Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 033 : Aku Menjahatinya tapi Aku Juga Ingin Menolongnya
Sungguh betapa ajaibnya ketika huruf-huruf aksara itu timbul di atas lembaran kertas putih itu. Mereka membulatkan kedua matanya. Ini ajaib, tetapi juga cukup mengerikan rasanya!
Ini adalah sepuluh aksara ajian yang Ijah sematkan pada diri mereka. Setelah aksara-aksara itu timbul. Mereka terdiam.
"Jadi, apa yang bakalan kita lakuin lagi, Haikal?" tanya Desta setelah beberapa detik seluruh saudaranya terdiam.
Haikal tidak menjawab itu. Dia tidak tahu lagi. Karena, dia juga masih belum mendengar pesan berikutnya setelah apa yang sudah diberitahu oleh anak keenam itu.
Sementara belum ada jawaban yang diberitahu lagi oleh anak keenam. Farah memutar pandangannya ke arah lain. Di depan sana dia melihat satu cahaya.
Besarnya sebesar kelereng. Cahaya itu terlihat tertutupi oleh satu kertas. Dia letaknya di bawah. Seperti tertimbun oleh kertas itu. Di tengah kebingungan para saudaranya.
Farah memilih untuk mendekati cahaya yang tertutupi oleh kertas putih itu. Dia berjalan, berjalan ke depan memangkas jarak antara dirinya dan sumber cahaya kecil itu. Pergerakannya itu, tentu saja memicu perhatian Rifki juga yang lainnya.
Mereka melihat Farah kini berada sedikit jauh dari letak mereka berdiri. Gadis bungsu itu, berjongkok.
Farah memperhatikan sejenak cahaya itu sebelum menyentuhnya. Dan ketika dia mengulurkan tangannya, mengarahkan telunjuknya ke arah secercah cahaya itu.
"Hai!" sapa satu suara yang muncul memenuhi ruangan itu. Suara dari seorang pria. Suaranya berat, tetapi sosoknya tak ada.
"Si-siapa?" tanya Farah, yang kini refleks berdiri. Dia kini mengedarkan bola matanya ke atas. Sebab, dia rasa sosok itu kini berada di atas.
"Jiwa yang dirindukan sudah datang! Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya segenap hati yang masih memeluk dia dalam diam. Dia dalam sunyi!" kata suara itu, Aldi mencoba mencari-cari keberadaan dari sosok yang kini berbicara kepada mereka.
"Anda ini siapa? Kalau anda datang hanya untuk berceramah. Mohon maaf, kami tidak memiliki waktu. Jika anda, datang untuk menunjukkan jalan. Maka bukalah jalannya. Kami ingin menemui, Ibu Ijah!" ujar Aldi sekarang.
Suara itu sejenak terjeda dalam kesunyian. Tidak ada suara lagi yang keluar.
"Sudah, mending kita jalan aja terus!" perintah Rifki, terlalu lama rasanya mereka diam dan menghabiskan waktu mereka secara percuma di sini.
"Hahahahahah.." suara itu kembali, dia tertawa. Entah apa yang ditertawakan olehnya sekarang?
"Apa yang kamu tertawaan?! Kalau kamu memang berani, muncullah di depanku!" kata Rifki pada pemilik suara itu. Tetapi, suara itu justru tertawa lebih keras dibandingkan yang tadi.
Gemertak gigi Rifki beradu. Dia sangat kesal. Dia mengumpat beberapa kali, mengajukan tantangan beberapa kali. Tetapi nihil, sosok itu masih tidak diketahui.
Di sela-sela apa yang terjadi kini. Haikal, lagi-lagi mendengar suara-suara di telinganya. Suara itu, dari anak keenam. Awalnya samar, tetapi ada akhirnya suara itu begitu jelas. Suara itu mengatakan,
..."Jangan takut padanya! Dia adalah orang yang meninggalkan jejak. Dia adalah satu-satunya orang yang mencintai ibu kita!" ...
Haikal menatap ke arah para saudaranya. Semabdu memegangi alat bantu dengarnya. Dia pun berkata,
"Adik keenam berkata, bahwa pemilik suara itu, adalah orang yang mencintai ibu kita!" kata Haikal memberitahu. Sontak saja seluruh saudaranya pun menoleh ke arahnya.
Rifki terdiam, dia mencoba menahan kekesalan di dalam hatinya sekarang. Mendengar apa yang dikatakan oleh Haikal.
Suara itu tak lagi tertawa. Keadaan kembali sunyi. Tetapi, di dalam ruangan yang tertutup rapat itu. Datang sebuah angin yang cukup kencang. Berhembus ke arah mereka.
