Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil
Jam di layar komputer sudah menujukkan pukul 19.00. Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak sejam yang lalu. Lantai kantor yang biasanya ramai, kini terasa sunyi. Hanya suara ketikan keyboard dan dengungan pendingin ruangan yang terdengar samar.
Shana masih duduk di mejanya. Matanya mulai terasa berat. Beberapa kali ia menguap. Kurang tidur semalam mulai menunjukkan efeknya.
Ada laporan yang harus ia selesaikan malam ini, yang membuat ia bertahan hingga saat ini.
"Ayo, sedikit lagi." Shana menepuk pelan pipinya sendiri.
Sejak pagi, ia hampir tidak berhenti bekerja. Kurang tidur dan tubuhnya mulai protes. Meskipun begitu ia tetap berusaha fokus.
Beberapa menit kemudian, seseorang berhenti di depan mejanya. Shana mengangkat kepalanya . Mendapati Evan yang tengah berdiri di hadapannya itu.
"Masih menyelesaikan laporan?"
"Iya Pak."
Evan melihat ke layar laptop Shana.
"Kamu bisa menyelesaikannya besok."
"Tanggung Pak, sudah hampir selesai."
Evan mengangguk kemudian.
"Kabari jika kamu ingin pulang."
"Baik Pak." Jawab Shana dan Evan pun kembali ke ruang kerjanya.
Shana kembali bekerja dan satu jam berlalu.Tanpa sadar kepalanya sudah terasa berat. Tulisan di layar laptop terlihat sedikit kabur. Kelopak matanya turun perlahan.
Dan..
Bruk.
Kepalanya jatuh di atas meja.
Evan ke luar dari ruangannya sekitar lima belas menit kemudian. Ia melihat Shana tertidur dengan laptop yang masih menyala.
Evan menghela napas pelan. Wanita ini benar-benar keras kepala. Tadi pagi hampir terlambat, siang hari hampir terjatuh, dan sekarang tertidur di meja kerja.
Dengan hati-hati ia melepaskan jas yang ia kenakan dan meletakannya di bahu Shana.
Hampir satu jam lamanya Shana tertidur. Ia membuka ke dua matanya perlahan. Ruangan terasa jauh lebih sepi. Shana tersadar kemudian, ada jas yang menutupi bahunya. Shana membeku.
Jas pria. Dan ia tahu persis milik siapa. Ia pun menoleh. Diruang kerja yang dinding kacanya masih terlihat dari tempat duduknya.
Evan masih bekerja, fokus menatap laptop. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Shana memberanikan diri untuk berdiri lalu menghampiri Evan.
Tok.. Tok..
"Masuk.. "
Begitu pintu terbuka, Evan mengangkat kepala.
"Kamu sudah bangun?"
"Ya.." Shana mengangguk lalu ia melangkah makin mendekat ke arah Evan dengan menggenggam jas di tangannya.
"Pak."
"Hm.."
"Saya ingin mengembalikan ini." Shana menyerahkan jas itu ke pemiliknya.
"Oh.. " Evan melirik jas miliknya itu.
"Makasih ya Pak. " Evan mengangguk kemudian.
"Kamu sudah selesai."
"Saya akan melanjutkannya besok, boleh kan Pak? "
"Kalau begitu kita pulang."
"Kita..?"
"Ini sudah malam, saya tidak mengizinkan kamu pulang sendirian."
"Tapi saya bisa naik taksi online Pak. "
"Saya tahu."
"Kalau begitu..."
"Saya tetap mengantar."
Nada suaranya tenang. Namun tidak memberi ruang untuk dibantah. Dan anehnya... Shana tidak ingin membantah.
Diperjalanan pulang, hujan turun perlahan. Kota terlihat lebih tenang dari biasanya. Sementara di dalam mobil, suasana justru terasa terlalu sunyi.
Bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang nyaman.
Shana sesekali melirik pria yang ada di sampingnya. Evan terlihat fokus menyetir. Terlihat tenang, dewasa, dan tanpa sadar membuatnya terasa aman.
"Mau bertanya sesuatu?"
Suara Evan tiba-tiba membuat Shana tersentak.
"Hah?"
"Kamu sudah melihat saya selama lima menit."
Wajah Shana langsung memerah.
"Saya tidak!"
"Saya sempat menghitung."
"Sudah Pak, jangan dilanjutkan."Pinta Shana yang telah dibuat kikuk oleh Evan.
Untuk pertama kalinya tawa kecil terdengar dari bibir pria tersebut.
Dan entah kenapa...
Mendengar tawa itu membuat senyum Shana ikut muncul.
Tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka mulai memendek. Bukan karena kebetulan. Melainkan karena keduanya mulai menikmati keberadaan satu sama lain.
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