Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang di Ujung Tanduk
Selasa pagi yang dingin menyelimuti ruang Kepala Sekolah SMA Bina Karya. Ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa sangat menyesakkan sejak pukul tujuh tepat. Bunyi detak jam dinding kuno berirama konstan seolah menghitung mundur nasib Rangga yang sedang dipertaruhkan. Aroma kopi hitam yang sedianya dihidangkan untuk menenangkan suasana justru kalah pekat oleh atmosfer intimidasi yang bertebaran di udara.
Rangga duduk tegak di salah satu kursi kayu, mengenakan seragam putih-abu-abu yang bersih. Di sebelah kirinya, sang ibu duduk dengan kedua tangan yang saling meremas cemas, matanya mencerminkan ketakutan seorang orang tua tunggal yang khawatir masa depan anak semata wayangnya hancur. Di belakang mereka, Bu Lastri selaku wali kelas berdiri dengan wajah tegang, sesekali membetulkan posisi kacamata minusnya yang melorot akibat keringat dingin.
Sementara itu, di seberang meja besar berbahan kayu jati, duduklah Nicholas dengan keangkuhan yang tidak berkurang sedikit pun. Di rahang bagian kirinya terpasang selembar perban putih, sisa-sisa dari pukulan mentah Rangga kemarin siang. Nicholas tidak datang sendiri. Dia didampingi oleh seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan setelan jas hitam mahal, memegang sebuah tas koper kulit yang tampak sangat formal. Pria itu adalah kuasa hukum keluarga Nicholas.
Kepala Sekolah SMA Bina Karya, Pak Subroto, duduk di tengah-tengah kedua belah pihak. Wajahnya yang dipenuhi kerutan tampak sangat tertekan. Di depannya sudah terletak map dokumen berwarna merah yang berisi draf surat keputusan pembatalan status siswa atas nama Rangga.
"Jadi, bagaimana Pak Subroto? Saya rasa tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan di ruangan ini," buka pengacara Nicholas dengan suara yang berat dan penuh penekanan. Dia membuka koper kulitnya, lalu mengeluarkan sebuah laptop tipis keluaran terbaru dan memutarnya ke arah Pak Subroto.
"Klien kami, Nicholas, yang merupakan ketua OSIS berprestasi dari SMA Garuda Bangsa, telah menjadi korban penganiayaan berat yang dilakukan oleh murid Anda. Bukti digitalnya sudah sangat jelas dan bahkan sudah menjadi konsumsi publik," lanjut pengacara itu sambil menekan tombol putar pada laptop.
Video berdurasi tiga puluh detik itu kembali berputar. Di layar, Rangga terlihat sangat beringas saat menarik kerah baju Nicholas dan melayangkan pukulan keras hingga Nicholas tersungkur di tanah. Video itu murni memperlihatkan Rangga sebagai pelaku kriminal tunggal yang menyerang tanpa alasan yang jelas. Ibu Rangga yang melihat video itu langsung membekap mulutnya sendiri, air matanya mulai mengalir perlahan karena tidak percaya anaknya bisa melakukan hal sekeras itu.
"Rangga, apakah benar kamu yang ada di dalam video ini?" tanya Pak Subroto dengan nada suara yang berat, menatap Rangga dengan pandangan kecewa.
"Benar, Pak. Itu saya," jawab Rangga dengan tenang dan tegas. Dia tidak membantah, tidak pula mencoba membela diri. Pemuda itu memilih untuk tetap diam demi menjaga nama baik Cinta Alisya agar tidak ikut terseret ke dalam persidangan yang kotor ini.
Nicholas yang melihat ketenangan Rangga langsung tersenyum licik dari sudut meja. Dia memajukan tubuhnya, menatap Rangga dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. "Kemarin lu belagu banget di depan gue, Rangga. Sekarang lu lihat sendiri kan? Lu itu cuma anak sekolah pinggiran yang gak punya masa depan. Lu salah cari musuh."