Wuahhhhhh
"Apa lagi sekarang?!" tanya Desta kini, dia mengangkat kedua tangannya.
Lengan-lengan besarnya itu dia gunakan untuk menutupi wajahnya. Sebab seluruh kertas kini bertebaran menabrakinya dan juga saudaranya.
Hingga ketika kertas-kertas itu menghilang dari pandangan mereka. Di depan sana berdiri satu pria bertubuh tinggi ideal. Wajahnya tampan, tatapannya tegas. Pria itu, nampak berusia sekitar empat puluh tahun. Dia menatap ke arah Farah sekarang.
"Kamu sudah besar rupanya, Farah!" katanya pada Farah. Rifki menaikkan salah satu alisnya. Dia menatap ke bawah. Tepat di bawahnya pria itu, terletak seluruh lembaran kertas yang sempat mereka tulis tadi.
"Anda siapa? Kami gak bisa membuang-buang waktu! Tolong jangan selah kami, Tuan!" ujar Farah setengah memohon padanya.
Pria itu tersenyum tipis.
"Aku tahu, kalian ingin bertemu dengannya! Aku memahaminya! Adik keenammu sudah bilang bukan? Aku adalah orang yang mencintai ibu kalian! Aku mencintainya, tapi aku juga Menjahatinya!" jelasnya, sebuah pernyataan yang cukup ambigu membuat kelima anak muda di depannya itu menatapnya dengan penuh tanda tanya besar.
"Apa maksudnya itu?" tanya Haikal melempar pertanyaannya. Dia butuh penjelasan.
Pria itu melihat ke arah Haikal. Sungguh sekarang tatapannya melembut.
"Putraku, saya Parman! Putriku, Farah! Saya adalah bapak kalian!" jawabnya pada mereka.
Degggg
Di situ hati mereka langsung tertohok. Desta, pernah diperlihatkan oleh satu mimpi. Dan ya, dia mengingatnya. Pria ini benar, adalah Parman. Dialah orang yang membunuh Ijah saat itu bersama dengan Rossa, istri pertamanya.
Desta menatap Parman di sana dengan penuh kebencian. Tatapannya itu jelas saja diketahui oleh Parman. Dia melihat ke arah Desta. Sengaja mempertemukan pandangan mereka. Di situ Parman pun berkata,
"Aku mengerti perihal rasa bencimu padaku!" kata Parman padanya. Sebetulnya cukup sakit hatinya sekarang.
"Kenapa kamu membunuh Ibu Ijah?" tanya Desta lagi kepadanya.
Dia memang penakut, tetapi jika hal itu berurusan wanita yang diperlakukan tidak adil. Desta sangat tidak bisa menoleransi itu. Dia tidak akan segan menjadi perisai untuk itu.
Parman tidak bisa menjawab itu. Dia sekarang justru menunduk. Dia ingat betul semuanya.
Kejadiannya, juga teriakan istri keduanya yang mati terbakar. Dia juga ingat, bagaimana saat itu ketika Ijah menyelamatkannya juga dari tipu muslihatnya Rossa.
Brukkkk
Parman memilih untuk bersimpuh tepat di depan anak-anaknya setelah dua puluh tahun lamanya. Setelah dua puluh tahun lamanya, mereka pada akhirnya dipertemukan di alam sebelah dengan segenap rasa penyesalan.
Di situ, Desta juga yang lain memperhatikannya. Parman, menempatkan kedua tangannya di pahanya sendiri.
Dia mencengkram bajunya. Bahunya naik turun sekarang. Pria itu menangis. Tetapi, tangisan orang mati tidak mengeluarkan air mata. Dia hanya menangis tanpa air mata.
"Percayalah nak, aku diguna-guna oleh Rossa! Percayalah, selama ini aku bersikap adil pada kedua istriku! Tapi, rasa iri yang teramat besar timbul dalam hatinya Rossa. Itu membuat dia nekad datang ke dukun." jelas Parman pada mereka. Sekarang dia menjelaskan itu dengan tangisan yang cukup pilu sambil memandangi kelima anaknya.
Sejenak, kelimanya saling menatap satu sama lain. Sebelum anda akhirnya pandangan mereka kembali fokus pada Parman.
"Bisakah kamu ceritakan pada kami?" tanya Farah pada Parman.
Di situ Parman menganggukkan kepalanya. Dia pun mulai menceritakan apa yang terjadi kepadanya saat itu hingga rasa kemanusiaannya hilang pada Ijah.
"Ritual itu dinamakan nasi kangkang! Dari situ, dia mulai menggunakan kemampuan sesatnya!" kata Parman.