Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. SBR
...~•Happy Reading•~...
Gevaro makin terkejut melihat karyawan yang menumpahkan air kotor di koridor berlari mendekati mobil dan mencium bergantian tangan mungil yang melambai padanya.
"Ada apa, Pak?" Jensen mendekati bossnya yang berdiri diam tak bereaksi pada mobil yang datang menjemput. Hanya memandang ke satu arah sambil memiringkan kepala.
"Tidak." Gevaro tersadar oleh pertanyaan asistennya. "Mari kita pergi." Gevaro berjalan ke pintu mobil yang sudah dibuka.
"Catat plat nomor mobil di depan." Perintah Gevaro yang penasaran dengan perasaannya saat melihat interaksi karyawan yang terkesan marah padanya dengan seorang anak laki-laki tampan. Hatinya tergerak ingin melihatnya lagi.
"Siap, Pak." Jensen melakukan permintaan bossnya tanpa bertanya. Dia jadi yakin, tadi bossnya memperhatikan mobil di depan mereka.
~▪︎▪︎
Janet masuk ke mobil dengan hati riang. "Asyer jemput Mama?" Janet mengusap kepala putranya yang berdiri melihat dia duduk di belakang.
"Iya, Mama. Asyel mau lihat kantol Mama." Jawaban cadel Asyer membuat Janet maju dan mencium pipinya.
"Duduk yang benar, ya. Nanti ganggu Papa Andri." Janet membetulkan duduk Asyer.
"Iya, Mama. Oma bilang Asyel gak boleh ganggu Papa Andli." Asyer menirukan yang dikatakan Mama Andri.
"Mmm... Pintar." Janet memuji sambil memasang sabuk pengaman. "Mas sudah pulang kerja?" Janet bertanya pada Andri yang sedang menyetir.
"Jalanan hari ini sangat padat dan macet. Bikin tegang dan emosi. Lebih baik pulang, main sama Asyer." Ucap Andri sambil mengusap kepala Asyer yang sudah duduk tenang.
"Mau jalan ke Mall terdekat? Mumpung...." Andri tidak meneruskan tapi menunjuk ke arah Asyer sebagai isyarat, mau jalan-jalan bersama Asyer.
"Gak hari ini, Mas. Agak capek." Janet menolak, karena suasana hatinya tidak baik untuk bersenang-senang. Hal itu mengherankan Andri, sebab dia sengaja menjemput dengan Asyer. Agar mereka bertiga bisa habiskan waktu dengan jalan atau bisa bawa Asyer ke tempat bermain.
Walau heran, Andri tidak bertanya. "Asyer, tadi bawa apa buat Mama?" Dia mengalihkan percakapan kepada Asyer.
"Kue Papa." Asyer berkata riang dan menunjuk kotak di dekatnya. "Mama, ini kue. Papa Andli beli buat Mama."
"Makasih sayang." Janet mengambil kotak dan melihat isinya. "Waaah... makasih, Mas. Aku makan di rumah aja. Biar sekalian nge'teh." Janet tidak berselera untuk makan kue kesukaannya.
"Iya. Tadi sengaja beli, mumpung masih hangat...." Andri tidak meneruskan. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi di kantor, karena Janet bersikap tidak seperti biasanya. Kalau dibelikan kue kesukaannya. Dia akan langsung makan.
Andri jadi melirik Asyer yang duduk diam. "Tadi Asyer dan Oma bikin apa saja?" Andri mencairkan suasana yang terasa beku dengan mengajak bicara Asyer.
"Belajal, Papa Andli." Asyer menjawab riang.
"Belajar? Asyer belajar apa?" Andri bertanya walau dia sudah tahu yang dilakukan Asyer dengan Omanya. Dia berharap, pertanyaan dan jawaban mereka bisa menarik perhatian Janet untuk terlibat.
"Belajal belhitung, Papa." Jawab Asyer sambil menggerakan jarinya.
"Coba tunjukan buat Mama." Andri terus berbicara sambil memperhatikan jalanan yang padat.
"Mama, Asyel belajal hitung sama Oma." Asyer jadi melihat ke belakang.
"Oh, pintar. Coba Mama dengar." Janet tersadar dan jadi tidak enak pada Andri, karena pikirannya terganggu oleh kehadiran Devan di kantor sebagai pimpinan baru.
