NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Showbiz
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: velvetsky

Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.

Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.

Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.

Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gubuk Jerami (21+)

Sejak percakapan singkat di gubuk jerami pagi itu, Noah merasa keadaan justru semakin buruk.

Ia berharap setelah berbicara dengan Ellara, pikirannya akan sedikit lebih tenang. Ternyata tidak, justru sebaliknya. Setiap kata yang diucapkan gadis itu terus berputar di kepalanya.

"Kita berdua membuat kesalahan, dan sebaiknya kita melupakannya."

Noah berdiri di depan jendela kantornya sambil memandangi para pekerja yang lalu-lalang di halaman ranch. Sudah dua hari berlalu sejak percakapan itu. Dan selama dua hari itu pula Ellara berhasil menghindarinya lagi.

Entah bagaimana gadis itu selalu menemukan alasan untuk berada di tempat lain setiap kali Noah datang. Saat Noah berada di kandang utama, Ellara sedang membantu di padang latihan. Saat Noah menuju padang latihan, Ellara berada di gudang pakan.

Saat Noah mendatangi gudang pakan, gadis itu sudah pergi. Seolah sengaja, dan Noah mulai membencinya.

Bukan Ellara, melainkan kenyataan bahwa dirinya memperhatikan semua itu.

Ekor Mata Noah tak sengaja menangkap gadis itu sedang tertawa saat seekor kuda muda mencoba menarik tali kekang dari tangannya. Tawa sederhana, namun entah kenapa membuat Noah terus memperhatikannya. Sementara itu Ellara sedang berusaha keras menjalani hidup seperti biasa.

Setidaknya begitulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Meski kenyataannya tidak sesederhana itu, ia masih mengingat percakapannya dengan Noah di gubuk jerami. Terutama tatapan pria itu, tatapan yang terlihat tulus bingung. Seolah Noah sendiri tidak memahami apa yang sedang terjadi. Dan itu justru membuat Ellara semakin gelisah. Karena jika Noah bingung... Maka ia juga sama bingungnya.

Sore hari, langit sudah hampir mulai gelap. Noah berjalan menuju kandang tua bagian utara. Tempat yang lebih tenang dibanding area utama ranch. Tentu saja semua pekerja Ranch sudah menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke asrama pekerja. Ia sebenarnya datang untuk memeriksa seekor kuda yang baru sembuh dari cedera ringan. Namun saat membuka pintu kandang, ia berhenti.

Ellara masih ada di sana, sendirian. Gadis itu sedang menyisir surai seekor kuda cokelat tua dengan penuh kesabaran. Kuda itu tampak sangat nyaman di dekatnya. Kemudian, Ellara berjongkok di samping kaki depan kuda, memeriksa apakah ada kerikil atau lumpur yang terselip di sela tapaknya. Jemarinya bergerak hati-hati membersihkan kotoran yang menempel, sementara kuda tua itu tetap diam seolah mempercayainya sepenuhnya. Noah bersandar di kusen pintu, memperhatikannya tanpa sadar.

Noah tak berkedip memperhatikan Ellara. Dress katun yang dikenakannya sedikit mengendur di bagian leher akibat posisinya yang membungkuk. Cahaya lampu kandang yang hangat jatuh lembut pada kulit pucat di pangkal lehernya dan menampilkan belahan gundukan padat itu yang memang tercetak jelas oleh baju ketatnya. Noah yang berdiri di ambang pintu tanpa sadar menahan napas sesaat.

"Sial, pikiran macam apa ini". bathinnya. bahkan dalam situasi yang seperti ini pun dia tidak bisa menahan pikiran gilanya, terlihat konyol sekali.

