NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Bernama Keluarga

Malam itu, sesampainya aku kembali ke kosan setelah berkeliling bersama Aldo di perpustakaan, aku sama sekali tak bisa memejamkan mata.

Bukan lagi karena bayangan Reza—rasanya aku sudah terlalu lelah untuk terus memikirkannya. Bukan pula karena rasa takut yang sama hebatnya seperti yang kurasakan semalam. Yang membuat mataku tetap terjaga hingga larut hanyalah kata‑kata Aldo, yang terus berputar berulang‑ulang di dalam kepalaku persis seperti piringan kaset yang rusak.

“Ibu meminta dan melarangku untuk berhenti bertemu denganmu mulai saat ini juga.”

“Aku belum bisa menjelaskan apa ini sebenarnya, tapi satu hal yang aku tahu dengan pasti: aku tidak mau kehilangan momen‑momen bersamamu ini. Aku tidak mau kehilangan kamu, Tari.”

Aku tidak mau kehilangan kamu…

Kalimat itu begitu sederhana—tanpa hiasan indah, tanpa janji‑janji muluk yang sulit dipenuhi. Namun entah mengapa, rasanya jauh lebih kuat dan menyentuh hati dibandingkan ribuan ungkapan cinta yang pernah Reza ucapkan kepadaku selama dua setengah tahun lamanya.

Aku terus saja berguling‑guling di atas kasur sempitku, memeluk guling erat‑erat seolah benda itu bisa menjadi pengganti sosoknya, sambil membayangkan kembali wajah Aldo saat mengucapkan kalimat itu. Aku mengingat jelas sorot matanya yang tampak sayu namun tulus, garis rahangnya yang mengeras menahan perasaan, serta tangannya yang dengan lembut namun mantap menjalin jemariku.

“Apakah ini namanya jatuh cinta?” gumamku dalam hati, penuh keraguan. “Atau sekadar rasa ketergantungan emosional karena aku baru saja keluar dari hubungan yang penuh kepahitan dan kesepian?”

Aku tak tahu jawabannya.

Namun satu hal yang aku pahami benar: setiap kali wajah Aldo terlintas di pikiranku, dadaku terasa hangat dan nyaman—persis seperti memegang secangkir teh chamomile yang masih mengepul, tersedia tepat saat udara pagi terasa dingin menusuk tulang. Sebaliknya, setiap kali aku membayangkan kemungkinan tak akan pernah bertemu dengannya lagi, ada ruang kosong yang terasa luas dan sunyi di dadaku—seolah ada bagian dari diriku yang hilang entah ke mana.

Sekitar pukul setengah dua belas malam, ponsel di samping bantal bergetar pelan.

Pesan masuk dari Aldo:

“Kamu masih terjaga, Tari?”

Senyum kecil seketika merekah di bibirku. Sepertinya dia bisa menebak apa yang sedang kurasakan, seolah dia tahu persis bahwa aku takkan bisa tidur nyenyak malam ini.

“Masih bangun. Kamu juga belum tidur ya?” balasku.

“Iya. Pikiran sedang kacau sekali rasanya.”

“Karena Ibumu, ya?”

“Iya. Dan karena… banyak hal lain yang sedang berputar di kepala.”

Aku menggigit pelan bibir bawahku, berpikir sejenak sebelum mengetik jawaban yang tepat. Akhirnya aku tulis saja dengan jujur:

“Kalau begitu, ceritakan saja semuanya padaku.”

Di layar, muncul tanda tiga titik—tanda bahwa dia sedang mengetik. Lalu tanda itu hilang. Muncul lagi, lalu hilang lagi. Berulang kali. Seolah‑olah dia sedang bergulat mencari kata‑kata yang sulit untuk diucapkan.

Hingga akhirnya pesan itu masuk juga.

“Ibu meminta kita bertemu besok sore. Jam empat, di restoran langganan Ibu di kawasan Menteng.”

Detak jantungku seakan berhenti sejenak. Aku langsung duduk tegak di atas kasur, mataku terbelalak menatap layar yang remang itu.

