Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inspeksi Mendadak dan Debu yang Menuduh
Pukul 07.00 pagi. Matahari belum sepenuhnya naik, tetapi suasana di Apartemen Griya Asri sudah terasa mencekam. Bukan karena hantu, melainkan karena panik.
"Bara! Cepat! Pindahkan tumpukan baju kotor itu ke dalam lemari!" teriak Dinda sambil melemparkan bantal sofa ke arah rak buku agar terlihat lebih aesthetic.
"Aku sedang mencoba menyapu debu di bawah karpet!" jawab Bara, yang sedang melayang rendah dengan wajah merah padam (sebanyak mungkin bagi hantu). "Tapi sapu ini tembus pandang! Aku nggak bisa menyentuh partikel debunya secara fisik!"
"Gunakan energi kinetikmu! Tiup! Atau apalah yang biasa kamu lakukan buat ngelempar piring!"
Bara mengerahkan seluruh tenaga gaibnya untuk meniup debu-debu halus di sudut ruangan. Hasilnya? Debu itu berpindah dari sudut kiri ke sudut kanan. Tidak hilang, hanya bergeser.
"Ini sia-sia," keluh Bara. "Pak Broto punya indra penciuman spiritual. Dia bisa mencium bau kemalasan dan kekacauan dari jarak tiga kilometer."
Dinda berhenti sejenak, memegang pinggangnya. Ia menatap apartemennya yang masih jauh dari kata rapi. Ada noda kopi di meja, kabel yang kusut, dan yang paling parah: tumpukan skrip konten yang berserakan seperti bekas pertempuran.
"Oke, dengar," kata Dinda dengan nada serius. "Kita nggak bisa bersih-bersih sampai sempurna. Kita harus mengalihkan perhatian Pak Broto. Kita butuh distraction."
"Distraction?" tanya Bara bingung.
"Iya. Buat dia sibuk dengan hal lain sehingga dia lupa memeriksa detail kecil. Kamu bilang dia suka birokrasi dan aturan, kan?"
Bara mengangguk cepat. "Dia obsesif sama formulir, laporan, dan hierarki."
Mata Dinda berbinar. Sebuah ide licik terbentuk di kepalanya. "Kalau begitu, kita sambut dia dengan pesta administrasi."
Pukul 08.00 tepat. Udara di ruang tamu menjadi berat. Suhu turun drastis hingga embun mulai membentuk di jendela. Lampu utama padam, digantikan oleh cahaya ungu redup yang memancar dari tengah ruangan.
Asap hitam pekat berkumpul, membentuk siluet tinggi besar. Pak Broto muncul.
Kali ini, ia tidak hanya berupa hologram. Ia materialisasi sebagian, cukup untuk membuat kehadirannya terasa nyata dan menakutkan. Jas abunya licin, tanduk kambingnya mengilap, dan clipboard di tangannya tampak terbuat dari tulang manusia yang dipernis.
"Pagi," suara Pak Broto dingin, tanpa emosi. Matanya yang berwarna kuning menyala menelusuri ruangan.
Selamat pagi, Pak Broto!" seru Bara dan Dinda serentak. Mereka berdiri tegak di samping meja makan yang kini tertutup tumpukan kertas.
Pak Broto mengangkat satu alis. "Apa ini?"
"Laporan persiapan inspeksi, Pak," kata Dinda dengan percaya diri, melangkah maju. Ia memakai kacamata hitam meski di dalam ruangan, memberikan kesan misterius dan profesional. "Sebagai penghuni Unit 404, saya merasa perlu untuk mendokumentasikan setiap interaksi supernatural sesuai standar ISO 9001:2015 tentang Manajemen Kualitas Teror."
Pak Broto terdiam. Ia menatap Dinda, lalu menatap Bara. "ISO... apa?"
"ISO 9001, Pak," sambung Bara, mencoba mengikuti alur Dinda meski jantungnya hampir copot. "Standar internasional untuk kepuasan pelanggan... eh, maksudnya kepuasan korban. Kami telah menyiapkan formulir A-1 sampai Z-99 yang mencatat setiap kedipan lampu, setiap perubahan suhu, dan setiap teriakan histeris."
