NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Keputusan yang tak bisa dibantah

Malam di sebuah bengkel tongkrongan itu masih ramai oleh suara musik pelan dan deru motor yang sesekali melintas di jalan depan.

Di sudut paling belakang, empat pemuda duduk santai di atas motor masing-masing sambil mengobrol seperti biasa.

"Gue bilang juga apa," ujar Dhyo dengan kekehan kecil sembari memainkan kunci motornya. "Kalau lo terus narik gas di tikungan, ya bakal oleng."

"Oleng kepala lo," sahut Faris santai.

Faris Abimanyu Alzavian bersandar malas di motornya. Jaket hitamnya terbuka sedikit, rambutnya berantakan karena angin malam. Sementara wajahnya terlihat terlalu santai untuk ukuran anak sekolah yang sering membuat masalah.

"Yang jelas gue tetap finish duluan," lanjut Faris sambil memutar kaleng sodanya dengan malas.

Tatapan pemuda 18 tahun itu tajam, cara bicaranya tidak pernah ingin kalah, dan ekspresinya sering terlihat tidak peduli pada apapun. Tapi justru itu yang membuat Faris selalu jadi pusat perhatian di tongkrongan mereka.

Pemuda itu memiliki aura yang sulit dijelaskan, seenaknya sendiri, tengil, suka membantah, dan sering bicara sesuka hati. Namun anehnya, teman-temannya tetap nyaman berada di dekatnya.

Mungkin karena dibalik mulut pedasnya, Faris termasuk tipe yang selalu ada jika temannya benar-benar membutuhkan bantuan.

Lex langsung menyeringai. "Lo finish duluan karena lo udah kayak setan."

Andre tertawa kecil. "Bukan motornya, orangnya emang gak takut mati."

Faris menoleh ke arah teman-temannya. "Takut," jawabnya santai.

Dhyo yang sedari tadi memainkan kunci langsung menoleh, sebelah alisnya terangkat sedikit. "Takut apa?"

"Takut motor gue lecet," ujar Faris.

Seketika, tongkrongan itu langsung dipenuhi dengan suara tawa. Tawa mereka pecah di tengah suasana bengkel yang mulai dipenuhi dengan udara malam.

Bau oli bercampur asap rokok dan suara musik klasik dari speaker kecil membuat tempat itu terasa seperti dunia milik mereka sendiri. Dunia yang selalu sama hampir setiap malam.

"Sumpah ya, gue baru ini ketemu orang yang lebih sayang motor daripada hidupnya sendiri." ujar Dhyo.

"Karena motor gue mahal," sahut Faris santai.

"Dan otak lo murah," timpal Lex cepat.

Andre langsung menahan tawa ketika melihat Faris yang spontan melirik tajam ke arah Lex.

"Lo pengen gue lempar pake helm?" Ancam Faris.

Lex justru menyeringai lebar. "Nah tuh, mulai sensitif."

Faris berdecak pelan, lalu membuka kaleng sodanya. Ia kembali bersandar santai di motornya. Satu kaki menopang tubuhnya, sementara tatapannya mengarah ke jalan raya depan bengkel.

Udara malam menabrak wajahnya tanpa permisi, namun bagi Faris suasana seperti ini jauh lebih nyaman daripada rumah yang terlalu tenang.

"Besok jadi turun lagi, gak?" Tanya Andre tiba-tiba.

Faris mengangguk kecil, "Kalau gak hujan."

Dhyo tersenyum miring, satu tangannya menepuk punggung Faris. "Wah, calon juara sombong mulai bicara."

"Sombong pala lu." Timpal Faris.

"Gila, mulut lo emang gak bisa lembut dikit, ya?" Keluh Lex sambil tertawa.

Faris baru saja ingin membalas, ketika suara ponsel tiba-tiba terdengar dari atas jok motornya. Bunyi getarannya memotong obrolan mereka. Faris melirik layar ponselnya sejenak, menunjukkan nama 'Mama'.

Faris langsung mengambil ponselnya dari atas jok motor. Sebelum mengangkat panggilan, ia melirik ketiga sahabatnya yang masih sibuk tertawa sendiri. "Diem bentar," ujarnya singkat.

"Wih, panggilan negara," ujar Dhyo sembari menghembuskan asap rokoknya.

"Mulut lo," balas Faris datar.

Lex pura-pura merapikan posisi duduknya. "Siap, anak Mama mau briefing."