“Kita berdua? Maksudnya… aku juga harus ikut?”

“Betul. Ibu ingin bertemu langsung denganmu.”

“Tapi… untuk apa?”

“Dia bilang ingin ‘mengenalmu’ lebih dekat. Tapi aku sudah paham betul watak Ibu. Ini bukan sekadar perkenalan biasa. Ini lebih terasa seperti… upaya untuk menekan dan mengintimidasi.”

Bibirku terasa pahit. Aku menggigitnya cukup kuat hingga terasa nyeri, hampir berdarah. Wanita yang dimaksud adalah Bu Dewi—istri teman arisan Ibuku, wanita yang sangat disegani sekaligus ditakuti di lingkungan tempat tinggal kami. Sosoknya tinggi tegap, berbicara tegas, dan memiliki tatapan tajam yang seolah bisa membuat siapa saja merasa kecil dan tak berdaya di hadapannya. Aku memang sudah beberapa kali bertemu dengannya saat acara keluarga, tapi tak pernah sekalipun kami mengobrol lama.

Dan sekarang, dia mengundangku secara khusus, di tempat yang ia pilih sendiri, di tengah situasi yang sudah pasti penuh ketegangan.

“Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana, Aldo. Jujur saja… aku takut sekali.”

“Tak usah takut berlebihan. Aku akan ada tepat di sampingmu sepanjang waktu. Aku takkan pergi ke mana‑mana meninggalkanmu.”

“Tapi Ibumu… dia pasti sangat marah padaku.”

“Biar saja dia marah. Aku ini sudah dewasa, Tari. Aku punya hak penuh untuk menentukan jalan hidupku sendiri.”

Aku menatap pesan itu cukup lama. Di sini letak perbedaannya yang nyata: Aldo berani. Dia benar‑benar berani menentang keinginan ibunya demi pendiriannya sendiri—sesuatu yang bahkan Reza tak pernah sanggup lakukan. Reza selalu menunduk patuh pada segala perkataan ibunya, selalu menuruti apa saja yang diminta, meski hal itu sering kali menyakiti hatiku.

Tapi Aldo… Aldo berbeda.

Dan perbedaan itulah yang justru membuatku semakin gelisah. Bukan takut pada Aldo, melainkan takut pada perasaanku sendiri—takut karena semakin hari, semakin sulit bagiku membayangkan hidupku berjalan tanpa kehadirannya.

“Baiklah kalau begitu. Di mana aku harus menunggu?” tanyaku akhirnya.

“Besok jam tiga sore aku sudah akan menjemputmu di depan kosan.”

“Baiklah. Aku tunggu.”

Aku meletakkan kembali ponsel di samping bantal, lalu memejamkan mata. Namun tidur tak kunjung datang. Yang memenuhi pikiranku hanyalah bayangan pertemuan esok hari: Bu Dewi dengan sorot matanya yang tajam, kata‑kata pedas yang mungkin akan terlontar dari bibirnya, dan Aldo yang berusaha berdiri tegar melindungiku di tengah badai yang akan datang.

***

Keesokan harinya, pukul tiga kurang seperempat, Aldo sudah tiba di depan kosan.

Ia tampak berbeda dari biasanya. Mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih bersih, disetrika rapi tanpa satu pun kerutan—penampilan yang serius dan formal. Wajahnya pun tampak kaku dan tegas, tanpa senyum lembut yang biasa menghiasi bibirnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, membuatnya terlihat jauh lebih dewasa, namun juga terasa sedikit asing di mataku.

“Kamu sudah siap?” tanyanya singkat saat aku masuk ke dalam mobil.

Aku mengangguk pelan, meski dalam hati aku tahu: aku belum siap sama sekali. Tak ada manusia yang bisa benar‑benar siap menghadapi situasi seperti ini.

