendiri.

" ayok duduk " Ucap Alya menarik tangan davina lembut agar duduk.

" Bibi tolong siapkan minuman ya , bawa kesini cemilannya juga " Ucap Alya berteriak.

" Gak usah Alya, Gak usah repot - repot " Ucap Davina merasa canggung.

" alla... kamu santai saja , macam enggak dekat aja.Kamu tamuku harus aku layani dengan baik " lanjut Alya lagi " ayok di minum, ini matcha latte kesukaanmu "

Sementara zahra dan kenzo asyik bermain.Mereka bermain dengan riang.Kenzo menunjukkan mobil- mobil baru yang ia beli semalam.

"Wah bagus banget kenzo, keren ! Ucap Zahra.

" ya dong, ayok ke kamarku , disana lebih banyak mainan lagi " Ucap Kenzo menarik tangan Zahra agar mengikutinya.

Adit menyetir mobilnya, namun adit tidak tahu arahnya kemana.Yang jelas ia sedang memacu jalanan dengan bersenandung ria.Seolah menikmati weekend, selama ini ia sibuk bekerja sampai tidak ada hari weekend atau bersantai baginya.Baginya bekerja adalah paling utama.Apalagi pembisnis muda sepertinya.

Ia melihat ada supermarket, Adit memarkirkan mobilnya di depan supermarket.Lalu ia turun , ia masuk ke dalam. Ia membeli beberapa cemilan , ekskrim juga mungkin ia akan menikmati hari weekendnya bersantai di taman di dekat apartementnya.

Adit membayar semua belanjaannya ke kasir, ia masuk mobil dan meninggalkan supermarket.Tiba - tiba adit berubah pikiran akhirnya dia memutuskan.membelokkan mobilnya menuju kompleks perumahan elit tempat adiknya, Alya, tinggal.

Di Rumah Alya

Suasana di rumah Alya sangat riuh. Kenzo berlarian di ruang tamu sambil tertawa-tawa, diikuti oleh Zahra yang tampak sangat senang. Kedua anak itu sedang membangun benteng dari bantal sofa.

Davina duduk di sofa, tersenyum melihat kebahagiaan putrinya. Ia merasa lebih rileks di sini. Alya adalah teman baru yang baik, tidak banyak bertanya tentang masa lalunya, dan menerima Davina apa adanya.

"Davina, minum dulu," ucap Alya sambil menyodorkan segelas matcha latte.

Davina menerima gelas itu dengan lemah lembut. "Iya, Alya.

Adit sudah sampai di rumah Alya , Adit mengambil semua barang belanjaannya, dan menutup mobilnya lalu berjalan memasuki rumah Alya.

" kenzo lihat ,Om bawa apa ? Ucap kenzo sambil menenteng kresek putih.Kenzo yang melihat itu lansung matanya berbinar.Sementara Adit begitu syok , ada zahra disini bersama kenzo itu artinya.Belum siap Adit mencerna segalanya.Kenzo dan zahra menghampir adit.

" Om Adit datang " Ucap kenzo bersorak riang.

Tiba - tiba saat berbincang dengan Alya.Davina mendengar teriakan kenzo memanggil Adit.

"O-om Adit?" tanya Davina, suaranya sedit pelan namun dahinya mengerut.Alya melihat raut wajah dari davina seakan tahu.

" mungkin itu Omnya kenzo " Ucap Alya.

Jantung Davina berdegup kencang ? Kenapa namanya adit, apa ini  kebetulan? Atau... apakah Kenzo memiliki Om namanya adit.

" Ayom tidak usah hiraukan mereka,paling itu Omnya kenzo" Ucap Alya agar davina tidak usah memperdulikan suara itu.

Betapa terkejutnya Davina , melihat sosok di hadapannya ini meski ada penghalang keramik .

.Namun sangat jelas Davina melihat Adit.

Jantung seakan berhenti berdetak.Deru napasnya tak karuan.Dia melihat Adit disini.Kenapa ada adit disini dirumah Alya ?

Davina bertanya - tanya." Apa hubungan Adit dengan Alya sebenarnya ? " kenapa kenzo memanggil Adit dengan sebutan Om Adit ?

Davina belum sempat mencerna semuanya, kepalanya berputar kencang , jantungnya seperti roal coaster .

Adit membawa dua kantong kresek berisi es krim dan beberapa cemilan dan beberapa mainan juga. Ia mengenakan kaos biru dan celana santai rumah.

"Halo, Kenzo! Halo, Zahra!" sapa Adit ceria, langsung mendekat ke arah anak-anak.

Kenzo dan Zahra bersorak gembira. "Om Adit! Es krim!"

Adit tertawa, memberikan es krim pada mereka. Lalu, ia menoleh ke arah sofa. Matanya bertemu dengan mata Davina.

Davina terpaku. Ia tidak bisa lari. Ia terjebak di rumah sahabatnya, dengan mantan kekasihnya yang berdiri hanya beberapa meter darinya.

Adit tersenyum tipis, senyum yang hangat. Ia berjalan mendekati sofa, namun tetap menjaga jarak yang sopan.

