NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Kemarahan Sang Nyonya

“Kamu mau membohongi saya?!”

Suara Raline menggema keras di dalam kamar mewahnya. Tangan Raline mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di tangan satunya, sebotol wine hampir kosong bergantung longgar. Wajah cantik Raline memerah karena amarah yang bercampur alkohol.

“Saya tidak berani berbohong, Nyonya,” sahut suara pria dari seberang telepon dengan gugup. “Saya memutuskan membawa bayi itu ke pedalaman supaya tidak terlacak. Sinyal di sini sangat sulit. Saya baru bisa menghubungi Nyonya sekarang.”

Raline tertawa sinis. Tawa yang sama sekali tak mengandung hiburan.

“Lalu kenapa bayi itu ada di rumah ini?” tanya Raline menekan.

“Saya tidak mengerti maksud Nyonya,” sahut pria di balik telepon kebingungan.

“Jangan bodoh!” teriak Raline sambil meletakkan botol wine ke atas meja hingga sebagian isinya tumpah.

“Bayi itu ada di kediaman Rothmere!” jelas Raline penuh kemarahan.

Pria itu terdengar semakin bingung.

“Nyonya ... bayi yang saya ambil masih bersama saya.”

“Apa?!”

Untuk pertama kalinya, Raline kehilangan kata-kata. Jantung wanita yang sudah setengah mabuk itu berdetak lebih cepat. Kemarahan di wajah yang sudah terlihat sayu itu perlahan berubah menjadi keterkejutan.

“Ulangi.”

“Bayi itu masih ada bersama saya,” jawab pria di balik telepon tanpa keraguan.

“Tidak mungkin,” ucap Raline yang justru semakin bingung. Karena pada kenyataannya, bayi Rothmere sudah berada di rumah megah itu.

“Saya berkata jujur, Nyonya.”

Raline berdiri dari sofa. Langkah kaki Raline mulai sedikit sempoyongan. Sebaliknya, pikiran Raline justru bekerja semakin cepat.

Benar saja. Memang ada kesalahan. Tak mungkin bayi itu bisa masuk kediaman Rothmere jika orang suruhan Raline berhasil melakukan tugasnya.

“Aku sudah memberi ciri-ciri yang jelas!” cecar Raline masih tak menerima kenyataan.

“Nyonya, saya mengikuti semua informasi yang diberikan.”

“Informasi apa?” Raline mempertanyakan orangnya yang telah melakukan kesalahan fatal itu.

“Wanita muda. Melahirkan bayi laki-laki. Tidak dijaga keluarga. Sendirian di rumah sakit.”

Raline hanya menggertakkan gigi.

“Dan saya mengambil bayi yang sesuai dengan informasi itu,” sambung Pria itu dalam suara telepon yang Raline genggam semakin erat.

Mata Raline membelalak. Sesaat kemudian, Raline melempar gelas kristal ke dinding.

Brak!

Pecahan kaca berhamburan ke lantai.

“Bodoh!” teriak Raline penuh dengan tenaga dalam puncak kemarahannya.

“Nyonya–”

“Cuma pekerjaan kecil seperti itu saja kamu tidak becus!”

Suara Raline nyaris melengking. Dada Raline naik turun karena emosi. Terlihat jelas tubuhnya bergetar menegang.

Sejak awal semuanya sudah direncanakan dengan sempurna. Seharusnya tidak ada kesalahan yang terjadi. Kenyataan sekarang menunjukkan segalanya justru berantakan. Raline menutup mata sesaat.

Dan kenangan lama kembali muncul.

***

Tiga tahun lalu.

“Aku tidak mau punya anak.”

Kalimat itu pernah diucapkan Raline tepat di depan Bastian. Sama sekali tanpa ragu. Tak terlihat sedikitpun penyesalan dalam diri Raline. Saat itu Bastian hanya menatap wanita itu datar.

“Aku tidak akan memaksamu,” ucap Bastian singkat.

“Bagus,” tegas Raline dengan begitu ketus.

“Aku juga tidak tertarik membicarakan hal itu sekarang,” ucap Bastian yang saat itu fokus dengan pekerjaan di tabletnya.

Pernikahan antara Bastian dan Raline, sejak awal memang bukan karena cinta. Itu hanyalah kesepakatan bisnis antara dua keluarga besar. Sebuah perjodohan yang teramat sangat dibenci Raline.

