Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Evan menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban setelah diketuknya. Perlahan ia memutar gagang pintu dan masuk ke dalam.
Carolin masih berada di depan meja rias. Ia telah berganti pakaian tidur, tetapi wajahnya masih menyiratkan kemarahan. Saat melihat Evan datang, ia hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Car..." Evan mendekat dengan langkah pelan.
"Tadi itu hanya salah paham."
Carolin tidak menjawab.
"Aku minta maaf kalau kejadian tadi membuatmu tidak nyaman."
Tetap tidak ada respons. Evan akhirnya berdiri di samping istrinya.
"Aku serius, tidak ada apa-apa antara aku dan Laras."
Carolin mendengus pelan. "Tentu saja kamu akan bilang begitu."
"Karena memang itu kenyataannya."
"Kenyataan?" Carolin menoleh tajam. "Kenyataannya aku melihat kalian berdiri sangat dekat."
Evan mengusap wajahnya yang mulai lelah.
"Aku sudah menjelaskan. Dia hanya membersihkan sisa nasi di bibirku, itu saja."
"Tapi aku tidak suka melihat cara dia menatapmu."
Ucapan itu membuat Evan mengernyit.
"Car, jangan berlebihan."
"Aku tidak berlebihan!" Suara Carolin meninggi.
"Insting seorang perempuan jarang salah. Aku tidak percaya pada Laras. Evan, kamu harus pecat dia."
Permintaan itu membuat Evan terdiam.
"Apa?"
"Aku bilang, pecat Laras." Carolin berdiri dari kursinya. "Aku tidak mau perempuan itu tinggal lebih lama di rumah ini."
Evan langsung menggeleng. "Itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Karena Aurora sangat bergantung padanya. Sejak Laras datang, Aurora mau menyusu, tidurnya lebih tenang, berat badannya juga mulai naik. Kalau sekarang dia pergi, bagaimana dengan Aurora?"
Carolin menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Itu bukan urusanku. Kita bisa mencari ibu susu yang lain."
Evan menghela napas panjang.
"Car, mencari ibu susu yang cocok tidak semudah itu. Kita sudah mencoba selama dua bulan. Dan hanya Laras yang bisa membuat Aurora benar-benar tenang."
Carolin menggigit bibirnya. "Itu justru yang membuatku semakin tidak percaya." Tatapannya berubah semakin tajam.
"Seolah-olah Aurora lebih memilih dia daripada aku."
"Evan ... aku tidak suka perempuan itu. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Mungkin kamu menganggapku terlalu curiga. Tapi aku yakin, Laras menyembunyikan sesuatu."
Evan menatap istrinya beberapa saat. Lalu menggeleng pelan.
"Kamu terlalu banyak berpikir. Laras sudah diselidiki. Latar belakangnya bersih. Tidak ada masalah. Dia juga bekerja dengan sangat baik."
Carolin tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar hambar.
"Itu menurutmu, tapi menurutku ... perempuan yang terlihat terlalu sempurna justru paling berbahaya."
Ruangan kembali hening. Evan merasa perdebatan itu tidak akan menemukan titik temu.Sementara Carolin memalingkan wajah ke arah jendela. Entah mengapa, semakin ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Laras hanyalah seorang ibu susu biasa, semakin kuat firasatnya mengatakan bahwa kehadiran wanita itu akan menjadi awal dari kehancuran rumah tangganya.
Evan mengembuskan napas panjang. Ia sudah lelah mengulang penjelasan yang sama, tetapi Carolin seolah menolak mendengarkan.
"Car..." Pria itu menatap istrinya dengan serius.
"Kenapa kamu selalu berpikir yang tidak-tidak?"
Carolin mendengus pelan. "Karena aku tidak percaya pada perempuan itu."
"Justru itu." Evan menggeleng pelan.
"Kamu tahu tidak, setelah kamu marah tadi, Laras malah menyuruhku menemuimu."
Carolin mengernyit. "Apa?"
"Iya, dia meminta maaf berkali-kali. Dia merasa bersalah karena mengira dirinya menjadi penyebab kita bertengkar. Bahkan dia yang memintaku mengejarmu dan meminta maaf."
Evan menghela napas.
"Kalau memang niatnya merebut suamimu, menurutmu dia akan menyuruhku datang ke sini?"
Carolin terdiam beberapa saat, tetapi sorot matanya tetap keras.
"Itu bisa saja akal-akalannya." Ucapan itu membuat kesabaran Evan mulai menipis.
"Carolin." Nada suaranya berubah lebih tegas.
"Cukup, kamu terlalu curiga. Laras tidak melakukan apa pun."
"Tapi aku tetap ingin dia dipecat."
Evan menatap istrinya tidak percaya. "Lalu setelah itu bagaimana?"
"Kita cari orang lain."
