NovelToon NovelToon
Anak Kembar Mafia

Anak Kembar Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.

Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.

"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."



Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pria itu berhenti tepat di depan Fatir dan Fathia, tatapannya menelisik tajam ke arah tangan kecil yang kotor terkena noda hitam, lalu beralih ke wajah polos cemong-cemong dan berkeringat namun tetap menawarkan jasanya menjadi tukang semir sambil tersenyum.

Rahang Marco mengeras. Rasa kesal dan marah tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam dadanya. Bagaimana mungkin ada orang tua yang tega membiarkan anak sekecil ini bekerja di pinggir jalan, menumpahkan keringat demi uang receh? Padahal usia mereka seharusnya masih bermain, belajar, dan dimanjakan.

"Sepatu Om masih mengkilap begini, apanya yang mau kalian semir?" Tanya Marco, menyembunyikan ekpresi kesalnya, lalu berjongkok di hadapan dua anak kecil itu.

"Benar juga ya, Om..." Fatir meneliti sepatu pria itu, begitu juga Fathia.

"Wajah kalian kotor, sebaiknya kamu bersihkan," Marco menoleh ke arah supir yang masih berdiri di pinggir jalan, memberi isyarat agar membawakan tisue dari mobil.

Hanya dalam hitungan detik, supir menyerahkan tisue basah kepada bosnya. Marco pun menarik beberapa lembar lalu memberikan kepada Fatir dan Fathia.

"Terima kasih Om..." ucap keduanya sopan.

"Boleh Om Bantu..." ucap Marco, dalam hati kecilnya seolah menyuruh menggerakkan tangannya agar membersihkan wajah anak-anak itu.

"Tidak..." Fatir menarik tangan Fathia lalu berhadapan. Ia ingat pesan bunda untuk tidak mengizinkan anggota tubuhnya disentuh oleh orang lain.

"Dek, wajah kamu... hahaha..." Fatir menunjuk wajah Fathia tertawa keras, begitu juga sebaliknya, hingga keduanya sama-sama tertawa begitu sadar bahwa wajah mereka hitam di beberapa bagian hingga tidak bisa dikenali.

Marco yang melihat tingkah mereka ikut tertawa. Memandangi Fatir yang membersihkan wajah Fathia, gantian Fathia melakukan hal yang sama. Marco merasa menemukan sesuatu yang baru dalam hidupnya.

Marco terkejut ketika wajah Fatir dan Fathia sudah bersih, seperti melihat fotonya di album ketika masih kecil. "Jangan-jangan anak ini adalah..." batin Marco.

"Dari mana asal kalian? Di mana orang tua kalian?" tanya Marco mencecar, nada bicaranya terdengar kesal. Seperti apa orang tua yang tega membiarkan anak-anak sekecil ini menyemir di pinggir jalan yang terik. Pipi dua anak yang putih itu tampak merah karena sorot matahari naik ke emperan toko.

"Tidak jauh kok, Om..." jujur Fatir.

"Siapa yang menyuruh kalian bekerja begini? Apakah ayah atau ibu kalian tidak punya hati!" Ketus Marco.

Namun, pertanyaan Marco terdengar di telinga Fatir, seperti sebuah tuduhan yang ditujukan kepada bunda. Wajah Fatir seketika berubah serius. Ia meletakkan tisue di tangannya, lalu berdiri tegak meski tubuhnya kecil, menatap lurus ke mata pria tampan yang berpakaian sangat rapi dan mewah itu. Di matanya tak ada rasa takut, melainkan pembelaan yang kuat. Fathia yang sedari tadi diam pun ikut berdiri di samping kakaknya, menatap Marco dengan bibir mengerucut.

"Om tidak boleh bicara begitu, Bunda kami orang hebat!" Ketus Fatir, suaranya terdengar tegas memotong ucapan Marco. "Bunda kami tidak pernah menyuruh kami kerja begini! Bunda tidak tahu kami ada di sini!" Lanjutnya.

