NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.

Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?

Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Menikah

Darwin tersenyum. "Yang ada busnya."

Beberapa orang tertawa. Pertanyaan berikutnya datang sebelum ia sempat bernapas lega.

"Mau ke mana waktu itu?"

"Kabur." sahut Darwin sekenanya. Tawa di meja pecah lebih besar. Darwin ikut tertawa. Padahal jawaban itu setengah benar.

"Kabur dari siapa?" sahut yang lain.

"Kalau saya jawab nanti malah jadi buron polisi."

Tawa kembali terdengar. Suasana yang sempat menegang mulai mencair. Darwin mengambil segelas teh. Ia merasa mungkin mereka bisa lolos.

Lalu suara Bu Ratih muncul dari ujung meja. "Kinan, waktu pertama ketemu sama Darwin, langsung suka?"

Darwin hampir tersedak. Beberapa orang langsung menoleh ke Kinan. Pertanyaan itu jelas lebih berbahaya. Karena sekarang bukan soal fakta. Tapi perasaan. Dan perasaan tidak bisa diimprovisasi semudah terminal.

Kinan mengangkat wajah. Tatapan belasan orang menunggunya. Ia meletakkan gelas. "Tidak."

Jawabannya terlalu cepat.

Beberapa ibu langsung tertawa. Beberapa orang mengangguk kecil, seperti itu jawaban yang masuk akal.

Ibu tadi tersenyum lagi. “Berarti belum lama kenalnya?”

Darwin merasakan itu. Pertanyaan lanjutan.

Bagian yang bisa merobohkan semuanya. Ia membuka mulut lebih dulu. “Kami…”

Kinan memotong pelan. “Tidak terlalu lama.”

Darwin melirik cepat ke arahnya. Kinan melanjutkan tanpa perubahan ekspresi. “Beberapa bulan.” Jawaban itu terlalu rapi. Seolah sudah dipikirkan lebih dulu daripada yang lain.

Darwin mengikuti. “Iya,” katanya. “Beberapa bulan.”

Seorang warga lain mengangguk puas. “Wajar kalau cocok.” Kata itu jatuh begitu saja.

Darwin tidak menanggapi. Kinan juga. Tapi kata itu tidak hilang. Percakapan perlahan kembali bergerak. Topik bergeser. Makanan. Pekerjaan.

Cuaca.

Tapi di antara itu, sesekali masih ada pandangan yang singgah ke mereka. Menilai. Menyimpan.

Mengulang cerita yang baru saja dibentuk.

Darwin menunduk sedikit. Suara pelan keluar dari mulutnya tanpa menoleh. “Kalau kita salah sedikit saja…”

Kinan memotong pelan. “Kalau begitu jangan salah.”

Darwin menghembuskan napas pendek. “Baik.”

Ia diam sebentar. Lalu menambahkan, hampir seperti gumaman. “Berarti kita benar-benar harus jadi pasangan yang meyakinkan sekarang.”

Kinan tidak langsung menjawab. Sendoknya kembali bergerak. “Sudah dari tadi.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, penginapan gratis itu berakhir.

Udara masih dingin ketika Darwin keluar dari rumah belakang. Kabut tipis menggantung di ujung sawah. Di halaman, Bu Ratih sedang menyapu daun-daun kering yang jatuh semalam. Dua gelas teh panas sudah tersedia di meja teras.

"Bangun juga."

Darwin duduk dan menerima salah satu gelas.

"Terima kasih sudah menampung kami semalam."

"Sama-sama." Bu Ratih kembali menyapu. Tidak ada tanda menyuruh mereka pergi. Tapi juga tidak ada kalimat yang menawarkan malam kedua.

Darwin mengerti. Semalam adalah bantuan. Hari ini urusan mereka sendiri.

Beberapa menit kemudian, Kinan keluar. Rambutnya masih sedikit basah. Ia duduk di kursi sebelah tanpa bicara.

Bu Ratih menghentikan sapunya. "Lalu bagaimana?"

Darwin mengangkat kepala. "Bagaimana apa?"

"Mau tinggal di mana?" Pertanyaan itu jatuh begitu saja. Tidak ada yang menjawab. Karena memang belum ada jawaban.

Bu Ratih mengangguk kecil, seolah sudah menduga. " Pak Lurah mau ketemu kalian."

Darwin menoleh. "Kapan?"

"Sebentar lagi, temui beliau di Balai Desa."