"Nicholas, jaga ucapan kamu. Ini di dalam ruang kepala sekolah," tegur Bu Lastri yang merasa tidak tahan dengan kesombongan Nicholas.
Pengacara Nicholas segera mengetuk meja dengan pulpennya, mengambil alih perhatian. "Saya berikan dua pilihan mutlak untuk menyelesaikannya pagi ini juga, Pak Subroto. Pilihan pertama, Anda menandatangani surat dikeluarkan secara tidak hormat untuk Rangga hari ini, dan kami akan menganggap masalah ini selesai secara internal. Pilihan kedua, jika Anda menolak, pihak kepolisian yang saat ini sudah berkoordinasi dengan kami di luar gerbang akan langsung masuk untuk memborgol anak ini atas pasal penganiayaan berat dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Ditambah lagi, kami akan memastikan nama baik SMA Bina Karya hancur di media massa."
Mendengar ancaman penjara, ibu Rangga langsung menggenggam erat lengan anaknya sambil menangis lirih. "Rangga, tolong jelasin ke Kepala Sekolah, Nak. Kamu gak mungkin mukul orang tanpa alasan kan? Tolong ngomong, Nak."
Rangga hanya bisa menunduk, hatinya teriris melihat air mata ibunya. Namun, dia sudah memantapkan tekad. Jika dia menceritakan alasan sebenarnya tentang Nicholas yang melecehkan Cinta, maka nama Cinta akan hancur di mata publik, dan bisnis keluarga Cinta akan terancam oleh bapaknya Nicholas. Rangga memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri.
Pak Subroto menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Dia meraih pulpen di atas meja, lalu perlahan membuka map merah yang berisi surat pemecatan Rangga. "Maafkan saya, Bu. Demi menjaga ketertiban dan nama baik seluruh siswa di sekolah ini, saya terpaksa harus mengambil keputusan ini."
Tangan Pak Subroto mulai menggerakkan pulpennya, bersiap menggoreskan tanda tangan yang akan mengakhiri masa depan akademis Rangga. Nicholas sudah bersiap untuk tertawa puas menyaksikan kemenangan telaknya.
*Brak!*
Pintu kayu ruang kepala sekolah tiba-tiba didobrak dengan sangat keras dari luar. Engsel pintu itu sampai bergetar, mengejutkan seluruh orang yang ada di dalam ruangan hingga Pak Subroto menghentikan gerakan pulpennya secara refleks.
Aldi melangkah masuk terlebih dahulu dengan napas terengah-engah, bertindak sebagai pembuka jalan. "Mohon maaf Pak Subroto! Sidang sepihak ini gak bisa dilanjutkan sekarang!" seru Aldi dengan kelakuan badungnya yang sama sekali tidak tahu tempat.
"Aldi! Kurang sopan sekali kamu ini?! Keluar dari ruangan sekarang!" bentak Bu Lastri dengan wajah memerah karena kesal.
Namun, Aldi tidak bergerak mundur setapak pun. Dia justru bergeser ke samping, memberikan ruang bagi dua orang gadis yang berjalan di belakangnya untuk masuk ke dalam ruangan. Detik itu juga, suasana di dalam ruangan langsung berubah drastis.
Bu Lastri dan Pak Subroto spontan terbelalak, bukan karena ada orang asing, melainkan karena mereka sangat mengenali sosok gadis yang baru saja melangkah masuk dengan seragam SMA Garuda Bangsa itu.
"Cinta? Kamu... ngapain ke sini, Nak?" tanya Bu Lastri dengan nada suara yang mendadak melunak, dipenuhi rasa terkejut yang amat sangat. Bu Lastri tentu tahu betul siapa Cinta, mantan siswi teladan di kelasnya yang baru pindah beberapa minggu lalu.
Pak Subroto pun langsung meletakkan pulpennya, menatap mantan murid kebanggaan sekolahnya itu dengan dahi berkerut. "Cinta Alisya? Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah kamu sudah pindah sekolah?"
