Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Kemarahan
Bab 7 - Kemarahan
Keesokan paginya Senopati berangkat ke perusahaan grup Aditama, tanpa bertemu dengan Raisa, pernikahannya hanya dalam hitungan hari lagi, ia akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum acara pernikahannya.
Sesampainya di kantor ia di sambut para karyawan dan menyapanya penuh hormat. Hari ini banyak agenda yang akan ia lakukan termaksud bertemu beberapa klien, termaksud klien dari Eropa.
Begitu melangkah masuk ke ruang kerjanya yang luas dan mewah di lantai paling atas gedung pencakar langit milik Grup Aditama, suasana yang tadinya dipenuhi kekacauan perasaan perlahan berganti menjadi ketegasan dan fokus. Di sini, Senopati bukan lagi pria yang sedang bingung memahami hatinya, melainkan seorang pemimpin tangguh yang menentukan arah berjalan ribuan karyawan dan aset bernilai triliunan rupiah.
Sekretaris pribadinya sudah menunggu di depan meja, membawa setumpuk berkas dan jadwal yang disusun rapi.
"Selamat pagi, Tuan. Berikut laporan perkembangan proyek pembangunan pusat komersial di luar kota, serta data kerjasama yang akan dibahas dengan delegasi dari Eropa nanti siang," lapor wanita itu dengan nada sopan dan teratur.
Senopati mengangguk singkat, meletakkan jas kerjanya di sandaran kursi lalu duduk sambil meluruskan punggungnya. "Siapkan semuanya dengan rinci. Pastikan tidak ada satu pun angka atau data yang keliru. Kesalahan sekecil apa pun bisa merugikan nama perusahaan kita di mata mitra asing."
"Sudah saya periksa dua kali, Tuan. Semua berkas lengkap dan akurat," jawab sekretaris itu meyakinkan sebelum berjalan keluar ruangan.
Sepanjang morning briefing bersama para kepala divisi, Senopati menyampaikan arahan dengan nada tegas dan pandangan yang tajam. Ia membahas kendala yang muncul pada proyek ekspansi, menilai kinerja setiap departemen, dan memastikan semua target berjalan sesuai rencana. Setiap keputusan yang diambilnya selalu didasarkan pada perhitungan matang, menjadikan Grup Aditama terus berdiri kokoh bahkan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat.
Namun di tengah kesibukan itu, sesekali pikirannya melayang kepada Raisa, ia merasa bersalah kepada wanita itu karena terlalu berlaku kasar kemarin, dan tadi pagi sebelum berangkat kantor ia sengaja tidak menemui Raisa, Senopati ingin memberikan Raisa ruang sementara waktu.
Fokus, Senopati. Ini urusan bisnis, bukan urusan hati, tegurnya dalam hati.
Menjelang tengah hari, delegasi dari perusahaan mitra asal Jerman pun tiba. Pertemuan berlangsung di ruang rapat utama yang dilengkapi fasilitas lengkap. Pembahasan berjalan alot namun tetap profesional. Di hadapan orang-orang yang berpengalaman ini, Senopati terlihat tenang dan percaya diri, mampu menjawab setiap pertanyaan dengan penjelasan yang meyakinkan serta memberikan solusi terbaik demi keuntungan kedua belah pihak.
Setelah berjam-jam bernegosiasi, akhirnya kesepakatan pun tercapai. Tangan mereka berjabat tanda persetujuan, disambut dengan senyum puas dari kedua pihak. Kerjasama ini akan membuka jalan bagi Grup Aditama untuk memperluas jangkauan pasar hingga ke benua Eropa.
"Kerja bagus, semuanya," ucap Senopati kepada timnya setelah tamu itu pamit pergi. "Ini langkah awal yang baik. Pastikan eksekusinya berjalan sempurna mulai minggu depan."
Sore hari, setelah menyelesaikan seluruh laporan dan jadwal pertemuan, Senopati masih duduk termenung di balik meja kerjanya. Tangannya tanpa sadar memutar pulpen di antara jari-jarinya. Beban pekerjaan memang sudah selesai untuk hari ini, namun ia lupa mencari tahu soal Raisa yang ia tinggal di rumah, Senopati berharap Raisa tak berbuat macam-macam yang bisa membuatnya marah.
Ia mengangkat telepon di atas mejanya dan menghubungi Radit.
