NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.7

Di tengah kota yang panas, jalanan bergetar oleh hiruk pikuk kendaraan dan langkah manusia yang tak pernah berhenti. Gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya seperti bara, sementara angin yang berhembus dengan debu-debu yang bertebaran di mana-mana.

Terlihat seorang ibu menggenggam erat lengan putrinya, didampingi seorang sopir yang setia mendorong kursi roda yang diduduki gadis itu. Langkah mereka terasa berat namun harapan tak pernah padam. Setelah bertahun-tahun mencari pengobatan dan mendengar vonis yang mematahkan hati, kini mereka menuju ke ruangan seorang dokter yang dikenal mampu menangani penyakit yang diderita putrinya.

" Aku gugup, Ma," kata Eliz saat mereka sudah tepat di depan pintu tujuan.

"Jangan takut, dokternya baik banget," Yusi berusaha menenangkan putrinya yang hampir berubah pikiran.

Pelan-pelan, lengan Yusi mengetuk pintu. Sambil menunggu jawaban, ia menggenggam gagang pintu lalu membukanya perlahan. "Dokternya ada?" Seorang perawat tiba-tiba muncul dari dalam, membuat Yusi mencondongkan tubuhnya, tak sabar ingin menemui pak dokter.

"Silakan masuk, Bu," titah perawat itu dengan suara ramah.

"Di mana pak dokternya?" tanya Yusi.

Perawat itu tersenyum, seolah berusaha menjelaskan dengan sabar.

"Sebaiknya Ibu menunggu dulu sebentar. Pak Dokter sedang menemui pasien," jelasnya.

Yusi mengajak putrinya masuk ke dalam ruangan, sementara perawat sibuk dengan ponselnya, mungkin sedang menghubungi dokter  Alvaro.

Aroma obat yang khas memenuhi setiap sudut ruangan tersebut, menyisakan kesan dingin sekaligus menyesakkan. Cahaya lampu putih memantul pada dinding pucat, membuat suasana terasa semakin asing bagi Eliz.

Menunggu di ruangan itu membuat keduanya tampak jemu. Sesekali Yusi memijat keningnya, menahan kesal dalam hati. Namun, ini adalah tujuan utamanya yang tidak boleh gagal.

" Pak Dokter belum datang, Ma," wajah cemberut Eliz yang sudah capek menunggu tak mampu tertahankan. Mendesak ibunya agar pulang saja. Ibunya nampak panik, sebisa mungkin ia membujuk putrinya agar bertahan sedikit lagi.

" Tunggu sedikit ya, El. Pak dokter masih bersama dengan pasien lain," bujuknya.

" Tapi, Ma...,"

" Hust, jangan bawel," tegas Yusi mata sedikit melotot.

Gadis itu menghela nafas panjang, menetralkan kesadaran yang hampir saja tak mampu ia tahan. Tanpa sadar, bulu kuduk Eliz meremang ketika menatap wajah ibunya yang duduk tak jauh darinya. Tatapan itu berbeda, jauh lebih tajam, bahkan menyimpan ambisi yang sulit dipahami. Tidak ada kelembutan yang biasa ia lihat sebelumnya, hanya sorot mata yang seolah menyembunyikan sesuatu. Meski perasaan gelisah perlahan merambat di dadanya, Eliz tetap berusaha berpikir positif.

" Hupps," helaan nafas panjang Eliz terdengar berat.

***

Terdengar suara langkah pelan yang menggema di ruangan itu, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menyesakkan.Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok pria tinggi dengan balutan kemeja hitam rapi dan jas putih khas seorang dokter yang melekat sempurna melekat di tubuh. Aura tenang bercampur ketegasan terpancar jelas dari setiap gerakannya. Rahangnya tegas, sorot matanya tajam namun menenangkan. Pria itu berjalan dengan penuh wibawa, seolah membawa rasa aman bagi siapa pun yang melihatnya. Ketampanannya bukan hanya terlihat dari parasnya, melainkan juga dari karisma kuat yang begitu alami melekat pada dirinya.

Tanpa disadari, sepasang mata seorang gadis sedari tadi memperhatikannya. Gadis itu terdiam, seakan dunia di sekelilingnya mendadak menghilang sesaat kala pria itu memasuki ruangan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, sementara tatapannya sulit berpaling dari sosok dokter tersebut. Ada rasa kagum yang tiba-tiba memenuhi hatinya, bercampur dengan perasaan asing yang belum pernah ia rasakan.

"Assalamualaikum," suara bariton dokter itu membuatnya semakin gugup.

" Waalaikumsalam," jawabnya keduanya hampir serempak.

