Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampilan Baru Juvan Di Sekolah
Pagi itu, gerbang sekolah tampak sama seperti biasanya, namun suasana di dalamnya seketika berubah riuh begitu sosok seorang siswa melangkah masuk melewati koridor utama.
Juvan melangkah dengan tenang. Potongan rambutnya yang rapi memperlihatkan dahi yang bersih dan segar, menonjolkan sepasang mata yang tajam namun teduh. Seragam putih abu-abunya tampak rapi dan pas di badan, memperlihatkan postur tubuh yang tegap dan berisi. Ia berjalan dengan senyum tipis yang tak pernah hilang, memancarkan pesona yang jauh lebih dewasa dan memukau dibandingkan Juvan yang mereka kenal selama ini.
Tak butuh waktu lama hingga seluruh isi sekolah menatapnya tak percaya. Siswa-siswi yang berpapasan dengannya seketika berhenti melangkah, menoleh ke belakang, dan saling berbisik-bisik takjub.
"Itu... itu Juvan kan?"
"Wah, berubah total! Tampan sekali!"
"Ya ampun, dari mana perubahannya begitu drastis?"ucap para siswa-siswi di sana
Bahkan para siswi yang dulu menganggap Juvan biasa saja dan tak pernah meliriknya, kini justru berkerumun di sepanjang jalan yang dilewatinya. Mereka saling mendorong, melambaikan tangan, dan berusaha menarik perhatian Juvan. Wajah merona, senyum malu-malu, tatapan kagum yang tak lagi bisa disembunyikan. Nama Juvan seketika menjadi buah bibir dan banyak diidamkan oleh para siswi di sekolah itu.
Di sisi lain, tepat di depan pintu kelas, Kenzo, Zeo, Marsel, dan Sean berdiri terpaku mematung. Empat pasang mata mereka terbelalak lebar, menatap tak percaya sosok siculun kini sudah berubah drastis menjadi sangan tamvan
"Anjir kok bisa dia berubah jadi seganteng itu ya" ucap zeo
"Apa dia oplas" sahut sean
"ini gawat -ini gawat,jangan sampe crush gue oleng ke dia" ucap marsel.
"Hmmm pasti dia merubah penampilan nya karna kak yena" kenzo membatin.
Penampilan baru itu seolah membangkitkan rasa percaya diri yang belum pernah Juvan rasakan sebelumnya. Ia melangkah tegap dengan kepala sedikit tegak, tatapan matanya tenang dan berwibawa. Tidak lagi terlihat seperti remaja yang culun, lugu, dan sering menunduk malu. Kini Juvan tampak dewasa, berkarisma, dan memancarkan aura yang menenangkan namun memikat. Bahkan saat berbicara dengan siapa pun, suaranya terdengar tenang, tegas, dan jernih—tak ada lagi keraguan atau kegugupan yang biasanya tampak di wajahnya.
Sejak hari itu, nama Juvan seketika menjadi bintang utama di sekolah. Di mana pun ia melangkah, selalu ada pasang mata yang mengikutinya kagum. Para siswi yang dulu bahkan tak meliriknya, kini saling berbondong-bondong mendekat, menyapa, mencoba memulai percakapan, atau sekadar lewat di dekatnya sambil melirik malu-malu. Banyak yang berusaha menarik perhatiannya—memberikan senyum manis, menyelipkan surat, atau sekadar menyapanya dengan nada lembut. Rata-rata mereka adalah siswi-siswi cantik yang banyak diidamkan orang lain.
Namun, anehnya... hati Juvan tetap tak beralih sedikit pun. Sekalipun dihampiri oleh gadis-gadis yang cantik dan ramah, pandangannya tak pernah tertahan. Telinganya seakan tuli terhadap pujian dan rayuan mereka. Baginya, semua itu terasa biasa saja, tak ada yang mampu menggetarkan hatinya sedikit pun.
Sebab di dalam dada Juvan, hatinya sudah memilih satu tempat yang tak tergantikan. Seluruh perhatian, kekaguman, dan perasaannya sepenuhnya hanya tertuju pada satu nama: Yena.