Marco tertegun, alisnya terangkat kaget. Ia tak menyangka anak kecil yang awalnya santun dan ramah tiba-tiba berubah kesal karena membela ibunya. Rasa kagetnya mendengar ucapan Fatir belum hilang, pembelaan Fathia terdengar tak kalah tajam.

"Kakak saya Benar Om, Bunda sebenarnya tidak mengizinkan kami bekerja apa-apa selain belajar, tapi ini kemauan saya sama Kak Fatir untuk membantu Bunda," sambung Fathia berkaca-kaca seolah tersinggung mendengar bunda mereka dikatai buruk.

Marco terdiam, rasa marah di dadanya perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang makin besar. Seperti apa sosok Ibu yang dibanggakan Fatir dan Fathia. Ia berjongkok agar sejajar dengan tinggi mereka, ingin mendengar penjelasan lebih lanjut.

"Om minta maaf, sekarang saya mengerti, tapi kalau boleh tahu, kemana Ayah kalian?" Tanya Marco hati-hati, begitu tahu Fatir dan Fathia sangat sensitif ketika orang tuanya disinggung.

Fatir dan Fathia saling pandang, lalu menggeleng. Selama ini ia tidak pernah tahu kemana sosok ayahnya. Setiap bertanya, bunda hanya mengatakan bahwa ayahnya sudah tiada.

"Sudah ya Om, kami ingin pulang," kata Fatir ketika suara adzan sudah berkumandang.

"Pulang?" Marco sebenarnya masih ingin tahu banyak tentang mereka.

 "Kata Bunda, tidak boleh meninggalkan shalat sebanyak apapun pekerjaan kami, Om."

Fatir memasukkan uang receh yang sudah mereka kumpulkan ke dalam plastik. Wajahnya tampak berbinar lega karena niatnya untuk mencari uang sudah berhasil.

Sementara Fathia membereskan alat sol ke dalam kotak seperti semula.

Marco hanya diam mematung melihat mereka. Kata-kata lugu dari dua anak kembar itu penuh makna dan terasa menamparnya keras. Ia semakin ingin tahu latar belakangnya. Di balik kemiskinan dan kesederhanaan itu, ada seorang wanita hebat yang berjuang mati-matian, dan ada dua anak yang sangat menyayangi serta menghargai ibunya.

Tanpa dua bocah itu sadari, Marco ambil dua helai rambut keduanya dari belakang lalu membungkusnya ke dalam tisue.

"Sekarang saya antar pulang pakai mobil ya..." Marco antusias. Namun, kedua anak itu menggeleng cepat.

Marko menatap kedua anak itu dengan dahi berkerut. Ia tidak menyangka penawarannya untuk mengantar pulang pun ditolak.

“Yakin, tidak mau Om antar?" Tanya Marco, berusaha meyakinkan Fatir dan Fathia sekali lagi.

“Terima kasih, Om. Kami biasa jalan kaki kok, tidak apa-apa," jawab Fatir, tidak tertarik dengan iming-iming Marco jika di dalam mobil ada permen.

Marko akhirnya mengangguk, tidak ingin memaksa dan membuat keduanya merasa tidak nyaman. Ia tersenyum tipis, lalu melambaikan tangan saat Fatir dan Fathia mulai melangkah pergi menjauh dari tempat itu.

Sementara Marco masih berdiri mengawasi punggung dua anak itu yang semakin menjauh, berjalan bergandengan seolah saling menjaga satu sama lain.

Setelah sosok mereka mulai samar di kejauhan, Marko masuk kembali ke dalam mobil. Ia duduk diam di kursi tengah, pikirannya terus tertuju pada kedua anak itu.

"Ikuti mereka, tapi pelan-pelan saja," Perintahnya kepada supir.

