Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Wanita Biasa
Sret!
"Lepaskan aku, bajingan! Kubilang lepaskan!"
Vivian yang kini berada dalam tubuh Arini yang kurus dan lusuh terus memberontak saat dua penjaga berbadan kekar mencekal kedua tangannya di atas rumput halaman belakang paviliun. Gaun murahannya kotor terkena tanah, namun sepasang matanya menyala penuh amarah.
Langkah kaki yang berat dan berwibawa perlahan mendekat. Tekanan di sekitar halaman itu mendadak turun drastis, menjadi begitu mencekam hingga para penjaga refleks menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Kayden Gilbert berjalan maju dengan aura membunuh yang pekat.
Jantung Vivian berdegup kencang saat sepasang matanya berselisih dengan sosok pria itu. Detik itu juga, napas Vivian sempat tertahan.
Sialan, umpatnya dalam hati.
Vivian sama sekali tidak menyangka kalau setelah empat tahun berlalu, suaminya justru terlihat jauh lebih tampan, matang, dan perkasa. Tubuh Kayden tampak begitu gagah, tegap, dan berotot di balik kemeja hitamnya yang kancing atasnya terbuka. Pria itu benar-benar menjaga bentuk fisiknya dengan sangat baik.
Namun, rasa kagum itu langsung berganti dengan rasa jengkel yang membakar dada Vivian.
Katanya dulu tidak bisa hidup tanpaku. Katanya duniaku runtuh kalau aku mati. Tapi lihat sekarang! Kamu malah berubah drastis jadi monster kejam, menelantarkan putri kita, dan malah punya anak laki-laki lain! Anak dari wanita mana, hah?! Dasar laki-laki munafik!
Isi hati Vivian berteriak murka.
Vivian membuka mulutnya, bersiap untuk mencaci-maki pria di depannya. Namun, belum sempat satu kata pun keluar, Kayden sudah melangkah lebar ke arahnya.
Greb!
Tanpa peringatan, tangan besar Kayden bergerak secepat kilat, mencengkeram rahang Vivian dengan sangat kuat hingga bibir wanita itu maju berkerut.
Vivian sedikit bergidik. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas netra hitam Kayden yang sedingin es kutub, tajam, dan memancarkan aura menakutkan yang bisa membuat nyali orang biasa rontok seketika. Tapi, Vivian bukanlah wanita biasa. Dia adalah seorang Marvis. Ia memaksa dirinya untuk tetap tenang, menatap balik mata suaminya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Respons tenang itu sontak membuat Kayden kesal sekaligus merasa aneh. Biasanya, wanita mana pun yang disusupkan musuh akan langsung menangis histeris atau memohon ampun jika dicengkeram oleh 'Iblis Black Valley'. Tapi wanita lusuh di depannya ini justru menatapnya dengan pandangan... menantang? Dan anehnya, ada kilatan kemarahan yang tidak asing di mata itu.
"Siapa kamu?" tanya Kayden dengan suara berat yang bergetar rendah, menekan rahang Vivian lebih dalam. "Dan siapa bajingan yang mengirimmu kemari?"
Vivian kesulitan berbicara karena cengkraman kuat itu, namun dengan sisa tenaganya, ia menjawab dengan satu kata yang tegas.
"Istrimu!"
Deg.
Tangan Kayden seketika mematung. Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik.
Namun, sedetik kemudian, Kayden perlahan melepaskan cengkramannya. Sudut bibirnya terangkat, dan pria itu tiba-tiba tertawa.
"Hahaha..."
Tawa yang renyah namun terdengar begitu dingin dan hampa. Di belakangnya, Davin dan para penjaga sontak merinding ketakutan. Ini adalah pertama kalinya dalam empat tahun terakhir mereka mendengar bos mereka tertawa, dan tawa itu terdengar seperti lonceng kematian. Kayden menganggap ucapan wanita itu adalah lelucon paling bodoh yang pernah ia dengar.
Kayden berhenti tertawa. Wajahnya kembali datar, dan suaranya berubah menjadi berat, tegas, serta penuh ancaman yang menusuk tulang. "Istriku sudah tiada empat tahun yang lalu. Jadi, katakan skenario gila apa lagi yang sedang kau mainkan, Penyusup?"
Vivian yang bebas dari cengkeraman langsung mengomel habis-habisan di dalam hatinya.
Sombong sekali bajingan ini! Sikapnya benar-benar menyebalkan dan sok berkuasa! Awas saja kamu, Kayden, setelah ini akan kubuat kamu berlutut memohon ampun di kakiku!
Vivian ingin sekali berteriak jujur saat ini juga. Ia ingin mengatakan bahwa dia adalah Vivian Marvis yang jiwanya berpindah ke raga ini.
"Dengar, aku adalah—"
Sebelum kata 'Vivian' sempat lolos dari bibirnya, tiba-tiba rasa sakit yang teramat sangat menghantam kepala tubuh barunya.
Efek transmigrasi dan kelelahan karena dihantam masalah mantan suami Arini di rumah kumuh tadi rupanya membuat tubuh Arini mencapai batasnya. Pandangan mata Vivian mendadak berputar hebat. Segalanya bergoyang, lalu berubah menjadi gelap gulita dalam sekejap.
Bruk!
Tubuh ringkih itu ambruk dan terkapar pingsan di atas rumput halaman.
Kayden tersentak kaget. Ia refleks mundur selangkah, menatap wanita yang baru saja mengklaim diri sebagai istrinya itu dengan dahi berkerut dalam. Ia bahkan belum menyentuh atau melakukan apa pun lagi, tapi wanita itu sudah pingsan duluan.
"Dia takut padaku tapi berani mati-matian masuk kemari?" gumam Kayden heran. "Apa sebenarnya yang dia inginkan?"
Davin yang sejak tadi memperhatikan interaksi aneh itu melangkah maju. Sebagai asisten yang cerdas, ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari wanita lusuh ini. Tatapan matanya terlalu berani untuk ukuran penyusup amatir.
"Tuan, wanita ini sangat mencurigakan. Sebaiknya kita bawa dia masuk terlebih dahulu untuk diselidiki setelah dia sadar," saran Davin dengan sopan.
Kayden diam sejenak, menatap tubuh pingsan yang kotor terkena tanah itu dengan pandangan dingin. Akhirnya, ia menghela napas pendek dan berbalik badan.
"Bawa dia masuk. Davin, angkat dia," perintah Kayden mutlak sembari melangkah pergi kembali menuju paviliun.
Davin seketika melongo. Ia agak kaget karena biasanya tugas-tugas kotor seperti mengangkat penyusup lusuh diserahkan kepada para penjaga bawahannya, bukan dirinya yang merupakan asisten eksekutif bertangan dingin. Tapi, ya sudahlah. Davin hanya bisa pasrah dan menuruti perintah bos besarnya yang temperamental itu.
Kayden berjalan kembali ke dalam paviliun, namun di dalam kepalanya, satu kata yang diucapkan wanita lusuh tadi terus terngiang-ngiang bagai kutukan.
Istriku? Istriku hanya satu, dan itu Vivian Marvis! Yang lain hanyalah sampah busuk…
.
.
To be continued...
Benarkah Kayden punya gundik?