"Satu ditambah satu, sama dengan dua." Asyer bernyanyi sambil menunjuk angka yang disebut dengan jari. "Dua ditambah dua, sama dengan empat..." Asyer terus bernyanyi sambil menunjukan jari dengan cara yang membuat Janet tertawa. Andri jadi mengacak rambut halus Asyer dengan ujung jarinya, karena sudah membuat Mamanya ceria lagi.
~▪︎▪︎
Saat tiba di rumah dan makan malam, Janet tidak berubah. Lebih banyak diam dan bicara seperlunya, kalau ditanya. Tidak seperti biasa menghabiskan waktu bermain dan berbicara dengan Asyer. Hal itu menjadi perhatian Andri.
Ketika Janet masuk ke kamar untuk menemani Asyer tidur, Andri juga ikut masuk ke kamar. Dia menunggu Janet sambil berbaring dan mengotak-atik ponsel.
"Asyer sudah tidur?" Tanya Andri saat melihat Janet berbalik dari Asyer.
"Sudah, Mas." Jawab Janet tanpa suara.
"Turun ke sini." Andri menepuk kasur lipat di lantai yang menjadi tempat tidurnya sehari-hari.
Janet turun perlahan dan duduk di depan Andri yang sudah duduk. "Apa terjadi sesuatu di kantor?" Andri langsung bertanya pada inti rasa ingin tahunya. Dia yakin, telah terjadi sesuatu di kantor yang membuat Janet tidak tenang dan kadang tidak fokus.
"Mas Andri, maaf. Aku bertanya saja, ya." Janet berkata pelan.
"Iya, tanya saja. Aku akan jawab. Termasuk tidak tahu. Itu juga adalah sebuah jawaban." Andri coba mencairkan suasana di antara mereka.
"Kalau aku berhenti kerja, Mas Andri akan marah?" Pertanyaan Janet membuat Andri menatapnya tanpa berkedip.
Andri diam sejenak untuk berpikir. "Punya alasan spesifik, Dek?" Andri coba mengorek, sebab baru pertama kali Janet meminta hal yang tidak dia pikirkan.
"Tidak ada, Mas. Cuma pingin di rumah temani Asyer dan Mama." Janet tidak enak mengatakan penyebab sebenarnya.
"Dek, apa ada seseorang yang mengganggumu, atau tidak suka lagi dengan kerjaannya?" Andri tahu, Janet hanya mencari alasan untuk berhenti. Sebab Janet sangat senang bekerja selama satu tahun lebih dan tanpa keluhan. Malah dia menemukan kegembiraan sendiri saat bercerita tentang teman-temannya.
"Atau mau pindah ke bagian lain?" Tanya Andri lagi karena mengira pekerjaan sebagai office girl terlalu berat baginya.
~▪︎▪︎
Andri jadi ingat pertama kali Janet mau kerja. "Kenapa tidak mau di administrasi saja, Dek." Andri bertanya demikian, sebab dia mengenal baik bagian Personalia.
"Gak usah, Mas. Office girl saja, sesuai pendidikan. Nanti aku disindir atau dibicarakan sama karyawan lain. Kerjaan jadi gak menyenangkan. Mendingan di rumah bantu Mama dan ngurus Asyer." Pertimbangan Janet. Setelah itu, Janet menikmati pekerjaan dan pertemanannya.
▪︎▪︎~
"Gak, Mas. Teman-teman dan pekerjaan gak terlalu berat. Cuma pingin istirahat aja." Janet masih bertahan, tidak mengatakan adanya tentang pergantian pimpinan.
"Begini, Dek. Mau kerja di mana saja, situasi akan sama. Tidak selamanya mulus dan baik-baik saja. Kadang diomelin boss atau dijulid teman, itu biasa."
"Aku yang kerja seperti sekarang, tidak selamanya mulus. Kadang ada penumpang yang tidak sopan, arogan, bermaksud jahat, dan banyak yang negatif."
"Tapi yang menentukan suasana kerja baik atau tidak, terletak pada hati. Jangan biarkan orang lain pengaruhi suasana hatimu."
"Aku tidak memaksa kau untuk kerja. Kita hidup baik dan cukup walau kau tidak bekerja. Aku mau kau mengisi masa mudamu dengan sesuatu yang berarti bagimu." Ucapan Andri membuat hujan turun di hati Janet
"Ingat tadi yang dibilang Asyer saat menjemputmu? Dia mau melihat kantor Mama. Dia tidak berpikir kau bekerja sebagai apa di dalam. Tetapi dia akan bilang pada orang lain, Mamaku bekerja di kantor itu." Andri merasa ada sesuatu yang membebani hati Janet.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...