Aldo menyalakan mesin kendaraan, lalu mobil bergerak perlahan meninggalkan gang sempit depan kosan. Saat itulah rintik hujan mulai turun, perlahan namun pasti, dan dalam hitungan menit saja sudah berubah menjadi guyuran deras yang membasahi seluruh jalanan. Karet penghapus kaca bergerak maju‑mundur dengan irama yang tetap, persis seperti detak jantungku yang berusaha keras tetap tenang meski penuh kegelisahan.

“Ada hal yang ingin kusampaikan sebelum kita sampai ke sana,” ucap Aldo tiba‑tiba, matanya tetap menatap lurus ke jalan raya di depan kami.

“Apa itu?”

“Apapun yang nanti dikatakan Ibuku kepadamu—sekeras apa pun, setajam apa pun—jangan sampai kamu masukkan ke dalam hati. Ibu memang wanita yang bicara pedas dan tegas, tapi sebenarnya ada rasa takut yang ia sembunyikan di balik semua itu.”

“Takut akan apa?” tanyaku penasaran.

Aldo menghela napas panjang sambil memutar setir menghindari genangan air.

“Takut kehilangan kendali atas segala sesuatu di sekelilingnya. Takut anak‑anaknya tumbuh dewasa dan hidup di luar aturan yang ia buat. Takut apa kata tetangga dan kerabat mengenai nama baik keluarga kami.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. “Ibuku tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat tradisional dan kaku. Baginya, segala sesuatu yang sedikit saja menyimpang dari norma yang berlaku dianggap sebagai ancaman besar.”

Aku menatap wajah sampingnya—garis hidung yang mancung, rahang yang tegas, serta bekas luka halus di atas alis kirinya yang baru kusadari keberadaannya. Ia tampak begitu tegar dan kuat, namun aku bisa menangkap kerutan halus di dahinya—tanda bahwa ia pun sebenarnya merasa gelisah dan berat hati menghadapi semua ini.

“Kamu… sangat menyayangi Ibumu, bukan?” tanyaku berhati‑hati, takut salah bicara.

Aldo tersenyum tipis—senyum yang terbit di bibir namun tak sampai menyentuh matanya.

“Tentu saja aku sayang padanya. Tapi rasa sayang itu bukan berarti aku harus selalu setuju dengan segala hal yang ia lakukan, bukan? Justru menurutku, rasa sayang yang sejati kadang mengharuskan kita berani membantah dan menegur saat orang yang kita sayangi sedang berada di jalan yang keliru.”

“Kata‑kata yang cukup berat untuk dijalani,” gumamku pelan.

“Itulah salah satu hal yang kupelajari selama menekuni ilmu psikologi,” jawabnya tenang. “Cinta bukan berarti penundukan diri tanpa syarat.”

Kami berdua tertawa kecil—suara tawa yang sengaja dibuat ringan untuk mengurangi ketegangan di udara, meski beban di bahu kami terasa belum berkurang sedikit pun.

***

Restoran yang dituju terletak di kawasan elit Menteng.

Tempatnya sangat mewah, jauh lebih megah dibandingkan kafe tempat kami bertemu kemarin, bahkan lebih istimewa dibandingkan tempat pertemuan pertama kami yang saat itu sekadar perjodohan. Dindingnya dilapisi marmer putih yang berkilau, lampu‑lampu kristal besar menggantung rendah di langit‑langit tinggi, serta meja‑meja dari kayu mahoni yang ditutupi taplak sutra berwarna merah marun yang elegan. Udara di dalamnya beraroma harum bunga segar yang dipadu dengan wangi masakan Prancis yang lezat menguar dari arah dapur.

Seorang pelayan berjas hitam rapi menyambut kami tepat di depan pintu masuk.

“Selamat sore, Tuan. Apakah Anda sudah memiliki nomor pemesanan?”

“Aldo Pratama. Saya sudah memesan tempat untuk empat orang,” jawab Aldo dengan nada tenang.

Pelayan itu memeriksa buku catatan di tangannya, lalu mengangguk hormat. “Silakan ikut saya ke dalam, Tuan.”