"Baik Tuan..." Tanpa pikir panjang, supir menyalakan mesin mobil dan menjalankan perlahan. Mulai mengikuti mereka dari jarak yang agak jauh, agar tidak terlihat dan tidak membuat mereka merasa diawasi.

Perjalanan itu berlangsung cukup lama. Akhirnya, Fatir dan Fathia berbelok ke sebuah gang sempit yang masuk ke dalam kawasan permukiman padat penduduk. Gang itu berkelok-kelok, diapit oleh rumah-rumah kontrakan yang berjejer rapat satu sama lain.

"Berhenti," titah Marco bermaksud memperhatikan mereka..

Ia melihat kedua anak itu terus berjalan masuk ke dalam gang. Di ujung sana, terlihat sebuah bangunan sederhana dengan dinding yang agak kusam dan atap yang terlihat sudah tua. Itulah tempat tinggal mereka, tempat mereka pulang dan beristirahat. Entah mengapa hati Marko merasa tidak tega melihat mereka masuk ke tempat seperti itu. Namun di sisi lain ia merasa lega, karena sudah memastikan tempat tinggal Fatir dan Fathia.

"Langsung ke rumah sakit," tegas Marco.

Supir itu tidak berani bertanya, untuk apa ke rumah sakit. Kali ini mengendara dengan kecepatan normal hingga tiba di tujuan.

 Marco tidak memerintahkan supir lagi, tapi masuk ke rumah sakit sendiri dengan langkah lebar menuju laboratorium. Tes DNA, itu yang akan dia lakukan.

...~Bersambung~...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
kan bener wati kiriman budimarco..haduih smg aja tr yasmin ga tantrum pas tsu semuay
@alfaton🤴
bener kan suruhan sang Marco......gimana kabarnya keluarganya Yasmin ya ....masa ga merasa kangen kasihan.....sejahat jahatnya mestinya ya masih punya rasa kangen ama anak ada cucunya lagi......udah lima tahun masa ga ingin ketemu sih
Eka ELissa
kan art kiriman Marco...🤣🤣🫣buat bantuin kmu di rumah yass
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
ardiana dili
lanjut
vj'z tri
kan udah di bayar 😅
vj'z tri
ini pasti ulah Dady Marco 😅
🌷💚SITI.R💚🌷
ini wati di kirim budimarcopolo kayanya
Rina
Semoga kalian selalu bahagia ya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Lia siti marlia
marco bisa aja ngerayu nya pake kasih perhiasan 🤗🤗kalau yasmin gak mau buat aku aja 🤭🤭🤭🤭
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
Eka ELissa
jngn 2 itu art yg di kirim Marco buat bntuin kmu...yass....
entah lah hanya emak yg tau
Eka ELissa
Marco udh jatuh cinta pada pandangan pertama yass dgn mu TPI kmrin dia lgi eror mknya lupa ma kmu yass 🤣🫣
Teh Yen
siapa yah itu ?
🌷💚SITI.R💚🌷
sopo mene iki
🌷💚SITI.R💚🌷
Aamiin. smg perjuangan kamu berhasil ya marcopolo walau pastiy ga mudah
🌷💚SITI.R💚🌷
lbh aman ya marcopolo dr pada ketahuan mau sunat
@alfaton🤴
kayaknya art buat kamu Yas.....biasa sang Marco pastinya yang nyuruh.....
@alfaton🤴
kamu pasti bohong kan Mar.......ga mungkin lah seorang pria memberi perhiasan tanpa pamrih.......dah kalau Yasmin ga mau nerima buat aku aja sini Mar......toh kamu ga ada maksud apa apa kan daripada nanti kamu buang kan sayang 😂😂😂😂😂
ardiana dili
lanjut
@alfaton🤴
lewat kotak itulah Yas yang nantinya akan ada jalinan......dua hati jadi satu keluarga .......maka diterima ya Yas....
🌷💚SITI.R💚🌷
kan udh tau tujuanya ngelamar kamu..tp caray aja marcopolo yg nyeleneh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!