Bagi Juvan, cantiknya gadis-gadis di sekolah itu tak ada apa-apanya dibandingkan senyum Yena. Manisnya perkataan mereka tak mampu menandingi kelembutan suara Yena. Hatinya tak akan pernah berlabuh ke tempat lain, karena ia tahu, tempat yang paling nyaman dan berharga baginya hanyalah di dekat Yena. Tak ada siapa pun yang mampu menggantikan sosok itu di hatinya.
Sore itu, di ruang tengah rumah Yena yang nyaman, Kenzo duduk bersila di sofa sambil menatap kakaknya yang sedang menghirup teh hangat. Wajahnya tampak bersemangat seakan membawa berita paling menarik seharian.
"Kak Kakak! Tahu tidak ada kejadian luar biasa di sekolah hari ini?" seru Kenzo tak sabar, matanya berbinar penuh kekaguman.
Yena menoleh sambil tersenyum lembut, menaruh gelas tehnya perlahan. "Kejadian apa, Dek? Ada yang seru ya?"
"Juvan, Kak! Juvan berubah total!" Kenzo membuka ceritanya lebar-lebar. "Penampilannya rapi sekali, rambutnya dipotong bagus, seragamnya juga pas di badan. Dia tampak... tampan sekali, Kak! Bukan lagi Juvan yang biasa kami kenal. Dia terlihat jauh lebih dewasa, tenang, dan berwibawa. Bahkan cara bicaranya pun berubah, tidak gugup lagi, terdengar sangat percaya diri."
Mendengar itu, jantung Yena seketika berdebar hangat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum bangga yang tak bisa disembunyikan.
"Wah... benarkah begitu?" gumam Yena pelan, membayangkan penampilan Juvan yang kini berubah tampan.
"Belum selesai, Kak!" Kenzo kembali berseru dengan nada sedikit berbisik namun penuh semangat. "Karena penampilannya yang luar biasa itu, Juvan jadi pusat perhatian seisi sekolah! Di mana pun dia lewat, mata semua orang tertuju padanya. Banyak sekali siswi cantik yang berusaha mendekatinya, menyapanya, bahkan ada yang berani memberi surat dan hadiah! Sepertinya... banyak sekali yang mengincarnya, Kak."
Yena terdiam sejenak. Rasa bangga bercampur sedikit rasa cemburu yang samar menyusup ke hatinya. Namun senyumnya tak luntur. Ia menunduk pelan, lalu tersenyum tipis penuh arti.
"Begitukah..." ucap Yena lirih, matanya menerawang seolah membayangkan Juvan yang kini dikelilingi banyak gadis. "Ternyata... dia memang memiliki potensi yang luar biasa. Dan pantas saja... banyak yang menyukainya."
Di dalam hatinya, Yena merasa bahagia sekaligus sedikit cemas.
"Kenapa kak,kok ekspresi kakak cemberut gitu. Kakak cemburu ya karna banyak cewek yang deket-deket ke juvan"ledek kenzo
Yena terperangah seketika mendengar ledekan itu, wajahnya seketika memerah padam merona merah hingga ke telinga. Ia buru-buru memalingkan wajah berusaha menyembunyikan rona merah yang tak sengaja muncul itu.
"Si-siapa yang cemburu!" bantahnya gugup, suaranya terdengar sedikit meninggi namun justru memperlihatkan kegugupannya.
"Kakak tidak cemburu, kenapa Kakak harus cemburu..."
Kenzo tertawa renyah melihat wajah kakaknya yang merah padam seperti kepiting rebus. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil tersenyum jahil namun penuh arti menatap kakaknya yang tampak sibuk membetulkan ujung kerahnya yang tak kusut sama sekali.
"Jangan dibantah deh, Kak! Wajah Kakak sudah bicara sendiri lho!" ledek Kenzo sambil terkekeh pelan.
"Senyum Kakak tadi seketika hilang begitu dengar banyak siswi yang mendekati Juvan. Pipi Kakak merah merona begini... Hehehe... Jujur saja deh, Kakak memang cemburu kan?"
Yena menghela napas panjang, lalu menatap adiknya dengan tatapan tak berdaya, perlahan senyum malu-malu kembali terukir di bibirnya. Ia tak kuasa menyembunyikannya lagi.