Kami berjalan mengikuti pelayan itu melewati ruang makan utama yang luas, menuju ruang tertutup khusus di bagian belakang gedung. Setiap langkahku terasa begitu berat, persis seolah kakiku terbuat dari timah yang sulit diangkat. Namun Aldo sepertinya peka terhadap kegugupanku; tanpa banyak bicara, ia meraih tanganku dengan lembut lalu menggenggamnya erat—sebuah isyarat yang memberiku kekuatan.

“Aku ada di sini bersamamu,” bisiknya pelan agar hanya aku yang mendengar.

Aku mengangguk, menarik napas panjang sebanyak‑banyaknya, lalu berusaha menenangkan detak jantungku yang kencang.

Pelayan membukakan pintu ruang khusus itu lebar‑lebar.

Di dalam, sudah ada dua orang yang duduk menunggu di sekeliling meja bundar yang tertutup taplak sutra putih bersih. Seorang wanita paruh baya dengan rambut pendek yang disisir klimis rapi, wajah yang terukur tegas, dan sepasang mata tajam yang langsung menatapku sedetik setelah pintu terbuka. Ia mengenakan kebaya lengan panjang berwarna biru tua, dihiasi bros emas berkilau di bagian dada. Di sebelahnya duduk seorang pria berkumis tebal, wajahnya bulat dan ramah, dengan perut buncit yang terbungkus rapi dalam kemeja bermotif batik berwarna coklat—tak lain adalah paman Aldo, adik dari ibunya.

Itu pasti Bu Dewi. Aku takkan mungkin salah mengenali sosok itu.

Aldo segera menarikkan kursi untukku, baru kemudian duduk di sebelahku. Kami berhadapan langsung dengan ibunya.

“Selamat sore, Ibu. Selamat sore, Pakde,” sapa Aldo dengan nada yang penuh penghormatan namun tetap datar dan tenang. “Perkenalkan, ini Tari.”

Aku menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. “Selamat sore, Bu Dewi. Selamat sore, Pak.”

Bu Dewi tidak langsung menyahut. Ia menatapku lekat‑lekat, meneliti penampilan dan pakaianku dari ujung rambut hingga ujung kaki, persis seperti orang yang sedang menilai kualitas barang dagangan. Tatapannya sedingin es—tak ada senyum, tak ada keramahan. Aku berusaha memaksakan senyum sopan, namun rasanya kaku sekali di wajahku.

“Anaknya Tante Yuni, kan?” akhirnya terdengar suara Bu Dewi, nadanya datar tanpa emosi.

“Benar, Bu,” jawabku.

Bu Dewi menghela napas panjang. Jari‑jemarinya yang jenjang dan berhias cincin emas berkilau mengetuk‑ketuk pinggiran meja dengan irama yang tetap: tik… tik… tik… suara yang membuat detak jantungku makin tak beraturan.

“Nak Tari,” panggilnya dengan nada yang membuatku menegakkan punggung, “apakah kamu tahu alasan mengapa kamu kami undang ke sini?”

Aku menelan ludah susah payah. “Kata Aldo… Bu Dewi ingin mengenal saya lebih dekat.”

Bu Dewi mendengus pelan, terdengar tak setuju. “Aldo memang selalu berbicara terlalu halus. Sebenarnya saya mengundangmu untuk meluruskan banyak hal yang sudah terjadi.”

Ia melirik sekilas ke arah Aldo, lalu kembali menatapku tajam.

“Nak Tari, kamu adalah mantan kekasih Reza—anak sulung saya.”

Kalimat itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan yang tegas dan pasti.

“Iya, Bu.”

“Dan tak lama setelah berpisah dengan Reza, kamu langsung terlihat akrab dan dekat dengan Aldo. Baru beberapa hari berlalu saja.”

Masih sebuah pernyataan tanpa tanya.

“Memang benar demikian, Bu.”

Bu Dewi menyilangkan kedua tangannya di dada, sikapnya makin menutup diri. “Menurut pendapatmu sendiri, apakah hal itu tidak terasa aneh dan kurang pantas, Nak?”