.

Balai desa lebih ramai dibanding kemarin.

Motor berjejer di depan bangunan. Orang keluar masuk membawa map, berkas, dan kertas-kertas yang tidak pernah tampak penting sampai seseorang menunjukkannya ke wajahmu.

Pak Lurah duduk di ruang kerjanya. Di sampingnya ada seorang pria tua berkemeja putih yang belum pernah dilihat Darwin maupun Kinan.

"Masuk." Mereka duduk. Pak Lurah menutup map yang sedang dibacanya. "Langsung saja."

Darwin langsung tidak menyukai kalimat itu.

"Kalian mau tinggal di desa ini?"

"Untuk sementara," jawabnya.

Pak Lurah mengangguk. "Lama sementaranya?"

Darwin diam. Pak Lurah menunggu. Tapi Darwin dan Kinan tetap diam. Akhirnya Darwin menyerah. "Kami belum tahu."

"Itu masalahnya." Pria tua di sebelah Pak Lurah ikut mengangguk.

"Kalian bukan warga sini."

"Bukan. Kami pendatang."

"Tidak punya rumah di sini."

"Tidak."

"Tidak punya pekerjaan di sini."

"Tidak."

Pak Lurah menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Tapi tinggal serumah."

Ruangan mendadak sunyi. Kipas angin tua berputar pelan di atas kepala mereka. Darwin melirik Kinan. Kinan sedang menatap meja.

Pak Lurah membuka map lain. "Saya sudah tanya Bu Ratih."

Darwin langsung merasa tidak nyaman.

"Ini desa."

Darwin memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Di desa, berita berjalan lebih cepat daripada kendaraan.

Pak Lurah melanjutkan. "Semua orang mengira kalian suami istri."

Pak Lurah menatapnya beberapa detik. "Mas."

Darwin mendongak, " Iya, Pak Lurah."

"Kalau kalian bukan suami istri, bilang sekarang."

Kali ini ruangan benar-benar terasa sempit. Darwin membuka mulut. Lalu tidak jadi bicara.

Karena jawaban apa pun akan melahirkan pertanyaan baru.

Kalau bukan pasangan, kenapa tinggal bersama?

Kalau bukan pasangan, kenapa datang berdua?

Kalau bukan pasangan, kenapa tidak pulang?

Pak Lurah menunggu. Pria tua di sampingnya juga.

Kinan masih diam. Darwin menoleh. Tatapan mereka bertemu. Hanya sesaat.

Lalu Kinan berkata, "Kami berencana menikah."

Pak Lurah langsung bersandar. Seolah satu bagian persoalan baru saja selesai.

Darwin menoleh cepat. Kinan sudah kembali menatap depan.

"Berencana?" tanya Pak Lurah.

"Ya."

"Kapan?" Tidak ada jawaban. Pak Lurah mengetuk meja sekali.

Tok.

"Biar saya bantu."

Perut Darwin langsung terasa tidak enak.

Satu jam kemudian, keadaan sudah lepas dari kendali. Darwin bahkan tidak tahu kapan tepatnya semuanya mulai bergerak. Seseorang dipanggil. Orang lain datang membawa berkas.

Bu Ratih muncul membawa kantong plastik berisi makanan. Seorang ibu menawarkan diri menjadi saksi. Ada yang membicarakan penghulu. Ada yang membicarakan tempat acara. Ada yang menghitung kursi. Tidak ada satu pun yang bertanya apakah Darwin setuju. Semua bertindak seolah keputusan itu sudah dibuat jauh sebelum mereka tiba.

Darwin berdiri di sudut ruangan. Menatap keramaian kecil yang terbentuk karena dirinya.

"Ini gila."

Kinan berdiri di sampingnya. "Mungkin."

Darwin menoleh. "Mungkin?"

"Kita memang butuh tempat tinggal."

"Itu tidak berarti kita harus menikah sebelum makan siang."

Kinan tidak membantah. "Kalau ada pilihan lain, katakan."

Darwin membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Karena tidak ada yang bisa ia ucapkan.

Kinan kembali melihat ke depan. "Kalau kita pergi sekarang, kita kembali ke titik awal."

Darwin mengikuti arah pandangannya.

Pak Lurah sedang berbicara dengan beberapa warga sambil sesekali menunjuk ke arah mereka.

Tidak terlihat seperti orang yang akan menerima pembatalan dengan tenang.