Sejak hari pertama menjadi Nyonya Rothmere, Raline merasa hidupnya dirampas. Kebebasannya menjadi wanita muda. Keinginan Raline untuk menikahi kekasihnya. Mimpi Raline untuk hidup bersama kekasihnya. Raline merasa semua miliknya dirampas oleh Rothmere.

Dan yang paling Raline benci adalah tradisi Keluarga Rothmere. Tradisi yang mengharuskan adanya penerus. Penerus yang akan melanjutkan nama Rothmere. Penerus yang dianggap lebih penting daripada apa pun. Karena itulah Raline menolak memiliki anak.

Jika Rothmere begitu terobsesi pada garis keturunan mereka, maka Raline akan memastikan garis keturunan itu berhenti padanya. Raline mengira cukup dengan menolak memiliki anak bersama Bastian, nyatanya semua berubah ketika Raline mengetahui rahasia Madam Eleanora.

Ibu Bastian itu diam-diam melakukan program bayi tabung menggunakan sperma Bastian dengan rahim seorang wanita yang bahkan identitasnya dirahasiakan. Saat mengetahui hal itu, kebencian Raline berubah menjadi amarah yang jauh lebih besar.

Raline merasa Rothmere mempermainkannya. Menganggap diri seorang Raline sama sekali  tak penting. Menganggap dirinya bisa digantikan kapan saja.

Sejak saat itulah Raline mengambil keputusan. Jika bayi itu lahir, maka bayi itu tidak boleh hidup.

***

“Dasar tidak berguna!”

Raline kembali tersadar dari lamunannya. Jari-jari Raline yang sudah terasa kaku itu masih menggenggam erat ponselnya.

“Saya minta maaf, Nyonya,” ucap pria di balik telepon.

“Maaf tidak memperbaiki keadaan!” Raline kembali berteriak.

“Nyonya, lalu bagaimana dengan bayi yang sekarang bersama saya?”

“Aku tidak peduli!” sahut Raline.

“Tapi–”

“Mau kau buang, kau jual, atau kau tinggalkan di mana pun, itu bukan urusanku!” Suara Raline penuh kebencian. “Dan jangan pernah meminta uang tambahan kepadaku.”

“Nyonya–”

Raline langsung memutus telepon itu tanpa ragu. Raline melempar ponselnya ke atas sofa. Napas tak teratur Raline mulai terdengar. Kepala wanita itu terasa berdenyut. Semua rencana Raline yang disusunnya sejak mengetahui bayi tabung itu sudah gagal.

Bayi yang seharusnya menghilang justru berada di dalam kediaman utama Rothmere. Di bawah perlindungan langsung Bastian. Bahkan kini Bastian sampai mencari ibu susu khusus untuk bayi itu.

Raline kembali menenggak wine langsung dari botol. Cairan merah itu mengalir tanpa jeda. Walaupun demikian kemarahan wanita yang sudah berantakan gaunnya sama sekali tidak berkurang. Justru semakin membesar.

“Brengsek!”

Raline mengusap wajahnya kasar. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

Wanita lusuh di kediaman Rothmere? Wanita yang tadi berdiri di belakang Bastian. Jelas-jelas itu wanita asing yang belum pernah dilihat Raline.

“Aneh,” ucap Raline menyipitkan mata. “Bastian tidak pernah membawa orang sembarangan ke rumah ini.”

Raline segera menoleh.

“Mira!”

Pelayan setia Raline yang sedari tadi berdiri diam langsung mendekat.

“Ya, Nyonya?”

“Wanita gembel yang tadi?”  tanya Raline menatap pelayannya.

“Yang bersama Tuan Bastian?” Mira bertanya balik.

“Segera cari tahu sedang apa dia di rumah ini.”

Mira mengangguk.

“Baik, Nyonya.”

Pelayan itu segera pergi. Sedangkan Raline kembali duduk sambil memutar-mutar botol wine di tangannya.

Entah kenapa firasat Raline terasa sangat tak nyaman. Sekitar lima belas menit kemudian, Mira kembali. Wajah Mira terlihat serius.

“Ada apa?” tanya Raline.

“Nyonya ....” ucap Mira ragu-ragu.

“Katakan saja,” sambung Raline penasaran.

