Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.
Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.
Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Suara desir angin yang menggoyang dedaunan bambu hijau menjadi satu-satunya melodi yang terdengar di paviliun belakang kediaman Lin. Sinar matahari pagi yang hangat menerobos sela-sela jendela kayu, memantulkan bayangan kedamaian yang seolah menghapus sisa-sisa ketegangan berdarah dari dua malam sebelumnya.
Setelah badai besar yang menghancurkan Aula Tengkorak Hitam dan meruntuhkan Tambang Kuarsa Barat, distrik luar Ibu Kota Wilayah kini sedang berada dalam kondisi siaga satu. Namun, di balik dinding tinggi berlapis formasi peredam milik Asosiasi Dagang Angin Sejuk, tempat ini menjelma menjadi suaka paling aman bagi Zei and A-Lang.
Di atas teras kayu yang bersih, A-Lang duduk bersila dengan ekspresi wajah yang jauh lebih tenang. Trauma dari pembunuhan pertamanya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa percaya diri baru yang matang. Keberhasilannya menyelamatkan puluhan pekerja paksa malam itu memberikan justifikasi moral yang kuat bagi jiwanya.
Di depannya, sebuah teko tanah liat mengeluarkan uap harum yang menenangkan. A-Lang sedang menyeduh teh herbal dari campuran daun serai spiritual dan bunga melati murni, sebuah resep penenang jiwa yang ia pelajari dari catatan kuno tabib desanya.
"Zei, minumlah selagi hangat," ucap A-Lang lembut, mendorong sebuah cangkir tanah liat kecil ke arah sahabatnya.
Zei yang duduk di seberang meja membuka matanya perlahan. Pendaran kecokelatan di dalam manik matanya tampak lebih jernih dan dalam. Ia menerima cangkir tersebut, menyesap teh hangat itu sembari merasakan kehangatan cairan herbal mengalir menembus meridian dadanya.
Di samping mereka, tergeletak cangkul tua dan kotak obat peninggalan Desa Danau Keruh yang berhasil mereka rebut kembali. Benda-benda mati itu seolah menjadi jangkar emosional yang mengingatkan mereka dari mana mereka berasal, menjaga agar dendam di dalam dada tidak berubah menjadi kegilaan yang merusak diri sendiri.
"Bagaimana dengan sirkulasi Qi kayumu?" tanya Zei, menatap ujung jemari A-Lang yang tampak lebih segar.
"Sangat stabil," A-Lang tersenyum tipis. "Esensi kayu ular murni itu kini telah menyatu sepenuhnya dengan dantianku. Aku bisa merasakan denyut nadi tanaman di sekitar halaman ini dengan sangat jelas."
Setelah menyelesaikan teh paginya, Zei melangkah menuju ke halaman dalam paviliun, tepat di atas hamparan tanah murni di bawah naungan pohon bambu raksasa. Ia menanggalkan jubah hitam luarnya, menyisakan pakaian rami ringkas. Zei duduk bersila langsung di atas permukaan bumi, membiarkan pori-pori kulitnya berinteraksi langsung dengan energi alam.
Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh batinnya pada lembar pertengahan dari Transformasi Kulit Kuarsa di dalam Kitab Sembilan Transformasi Gunung Purba.
Selama pertarungan di tambang kemarin, Zei menyadari satu kelemahan: mempertahankan seluruh permukaan kulitnya dalam kondisi sekeras batu kuarsa secara konstan sangat menguras pasokan Qi di dalam dantiannya.
Kini, dalam keheningan total, Zei mulai melatih sirkulasi dinamis. Ia membiarkan energi buminya mengalir bebas seperti air, lalu melatih fokus untuk memusatkan kepadatan energi tersebut hanya pada satu titik spesifik dalam hitungan milidetik.
WUSH~
Ketika Zei memfokuskan pikirannya ke lengan kanan, permukaan kulit lengannya mendadak berkedip, memancarkan struktur kristal kuarsa transparan yang amat padat menembus jubah raminya. Begitu ia mengalihkan fokus ke dada, kristal di lengan lenyap dan berpindah seketika ke dadanya.
TEKNIK BARU: PENGERASAN INSTAN
Dengan menguasai transisi dinamis ini, Zei bisa menghemat konsumsi energi spiritualnya hingga setengahnya, sembari meningkatkan daya tahan pertahanannya menjadi dua kali lipat lebih keras karena energi terpusat pada satu titik benturan.
Di kedua pergelangan tangannya, Sarung Tangan Penghancur Gunung merespons latihan tersebut dengan getaran ultrasonik yang lembut. Sarung tangan warisan itu secara otomatis menyerap partikel tanah murni dari kedalaman fondasi bumi, lalu membentuk lapisan pelindung transparan tipis yang mengurung seluruh hawa kultivasi Zei agar tidak bocor keluar dari area paviliun.
