Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Jejak yang Makin Jelas
Cahaya fajar mulai merembes masuk lewat celah atap, berubah dari kelabu samar menjadi putih kekuningan perlahan. Suara jangkrik yang semula riuh sepanjang malam mulai meredup, digantikan oleh kicau burung yang baru bangun di dahan pohon sekitar.
Kael masih berdiri di dekat jendela. Jaketnya basah terkena embun yang terbawa angin, tapi dia tidak bergeser sedikit pun. Matanya masih tertuju ke jalanan yang mulai terlihat jelas, sementara jari-jarinya terus memutar koin perak dengan irama yang tidak berubah sejak berjam-jam tadi.
Niko melipat peta lusuh itu, lalu memasukkannya ke dalam gulungan kain kecil dan menyimpannya di sudut rak kayu. Dia mengusap wajahnya yang terasa kaku, lalu menggerakkan bahunya perlahan untuk melancarkan aliran darah.
Bastian sudah kembali ke tempat latihannya. Dia memukul karung pasir itu dengan tenaga yang terukur, satu demi satu, setiap hentakan disertai napas yang dihembuskan perlahan. Keringat mulai membasahi punggung dan lengannya, menetes jatuh ke lantai membentuk titik-titik basah.
Mikhael menyalakan api baru di tungku. Asap tipis mengepul naik ke atas, menyelinap keluar lewat lubang di atap. Dia meletakkan panci berisi air di atasnya, lalu memasukkan segenggam beras dan sedikit garam. Suara air yang mulai mendidih terdengar lembut, mengisi keheningan pagi itu.
Langkah kaki ringan terdengar lagi dari luar. Pintu terbuka, dan Lio masuk dengan rambut basah, sepatunya berlumpur sampai ke mata kaki. Dia menutup pintu pelan, lalu melangkah mendekat dengan napas yang masih teratur.
Dia mengangkat satu tangan, lalu menggeleng sedikit sambil mengernyitkan dahi.
"Gerobak itu berhenti di bekas tempat penyimpanan ikan di ujung dermaga," bisiknya. "Mereka membongkarnya, memindahkan kotak-kotak itu ke dalam ruangan yang terkunci rapat. Tidak ada yang keluar masuk sesudah itu, kecuali satu orang yang berjalan ke arah kota pusat."
Kael memutar koinnya satu kali lagi, lalu menggenggamnya erat. Dia berbalik menghadap mereka.
"Orang itu?" tanyanya singkat.
"Pakaiannya hitam, topinya menutupi wajah. Jalan tegap, tidak melirik ke kiri kanan. Seolah dia tahu persis ke mana harus melangkah."
Niko sudah mengambil sepotong arang halus, lalu menorehkan garis di atas papan kayu kosong yang dipakai sebagai papan tulis darurat. Garis lurus dari arah dermaga, membelah jalan utama, lalu berhenti di satu titik di tengah.
"Kalau terus lurus, itu arah ke tempat pengumpulan pajak. Tapi jalannya memutar banyak cabang, mudah menghilang."
Bastian berhenti memukul karung. Dia mengelap dahinya dengan lengan baju, lalu menatap garis yang tergambar itu.
"Kita ikuti saja. Kalau dia membawa pesan atau laporan, pasti ketemu orang yang lebih tinggi."
Kael melangkah ke tengah ruangan. Dia menoleh ke arah sudut tempat Arda berbaring. Selimutnya masih menutupi kepala, tapi dari bawah kain itu terdengar suara menguap panjang, disusul bunyi gesekan kain saat tubuh itu bergerak.
Ujung selimut ditarik ke bawah, menampakkan wajah Arda yang masih mengantuk. Dia mengedipkan mata berkali-kali, lalu mengangkat satu tangan menggaruk rambutnya yang acak-acakan.
"Sudah pagi?" tanyanya dengan suara serak.
"Sudah. Air nasi sebentar lagi matang," jawab Mikhael sambil mengaduk panci.