“Wanita itu baru saja diantar ke salah satu kamar tamu utama.”

Raline mengernyit.

“Lalu?”

“Dia dilayani pelayan pribadi.”

Alis Raline langsung terangkat.

“Lanjutkan.”

“Mendapat pakaian baru.”

“Dan?” Raut wajah Raline berubah.

“Mendapat makanan khusus.”

Raline perlahan berdiri.

“Apa lagi?” desaknya.

Mira menelan ludah.

“Tadi tim medis pribadi keluarga keluar dari ruang kerja Tuan Bastian.”

Sejenak ruangan Raline yang sedari tadi penuh dengan gema suara. Kini terasa keheningan tanpa suara. Ditengah ruangan wanita dengan gaun mewah itu terlihat berdiri menengadahkan wajahnya. Wajah Raline berubah gelap.

“Bastian melakukan apa lagi sekarang?”

“Nyonya?” tanya Mira sedikit bingung arah pertanyaan Raline.

“Antar aku ke kamar wanita itu!” perintah Raline yang tampak sudah tak membutuhkan jawaban lagi.

Mira tampak ragu.

“Nyonya, mungkin sebaiknya–”

“Sekarang!” potong Raline keras.

Mira langsung menunduk.

“Baik, Nyonya.”

***

Sementara itu, Kemala sama sekali tak mengetahui badai yang sedang mendekatinya. Kemala baru selesai mandi. Untuk pertama kalinya sejak pertama kali menginjak Jakarta.

Tubuh Kemala terasa jauh lebih ringan. Gaun sederhana yang diberikan pelayan terasa nyaman di kulit Kemala yang sudah terlihat bersih. Kamar yang ditempati Kemala bahkan lebih besar daripada semua ruangan yang pernah dia masuki di desanya.

Kemala masih sulit mempercayai semua yang terjadi hari ini. Pagi tadi, saat tepat langkah wanita yang baru menginjakkan kaki di kota metropolitan ini, Kemala hampir dianggap pencopet. Siang hari Kemala berjalan tanpa arah dan hampir kehabisan uang.

Sekarang Kemala memiliki kamar sendiri di kediaman Keluarga Rothmere. Perlahan Kemala membuka lemari pakaian. Mata Kemala membelalak tak percaya. Isi lemari yang terlihat mewah bagi Kemala penuh pakaian baru.

“Ya Ampun ….”

Kemala bahkan takut menyentuhnya. Dengan hati-hati Kemala mulai merapikan beberapa pakaian yang baru saja diberikan pelayan. Senyum kecil muncul di wajah Kemala yang terlihat semakin ayu setelah mandi. Sudah lama sekali Kemala tidak merasa setenang ini. Meski begitu, pikirannya tetap kembali kepada putranya.

“Bertahanlah, Nak.” Suara Kemala lirih. “Ibu pasti menemukanmu.”

Air mata Kemala hampir jatuh. Namun wanita berambut lurus itu segera mengusapnya. Kemala tak boleh menyerah. Sekarang Kemala mempunyai kesempatan.

Bastian berjanji akan membantu Kemala menemukan bayi kecilnya. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah sakit, harapan itu terasa nyata.

Kemala sedang menyusun pakaian terakhir ke dalam lemari ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka keras.

Brak!

Kemala terkejut. Tubuh Kemala yang masih tampak kurus refleks berbalik. Kemala langsung membeku.

Di ambang pintu berdiri Raline. Wajah wanita itu merah dan tatapannya tajam. Di tangan wanita yang masih sedikit mabuk itu tergenggam botol wine. Sedangkan Mira berdiri beberapa langkah di belakang Raline.

“S-Selamat malam, Bu.” Kemala langsung gugup.

Raline tak menjawab. Tatapan wanita itu bergerak dari kepala hingga kaki Kemala. Penuh dengan tatapan penghinaan terhadap Kemala. Terasa begitu jelas kebencian yang bahkan diarahkan kepada orang yang baru pertama kali Raline temui.

“Jadi kau gembel yang dibawa Bastian itu?”

Kemala menelan ludah.

“Saya–”

Kemala belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Raline melangkah sangat cepat. Kemala bahkan tak sempat bereaksi.

Tiba-tiba, Raline memukul kepala Kemala dengan botol wine di genggamannya.

Prak!

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!