Sementara Zei tenggelam dalam meditasi mendalam, A-Lang tidak membuang waktunya secara percuma. Di dalam kamar paviliun yang telah disulap menjadi ruang obat mini, ia membuka kotak obat kayu peninggalan tabib desanya.
Pintu paviliun terketuk pelan, dan Lin Xiao melangkah masuk dengan senyuman hangat, membawa sebuah keranjang anyaman besar yang berisi puluhan ikat tanaman obat berkualitas tinggi serta sekantung besar batu spiritual murni.
"A-Lang, ini adalah bahan-bahan obat mentah tingkat menengah yang kau minta dari gudang utama kami," ucap Lin Xiao lembut, meletakkan keranjang tersebut di atas meja.
"Terima kasih banyak, Nona Lin. Ini lebih dari cukup," jawab A-Lang dengan mata berbinar.
Lin Xiao berdiri di samping, memperhatikan dengan rasa kagum yang tak terbendung saat A-Lang mulai bekerja. Dengan lambaian tangan A-Lang, Qi elemen kayu hijau muda mengalir keluar dari telapak tangannya, menyelimuti dedaunan obat mentah tersebut.
Tanpa membutuhkan tungku alkimia yang mahal, A-Lang mampu mengekstrak sari pati murni dari tanaman obat hanya dengan menggunakan manipulasi vitalitas elemen kayunya. Efisiensi pemurniannya mencapai tingkat yang sangat langka, memisahkan racun dan ampas tanaman dengan kesempurnaan mutlak.
"Bakatmu dalam bidang medis dan alkimia benar-benar luar biasa, A-Lang," puji Lin Xiao tulus. "Jika obat-obat pemulih luka dengan tingkat kemurnian seperti ini dijual atas nama Asosiasi Dagang Angin Sejuk, kita akan mendominasi pasar obat Ibu Kota dalam waktu singkat."
Lin Xiao kemudian menawarkan sebuah kesepakatan yang sangat menguntungkan. Asosiasi Dagang Angin Sejuk akan menyuplai semua bahan obat langka dan batu spiritual berkualitas tinggi yang dibutuhkan untuk kultivasi Zei secara cuma-cuma. Sebagai gantinya, A-Lang akan memproduksi obat pemulih murni ini secara berkala untuk keperluan internal pengawal asosiasi dagang.
Kerja sama mutualisme ini tidak hanya mengamankan logistik mereka, tetapi juga memperkuat posisi tawar mereka di dalam kota.
Sore harinya, setelah menyelesaikan sesi latihan masing-masing, Zei dan A-Lang berkumpul di teras luar untuk menikmati makan malam sederhana yang disediakan oleh pelayan Lin Xiao. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam pelarian, mereka bisa makan dengan tenang tanpa perlu mengkhawatirkan kepungan musuh di balik pintu.
Ketika malam mulai membungkus Ibu Kota Wilayah dengan kegelapan, Zei kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Saat ia berbaring di atas ranjang giok, selendang sutra putih milik Qian Yue’er yang diletakkan di sisi bantalnya mendadak memancarkan pendaran cahaya es yang sangat lembut dan sejuk.
Hawa dingin itu menyelimuti seluruh kamar, beresonansi dengan detak jantung Zei yang kini telah tenang. Ada ikatan spiritual yang tak kasat mata di antara mereka, seolah kain sutra itu ikut merasakan bahwa jiwa sang anak desa kini telah melangkah ke tingkat kedewasaan yang baru.
Tok! Tok! Tok Gaz!
Ketukan pintu yang tegas namun teratur memecah keheningan malam. Lin Xiao melangkah masuk ke dalam kamar Zei dengan ekspresi wajah yang sangat serius, memegang selembar surat undangan resmi yang terbuat dari kain sutra emas tebal berlogo Mahkamah Agung kota.
"Zei, masa tenang kalian mungkin harus diselingi oleh persiapan besar," ucap Lin Xiao, menyerahkan undangan tersebut. "Mahkamah Ibu Kota baru saja mengumumkan jadwal resmi untuk Turnamen Aliansi Ibu Kota yang akan digelar dua minggu dari sekarang. Seluruh sekte papan atas, termasuk Sekte Taring Emas dan Sekte Cendrawasih, dipastikan akan menurunkan seluruh murid terkuat mereka untuk memperebutkan hak kendali wilayah perbatasan."
Zei menerima undangan emas tersebut. Matanya menatap logo Sekte Taring Emas yang tertera di sudut kertas dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin. Waktu istirahatnya di balik rumpun bambu ini telah memberikan fondasi yang ia butuhkan. Kini, panggung besar yang sesungguhnya telah menantinya di depan mata.
"Dua minggu..." gumam Zei rendah, mengepalkan tinjunya hingga udara di sekitarnya berderit berat. "Itu sudah lebih dari cukup untuk menyiapkan peti mati bagi mereka."