Dadaku seketika terasa sesak dan sempit. “Bu Dewi, saya sama sekali tidak bermaksud—”

“Biarkan saya yang bicara dulu sampai selesai.” Bu Dewi mengangkat tangan kanannya sedikit, memotong pembicaraanku dengan tegas. “Keluarga kami adalah keluarga yang terhormat dan dijaga nama baiknya. Ayah saya pensiunan Jenderal Angkatan Darat. Suami saya pengusaha yang sukses dan dihormati banyak orang. Saya sendiri menjabat sebagai ketua PKK di perumahan kami. Kami punya kedudukan yang harus dijaga agar tetap bersih dari fitnah.”

Bu Dewi mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya menatap tepat ke manik mataku.

“Dan kamu, Nak Tari… datang ke tengah‑tengah keluarga kami, menimbulkan keributan dan masalah dengan Reza, lalu tak lama kemudian berusaha mendekati Aldo—adik kandungnya sendiri. Kamu kira kami tidak mengerti maksud dan tujuanmu yang sesungguhnya?”

Rasanya dadaku makin terasa tercekik. Kata‑kata Bu Dewi menusuk tajam seperti jarum dingin, tanpa ampun, seolah aku adalah orang yang penuh rencana buruk.

“Bu Dewi, sungguh saya tidak pernah berniat melakukan hal‑hal buruk seperti itu—”

“Tidak pernah berniat apa? Tidak pernah berniat merebut hati Aldo dari kami?” potong Bu Dewi makin keras suaranya. “Kamu kira saya ini bodoh dan tidak tahu apa‑apa? Saya sudah mendengar semuanya. Saya tahu kamu datang menemui Aldo di kafe tempo hari. Saya tahu Aldo mendatangi kosmu saat hujan deras malam itu. Saya tahu kalian sering berdua‑duaan dan…”

“IBU!”

Suara Aldo memotong keras, menggema memenuhi ruangan tertutup itu. Bu Dewi terdiam seketika, tampak terkejut—karena jarang sekali anaknya yang berani memotong dan membantah bicaranya secara langsung begini.

Aldo berdiri tegak dari kursinya. Wajahnya tampak pucat, namun matanya bersinar penuh tekad yang tak bisa ditawar.

“Cukup, Bu,” ucapnya, suaranya sedikit bergetar namun tetap tegas dan mantap. “Sudah cukup.”

Bu Dewi menyipitkan mata menatap anak keduanya itu. “Apa katamu?”

“Aku bilang, sudah cukup,” ulang Aldo dengan napas panjang untuk menenangkan diri. “Selama bertahun‑tahun aku sudah mendengar segala ucapan Ibu. Ibu selalu bilang aku belum cukup baik. Bilang aku harus meniru segala tingkah Reza agar disukai orang. Bilang aku hanyalah anak kedua yang tak terlalu penting. Bilang setiap pilihan yang aku ambil selalu salah dan keliru.”

Ruangan hening seketika. Bahkan Paman Aldo yang sedari tadi diam pun hanya menatap dengan penuh perhatian.

“Namun Tari… Tari tak pernah sekali pun bicara buruk seperti itu kepadaku,” lanjut Aldo, nadanya melembut namun tetap tegas. “Tari selalu mendengarkan pendapatku dengan baik. Dia menghargai apa pun yang aku katakan. Bersama dia, aku merasa diri ini… cukup berharga.”

Aldo menatap tepat ke arah ibunya, matanya mulai berkaca‑kaca menahan haru.

“Aku memang belum tahu ke mana hubungan ini akan membawa kami berdua, Bu. Tapi aku berjanji takkan membiarkan siapa pun—bahkan Ibu sendiri—menghina atau merendahkan orang yang sangat aku pedulikan.”

Kesunyian yang panjang menyelimuti ruangan itu. Hingga aku bisa mendengar jelas suara detak jantungku sendiri yang berdebar kencang di telinga.

Bu Dewi perlahan memejamkan matanya. Tangannya yang sedari tadi tampak gemetar menahan emosi kini terbaring diam di atas pangkuan, seolah kehilangan seluruh kekuatannya. Saat ia kembali membuka mata, aku melihat sesuatu yang sama sekali tak kuduga akan kulihat hari itu.

