NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Pesan dari Leluhur

Suara langkah kaki Alya perlahan menghilang di ujung lorong semen. Di dalam kamar kos petak yang sempit dan remang-remang itu, Bumi duduk bersila sendirian di atas lantai. Kedua tangannya perlahan membuka lipatan secarik kertas memo misterius yang sejak subuh tadi terselip di saku celananya. Kertas itu tampak agak kekuningan, bertekstur kasar seperti kertas merang kuno, namun anehnya wangi harum herbal semalam masih tercium samar dari permukaannya.

Bumi menatap barisan tulisan tangan di atas kertas tersebut. Tulisan itu dibuat menggunakan tinta hitam dengan gaya aksara tegak bersambung yang sangat rapi dan berwibawa. Dengan kemampuan otaknya yang baru, Bumi langsung membaca isi pesan tersebut tanpa hambatan sedikit pun.

"Wahai cucuku, Bumi. Ramuan yang telah kau minum adalah sari murni dari pengetahuan dan kekuatan fisik yang telah lama tersimpan. Gunakanlah khasiat ramuan ini hanya untuk jalan kebaikan. Tolonglah sesamamu yang lemah, tegakkan keadilan di sekitarmu, dan yang paling utama, tetaplah menjadi manusia yang rendah diri. Jangan biarkan kesombongan merusak hatimu. Bangkitlah dari keterpurukanmu sekarang."

— Dari Leluhurmu.

Bumi tertegun. Matanya menatap kata terakhir di surat itu berulang kali.

"Dari leluhur?" bisik Bumi dengan suara bergetar. Ia membolak-balik kertas kosong itu, berharap ada petunjuk lain, namun tidak ada apa-apa lagi di sana.

Bumi menyandarkan punggungnya ke dinding triplek, menghela napas panjang sambil memandangi langit-langit kamar yang berdebu. Pikirannya benar-benar kacau dan dipenuhi tanda tanya besar. Logika sederhananya sebagai anak desa yang biasa hidup serabutan menolak untuk mempercayai hal-hal mistis seperti ini.

"Aduh, gua ini sebenarnya lagi mimpi apa gimana sih? Ini nyata gak sih? Masa iya ada leluhur datang malam-malam ngasih ramuan ajaib di pasar induk? Jangan-jangan gua kemarin digebukin si Garong terlalu keras sampai otak gua agak geser terus berhalusinasi kayak begini," gumam Bumi sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya sendiri dengan bingung. Ia masih belum seratus persen percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Untuk membuktikan apakah semua ini hanya ilusi atau kenyataan yang nyata, Bumi memutuskan untuk menguji kembali kemampuan indranya yang sempat aktif sehabis mandi tadi. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mengatur napasnya agar menjadi lebih teratur, dan mulai memfokuskan seluruh perhatian serta pendengarannya ke arah luar bangunan kosan padat milik Mak Surti.

Wusss...

Mendadak, kesunyian di dalam kamar sempit itu pecah. Telinga Bumi kembali mengalami peningkatan sensitivitas yang sangat tajam secara drastis. Berbagai macam suara obrolan, perdebatan, dan aktivitas dari orang-orang di luar kosannya langsung masuk berkumpul di kepalanya dengan tingkat kejelasan yang sangat tinggi, seolah-olah pembatas dinding triplek kamarnya telah hilang.

"Eh, lu tahu gak? Si Garong semalam katanya mabuk-mabukan di warung remang-remang depan, duit taruhannya banyak bener, hasil malak kuli baru katanya," suara berat seorang pria di warung kopi seberang jalan terdengar sangat jelas di telinga Bumi.

"Iya, kasihan banget itu anak baru yang kena palak. Mana badannya bonyok gitu," sahut suara pria lainnya.

Di sudut lain, dari arah dapur utama kosan bawah, Bumi juga bisa mendengar suara keluhan Mak Surti yang sedang menghitung tagihan. "Aduh, harga token listrik naik lagi bulan ini, pusing kepala gua..."

Bumi langsung membuka matanya kembali, lalu mengembuskan napas panjang untuk menormalkan kembali pendengarannya. Suara-suara bising itu perlahan memudar, kembali menjadi suara sayup-sayup normal di kejauhan.

Dengan adanya pembuktian nyata dari indra pendengarannya yang super tajam barusan, Bumi kini tidak bisa mengelak lagi. Seluruh keraguan di dalam hatinya runtuh seketika.