Andre justru menahan tawa sembari mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Faris kembali berdecak pelan sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu lalu menjauh sedikit dari mereka.

"Halo Mah-"

"FARIS ABIMANYU ALZAVIAN!" Suara ibunya langsung terdengar nyaring dari seberang telepon. "Sekarang kamu di mana?"

Faris refleks menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga sambil memejamkan mata sejenak. "Di luar, Mah."

"Diluar itu di mana? Mama udah bilang jangan pulang malam terus!" Omel ibunya lagi.

Faris menghela nafas pelan. Di belakangnya, Dhyo langsung menunduk sambil menggigit bibir, mati-matian menahan tawa. Lex bahkan sudah memalingkan wajah diikuti bahunya yang bergetar kecil. Sementara Andre hanya geleng-geleng kepala melihat Faris yang biasanya paling nyolot sekarang malah diam kena omel.

"Ini juga bentar lagi pulang," ujar Faris pada akhirnya.

"Kamu bilang bentar dari tadi sore!" Seru ibunya.

Faris langsung mengusap wajahnya pelan. Sial, Dhyo yang tidak tahan akhirnya berbisik ke Lex, cukup pelan tapi masih terdengar. "Pembalap liar kalah sama Mama sendiri."

Lex langsung menahan tawanya dengan menutup mulut. Faris melirik tajam ke arah mereka sebelum menutup sedikit bagian bawah ponselnya.

"Diem!"

"Faris?" Suara ibunya kembali terdengar curiga. "Kamu ngomong sama siapa?"

Faris kembali bersuara. "Enggak Mah, ini... Temen."

Ibunya menghela nafas panjang dari seberang sana. "Pokoknya sekarang pulang." Nada suaranya lebih serius dari tadi. "Mama sama Papa mau ngomongin sesuatu."

Faris langsung mengernyit. "Mau ngomong apa?"

"Nanti kita bahas di rumah," ujar ibunya.

Penuturan sang ibu membuat Faris semakin curiga. Ia langsung mengacak rambutnya asal sambil berjalan beberapa langkah dari tongkrongan.

"Mah, jangan bikin Faris overthinking." Ujarnya.

"Kalau kamu gak bikin masalah, harusnya kamu gak overthinking."

Kalimat itu langsung membuat Faris terdiam sesaat. Pikirannya spontan melayang ke satu hal, balapan liar.

"Mama udah tau?" Ujar Faris lirih.

"Hah? Tau apa?" Sahut ibunya cepat.

Faris buru-buru berdehem kecil. "Enggak... Gak ada."

Di belakang sana, Dhyo masih memperhatikan Faris dengan wajah penuh curiga sambil berbisik ke Lex dan Andre.

"Itu muka orang yang hidupnya bentar lagi kelar," ujar Dhyo.

Keduanya mengangguk setuju, sementara Faris masih berdiri dengan ekspresi tidak tenang.

"Pokoknya pulang sekarang!" Ujar ibunya lagi. "Mama tunggu."

Tuut!

Panggilan itu langsung terputus. Faris menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu terputus. Sunyi, lalu ia berdecak pelan sambil memasukkan ponselnya ke saku jaket.

Perasaan Faris semakin tidak enak, dan itu jarang terjadi pada dirinya. Ia berjalan kembali ke arah motornya dengan wajah berubah sedikit lebih serius dari tadi.

Dhyo langsung menyeringai begitu melihat ekspresi Faris. "Kenapa tuh muka?" Godanya. "Udah siap dipensiunkan?"

"Mulut lo emang harus dilakban dulu baru normal, ya?" Ujar Faris datar.

Lex tertawa kecil sambil menunjuk Faris. "Fix, ini pasti soal balapan minggu kemarin."

Andre ikut mengangguk pelan. "Kayaknya orang tua lo udah tau, deh."

Perkataan mereka berhasil membuat Faris semakin kesal. Ia langsung mengambil helmnya dengan gerakan kasar. "Jangan ngomong sembarangan."

"Waduh," ujar Dhyo sambil menepuk dada, pura-pura prihatin. "Turut berdukacita buat almarhum Faris."

"Gue masih hidup, goblok!" Ujar Faris sambil melotot tajam.

Dhyo malah semakin menjadi-jadi. "Motor disita, hidup hancur, dan pembalap liar pensiun dini."

"Dhyo," ujar Faris dingin.