Butiran air mata.

Bu Dewi—wanita yang tegas, yang disegani, yang selalu tampak kuat dan tak tersentuh—sedang menangis.

“Aldo…” suaranya terdengar pecah dan bergetar. “Ibu melakukan semua ini… hanya karena takut kamu terluka. Ibu hanya menginginkan hal‑hal yang terbaik untuk masa depanmu.”

“Aku mengerti niat baik Ibu,” jawab Aldo, lalu duduk kembali di kursinya. Nada bicaranya kini berubah menjadi lembut dan menyejukkan hati. “Tapi biarkanlah aku sendiri yang menentukan apa yang sesungguhnya terbaik bagi diriku dan hidupku, Bu.”

Bu Dewi mengusap air matanya dengan punggung tangan—gerakan yang tiba‑tiba membuatnya tampak sama seperti ibu‑ibu biasa lainnya, bukan lagi sebagai nyonya besar yang menakutkan.

“Kamu keras kepala sekali… persis seperti ayahmu dulu,” gumamnya, setengah tertawa kecil namun masih disertai isak tertahan.

Aldo tersenyum tipis. “Kata orang, itu adalah sifat yang terpuji karena berani memegang teguh pendirian.”

“Belum tentu selalu baik,” sanggah Bu Dewi pelan.

“Setidaknya itu jujur dan apa adanya,” jawab Aldo tenang.

Bu Dewi menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya kepadaku. Tatapannya tak lagi sedingin es seperti saat kami baru masuk. Masih ada keraguan, masih ada ketidakpercayaan yang tersisa, namun di balik itu tampak pula rasa lelah yang mendalam—rasa lelah karena terlalu lama memegang kendali dan berperang sendirian.

“Nak Tari,” panggilnya.

“Iya, Bu Dewi.”

Bu Dewi menatapku cukup lama, seolah sedang mencari kebenaran yang tersembunyi di balik wajahku.

“Apakah kamu… benar‑benar menyayangi Aldo?”

Pertanyaan itu membuatku tersentak kaget. Aku menoleh ke samping, menatap Aldo—ia pun sedang menatapku dengan lembut, menunggu jawabanku tanpa memaksa sedikit pun.

“Saya…” aku menelan ludah, berusaha menyusun kata‑kata yang paling jujur dan tepat. “Jujur saja, Bu… saya belum bisa memastikan apakah ini namanya cinta sejati atau belum. Tapi satu hal yang saya yakini benar: setiap kali saya bersama Aldo, saya merasa aman dan tenang. Saya merasa didengarkan, dipahami, dan diterima apa adanya. Bersamanya, saya bisa menjadi diriku sendiri sepenuhnya.”

Aku memberanikan diri menatap lurus ke manik mata Bu Dewi.

“Dan satu janji saya, Bu: saya takkan pernah berniat menyakiti hati Aldo, sengaja maupun tidak sengaja. Saya berjanji.”

Bu Dewi mengangguk perlahan, seolah menerima jawabanku itu. Ia terdiam sejenak, menatap ke arah jendela kaca tempat hujan masih turun dengan deras membasahi kota.

“Sebenarnya… saya masih belum sepenuhnya setuju dengan semua ini,” ucapnya akhirnya dengan suara berat. “Tapi saya sudah terlalu lelah untuk terus bertengkar dan melarang‑melarang.”

Bu Dewi berdiri perlahan, disusul oleh Paman Aldo yang sedari tadi hanya diam mengamati.

“Ibu ingin pulang sekarang,” katanya seraya merapikan ujung kebaya yang kusut sedikit. “Aldo, antarkan Nak Tari pulang ke kosannya dengan selamat. Hati‑hati di jalan, cuaca sedang buruk.”

“Terima kasih, Bu,” jawab Aldo sambil ikut berdiri.