"Cari orang lain?" Evan tersenyum hambar.
"Kamu lupa bagaimana dua bulan pertama kita? Aurora menangis setiap malam. Tidak mau minum susu. Berat badannya turun. Dokter sampai menyuruh kita mencari ibu susu. Dan setelah Laras datang, semuanya berubah."
Evan melangkah mendekati Carolin.
"Kalau Laras pergi ... kamu bisa menjaga Aurora?"
Carolin terdiam.
"Apa kamu bisa mengurusnya sendiri? Apa kamu bisa menyusuinya?"
Carolin menggigit bibirnya.
Evan melanjutkan, "Kalau begitu, apa kamu bersedia menjaga Aurora selama dua puluh empat jam? Meninggalkan semua pekerjaanmu. Berhenti menjadi model. Fokus menjadi ibu untuk anak kita."
Ruangan mendadak sunyi. Carolin tidak mampu menjawab. Ia hanya memalingkan wajah. Evan menggeleng pelan.
"Itu yang ku pikirkan. Kalau kamu tidak bisa melakukan semua itu, tolong jangan macam-macam." Nada suara Evan terdengar datar, tetapi penuh penekanan.
"Kita membutuhkan Laras, bukan untukku, bukan untukmu. Tapi untuk Aurora, selama Laras tidak melakukan kesalahan, aku tidak akan memecatnya."
Carolin mengepalkan kedua tangannya.Dadanya terasa sesak, bukan karena ucapan Evan semata. Melainkan karena suaminya berbicara sekeras itu demi membela perempuan lain. Dan hal itu membuat kebenciannya terhadap Laras tumbuh semakin dalam.
Carolin menatap Evan dengan mata membara. Dadanya naik turun menahan amarah yang sudah tidak lagi bisa dikendalikan.
"Kamu sudah gila, Mas! Terserah kamu mau bilang apa. Tapi aku tetap tidak akan percaya pada perempuan itu!"
Evan mengusap wajahnya kasar. Ia sudah terlalu lelah untuk terus berdebat.
"Kalau itu maumu, silakan. Tapi keputusanku tidak berubah."
Pria itu menatap Carolin tanpa gentar.
"Besok jadwal imunisasi Aurora. Aku akan membawanya ke rumah sakit. Dan Laras ikut bersama kami. Selama ada Laras, Aurora jauh lebih tenang." Ucapan itu membuat emosi Carolin meledak.
"Gila!, kamu benar-benar sudah gila, Mas! Kamu lebih memilih membawa pengasuh daripada istrimu sendiri?"
Evan tidak menjawab. Sikap diamnya justru membuat Carolin semakin murka. Ia melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan suaminya.
"Aku ingatkan kamu, ya. Jangan pernah macam-macam. Kamu hidup nyaman seperti sekarang karena keluargaku. Kalau orang tuaku tahu sikapmu ... mereka bisa membuatmu kembali jadi orang miskin dalam semalam." Ucapan itu membuat wajah Evan seketika berubah.
Rahangnya mengeras, tatapannya menjadi dingin ia merasa harga dirinya benar-benar diinjak.
"Jadi ... selama ini itu yang kamu pikirkan?"
Carolin terdiam, Evan tertawa pelan, tawanya terdengar pahit.
"Baik, kalau memang keluargamu ingin membuangku, silakan. Tapi ingat satu hal, Carolin." Nada suaranya berubah tajam.
"Kalau aku sampai dicampakkan oleh keluargamu, aku juga akan memastikan reputasimu hancur."
Carolin membelalak. "Kamu mengancamku?"
"Aku hanya mengingatkan." Evan menatap istrinya lurus.
"Jangan merasa hanya kamu yang memegang rahasia. Di antara kita tidak ada yang benar-benar suci." Ucapan itu membuat Carolin menelan ludah.
Selama ini mereka sama-sama menyimpan rahasia. Sama-sama memiliki masa lalu yang, jika terbongkar, dapat menghancurkan kehidupan yang mereka bangun.
"Jadi..." Evan menarik napas panjang.
"Berhentilah menyalahkanku seolah semua kesalahan ada padaku. Kita sama-sama punya kepentingan. Kita sama-sama pernah membuat pilihan. Kalau rumah tangga ini hancur ... bukan hanya aku yang akan jatuh. Tapi kita berdua."
Suasana kamar kembali hening. Carolin mengepalkan kedua tangannya. Sementara Evan berbalik meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi.
Pintu tertutup pelan.
Carolin masih berdiri mematung. Ia menyadari bahwa pria yang selama ini selalu menuruti keinginannya kini mulai berani melawan. Dan semua itu, terjadi sejak Laras hadir di tengah kehidupan mereka.
"Laras! Wanita sialan kamu!" Teriak Carolin frustrasi.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,