"Besok kita tahlilan aja kali, ya," lanjut Dhyo santai.

Pluk!

Faris spontan melempar sarung tangannya ke arah Dhyo. Temannya itu langsung tertawa ngakak bersama Lex dan Andre.

"Temen laknat," gerutu Faris sambil memakai helmnya.

Dhyo masih tertawa tanpa dosa, "Hati-hati di jalan calon anak baik."

"Bacot."

Meski mulutnya tetap nyolot seperti biasa, Faris sebenarnya mulai kepikiran sendiri. Kalau memang orang tuanya tahu soal balapan, habislah ia malam ini.

Faris akhirnya menaiki motor dan menghidupkan mesinnya. "Gue duluan," ujarnya sambil berlalu pergi.

Beberapa menit kemudian, Faris akhirnya tiba di rumah. Begitu mematikan mesin motornya, ia sempat terdiam sejenak. Tatapannya mengarah ke pintu rumah yang masih terbuka dengan lampu ruang tengah menyala terang.

Perasaannya semakin tidak karuan. Faris menghela nafas pelan sebelum akhirnya melepas helmnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

Dan benar saja, kedua orang tuanya sudah menunggu di sana. Ibunya duduk dengan wajah tenang, sementara ayahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya. Faris langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Habis gue," batinnya.

Pemuda itu baru saja ingin membuka suara, namun suara ayahnya terdengar lebih dulu berbicara.

"Duduk, Faris," suara ayahnya tegas, juga serius.

Faris langsung diam tanpa bantahan. Ia berjalan mendekat lalu duduk di sofa seberang kedua orang tuanya. Meski berusaha terlihat santai, jemarinya tetap bergerak gelisah memainkan kunci motor di tangannya.

Untuk pertama kalinya malam itu, Faris merasa ruang tengah rumahnya lebih menyeramkan daripada jalanan balapan tengah malam.

Suasana ruang tengah itu terasa canggung beberapa saat. Faris duduk bersandar setengah malas, tapi pikirannya sendiri sibuk menebak-nebak kesalahan apa yang akhirnya terbongkar malam ini. Balapan, atau mungkin nilai sekolahnya yang belakangan ini memang agak mengenaskan?

"Mama mau tanya sesuatu," ujar ibunya.

Faris mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"

Ibunya tersenyum tipis. "Kamu punya pacar gak?"

"Hah?" Faris langsung mengernyit.

Pertanyaan itu benar-benar di luar ekspektasinya. Bukan ceramah, bukan omelan, bukan juga soal kesalahannya. Ia bahkan sempat menatap ibunya beberapa detik, memastikan ia tidak salah mendengar.

"Enggak ada," ujar Faris jujur pada akhirnya.

"Serius?" Ujar ibunya meyakinkan.

"Iya," jawab Faris singkat.

"Gak bohong?"

Faris langsung berdecak kecil. "Ngapain bohong sih soal beginian?"

Dan memang itu kenyatannya. Faris bukan tipe cowok yang suka hubungan serius. Dekat dengan cewek? Sering. Tapi kalau sampai benar-benar pacaran, itu beda cerita.

Hidupnya saja sudah cukup ribet dengan sekolah, tongkrongan, dan balapan. Mana sempat ia memikirkan hubungan yang terlalu serius.

Ayahnya yang sedari tadi diam akhirnya menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya lurus ke arah Faris. "Kalau begitu," ujarnya tenang. "Berarti tidak ada masalah."

Faris mengernyit, "Maksudnya?"

Ayahnya menarik nafas sejenak, sebelum melanjutkan kalimat berikutnya. "Kamu akan dijodohkan."

Faris langsung diam. Otaknya seperti berhenti bekerja beberapa saat. "Apa?"

"Kamu akan menikah," ujar ayahnya tenang, terlalu tenang malah.

Jantung Faris langsung terasa nyeri, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia spontan menatap kedua orang tuanya bergantian dengan ekspresi tidak percaya.

"Nikah?" Ulangnya pelan. "Sama siapa?"

Ibunya tersenyum tipis, seolah sudah mengetahui reaksi putranya. "Anak sahabat Mama."

Faris langsung mengacak rambutnya kasar. "Oke, ini gak lucu."

"Ini serius," ujar ibunya.

Kalimat itu sukses membuat ekspresi Faris perlahan berubah datar. Bukan tenang, tapi terlalu kaget sampai bingung harus bereaksi bagaimana.