"Cinta?! Ngapain kamu ke sekolah kumuh ini?! Pulang sekarang!" bentak Nicholas yang mendadak panik, langsung berdiri dari kursinya tanpa sadar.
Cinta sama sekali tidak memedulikan bentakan Nicholas. Dia melangkah maju, melewati Nicholas begitu saja, lalu berdiri tepat di samping tempat duduk Rangga. Cinta menatap ibu Rangga sekilas dengan pandangan penuh hormat, lalu menatap Bu Lastri dan Pak Subroto dengan mata yang berkaca-kaca namun memancarkan keberanian.
"Maaf saya lancang datang dan mengganggu sidang ini, Pak Subroto, Bu Lastri," ucap Cinta dengan nada suara yang bergetar namun tegas. "Tapi saya gak bisa tinggal diam melihat Rangga dikorbankan. Saya datang ke sini sebagai saksi kunci sekaligus korban utama dari insiden di SMA Garuda Bangsa kemarin siang. Dan Rangga... Rangga mukul Nicholas murni karena ingin menyelamatkan saya!"
Pak Subroto tertegun, pandangannya beralih dari Cinta ke arah Nicholas. "Korban? Apa maksud kamu, Cinta? Di dalam video pendek yang dibawa pengacara ini, jelas-jelas Nicholas yang dipukul tanpa alasan oleh Rangga."
Tasya segera melangkah maju, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari kantongnya dan langsung mencolokkannya ke port laptop milik pengacara Nicholas tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Buka file video yang baru, Pak. Biar semua guru di sini tahu alasan kenapa Rangga sampai nekat mukul cowok belagu ini," ketus Tasya sambil menekan layar laptop.
Sebuah video baru dengan durasi yang jauh lebih panjang, sekitar tiga menit, mulai terputar di layar. Video ini direkam secara diam-diam oleh salah satu murid dari balik jendela lantai dua laboratorium yang menghadap langsung ke taman belakang.
Di dalam rekaman video versi utuh tersebut, seluruh orang di dalam ruangan, termasuk Pak Subroto, Bu Lastri, dan ibu Rangga, menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana kelakuan bejat Nicholas. Di layar terlihat sangat jelas bagaimana Nicholas menyudutkan tubuh Cinta ke dinding tembok, mengunci pergerakannya, mengancam akan menghancurkan bisnis keluarganya, dan mencoba melakukan pelecehan seksual secara paksa dengan merengkuh tubuh Cinta yang sedang menangis ketakutan. Baru pada menit kedua, Rangga terlihat berlari kencang, menarik kerah baju Nicholas, dan melayangkan pukulan murni untuk menyelamatkan Cinta dari tindakan asusila tersebut.
Suasana di dalam ruang kepala sekolah mendadak hening seperti kuburan. Bu Lastri menutup mulutnya karena syok melihat kebejatan moral seorang ketua OSIS sekolah elite, sementara ibu Rangga langsung mengusap dada dengan perasaan lega sekaligus bangga karena anaknya ternyata bertindak sebagai seorang pahlawan.
"Ini... ini manipulasi! Video itu bisa saja diedit!" sanggah pengacara Nicholas yang mulai panik, menyadari posisi hukum kliennya kini berada di ujung tanduk.
Cinta langsung memajukan langkahnya, menatap Nicholas dan pengacaranya dengan pandangan yang sangat tajam. "Itu rekaman asli tanpa rekayasa sedikit pun! Dan saya, sebagai korban di dalam video itu, siap memberikan kesaksian langsung di depan penyidik kepolisian hari ini juga!"
Cinta kemudian membalikkan badannya menghadap Nicholas yang tubuhnya mulai gemetar menahan malu dan takut. "Nicholas, kalau kamu atau pengacara kamu berani meneruskan tuntutan untuk mengeluarkan Rangga dari sekolah ini, atau jika kamu nekat membawa kasus pemukulan ini ke polisi, maka detik ini juga aku yang akan melaporkan kamu ke Polda Metro Jaya atas pasal pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur!"