"Halo, Davina," ucap Adit lembut. "Senang bertemu kamu di sini.

Davina menelan ludah, berusaha tetap tenang di hadapan Alya. "H-Halo,  Pak Adit." Ucapnya dengan formal.

Alya yang tidak menyadari ketegangan di antara mereka (atau mungkin pura-pura tidak tahu) berkata, "Eh, kalian sudah kenal? Wah, enak dong jadi akrab. Davina, Om Adit ini baik lho, sering bantuin aku urus Kenzo."

" ya saya kenal Alya, dia kan pemilik sekolah tempat Kenzo dan zahra sekolah " Ucap Davina berbohong.

Adit duduk di kursi tunggal di seberang Davina, menyeberangi meja kopi. Ia menatap Davina lekat-lekat, namun tatapannya tidak agresif. Tatapan itu seolah berkata: Aku tahu kamu berbohong. Tapi aku tidak akan memojokkanmu di sini. Aku hanya ingin melihatmu bahagia.

"Aku dengar dari Alya kalau kamu suka desain grafis, Davina" ucap Adit tiba-tiba, memulai percakapan netral. "Aku punya proyek kecil untuk branding ulang materi promosi sekolah. Kalau kamu tertarik dan punya waktu, mungkin kita bisa diskusi? Tentu saja dengan bayaran yang layak."

Davina terkejut. Tawaran pekerjaan? Dari Adit?

Ini adalah strategi cerdas Adit. Dengan menawarkan pekerjaan profesional, ia menciptakan alasan sah untuk bertemu Davina di luar konteks pribadi. Ia memberi Davina kendali. Davina bisa menolak jika tidak nyaman, atau menerima jika butuh uang.

Dan tunggu kenapa Adit bisa mengetahuinya,yang Davina tahu ,ia hanya menceritakan tentang pekerjaannya cuman sama satu orang dan itu cuman Alya.Perempuan di hadapannya ini.Davina melirik alya seolah minta penjelasan.Sementara Alya yang tahu arti tatapan Davina berusaha mencairkan suasana.

" ah..ya itu , aku pernah cerita ke Om Adit kalo, aku punya teman yg kerja design, Kebetulan Om Adit lagi cari yang bisa design grafis di sekolah dan kebetulan Kamu suka design dan aku menyarankan kamu."

Davina bingung. Otaknya bekerja keras. Menolak berarti kehilangan peluang penghasilan. Menerima berarti harus berinteraksi lebih lama dengan Adit.

"Aku... aku bisa pertimbangkan," jawab Davina hati-hati.

"Bagus," kata Adit, tersenyum puas. "Tidak perlu dijawab sekarang. Kirimkan portofoliomu ke email pribadiku kapan saja jika kamu mau. Tidak ada paksaan."

Adit lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke Zahra, yang sedang kesulitan membuka bungkus es krimnya. Adit membantu membukanya dengan lembut.

"Hati-hati, Zahra. Jangan sampai meleleh," ucap Adit pada gadis kecil itu.

Zahra menatap Adit dengan mata berbinar. "Terima kasih, Om Adit. Om Adit baik banget. Mirip Mamah Kenzo."

Davina merasakan sakit di dadanya mendengar pujian polos itu. Adit memang baik. Terlalu baik. Dan itu membuatnya semakin sulit untuk membencinya.

Sore itu berlanjut dengan canggung namun hangat. Adit tidak mencoba menyentuh Davina atau membahas masa lalu. Ia hanya menjadi "Om Adit" yang baik, teman bermain Kenzo dan Zahra, dan calon klien potensial bagi Davina.

Namun, setiap kali mata mereka bertemu secara tidak sengaja, ada arus listrik yang tak terbantahkan. Davina tahu, Adit sedang menunggu. Menunggu saat Davina lelah berpura-pura. Menunggu saat topeng "istri yang suaminya di luar kota" itu retak.

Dan Adit? Ia menikmati setiap detik kebersamaan ini. Karena ia tahu, langkah demi langkah, ia sedang mendekat. Bukan dengan paksaan, tapi dengan kesabaran yang mematikan.

Saat Davina hendak pulang, Adit mengantarnya hingga ke mobil.

"Sampai jumpa, Davina," ucap Adit saat Davina membuka pintu mobil. "Jangan lupa istirahat. Dan... jangan lupa portofolionya."

Davina mengangguk kaku, lalu segera menyetir pergi.

Di kaca spion, ia melihat Adit masih berdiri di teras rumah Alya, menatap kepergiannya. Senyum tipis masih terukir di wajah pria itu.

Davina menghela napas panjang. Ia terjebak. Bukan secara fisik, tapi secara emosional. Adit tidak memaksanya jujur, tapi kehadirannya yang konstan dan sikapnya yang semakin dekat membuat Davina semakin sulit untuk menjaga jarak.

Dan yang paling menakutkan bagi Davina adalah bagian dari dirinya mulai menikmati perhatian itu, dan Davina seakan tidak percaya kenapa dia berada di lingkaran Adit.Bahkan Alya adalah adik kandung Adit.Semua seperti kebetulan.Davina merasa seolah di permainkan semesta.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
ica
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!