"Kalian bahkan sudah dijodohkan sejak kecil," lanjut ibunya lagi. "Dari bayi."

"Hah?"

Faris menatap kosong beberapa detik. Lalu, ia langsung berdiri dari duduknya. "Enggak... Wait! Ini makin gak masuk akal!"

"Duduk Faris," titah ayahnya tenang.

"Pa, ini nikah!" Protes Faris frustasi. "Bukan tugas kelompok sekolah!"

"Duduk!"

Nada tegas ayahnya membuat Faris akhirnya mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya kembali duduk.

"Sama siapa emangnya?" Tanya Faris tidak sabar.

Ibunya kembali tersenyum. "Tyasabella Almeera."

Dan detik itu juga, Faris langsung membeku. "Siapa?"

"Tyasabella Almeera, anak sahabat Mama," ulang ibunya.

Faris langsung menatap tidak percaya ke arah kedua orang tuanya. "Tyasabella?"

Ibunya mengangguk santai, sementara Faris langsung menggeleng cepat. "Enggak!"

"Mama serius mau nikahin Faris sama cewek itu?" Faris menunjuk dirinya sendiri. "Cewek yang tiap hari ketemu Faris selalu ribut."

"Berarti kalian akrab," ujar ibunya santai.

"Itu bukan akrab, Mah!" Ujar Faris tidak terima. "Itu perang dunia."

Ayahnya menghela nafas pelan. "Faris."

"Enggak Pah, serius." Faris mulai mondar-mandir di ruangan itu, merasa frustrasi. "Faris gak mau!"

"Kalau bisa, pernikahannya juga dilakukan secepatnya," ujar ibunya tetap tenang.

Faris tersedak ludahnya sendiri. "HAH?!" Ia kemudian menatap ibunya seperti baru saja mendapatkan ancaman hidup. "Secepatnya?! Faris masih sekolah, Mah!"

Ayahnya menimpali, "Ibunya Tya sakit. Kondisinya semakin menurun, dan sekarang beliau ingin melihat Tya menikah sebelum terlambat."

Ruangan itu hening sesaat, tapi Faris belum bisa menerima semuanya begitu saja. "Terus hubungannya sama Faris, apa?"

Ayahnya menatap Faris lama. "Karena dari awal, keluarga mereka percaya kalau kamu yang akan menjaga Tya nanti."

Faris langsung memijat pelipisnya, "Masalahnya Faris aja gak bisa jaga diri sendiri, Pah."

Ibunya masih mencoba membujuk dengan sabar. "Kamu mau ya menikah sama Tya?"

Faris langsung menggeleng cepat, "Enggak!"

"Tya itu anak baik," lanjut ibunya.

"Dan juga galak," sahut Faris cepat.

Ayahnya langsung melirik tajam, sementara Faris berdehem kecil. "Pokoknya Faris gak mau."

"Oke," ujar ibunya santai. "Kalau kamu nolak, motor kamu Mama sita."

Faris langsung menatap ibunya cepat. "Apa?!"

"Motor kamu Mama ambil."

Dan belum selesai sampai disitu. Ayahnya ikut menyahut datar. "Semua fasilitas yang Papa kasih juga dicabut."

Faris benar-benar terdiam kali ini, pikirannya langsung penuh. Di antara semuanya, satu hal yang paling membuatnya panik tetap motor kesayangannya. Jika motor itu disita, otomatis ia tak bisa ikut balapan lagi.

Faris kembali mengacak rambutnya, diselingi dengan helaan nafas kasar. "Ini pemaksaan!"

"Ini keputusan keluarga," jawab ayahnya tenang.

Faris mencoba memohon lagi meski tenaganya hampir habis. "Mah... Motor jangan dibawa-bawa lah."

"Berarti kamu lebih sayang motor daripada Mama?" Ujar ibunya.

"Itu beda kasus."

"Keputusan Papa sama Mama udah bulat," sahut ayahnya.

Faris langsung menutup wajahnya sejenak dengan kedua tangan. Sial, malam ini benar-benar menjebaknya. Beberapa detik berlalu, Faris menghela nafas panjang penuh kekalahan.

"Baik," jawabnya pasrah.

Ibunya langsung tersenyum lega. Namun, Faris kembali menatap kedua orang tuanya datar. "Tapi kalau tiap hari ribut sama dia," ujarnya ketus.

"Jangan salahin Faris!"

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!