Suara Cinta bergema dengan sangat kuat di dalam ruangan. "Aku tidak peduli lagi dengan urusan bisnis Papa kamu atau investasi keluarga kita! Aku punya semua bukti ancaman yang kamu kirimkan ke ponsel aku selama ini! Kita lihat saja, siapa yang akan mendekam di dalam penjara dan perusahaan keluarga siapa yang sahamnya akan hancur total besok pagi di media massa akibat ulah bejat anak mereka!"
Skakmat. Kalimat tegas dari Cinta Alisya sukses meruntuhkan seluruh keangkuhan dan kekuatan hukum yang dibawa oleh Nicholas. Kasus pelecehan seksual anak di bawah umur dengan bukti video yang utuh adalah sebuah bencana besar bagi sebuah keluarga konglomerat. Taruhannya terlalu besar dan bisa menghancurkan reputasi bisnis keluarga Nicholas dalam waktu semalam.
Pengacara Nicholas langsung berkeringat deras. Dia buru-buru menutup laptopnya dan merapikan dokumennya ke dalam koper kulit dengan tergesa-gesa. "Klien kami... Nicholas, sepertinya memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Kami mencabut seluruh tuntutan hukum dan draf pemecatan ini kami anggap batal. Permisi," ucap pengacara itu dengan wajah pucat sambil menarik lengan Nicholas untuk segera keluar dari ruangan.
Nicholas berjalan keluar dari ruang kepala sekolah dengan langkah gontai dan kepala menunduk dalam, menanggung rasa malu yang teramat sangat karena seluruh kedok busuknya telah terbongkar secara telanjang di depan semua orang.
Pak Subroto menghela napas lega, lalu merobek draf surat keputusan pemecatan Rangga di depan mata mereka semua. "Rangga, kamu dibebaskan dari segala tuduhan. Sekolah bangga karena kamu telah bertindak benar untuk melindungi seseorang dari tindakan kejahatan. Kasus ini resmi ditutup."
Setelah sidang yang menegangkan itu selesai dan ruangan kembali sepi, Rangga berdiri dan menatap Cinta dengan tatapan yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus kagum yang mendalam. "Cin... kenapa kamu nekat datang ke sini? Kamu tahu kan risikonya buat keluarga kamu kalau Nicholas marah?"
Cinta tersenyum sangat manis dengan sisa-sisa mata yang berkaca-kaca. Dia memegang tangan Rangga dengan lembut di depan Aldi dan Tasya yang sedang bersorak gembira di sudut ruangan. "Kamu sudah bertaruh nyawa dan harga diri buat menyelamatkan aku kemarin, Rangga. Jadi, sekarang giliran aku yang harus berani berdiri di depan buat melindungi kamu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi."
Momen romantis dan mengharukan itu membuat dada Rangga terasa begitu penuh oleh kebahagiaan. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, dari dalam saku seragamnya, ponsel milik Cinta bergetar hebat dengan nada dering yang sangat nyaring.
*Drrt... Drrt...*
Cinta melepaskan pegangan tangannya dari Rangga dengan perlahan, lalu mengambil ponselnya. Begitu dia melihat layar ponsel, senyuman manis di wajahnya seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi ketakutan yang amat sangat. Di layar kunci ponselnya, tertera sebuah nama pemanggil yang paling dia takuti di dunia ini.
Nama itu tertulis jelas: **Papa**.
Napas Cinta mendadak memburu. Ayahnya tampaknya sudah mengetahui kalau anak gadisnya kabur dari sekolah elite demi mendatangi SMA Bina Karya dan menggagalkan rencana Nicholas. Badai asmara mereka ternyata belum usai. Tantangan dari Nicholas mungkin sudah berhasil mereka hancurkan, namun kini, sosok penguasa yang sesungguhnya dari keluarga Alisya yang akan langsung turun tangan untuk memisahkan mereka berdua.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/