Dinda membuka tumpukan kertas di depannya. Isinya adalah kertas kosong yang ia cetak semalam dengan judul-judul听起来 sangat penting seperti "Lembar Evaluasi Efektivitas Jeritan", "Formulir Keluhan Hantu Terhadap Respon Manusia", dan "Daftar Ceklis Kebersihan Aura Negatif".
Pak Broto mendekati meja. Ia mengambil salah satu formulir. Kertas itu terasa dingin. Ia membacanya sekilas. Matanya bergerak cepat.
"Hmm..." gumam Pak Broto. "Formatnya... cukup rapi. Ada kolom tanda tangan saksi? Ada kolom verifikasi waktu?"
"Ada, Pak," kata Dinda cepat. "Dan kami juga melampirkan grafik tren ketakutan bulanan. Meskipun bulan ini masih awal, proyeksinya menunjukkan peningkatan eksponensial berkat strategi psychological warfare yang diterapkan oleh Magang Bara."
Pak Broto tampak tertarik. Ia jarang melihat manusia yang begitu menghargai administrasi. Biasanya mereka hanya berteriak dan lari. Ini... menyegarkan.
"Bagus," kata Pak Broto, nada suaranya sedikit melunak. "Sangat jarang menemukan penghuni yang kooperatif dalam pendataan. Kebanyakan cuma merusak properti dan lupa mengisi buku tamu alam gaib."
Ia menoleh ke Bara. "Kamu berhasil melatih manusia ini dengan baik, Bara. Metode apa yang kamu gunakan?"
Bara berkeringat dingin. Ia melirik Dinda yang memberi isyarat mata "Jawab saja sesuatu yang terdengar pintar".
"Ehm... Metode Collaborative Fear Management, Pak," jawab Bara gagap. "Kami bekerja sama menciptakan narasi horor yang personal dan relevan dengan trauma modern penghuni."
Pak Broto mengangguk-angguk, terkesan. "Naratif personal. Cerdas. Itu masuk dalam kurikulum baru tahun depan."
Tiba-tiba, hidung Pak Broto berkedut-kedut. Ia membaui udara.
"Tapi..." matanya menyipit. "Ada bau aneh. Bau... bawang goreng hangus? Dan ada jejak energi negatif yang tidak terdaftar di laporanmu."
Dinda dan Bara saling pandang panik. Jejak Mbak Yuli.
"Itu..." Dinda berpikir cepat. "Itu adalah eksperimen aroma terapi, Pak. Kami mencoba menggabungkan elemen kuliner lokal dengan teror psikologis. Menciptakan disonansi kognitif melalui indra penciuman."
Pak Broto menatap Dinda curiga. Ia melangkah mendekati dapur, tempat panci mie tadi malam tumpah. Lantainya masih sedikit lengket.
"Disonansi kognitif?" ulang Pak Broto skeptis. Ia menyentuh lantai dengan ujung jari kakinya yang berkuku panjang. "Atau ini sisa sabotase dari rekan sejawatmu yang tidak kompeten?"
Suasana hening mencekam. Bara siap-siap menerima hukuman. Dinda menahan napas.
Tiba-tiba, dari dalam ventilasi udara, terdengar suara bersin keras. HACHIM!
Semua orang menoleh. Dari celah ventilasi, jatuh secarik kertas kecil yang melayang perlahan ke tanah. Itu adalah catatan gosip Mbak Yuli yang terjatuh saat ia menguping dari atas.
Pak Broto memungut kertas itu. Ia membacanya. Wajahnya berubah merah padam.
"Catatan Harian Mbak Yuli: Hari ini aku lihat si Bara si magang lagi mesra-mesraan sama manusia. Mereka ketawa-ketiwi nonton drakor. Nggak ada teror sama sekali. Dasar pengkhianat!"
Pak Broto mendongak. Tatapannya tajam menusuk ke arah ventilasi, lalu kembali ke Bara dan Dinda.
"Jadi," kata Pak Broto pelan, suaranya bergetar karena amarah. "Ini semua sandiwara? Kolaborasi ilegal? Memalsukan data IKP?"
Bara menutup matanya. Tamat sudah karirnya.
Tapi sebelum Pak Broto bisa mengeluarkan hukumannya, Dinda langkah maju.
"Tunggu, Pak!" seru Dinda. "Itu bukan bukti kolaborasi. Itu bukti... metode acting!"