"Dia serius."

"Ya."

"Seluruh desa juga serius."

"Ya."

Darwin mengembuskan napas panjang. "Tentu saja."

Menjelang siang, keadaan semakin buruk. Darwin belum memutuskan. Pak Lurah datang menghampiri mereka dengan wajah puas. "Saya sudah bicara dengan penghulu."

Darwin langsung berdiri tegak. "Tunggu."

"Tidak perlu besar-besaran."

"Saya bilang tunggu."

Pak Lurah tetap melanjutkan. "Yang penting sah."

Darwin menatap Kinan. Kinan menatap balik. Tidak ada kepanikan di wajah perempuan itu.

Tidak ada protes. Yang ada justru sesuatu yang lebih berbahaya. Penerimaan.

"Jangan lihat aku seperti itu," kata Kinan.

"Seperti apa?"

"Seolah ini ideku."

"Ini memang ide awalmu."

"Itu kemarin."

"Dan hari ini?"

Kinan mengangguk ke arah halaman. Darwin menoleh. Beberapa warga sedang menurunkan kursi plastik dari bak motor. Yang lain mulai menyusunnya di bawah pohon. Seorang ibu membawa nampan berisi gelas. Entah sejak kapan acara kecil itu mulai terbentuk.

"Kelihatannya," kata Kinan pelan, "hari ini sudah bukan ide siapa-siapa."

Darwin memperhatikan halaman yang semakin ramai. Lalu kursi-kursi itu. Lalu warga-warga itu.

Lalu Pak Lurah yang tampak terlalu bersemangat untuk seseorang yang bahkan bukan keluarga mereka. Melihat pemandangan itu, Darwin merasa benar-benar terpojok. Bukan oleh ancaman. Bukan oleh kekuatan. Bukan oleh uang. Melainkan oleh niat baik satu desa yang tidak memberinya ruang untuk kabur.

Pak Lurah menepuk bahunya sekali. "Tenang saja."

Darwin sama sekali tidak tenang.

"Biasanya pengantin memang gugup." Pak Lurah pergi lagi. Meninggalkan Darwin berdiri di tengah halaman yang terus berubah menjadi tempat pernikahan.

Di seberangnya, Kinan melipat kedua tangan. "Jadi?"

Darwin menatap kursi-kursi yang terus berdatangan. Menatap warga yang bekerja tanpa diminta. Menatap hidupnya yang berbelok terlalu tajam hanya dalam satu malam.

Lalu ia tertawa pendek. Bukan karena lucu. Karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. "Jadi," katanya, "sepertinya kita menikah hari ini."

1
Kayla Rane
tambah seruuu lihat aksi Kinan. kak indah mau masuk grup author gak. kalau mau chat japri yuk. tukeran no wa
Kayla Rane
lanjutt Thor tmbah seru
Kayla Rane
tuh kan bener. keukehh waeee... 🤨
Kayla Rane
huuuh dsr Roni rese. mau nyulik Sasa, ntar jd jaminan lagi nyuruh Linda kudu nandatangani surat lahan 😤
Kam1la: terimakasih kak...sudah berkomentar 👍👍
total 1 replies
Kayla Rane
Yee Kinan pahlawan wanita. gak nyangka ih Thor Kinan trnyata ahli bela diri /Joyful//Bye-Bye/
Kam1la: kan bos dia...😄
total 1 replies
Kayla Rane
Kinan ayo bantu Sasa! kasian ibunya
Kayla Rane
kesel si Roni, maksa pisan heuuh
Kayla Rane
bagus Linda lawan aja suamimu yg TDK tanggungjawab tapi sok tanggung jawab 😤
Kayla Rane
kasar ih s Roni, GK tau diri ga tau malu🤨
Kayla Rane
🥺 ya kasian linda
Kayla Rane
Andika siapa tiba2 Dateng, jahat apa baik ga ya orangnya /Scream/
Kayla Rane
yee keren banget kinan🤭💪
Kayla Rane
lanjut seru 🤭
Kayla Rane
haha lucuu/Joyful/ darwin
Kayla Rane
keren lanjutkan k😇
Kam1la: siap..
total 1 replies
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Kayla Rane
lanjutkan k😍
Kayla Rane
😍🤭 Darwin kapan jatuh cinta sama Kinan nya?
Kayla Rane
yeey udah nikah juga 😍
SANG
Keren 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!