Arda duduk perlahan, lalu menjulurkan kakinya ke lantai yang dingin. Dia mengerutkan hidung mencium bau asap dan nasi yang mulai matang, lalu menoleh ke arah mereka yang sedang berkumpul. Matanya melirik ke papan bergaris, lalu ke wajah Lio yang masih berdiri di dekat pintu.
"Masih soal orang berjubah itu?" tanyanya tanpa menunggu jawaban.
Kael mengangguk singkat. "Mereka memindahkan barang semalam. Kita harus tahu apa isinya."
Arda menghela napas panjang. Dia meraba saku jaketnya, mengeluarkan segenggam kacang, lalu mulai mengupasnya satu per satu. Gerakannya lambat, seolah setiap gerakan membutuhkan tenaga ekstra.
"Kalau isinya makanan, tidak perlu ditutup rapat. Kalau isinya barang dagangan biasa, tidak perlu bergerak di malam hari lewat jalan gelap."
Dia memasukkan biji kacang ke mulutnya, mengunyah pelan, lalu menatap mereka satu per satu.
"Jadi pasti sesuatu yang tidak boleh dilihat orang biasa. Semakin ditutup rapat, semakin berbahaya isinya."
Tidak ada yang menimpali. Kata-katanya sederhana, tapi langsung ke intinya.
Mikhael mengambil mangkuk kayu, menuangkan nasi yang sudah matang ke dalamnya, lalu menambahkan sedikit garam dan minyak goreng sisa. Dia meletakkannya di depan Arda terlebih dahulu.
"Makan dulu. Hari ini mungkin akan banyak bergerak."
Arda mengambil mangkuk itu, lalu meniup uap panasnya perlahan. Tangannya bergerak mengambil sendok, tapi sebelum menyentuh mulutnya, dia berhenti sebentar. Matanya melirik ke arah Kael lagi.
"Jangan terlalu dalam menyelidiki," ucapnya pelan. "Kalau mereka berani bergerak begini, berarti mereka sudah siap menjaga rahasianya sampai mati. Semakin dekat kalian, semakin besar risikonya."
Kael menunduk sedikit, lalu mengangguk. Dia tahu peringatan itu bukan tanpa alasan.
Setelah makan seadanya, mereka bergerak perlahan. Tidak ada yang terburu-buru. Bastian memakai jaket abu-abu biasa, tidak terlalu mencolok. Niko membawa keranjang anyaman kosong di tangannya, seolah hendak pergi ke pasar. Mikhael membawa sebilah tongkat pendek untuk berjalan, bukan untuk berkelahi. Kael berjalan paling belakang, tangannya dimasukkan ke dalam saku, matanya menatap sekeliling dengan pandangan yang santai tapi tidak luput satu gerakan pun.
Di dalam pabrik yang kini sepi kembali, Arda tetap duduk di tempatnya. Dia menghabiskan sisa nasi, lalu menyandarkan punggungnya ke tumpukan karung. Matanya menatap ke arah pintu yang tertutup, lalu menghela napas lagi.
Dia tahu mereka tidak akan berhenti. Rasa ingin tahu dan tanggung jawab itu sudah tertanam kuat di hati sahabat-sahabatnya. Dan dia juga tahu, semakin jauh mereka melangkah, semakin cepat saatnya dia harus bergerak — sesuatu yang dia harapkan bisa ditunda selama mungkin.
Di ujung jalan dermaga, di balik jendela kayu yang tertutup rapat, sepasang mata mengintip lewat celah kecil. Orang itu melihat ke arah jalanan yang mulai ramai, melihat sosok-sosok yang melintas, lalu menarik kepalanya kembali ke dalam ruangan gelap.
Dia berjalan mendekati tumpukan kotak yang terikat rapat, menyentuh salah satu sisinya dengan telapak tangan, lalu tersenyum samar.
"Segera saja..." bisiknya pelan. "Segera semuanya akan berjalan sesuai rencana."
Bersambung...