Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.
Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.
Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.
Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.
...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilabrak
Gara-gara terlalu banyak mengkonsumsi alkohol kemarin malam, Zhang Lin dan Li Na tanpa sadar telah tidur berdua di satu ranjang yang sama tanpa memakai sehelai benang pun dituduh mereka masing-masing; dan sialnya lagi, baik Zhang Lin maupun Li Na, keduanya sama sekali tidak mengingat apapun yang terjadi kemarin malam.
"Kamu benar-benar tidak ingat apa-apa yang terjadi kemarin malam? Bagaimana bisa ingatan kita hilang begitu saja? Ini benar benar sangat aneh! Biasanya aku tidak sekacau ini hanya karena meminum bir. Dan ngomong-ngomong ... kemarin kamu benar-benar beli bir bukan? Bukan whisky atau apa gitu?"
Zhang Lin menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Iya, benar. Kemarin aku hanya beli apa yang kamu minta; dan lagi pula aku tidak tahu apa itu whisky!" jawab Zhang Lin tegas.
Tiba-tiba saja tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka berdua pada saat itu; sampai tiba-tiba Lin Yi keluar dari kamar sambil menguap karena masih mengantuk.
Lin Yi menatap aneh kepada Zhang Lin dan Li Na, kemudian dia tiba-tiba bertanya.
"Kemarin malam kamu tidak tidur di dalam bersama denganku. Jadi kamu tidur di mana kemarin malam?" tanyanya kepada Zhang Lin.
Dihadapkan dengan pertanyaan tiba-tiba dari Lin Yi, Zhang Lin dan Li Na sama-sama ketar-ketir kebingungan memikirkan jawaban apa yang harus diberikan.
"Tidak mungkin kan kamu tidur bersama dengan wanita itu?" tanya Lin Yi sambil menujuk ke arah Li Na.
"Tentu saat tidak mungkin, dasar bodoh!" teriak Li Na sambil melemparkan bantal sofa ke arah Lin Yi hingga membuat air minum yang ada di tangannya langsung tumpah ke lantai dan juga membasahi wajahnya.
...
Pada siang harinya, Zhang Lin pergi jalan-jalan bersama dengan Lin Yi. Dan pada awalnya ia ingin menolak ajakan dari Lin Yi itu, karena ia yakin jika menerima ajakan itu Lin Yi akan menjanjikan dirinya sebagai ATM berjalan.
Namun pada saat itu, Zhang Lin lebih memilih untuk dijadikan ATM berjalan dari pada harus tinggal berdua dengan Li Na di rumah dengan suasana yang begitu luar biasa canggung.
"Coba lihat baju ini. Bagus kan?"
Lin Yi terus memilih banyak baju di pasar, mencoba beberapa baju dan kemudian meminta Zhang Lin untuk membayar baju itu untuk dirinya. Dan pada saat itu, Zhang Lin tidak bisa banyak protes dan hanya terus mengeluarkan uang untuk Lin Yi.
Di tengah-tengah kebahagiaan Lin Yi yang sedang berbelanja, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seorang ibu-ibu yang berteriak jika ada seorang pemuda yang mencuri dompetnya yang berisi uang, dan saat itu kebetulan pencuri itu lari melewati Zhang Lin.
Dengan satu kali pukulan telak, pencuri itupun langsung jatuh dan tidak bisa bergerak lagi. Dan dengan begitu, sekali lagi Zhang Lin telah menjadi seorang pahlawan di pasar. Sampai-sampai Zhang Lin pulang dengan membawa banyak hadiah makanan dari para pedagang pasar.
...
Para pedagang pasar begitu berterima kasih kepada Zhang Lin karena ia selalu saja berhasil menyelesaikan masalah yang ada; dan sebagai rasa terima kasih, mereka memberikan Zhang Lin banyak makanan dan hadiah lain. Dan saat Zhang Lin dan Lin Yi pulang ke rumah, tiba-tiba saja langkah kaki mereka terhenti ketika melihat seorang wanita dengan pakaian mewah menampar Li Na.