"Radit, kabarkan bagaimana keadaan di rumah sekarang? Apakah pria itu tidak kembali mencari Raisa?" tanyanya, nada bicaranya terdengar lebih menakutkan. Radit di sebrang telepon tau kalau tuannya itu sedang marah dan tidak ingin kejadian kemarin terulang.
"Semua tenang, Tuan. Nona Raisa tidak keluar kamar seharian ini. Pria itu juga tidak pernah muncul seharian ini. Pelayan sudah mengantar makanan dan minuman ke dalam, tapi sampai sekarang piringnya belum disentuh sama sekali," jawab Radit dari seberang telepon.
Mendengar laporan itu, dahi Senopati langsung mengerut. Ia tidak menyangka kejadian kemarin ternyata terlalu nurut bagi Raisa. Tapi ia tak peduli jika dengan cara seperti itu yang ia lakukan agar hubungan mereka terpisah.
"Baiklah, saya akan segera pulang. Setelah pekerjaan saya selesai. Pastikan pintu dan gerbang tetap terkunci rapat sampai saya tiba di sana," perintahnya sebelum menutup sambungan telepon.
Senopati berdiri, merapikan kembali pakaiannya. Di satu sisi ia ingin tetap bersikap tegas agar Raisa mengerti batasannya, tapi di sisi lain hatinya tak tenang mengetahui wanita itu menolak makan. Ia pun bergegas meninggalkan ruang kerjanya, menyadari bahwa sejak kehadiran Raisa, itu mengubah sedikit kehidupannya, ia biasa tak peduli masalah kecil seperti itu tapi kali ini mengenai Raisa ia tak bisa berbohong kalau ia khawatir. Mungkin karena mengetahui kehidupan Raisa sejak kecil sudah menderita karena ibu tirinya.
Sesampainya di rumah Senopati langsung menuju kekamar Raisa, ia mendapati gadis itu meringkuk memeluk lututnya di samping ranjang. Makanan yang sejak tadi di silakan tidak di sentuh sama sekali, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Kenapa makanannya tidak kau makan? Apa kau sengaja agar sakit dan tidak menghadiri pernikahan kita?" Suara Senopati sangat-sangat dingin dan tegas, matanya terlihat merah karena marah lalu menatap kearah Raisa.
Raisa yang menyadari kedatangan Senopati segera berdiri karena terkejut dan ketakutan, pria yang ia lihat saat ini bukan pria yang sama. Pria yang membelanya di depan ibu tirinya. Senopati saat ini adalah pria yang terlihat tegas dan dingin.
"A-aku tidak lapar." Raisa menunduk tidak berani menatap pria di hadapannya.
"Kenapa? Kata kepala pelayan dan Radit, kalau sejak makanan tadi pagi yang di siapkan belum kamu sentuh hingga makan malam, jelaskan kenapa kamu bisa tidak lapar?" Sekali lagi nada suara Senopati naik lebih keras.
"Apa kau tidak berpikir berapa uang yang saya keluarkan untuk membantu bisnis ayahmu, lalu apa yang saya dapatkan sebagai gantinya?" Lagi-lagi suaranya semakin keras, mungkin karena pengaruh kelelahan seharian kerja. "Bukankah sudah sepantasnya saya mendapatkan ganti yang sepadan? Raisa... Apa kamu mendengarkan saya?" Habis sudah kesabaran yang sejak kemarin ia tahan, malam ini semuanya seakan ia ingin Senopati tuntaskan.
"Ma-maafkan saya jika yang Tuan, harapkan tidak sesuai keinginan Tuan?" Raisa merasa bersalah tapi hatinya tidak bisa berbohong. "Tapi ini tidak mudah bagi saya?" Air matanya kembali jatuh.
"Lalu bagaimana dengan saya, jika kamu sudah tau dan mengakui kesalahanmu, maka jadilah wanita yang patuh."
Raisa hanya mengangguk sambil mengusap air matanya dengan pelan.
"Saat saya kembali saya tidak mau tahu makanan di atas meja itu sudah harus habis kamu makan." Setelah itu Senopati keluar dari kamar Raisa dan membanting pintu hingga tertutup rapat, Raisa yang menyaksikan itu sangat terkejut, ia baru menyadari kalau watak pria itu benar-benar keras.
Apakah Raisa mampu tetap berada disana dan di perlakukan seperti itu?
***
Tinggalian komentar tentang Bab ini ya.