Pak Broto menoleh. "Acting?"
"Iya!" Dinda menunjuk kertas itu. "Lihat tulisannya. 'Mesra-mesraan'? 'Ketawa-ketiwi'? Itu adalah deskripsi subjektif dari pengamat yang iri hati. Faktanya, kami sedang melakukan simulasi skenario 'False Security'. Kami membuat korban merasa aman, tertawa, dan lengah, sehingga ketika teror sesungguhnya datang, dampaknya akan sepuluh kali lipat lebih dahsyat. Ini teknik klasik Jumpscare Delayed Gratification!"
Pak Broto terdiam. Ia membaca ulang catatan Mbak Yuli. Lalu ia menatap Bara.
"Apakah ini benar, Bara? Apakah ini bagian dari strategi Delayed Gratification?"
Bara bingung. Ia tidak tahu apa itu Delayed Gratification. Tapi ia tahu ia harus setuju.
"Iya, Pak!" seru Bara penuh semangat palsu. "Saya sedang membangun kepercayaan diri korban agar keruntuhannya nanti lebih spektakuler!"
Pak Broto menghela napas panjang. Ia tampak ragu. Di satu sisi, ini terdengar seperti alasan yang dibuat-buat. Di sisi lain, itu terdengar sangat canggih dan akademis. Dan Pak Broto sangat menyukai hal-hal yang terdengar akademis.
"Baiklah," kata Pak Broto akhirnya. "Aku akan menerima penjelasan ini untuk sementara. Tapi, aku ingin bukti. Besok malam, aku akan kembali. Dan aku ingin melihat hasil akhir dari strategi Delayed Gratification ini. Jika tidak ada teriakan histeris yang terekam dengan jelas... kamu akan dikirim ke Kalimantan. Bersama nyamuk-nyamuk raksasa itu."
Pak Broto berbalik. Tubuhnya mulai menghilang menjadi asap.
"Dan bersihkan lantai dapurnya. Itu tidak higienis. Bahkan untuk standar hantu."
Dengan pop kecil, Pak Broto menghilang. Ruangan kembali normal. Lampu menyala. Suhu hangat kembali.
Bara ambruk ke lantai. "Hampir mati aku..."
Dinda tersenyum lebar, meski keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Lihat? Aku bilang kan, birokrasi adalah kelemahan mereka. Mereka terlalu sibuk dengan prosedur sampai lupa menggunakan logika dasar."
Bara menatap Dinda dengan kekaguman baru. "Kamu... kamu jenius, Din. Atau gila. Mungkin keduanya."
"Terima kasih," kata Dinda sambil memungut kertas catatan Mbak Yuli. "Tapi sekarang kita punya masalah baru."
"Apa?"
"Besok malam. Pak Broto mau lihat teriakan histeris asli. Bukan akting." Dinda menatap Bara serius. "Kita harus benar-benar menakutiku. Atau setidaknya, membuatku teriak sekeras-kerasnya tanpa alasan yang jelas."
Bara menelan ludah. "Bagaimana caranya?"
Dinda tersenyum miring. "Aku punya ide. Tapi kamu nggak akan suka."
"Apa?"
"Kita perlu memanggil Mbak Yuli. Dan kita perlu membuatnya marah banget. Karena kalau Mbak Yuli marah, dia bakal ngamuk-ngamuk. Dan kalau dia ngamuk-ngamuk di depan Pak Broto besok... itu bakal jadi tontonan horor terbaik yang pernah ada."
Bara menggeleng kuat. "Itu bunuh diri! Dia bakal membunuh kita berdua!"
"Tenang," kata Dinda. "Kita punya senjata rahasia."
"Apa?"
"Kamera livestream. Dan janji pada Mbak Yuli bahwa kita akan membuatnya jadi influencer hantu pertama di TikTok."
Bara terdiam. Rencana itu gila. Berbahaya. Dan sangat mungkin gagal total.
Tapi melihat tekad di mata Dinda, Bara menyadari satu hal: ia sudah tidak sendirian dalam kekacauan ini.
"Oke," kata Bara akhirnya. "Mari kita panggil si Ratu Drama."
Di luar, angin berhembus kencang, seolah alam sendiri sudah tahu bahwa malam besok akan menjadi malam paling riuh di sejarah Apartemen Griya Asri.