"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merayu Radiah
"Hahahah... bocah kecil seperti kamu bisa apa saat tidak ada yang melindungi! aku.. aku akan memakan kamu seperti aku memakan kakak kakakmu!" ejek Luca tapi Rani sebisa mungkin tidak menanggapi omongan Luca.
"Kenapa kamu tidak bereaksi apapun? oh iya aku lupa kalau kamu itu tuli.... tapi kenapa aku tidak melihat masalah di telinga kamu itu? atau mungkin kamu berbohong?" ucap Luca mendekati Rani yang terus mundur.
"Pelgi kamu! Lani tidak takut!" bentak Rani
"Hahahhaha... pergi? aku tidak akan pergi sebelum membuat kamu tidak berani keluar kamar lagi, berikan apa yang kamu sembunyikan di saku pakaian kamu!" ucap Luca dan Rani kembali tidak merespon.
"Aakhhh! kenapa aku harus berurusan dengan anak tuli!" kesal Luca mencengkram leher Rani, tapi tiba tiba saja kilatan cahaya putih keluar dari saku pakaian Rani dan menyerang Luca yang langsung mundur karena terkejut.
"Apa itu" gumam Luca terus memperhatikan cahaya yang mengelilingi Rani, bahkan Rani langsung berlari ke dalam kamar selagi Luca masih berdiri karena terkejut.
Brak.
"Akhilnya.... Lani takut ayah, cepat ke sini" ucap Rani mengusap keringat di pelipisnya dan segera mengunci kamar itu.
Brak. Brak. Brak.
"Rani!" bentak Luca dan Rani segera bersembunyi ke dalam selimutnya, memeluk boneka pemberian Roman dan memejamkan matanya.
••••••••••••
Di kamar Radiah.
"Ibu ingin minum lagi?" tanya Roman yang masih merawat Radiah.
"Tidak, ibu hanya perlu istirahat saja, kenapa tiba tiba saja jadi panas, ibu khawatir Hatta curiga pada kita, minta Radini untuk tidak lupa memberikan jampi jampi pada Hatta supaya dia lupa kejadian ini" jawab Radiah
"Sepertinya Radini juga sedang melakukan itu Bu, tadi Hatta di bawa ke kamar biasa Radini masuk setiap tiga bulan sekali" jawab Roman
"Bagus, sudah seharusnya Hatta tidak terlalu banyak ikut campur, tunduk dan tidak banyak protes" ucap Radiah merebahkan badannya.
"Roman, jangan sekolahkan Rani di luar"
"Kenapa Bu?"
"Aku melihat Rani berbahaya, dia mungkin bisa mendengar nanti dengan alat bantu dengar itu, tapi dia punya energi keluarga Sukarna, dia akan di ikuti banyak iblis sesembahan ibu dulu, jangan biarkan dia keluar atau kamu akan sial" jawab Radiah
"Apa benar itu yang ibu lihat?" tanya Roman
"Iya"
Roman tidak mungkin berdebat dengan Radiah karena itu hanya akan membuat usahanya selama ini sia sia, apalagi sekarang dia sudah punya orang orang yang bisa dia percaya untuk di mintai tolong.
"Baiklah, Rani tidak akan sekolah tapi bolehkah Dirga datang untuk jadi guru les Rani?" tanya Roman
"Kenapa Dirga? kamu tahu kan tidak ada orang asing yang di perbolehkan masuk ke tempat ini!" ucap Radiah
"Karena hanya dia yang punya pendidikan tinggi di kampung ini, dia S3" jawab Roman
"Dia pernah mempermalukan kita dengan menolak Radini! apa kamu ingin melihat adikmu sedih!" bentak Radiah
"Tentu saja Roman tidak mau Bu, makanya Roman ingin Rani sekolah saja di tempatnya, Roman juga ingin tahu bagaimana Om Bintang mengurus perkebunan miliknya Bu, hasil panen kebun sayuran, padi, buah buahan miliknya adalah selalu yang terbaik, juragan Galuh juga dan kita hanya nomor dua Bu" jawab Roman membuat Radiah tertarik.