Ellara akhirnya berdiri setelah selesai memeriksa kaki kuda itu. Dengan satu gerakan sederhana, ia menyelipkan rambut cokelat yang terlepas ke belakang telinganya. Hari itu cukup panjang. Beberapa jam bekerja di kandang membuat peluh tipis membasahi dahinya dan menempelkan beberapa helai rambut di sisi wajahnya. Cahaya lampu kuning hangat yang menggantung di langit-langit kandang memantulkan kilau lembut pada kulitnya. Saat itulah Ellara menoleh, dan mendapati Noah sedang berdiri di ambang pintu. Mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, waktu seolah melambat. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara kuda yang menggesekkan kuku ke lantai kayu dan desir angin malam yang masuk melalui celah dinding kandang. Jantung Ellara mendadak berdetak lebih cepat. Entah karena terkejut melihat Noah berada di sana, atau karena cara pria itu memandanginya. Noah sendiri tidak segera mengalihkan tatapannya. Ada sesuatu dalam sorot mata hazel milik Ellara yang selalu membuatnya sulit berpaling.

"Apa ada sesuatu yang ingin Tuan katakan?" Suara Ellara akhirnya memecahkan keheningan.

Noah berkedip pelan, seolah baru tersadar bahwa ia terlalu lama memperhatikannya. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Aku hanya ingin memeriksa kaki kuda yang terluka," kata Noah akhirnya.

Ellara mengangguk cepat. "Kalau begitu saya akan kembali ke asrama pekerja."

Suaranya terdengar lebih gugup daripada yang ia inginkan. Berada berdua dengan Noah di dalam kandang yang mulai sepi ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Pekerja lain sudah pulang, langit di luar hampir sepenuhnya gelap.

Hanya lampu-lampu kuning hangat yang masih menerangi lorong kandang.

Ellara segera meraih sikat kudanya dan berbalik menuju pintu. Namun baru beberapa langkah, suara Noah menghentikannya.

"Ellara." Gadis itu membeku, perlahan ia menoleh.

Keheningan kembali memenuhi kandang. Di kejauhan terdengar suara ringkikan seekor kuda. Noah melangkah mendekat satu langkah, tidak terlalu dekat.

Cukup untuk membuat Ellara menyadari betapa serius tatapannya.

"Aku tidak bisa berhenti memikirkan malam itu."

Ellara langsung menegang.

Noah mengusap tengkuknya frustrasi. "Dan itu yang membuatku kesal.

"Noah..." Untuk pertama kalinya, nama itu keluar begitu saja dari bibir Ellara. Bukan "Tuan", hanya Noah. Dan keduanya sama-sama menyadarinya.

Jantung Ellara langsung berdebar semakin kencang.

Sementara Noah hanya menatapnya dalam diam.

Seolah satu kata sederhana itu memiliki arti lebih besar daripada yang seharusnya.

Ellara seketika meraih gagang pintu. "Saya harus pergi," katanya gugup.

Namun sebelum sempat membukanya, sebuah tangan yang lebih besar lebih dulu menahan gagang pintu itu. Ellara membeku. Noah kini berdiri tepat di sampingnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Ellara dapat mencium aroma kulit, kuda, dan sedikit whiskey yang masih melekat samar pada pria itu. Dengan gerakan tenang, Noah mengambil alih gagang pintu yang sedang digenggam Ellara. Bukannya membuka, ia justru menutup pintu kandang rapat kembali. Bunyi kayu berderit pelan memecah keheningan. Ellara menahan napas, kini tidak ada lagi suara dari luar selain ringkikan samar beberapa kuda dan desir angin malam yang menyusup melalui celah-celah dinding kayu. Ruangan itu mendadak terasa sempit.

Noah melepaskan gagang pintu berbalik menghadapnya. Sorot matanya sulit dibaca.

"Kita perlu bicara."

Jantung Ellara berdegup lebih cepat.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."

"Ada." Jawaban Noah datang terlalu cepat.

Ellara menunduk, berusaha menghindari tatapan pria itu. Namun semakin ia mencoba menghindar, semakin ia menyadari keberadaan Noah di hadapannya.