"Dasar anak usil..." gumamnya pelan sambil tersenyum malu, tak berani menatap mata Kenzo lebih lama.
"Iya... sedikit saja. Cuma sedikit..."
Melihat wajah kakaknya yang merona merah namun tampak sedikit gelisah, Kenzo pun tersenyum lembut dan berubah menjadi serius. Ia mendekatkan tubuhnya sedikit, menatap kakanya dengan tatapan meyakinkan.
"Kakak jangan khawatir dulu ya," ucap Kenzo pelan namun tegas. "Walau banyak sekali siswi yang mendekati dan mengganggunya, Juvan sama sekali tidak menanggapi mereka lho."
Kenzo berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan senyum penuh keyakinan,
"Juvan tetap seperti biasanya. Dia sopan dan menjawab seperlunya saja, lalu segera pergi. Dia tidak pernah tertarik, tidak pernah melirik lebih lama, dan tidak pernah membalas perhatian mereka. Seolah-olah... hatinya hanya tertuju pada satu hal saja dan tak ada yang lain yang bisa masuk ke sana."
Kenzo menepuk pelan punggung tangan kakaknya, tersenyum hangat.
Yena mendengarkan setiap kata yang diucapkan adiknya, perlahan rasa gelisah di dadanya luruh berganti kehangatan yang menenangkan. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya, matanya menatap jauh seolah melihat sosok Juvan yang setia menunggunya di sana. Rasa cemburu tadi lenyap, digantikan oleh rasa percaya dan keyakinan yang semakin kuat.
"Kakak beneran suka ya sama juvan" tanya kenzo dengan nada serius.
"Kakak yakin suka sama dia umur kalian aja beda jauh"
"iihh apasih kamu,udah jangan nanya yang aneh-aneh,kakak mau ke kamar." ucap yena malu.
"Cie, cie kakak, lagi jatuh cinta sama anak sma ni ye.ha ha ha"ledek kenzo.
Di kamar yena.Yena terbaring di atas kasurnya. Matanya tak lepas dari layar ponsel yang sesekali ia ketuk agar menyala, berharap ada nama yang muncul di layarnya—nama Juvan. Namun layar itu tetap sepi, tak ada pesan masuk sama sekali.
Yena menghela napas panjang lalu membuangnya kasar. Ia memutar tubuhnya memunggungi layar ponsel yang kini ia letakkan di samping bantal, lalu menatap langit-langit kamar dengan tatapan bingung dan gelisah.
"Aku kenapa sih..." gumamnya pelan sambil meremas selimut pelan.
"Kenapa kepikiran Juvan terus? Padahal cuma belum kirim pesan saja, kok rasanya sepi sekali begini..."
Pikirannya terus melayang tak jauh dari sosok remaja itu. Senyumnya, suaranya, tatapan matanya, hingga kelembutan sentuhannya... semuanya terus berputar di kepalanya tanpa henti. Hingga akhirnya sebuah pemikiran melintas begitu saja di benaknya, membuat jantungnya berpacu kencang seketika.
"Gak mungkin... gak mungkin kalau aku suka sama anak itu..." batinnya berusaha menyangkal, namun wajahnya seketika memerah padam merona hebat. Dadanya terasa berdebar tak karuan, seakan menyetujui dugaan itu sendiri.
"Ya ampun Yenaaaaaaaa..." pekiknya pelan sambil menenggelamkan wajah ke dalam bantal, merasa malu sekaligus bingung dengan perasaannya sendiri. "Apa yang sedang kamu pikirkan?! Dia masih muda... dia masih seperti adikmu... tapi kenapa... kenapa hatiku tak bisa berhenti merindukannya sedetik pun?"
Yena kembali menatap layar ponselnya yang masih gelap. Di dalam hatinya, ia mulai menyadari satu hal yang tak bisa ia pungkiri lagi. Perasaannya terhadap Juvan mungkin bukan sekadar rasa nyaman atau sekadar ingin dilindungi. Mungkin saja... ia benar-benar telah jatuh cinta pada pemuda yang jauh lebih muda darinya.