Zhang Lin yang pada saat itu melihat dengan jelas bagaimana wanita yang berpakaian mewah itu menampar wajah Li Na dengan keras, ia pun langsung berlari dengan melepaskan semua hadiah yang ia dapatkan dari pasar dan kemudian langsung melindungi Li Na.
"Apa-apaan ini?!"
Zhang Lin melindungi Li Na dengan tubuhnya. Tidak membiarkan wanita angkuh itu kembali menyakiti Li Na.
"Li Na, kamu baik-baik saja?"
Untuk pertama kalinya, Li Na tidak bicara. Dia hanya menganggukkan kepala beberapa kali sebagai jawaban atas pertanyaan Zhang Lin.
Dan tidak lama kemudian, Lin Yi ikut bergabung dan kemudian langsung mendorong wanita angkuh itu menjauh dari Zhang Lin dan Li Na. Dan yang tidak terduga adalah, Lin Yi membalas tamparan yang sebelumnya diberikan kepada Li Na.
"Berani-beraninya ...."
Wanita angkuh itu tampak kaget tak percaya ketika Lin Yi dengan tegas menamparnya. Membalas tamparan yang sebelumnya dia berikan kepada Li Na.
"Itu balasan karena telah menampar Kakakku. Karena hanya dengan begitu baru adil," jawab Lin Yi dingin.
Selama ini sikap Lin Yi selalu ceroboh dan sembrono. Dan karena itu, Zhang Lin tidak tahu jika dia bisa bersikap begitu tegas hanya untuk melindungi kakaknya, Li Na.
"Kakakku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan anak, Tante. Lalu, kenapa masih mau datang jauh-jauh kemari? Ingin aku panggilkan polisi?" tanya Lin Yi.
Wanita angkuh itu tertawa.
"Jika memang benar mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun lagi, maka tidak akan mungkin aku akan rela datang kemari—ke tempat yang menjijikkan ini!" balas wanita angkuh itu.
"Aku datang kemari karena mereka berdua masih saja menjalin hubungan di belakangku. Dan coba kamu tanyakan saja kepada kakakmu itu. Tanya langsung kepada dia. Tanya, apakah dia masih punya hubungan dengan Liu Wei!?"
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh wanita angkuh itu, Lin Yi langsung berbalik menatap Li Na dan kemudian bertanya langsung kepadanya.
"Coba jelaskan kepadaku. Apakah itu benar? Kakak masih berhubungan dengan laki-laki itu?!" tanya Lin Yi.
"Itu tidak benar!" jawab Li Na tegas. "Aku sudah memutuskan hubungan dengan Liu Wei. Kami berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa!"
"Jika kalian benar-benar tidak punya hubungan apa-apa, lalu kenapa kemarin kalian bertemu?!" sahut wanita angkuh itu lagi.
"Dia bilang dia hanya ingin ngobrol sebentar. Dan kami tidak melakukan hal lain. Setelah minum kopi bersama, kami langsung berpisah lagi! Aku bersumpah atas nama orang tuaku ... aku benar-benar tidak ada hubungan apapun lagi dengan Liu Wei!"
Dan tepat setelah Li Na menjelaskan akan hal itu, tiba-tiba saja sebuah mobil lain berhenti di dekat sana, dan dari mobil itu keluar seorang pria tampan dengan tubuh tinggi.
Pria itu langsung menghampiri wanita angkuh itu, menyebutnya dengan sebutan 'mama'.
"Mama, sedang apa di sini? Bukannya aku sudah jelaskan tadi? Semua itu tidak seperti yang Mama kira!"
"Liu Wei ...." Suara Li Na terdengar pelan ketika menyebut nama pria tampan itu—pria itu ternyata adalah sosok yang sedang diributkan pada saat ini.
"Liu Wei, Mama sudah bilang kepada kamu berapa kali? Hah?! Jangan lagi berhubungan dengan wanita ini! Dia tidak pantas untuk kamu! Dia tidak punya orang tua, tidak punya kelu—"
"Tapi dia punya aku!" potong Zhang Lin dengan suara yang keras dan tegas; memecahkan ketegangan yang ada saat itu.
...
-Bersambung-