Cahaya lampu kandang yang remang menciptakan bayangan lembut di wajah pria itu. Untuk pertama kalinya sejak malam di pondok tua, mereka benar-benar sendirian tanpa ada siapa pun yang mengganggu. Dan kenyataan itu membuat suasana di antara mereka terasa semakin menegangkan.

Langit di luar kandang sudah mulai gelap. Sisa-sisa cahaya senja berwarna keemasan masuk melalui celah-celah dinding kayu dan jendela kecil di bagian atas kandang. Namun sebagian besar ruangan kini bergantung pada lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat yang menyala di sepanjang lorong.

Cahaya itu tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk menerangi deretan kandang kuda dan tumpukan jerami di sudut ruangan. Bayangan lembut terbentuk di lantai kayu yang dipenuhi aroma jerami kering dan kulit pelana.

Langit di luar kandang sudah mulai gelap. Sisa-sisa cahaya senja berwarna keemasan masuk melalui celah-celah dinding kayu dan jendela kecil di bagian atas kandang. Namun sebagian besar ruangan kini bergantung pada lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat yang menyala di sepanjang lorong.

Cahaya itu tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk menerangi deretan kandang kuda dan tumpukan jerami di sudut ruangan. Bayangan lembut terbentuk di lantai kayu yang dipenuhi aroma jerami kering dan kulit pelana. Sesekali terdengar suara kuda menggesekkan kuku ke lantai atau meringkik pelan. Di luar, angin malam mulai bertiup membawa hawa sejuk dari perbukitan Kentucky.

Dalam pencahayaan remang yang hangat itu, rambut cokelat Ellara tampak berkilau lembut. Dari jarak sedekat itu, Noah dapat mencium aroma samar yang melekat pada Ellara. Bukan parfum mahal seperti yang biasa ia temui di pesta-pesta kota, melainkan aroma yang jauh lebih sederhana. Aroma matahari, jerami kering, dan peluh tipis setelah seharian bekerja di kandang kuda.

Cup..

Tanpa aba aba Noah melahap bibir Ellara yang begitu menggodanya sejak tadi, dia menahan tengkuk gadis itu supaya tidak kabur.

"Hhmmpphhh", Ellara memukul punggung Noah supaya pria itu melepaskannya, tapi Noah segera mengangkat tubuh gadis itu hingga berada dipangkuannya. Tangan Noah mulai bergerak liar mengusap punggung Ellara lalu turun ke B*kong besar gadis itu.

" Eeghhhh", ellara mencengkram bahu Noah saat pria itu meremas b*kong gadis itu dengan kuat.

Tangan Noah mulai menyingkap dress sedikit basah oleh keringat yang dikenakan Ellara, mengelus paha mulus gadis itu sambil sesekali meremasnya. Lidah Noah mulai menari nari didalam mulut gadis itu menciptakan suara suara yang begitu sensual. Ellara yang awalnya menolak mulai terbuai mulai terbuai dengan permainan panas Noah.

Cpcpcp..

Noah melepaskan tautan bibirnya lalu menatap lekat wajah Ellara, nafas keduanya terlihat memburu.

"Kau membuatku candu, Ellara". Suara Noah terdengar serak, sialnya terdengar begitu menggoda di telinga Ellara. Gadis itu menelan salivanya kasar, mencoba mewaraskan kembali otaknya.

Noah segera melahap kembali bibir Ellara dengan sedikit kasar dan menuntut. pria itu semakin liar dan beringas menciumnya. Bibir Noah mulai turun ke leher gadis itu. menyesap, menjilat, dan menggigitnya membuat darah Ellara berdesir.

"Eengghhhh", dia bergerak gelisah diatas Noah saat tangan pria itu sudah meremas kuat squishy besarnya sambil mencumbu lehernya penuh nafsu. Noah segera menggendong Ellara ala koala menuju tumpukan jerami di sudut ujung kandang.

1
chiara azmi fauziah
wow gila noah
Mila Sari
up nya bnyakin thor🤭🤭 jgn nanggung², g enak bet penasaran🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Titik Ristiana
mn lanjutannya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!