Pria itu menatap mereka sejenak, lalu melanjutkan langkah. Dari ekspresi wajahnya, ia sudah tahu bahwa yang menunggu adalah orang yang sudah berbuat berjanji dengannya.

"Anda yang bernama Elizabeth, adiknya Anna?" tanya Alvaro tanpa ragu.

"Iya, Pak Dokter, dia Eliz yang pernah kuceritakan waktu itu," potong Yusi cepat.

"Dokter Alvaro?"batinnya, Eliz memicingkan mata, menatap nama yang tertera di baju pria itu.

"Apa pria ini yang disebut dokter Alvaro sebagai pacar Mbak Anna?" tanya Eliz dalam hati, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Rasa kecewa menyelinap sesaat, ia menyadari kenyataan bahwa pria tampan di depannya itu memiliki hubungan spesial dengan orang dekatnya.

" Apa Anda kenal mbal Anna?" Tanya Eliz, nafasnya memburu, meski tak ada yang menyadari kecuali dirinya.

"Betul, aku dan...??

"Maaf, Pak Dokter, Eliz sejak tadi menunggu, Anda. Sepertinya dia sudah lelah, bagaimana kalau langsung diperiksa saja." Yusi lagi-lagi memotong pembicaraan dokter tampan itu dengan sengaja. Eliz menatap hangat wajah pria tampan di depannya, entah apa yang dirasakannya. Yang pasti, dia begitu kagum pada sosok yang sedang memegang alat medis itu.

Tanpa membuang waktu, dokter Alvaro segera memeriksakan kondisi gadis itu dengan penuh kehati-hatian. Tak berselang lama dokter Alvaro menatap hasil pemeriksaan terakhir dengan sorot mata serius. Sementara itu jantung Yusi berdetak tak karuan menunggu apa yang akan disampaikan dokter itu. Elizabeth hanya diam, menggenggam ujung kursi roda yang selama bertahun-tahun menjadi saksi hidupnya. Vonis c4cat permanen yang pernah menghancurkan masa depan kini perlahan dipatahkan oleh keyakinan seorang dokter yang akan berjuang membantunya.

" Masih ada peluang untuk sembuh," ucap Alvaro pelan.

Kalimat sederhana itu membuat dunia gadis itu seakan sulit dipercaya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali memiliki alasan untuk berharap.

" Sungguh pak, Dokter?" tanya Yusi untuk memastikan, suaranya bergetar hebat menahan haru.

" Tentu saja, asalkan Eliz rutin diterapi," ucap Alvaro meyakinkan keduanya.

Alvaro mulai menyusun program terapi intensif. Ia memberinya berbagai saran agar rutin menjalani terapi otot, menjaga pola makan, dan masih banyak yang lain.

"Terima kasih banyak, Dokter. Kami tidak tahu bagaimana kelak membalas kebaikanmu," ucap Yusi, suaranya hampir pecah menahan kebahagiaan. Alvaro membalas dengan senyuman hangat sebelum mereka meninggalkan ruangannya. Bagaimanapun juga, kedua manusia itu adalah keluarga dekat sang pujaan hati. Ada sesuatu yang ingin diungkapkan Alvaro kepada wanita paruh baya itu, namun ia menahannya karena merasa ini bukan waktu yang tepat.

Berbeda dengan ekspresi Elizabeth, gadis itu sejak tadi hanya terdiam, meski mendapatkan kabar bahagia. Semenjak ia menyadari bahwa pria itu adalah kekasih sang kakak, entah kenapa hatinya begitu sakit.

" Kenapa mama menyembunyikan perobatanku dengan dokter Alvaro? Bukankah mbak Anna harus tahu?"

Batin Eliz berperang antara mengatakan kebenaran hari ini atau mengikuti keinginan ibunya agar tidak mengatakan apa-apa kepada Anna.

Di dalam mobil, wajah Yusi tampak cerah dengan senyum lebar yang tak pernah lepas dari bibirnya. Bagi Yusi, kebahagiaan sejati hanya datang dari kesembuhan Eliz.

"Mama bahagia?" tanya putri bungsunya, membuat Yusi menoleh dan menatapnya dengan penuh perhatian.

"Tentu saja, Sayang. Kamu tidak bahagia?" jawab Yusi, sekaligus bertanya dengan nada heran.

"Aku bahagia banget, Ma. Hanya saja aku khawatir, Mbak Anna tidak tahu kalau dokter yang menanganiku sampai kakiku sembuh ternyata pacarnya."

"Lalu apa masalahnya? Nanti Mama akan memberitahunya, tapi bukan sekarang, paham?" ujar Yusi tegas.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!