Bu Dewi tak menjawab lagi. Ia hanya berjalan keluar ruangan dengan langkah yang tetap tegap dan anggun, diikuti oleh Paman Aldo yang bergumam pelan tak terdengar jelas maknanya. Pintu tertutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan aku dan Aldo berdua saja di ruang makan mewah yang seketika terasa begitu sunyi.

Aku menatap Aldo. Ia pun menatapku. Dan entah bagaimana, tanpa rencana apa pun, aku tertawa.

Aldo mengangkat alisnya bingung namun ikut tersenyum. “Ada apa ini? Kenapa tiba‑tiba tertawa?”

“Entahlah…” jawabku di sela‑sela tawa yang bercampur dengan air mata bahagia yang mulai menetes. “Aku hanya… merasa sangat lega. Rasanya beban berat di dada baru saja terangkat semuanya.”

Aldo tertawa lebar, senyum yang tulus dan cerah hingga membuat seluruh wajahnya tampak bersinar bahagia.

“Aku juga merasakan hal yang sama persis,” akunya.

Di dalam mobil, saat kami kembali melaju menembus hujan.

Air masih turun dengan deras, membuat jalanan Jakarta tampak licin dan mulai tergenang air di beberapa titik rendah. Lampu‑lampu kendaraan dan bangunan kota tampak buram dan berbayang di balik kaca jendela yang terus terkena butiran air.

“Aldo,” panggilku pelan.

“Iya?” jawabnya seraya menoleh sebentar.

“Kamu… sungguh berani sekali bicara seberani itu kepada Ibumu. Aku sama sekali tak menyangka kamu akan bertindak sedemikian tegas.”

Aldo tersenyum tipis, matanya kembali fokus mengemudi.

“Jujur saja, aku pun tak menyangka akan mampu melakukannya. Sebelum datang ke sini, aku sudah membayangkan segala kemungkinan buruk: dimarahi habis‑habisan, mungkin dilarang pulang ke rumah, atau…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah, “…atau Ibu mengusirku dan bilang aku bukan anaknya lagi.”

“Tapi hal buruk itu tidak terjadi,” gumamku.

“Benar. Tidak terjadi,” jawabnya lega. “Mungkin ternyata Ibu lebih pengertian daripada yang aku duga selama ini. Atau mungkin… dia sudah terlalu lama memendam rasa lelah mengurus segalanya sendirian.”

“Atau mungkin,” potongku pelan, “dia sangat menyayangimu hingga akhirnya dia sadar: kebahagiaanmu itu jauh lebih penting daripada segala aturan dan nama baik yang dia jaga selama ini.”

Aldo menoleh sekilas ke arahku, tersenyum hangat. “Kamu memang pandai merangkai kata‑kata indah ya, Tari.”

“Aku kan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Merangkai kata yang indah itu sudah jadi tuntutan dan kewajiban pekerjaan kelak,” jawabku bangga.

Aldo tertawa renyah, suaranya mengalir ringan dan membuat suasana di dalam mobil yang dingin karena hujan terasa jauh lebih hangat dan nyaman.

“Tari,” panggilnya lagi tak lama kemudian.

“Iya?”

“Aku sangat bersyukur… kamu ada di sini bersamaku saat ini.”

Aku tersenyum lebar hingga pipiku terasa kencang. “Aku juga bersyukur, Aldo. Sangat bersyukur.”

Mobil terus melaju perlahan membelah hujan, membawa kami menuju kosanku di Depok. Dan di dalam dadaku, tumbuhlah sebuah perasaan yang makin lama makin kuat—perasaan yang sulit untuk disangkal, sulit untuk disembunyikan, dan makin sulit untuk didefinisikan dengan kata‑kata biasa.

Mungkin inilah yang orang‑orang sebut sebagai cinta.

Mungkin belum.

Namun setidaknya, untuk saat ini, aku tak perlu terburu‑buru memberinya nama atau label tertentu.

Aku hanya ingin menikmati setiap detik dari perjalanan ini—perjalanan yang penuh liku, penuh kejutan dan drama, namun juga penuh dengan kehangatan dan ketenangan hati yang sudah lama kucari namun baru kutemukan sekarang, bersamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!