Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Menyusun Rencana
Detik-detik dalam kegelapan itu terasa seperti berjam-jam lamanya, setiap napas yang mereka tarik terdengar begitu keras di telinga masing-masing. Dalam kegelapan total itu, Josh bisa mendengar napas panik teman-temannya, dan suara Pak Ian yang mencoba tetap tenang meski jelas ketakutan.
Perlahan, cahaya senter kembali menyala satu per satu, meski cahayanya kini terasa lebih redup dari sebelumnya, seolah ruangan itu sendiri sedang menyerap sebagian cahayanya.
"Semua baik-baik aja?" tanya Gibran, suaranya sedikit gemetar namun berusaha terdengar tegas.
Mereka saling memastikan satu sama lain menggunakan kode rahasia yang telah disepakati, memastikan tidak ada yang telah tergantikan oleh entitas tersebut dalam kegelapan tadi. Setelah semua yakin, mereka bergegas keluar dari ruangan itu, tidak berani berlama-lama lagi hari itu.
"Kita harus siap-siap," kata Veron di luar gudang, menatap catatan kalender yang telah ia susun sejak beberapa hari lalu.
"Berdasarkan catatan Raka dan perhitungan tanggal kebakaran, siklus ini bakal mencapai puncaknya tepat tiga hari lagi tepat tiga puluh tahun sejak malam kebakaran itu."
"Terus kita harus ngapain?" tanya Brandon, suaranya penuh kecemasan.
"Kita harus kembali ke ruangan itu tepat saat celah terbuka penuh," jawab Pak Ian, yang kini sepenuhnya terlibat membantu mereka setelah bertahun-tahun menyimpan rahasia ini sendirian.
"Dan kalian bertiga harus berhasil menutupnya, menggunakan kemampuan kalian secara bersamaan, bukan sendiri-sendiri seperti yang gagal kami lakukan dulu."
Selama tiga hari berikutnya, mereka menyusun rencana dengan hati-hati, mempelajari kembali catatan Raka untuk mencari cara terbaik menghadapi puncak siklus tersebut. Pak Ian membantu menjelaskan lebih detail tentang anomali energi yang mereka hadapi, meski banyak bagian yang tetap menjadi misteri karena catatan Raka tidak pernah selesai ditulis.
"Kunci utamanya adalah kepercayaan dan penerimaan," Pak Ian mengingatkan berkali-kali.
"Kalian harus saling percaya sepenuhnya, dan menerima kemampuan kalian masing-masing tanpa rasa takut. Entitas itu akan mencoba memanfaatkan keraguan sekecil apa pun di antara kalian bertiga."
Josh, Veron, dan Brandon berlatih setiap malam, mencoba menyelaraskan kemampuan mereka masing-masing. Josh dengan energinya yang meledak saat terdesak, Veron dengan firasatnya yang bisa membaca datangnya bahaya, dan Brandon dengan indra fisiknya yang bisa mendeteksi kehadiran entitas tersebut sebelum benar-benar terlihat.
"Ini bakal berat," Josh berkata suatu malam kepada kedua sahabatnya melalui panggilan video, suaranya lelah.
"Tapi gue percaya sama kalian berdua. Apa pun yang terjadi nanti, kita hadepin bareng-bareng."
"Kita nggak akan biarin dia misahin kita," Veron menjawab tegas, meski matanya masih menyimpan ketakutan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
"Kita udah janji, kan? Saling jaga." Brandon mengangguk mantap di layar, meski wajahnya tetap pucat.
"Gue takut. Gue takut banget. Tapi gue lebih takut kalau salah satu dari kalian kenapa-kenapa karena gue nggak berani."
Malam terakhir sebelum puncak siklus tiba, Josh duduk sendirian di kamarnya, menatap keluar jendela ke arah langit malam yang dipenuhi bintang, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi apa yang mungkin menjadi malam paling menentukan dalam hidupnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal yang sama seperti sebelumnya.
"Aku sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk kalian bertiga. Sampai jumpa besok malam, Josh. Atau haruskah aku memanggil diriku sendiri begitu?"
Josh menatap pesan itu dengan darah yang seolah membeku di pembuluh darahnya, menyadari bahwa entitas itu sudah tahu persis rencana mereka dan mungkin, sudah mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari yang bisa mereka bayangkan.
Ia duduk lama menatap layar ponselnya, tidak berani membalas pesan itu, khawatir tindakan sekecil apa pun bisa memberi celah lebih besar bagi entitas tersebut untuk memasuki pikirannya. Ia akhirnya memilih mematikan ponselnya sepenuhnya malam itu, berharap tindakan sederhana itu bisa memutus koneksi apa pun yang mungkin sedang dibangun oleh sosok mengerikan di balik pesan tersebut, meski jauh di lubuk hatinya ia tahu, entitas itu tidak butuh ponsel untuk menjangkaunya.
Ia berbaring di ranjangnya dalam kegelapan, mata terbuka lebar menatap langit-langit, menghitung detik demi detik yang tersisa sebelum malam puncak yang telah lama mereka persiapkan itu benar-benar tiba. Setiap suara kecil di luar jendelanya membuat jantungnya berdegup lebih kencang, dan ia mendapati dirinya berulang kali memeriksa jam meja hanya untuk memastikan waktu masih berjalan normal, belum berhenti di angka yang selama ini menghantuinya.
...****************...