"Kamu yakin hanya itu tujuanmu?" tanya Radiah
"Tentu saja, ini demi kebaikan keluarga kita bu, untuk apa lagi, Rani juga nanti akan jadi seperti Radini kan" jawab Roman meyakinkan.
Radiah masih tetap menatap Roman dengan penuh rasa curiga, dia masih belum percaya anak yang sudah membuat tiga adiknya pergi itu ingin membantunya, tapi apa yang di tawarkan Roman juga tidak bisa di tolak.
"Baiklah, Rani boleh sekolah asal laki laki itu tidak menginjakkan kakinya dirumah ini" jawab Radiah
"Terima kasih Bu, Roman akan berusaha segera mendapatkan informasi tentang cara Om Bintang mengurus lahannya" ungkap Roman memeluk Radiah.
"Ya, pergilah ibu ingin istirahat"
"Obat ibu minum dulu, setelah itu ibu baru bisa istirahat"
"Kenapa kamu mirip sekali dengan ayah kamu, banyak bicara"
"Karena ayah kan suami ibu"
•••••••••••••
Pagi harinya.
"Selamat pagi dunia, Sahara sudah siap melihat banyak pelanggan tampan pagi ini" sapa Sahara yang sudah muncul di depan warung kopi Sadam.
"Pagi pagi begini pelanggan akan datang ke warung makan Gilang, ke kedai kopi ini nanti siang saat jam istirahat pabrik molring, para karyawannya akan ke sini, kalau jam segini paling bapak bapak yang mau ke sawah dan beli kue juga keroket buatan Kenanga" ucap Sadam yang sedang bersih bersih di tempatnya sedangkan Gilang sudah mulai menyiapkan beberapa lauk yang sudah matang di wadah.
"Ko bengkel Dimas masih sepi?" tanya Sahara heran
"Penglaris milikku kan ada di depan warung kopi Sadam makanya tidak ada pelanggan" jawab Dimas membuat Sahara tersipu malu.
"Hihihihi.... Sahara lupa kalau Sahara ini penglaris Dimas" jawab Sahara langsung memeluk pacar manusianya itu karena keduanya sudah berbaikan.
"Mari mari, mari beli... eh, mari datang ke bengkel Dimas, yang ban nya kempes, yang mobilnya mogok, motor mogok, habis bensin, habis uang jangan ke sini, yang patah hati dan yang banyak pikiran, mari datang, bengkel Mbah Dimas siap membantu!" teriak Sahara membuat Dimas tepuk jidat.
"Untung saja tidak ada yang bisa melihat dan mendengar dia, kalau ada, bisa malu Lo dim" ucap Gibran tertawa.
"Nama Mbah Dimas sepertinya sudah menempel di kepala orang orang dan para hantu" ucap Panji
"Sahara sudah cukup, aku malu kalau sampai di dengar para mahluk halus lain" ucap Dimas
"Tapi Sahara mau tunggu Roman di sini, rasanya akan ada berita bagus hari ini Dimas" jawab Sahara
"Sudah tahu, dia pasti akan mendaftarkan anaknya sekolah kan?" tanya Dimas mencibir
"Ko Dimas bisa tahu? Biasanya Sahara yang tahu duluan" kaget Sahara
"Ya tahu lah, Mbah Dimas gitu loh" jawab Dimas membuat para temannya shok.
Dimas tentu saja tahu, karena semalam Roman sudah mengirimkan pesan padanya kalau dia sudah berhasil membujuk Radiah untuk mengijinkan Rani bersekolah di tempat Dirga dengan alasan ingin tahu cara Bintang mengurus lahannya.
"Tidak bisa! Sahara harus bersemedi lagi ke gunung Kawi, siapa tahu mata batin Sahara terbuka" ucap Sahara
"Memangnya kamu manusia mau membuka mata batin, kerjaan kamu kan cuma buka bungkus nasi Padang saja" sinis Dimas
Sahara ayo neng bales it si rudin