"Ini beneran nyata... gua gak lagi mimpi," ucap Bumi lirih sambil menatap secarik kertas di tangannya dengan pandangan penuh rasa takjub. "Semua kemampuan ini... kekuatan fisik yang gak ada habisnya pas panggul kubis tadi, otak gua yang langsung pinter pas ngerjain tugas kuliah Alya... semuanya adalah warisan nyata dari leluhur gua lewat perantara kakek misterius semalam."

Bumi langsung meluruhkan badannya bersujud di atas lantai semen, melipat kedua tangannya di depan kening dengan rasa haru yang teramat sangat membuncah di dalam dadanya. Air mata syukur perlahan menetes membasahi lantai semen yang berdebu.

"Ya Allah... Gusti Allah... terima kasih banyak," bisik Bumi dengan suara parau menahan tangis bahagianya. "Terima kasih karena Engkau telah menitipkan kekuatan dan mukjizat yang luar biasa besar ini kepada hamba-Mu yang miskin dan terlantar ini. Di saat hamba difitnah, diusir dari desa, dan dirampas hartanya oleh preman kota, Engkau justru memberikan jalan keluar yang tidak pernah hamba bayangkan sebelumnya lewat warisan leluhur ini."

Bumi kembali duduk tegak, menghapus sisa air mata di pipinya yang masih agak lebam. Ia melipat kembali kertas memo itu dengan sangat hati-hati, lalu menyimpannya di tempat paling aman di dalam tas karung goninya. Tatapan matanya yang tadi sempat bingung kini berubah menjadi sangat tajam, dipenuhi oleh sebuah tekad baru yang sangat kuat dan kokoh.

"Pesan dari leluhur sudah jelas. Kekuatan ini terlalu besar dan terlalu sakral kalau cuma gua pakai buat keuntungan diri gua sendiri atau cuma buat balas dendam pribadi," gumam Bumi pada diri sendiri, suaranya terdengar penuh komitmen. "Gua harus memanfaatkan semua titipan ini untuk jalan kebaikan. Gua akan pakai kekuatan ini untuk menolong sesama orang kecil di pasar ini yang sering ditindas, dan gua akan jadikan ini sebagai modal utama untuk kebangkitan hidup gua."

Bumi menarik bungkusan nasi yang dibawa Alya tadi, lalu mulai memakannya dengan lahap. Setiap suapan nasi itu kini tidak hanya mengisi perutnya yang lapar, tapi juga seolah menyuntikkan semangat baru ke dalam jiwanya. Ia menyadari satu hal penting yang menjadi kunci dari khasiat ramuan otak supernya.

"Otak gua sekarang bisa menangkap dan hapal dengan mudah semua pelajaran atau buku yang gua baca, kayak pas gua lihat buku bisnis bahasa Inggris milik Alya tadi," batin Bumi sambil mengunyah makanannya. "Ini keuntungan yang luar biasa. Kekuatan ini bakal jadi mubazir kalau gua cuma menetap jadi kuli panggul seumur hidup."

Bumi meneguk air putihnya sampai habis, lalu mengepalkan tangan kanannya dengan kuat di atas lutut.

"Mulai besok, di sela-sela waktu kerja panggul gua di pasar, gua harus mulai belajar lagi! Apapun itu. Gua akan cari buku-buku bekas, buku tentang hukum, tentang ekonomi, tentang teknologi, atau apa aja yang bisa gua temuin di kota ini. Gua mau serap semua ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini secepat mungkin," tekad Bumi dalam hati dengan semangat yang berkobar gigih. "Gua harus memastikan kalau kemampuan menangkap pelajaran dengan mudah ini bisa mendatangkan manfaat yang nyata buat orang banyak, supaya gua bisa bertransformasi menjadi manusia yang jauh lebih berguna dan tidak diremehkan lagi oleh siapa pun."

Dengan perut yang sudah kenyang dan hati yang dipenuhi oleh peta rencana masa depan yang cerah, Bumi merebahkan dirinya kembali di atas kasur busa tipisnya. Langkah awal perjuangannya di ibu kota yang tadinya terasa sangat gelap gulita, kini telah berubah menjadi sebuah jalan terang benderang yang siap ia taklukkan dengan kecerdasan dan kekuatan luar biasa warisan leluhurnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!